(054) Rencana-rencana..

Sudut favorit di beranda rumah di Australia..

Salah satu sudut halaman rumah kami di Australia

Memandang keluar jendela di rumah Australia kami..

Setelah tinggal di Indonesia lagi di tahun 2012, saya dan M punya 3 rencana besar yaitu punya anak, punya rumah sendiri di Australia (biasanya tinggal di rumah mertua kalau sedang berada di sana), dan berlibur ke Amerika Serikat. Bagian berlibur ini sudah terlaksana dengan lancar. Waktu membuat rencana itu, kami maunya bagian punya anak dulu yang terjadi, tapi ternyata rejeki kami belum ke situ saat itu.
Saat itu bagian punya anak masih dalam proses, lebih tepatnya proses penasaran dan penyangkalan. Setelah menikah, sebetulnya kami berharap bisa segera punya anak. Tapi setelah satu tahun menunggu, saya tak kunjung hamil. Kemudian kami pindah ke Kolombia dan tinggal di negara ini selama hampir setahun. Seorang teman di sini merekomendasikan dokter kandungannya jika kami ingin melakukan program kehamilan yang lebih terpantau. Setelah beberapa sesi konsultasi, kami melakukan program inseminasi buatan. Hasilnya.., gatot alias gagal total.. Padahal menurut hasil pemeriksaan sebelumnya, saya dan M baik-baik saja, tidak ada masalah medis. Dokter kami waktu itu menyarankan ikut program IVF sebagai langkah selanjutnya. Kami maunya begitu tapi apa daya harus pindah lagi ke Australia.
Ketika kami “parkir” sebentar di Australia di awal 2012, sempat terpikir untuk meneruskan rencana punya anak tersebut di Australia. Tapi.., tak lama kemudian kami pindah lagi ke Indonesia. Seperti bisa diduga, tak lama setelah mendarat, disambut dengan pertanyaan klasik: sudah isi belum..?, sudah punya anak..?, kapan mau punya anak..?, kamu sengaja ya menunda punya anak..?, sudah coba cara ini itu..?, dsb..,dsb.. Orang-orang itu kelihatannya tidak perduli bahwa pertanyaan seperti ini bisa sangat menyakitkan hati bagi perempuan yang sedang berusaha punya anak. Tidak seperti kondisi medis lainnya, infertilitas mungkin hal yang paling rentan baper. Tapi siapa yang perduli..? Tetap saja banyak orang yang saya temui menanyakan hal itu.
Nah.., selama di Indonesia, saya dan M mulai mencari informasi lagi mengenai hal ini. Kami mempertimbangkan IVF kembali. Dan belum apa-apa.., kendala teknis sudah di depan mata. Ternyata (saat itu) tidak ada klinik fertilitas di wilayah Kalimantan Timur. Saya kira di Balikpapan ada tapi ternyata tidak. Pilihan yang paling memungkinkan cuma Bandung atau Jakarta. Saya pilih Bandung karena merasa lebih familiar dengan kota ini dan jaraknya cukup dekat dengan Cianjur. Saya datang ke Klinik Aster di RSHS Bandung sendiri saja, M tak bisa ikut karena jadwal kerja yang tidak memungkinkan untuk keluar mine site (kendala teknis nomer 2). Di konsultasi pertama, saya sudah pusing sendiri begitu melihat urutan proses IVF. Bagaimana kami harus menyelaraskan semua jadwal tersebut dengan jadwal cuti M..? Susah sekali.. Saat itu jadwal dia adalah 5 minggu kerja, 2 minggu libur, dengan jam kerja 12 jam per hari. Belum lagi dia di Kalimantan, saya di Cianjur. Izin meninggalkan lokasi di luar masa cuti juga bukan hal mudah, salah satu penyebabnya karena transportasi ke luar lokasi tambang itu terbatas dan lama. Satu hal lainnya yang menciutkan semangat: saat itu klinik tersebut menerapkan batasan usia bagi perempuan yang mau ikut program IVF, maksimal 38 tahun. Lhaa.., saya waktu itu sudah berumur 37 tahun..
Tapi saya ikuti juga konsultasi di klinik tersebut. Saya disarankan tes ini itu, yang ternyata harus dilakukan di laboratorium di lokasi yang berbeda (yang bikin saya bete juga). Jadwal M masih belum sinkron. Bahkan kelihatannya dia agak tertekan dengan beban kerja yang bertambah. Hasil tesku menunjukkan tidak ada masalah. Tapi setelah beberapa kali konsultasi, M masih saja belum bisa ikut konsultasi. Akhirnya saya angkat tangan.. Saya menyerah.. Saya berhenti datang ke klinik itu. Saya sempat kesal pada M. Tapi dipikir-pikir.., saat itu kondisinya memang tidak memungkinkan. Setiap kali M libur di rumah pun dia lebih sering lelahnya daripada segarnya. Akhirnya kami tunda dulu urusan beranak pinak ini, sambil berharap kami bisa punya anak secara alamiah.
Kemudian kami beralih ke realisasi rencana berikutnya yaitu punya rumah sendiri di Australia. Seru juga mengikuti semua prosesnya. Dibandingkan dengan hal serupa di Indonesia, di satu sisi lebih rumit, tapi di sisi lain lebih sederhana. Proses pembeliannya sendiri tentu saja melalui mortgage alias KPR alias nyicil..hehehe.. Bagaimana ya.., soalnya selama statusnya masih pegawai ya begini.. Namun demikian, tentu saja kami sangat bersyukur diberi rejeki untuk punya rumah sendiri. Sebetulnya kami deg-degan juga memutuskan untuk punya “hutang besar” tersebut. Saat itu usia kami tidak muda lagi, saya 37 tahun dan M 47 tahun. Jangka waktu cicilan standar itu 30 tahun. Jadi kelihatannya rumah itu akan lunas ketika kami sudah jompo..hahaha.. Duuuhh.., semoga dapat rejeki nomplok buat memperpendek masa cicilan.. Eh.., tapi dikasih rejeki lancar sampai cicilan lunas juga sangat bersyukur koq..
Proses pindahannya sendiri berlangsung simpel. Kami menyewa truk kontainer ukuran kecil. M yang menyetir sendiri truk tersebut. Proses angkut barang dari rumah mertua di Charters Towers dibantu oleh Rick, sahabatnya M. Sementara saya kebagian tugas menata semua barang dan perabotan di rumah baru kami di Townsville. Proses angkut barang berlangsung satu hari saja. Ketika pindahan ini, saya baru sadar, M punya baju banyak sekali! Lebih banyak daripada baju saya. Belum lagi sepatu.., ya ampun itu sepatu dan baju dari zaman kapan masih ada tersimpan.. Dia bilang sudah lama ingin menyumbangkan sebagian bajunya tapi belum sempat sortir. Akhirnya saya kebagian tugas menyortir baju dia. Hasil akhirnya, 30% bajunya beralih ke badan amal di kota ini.
Dalam proses pindahan ini, saya juga menemukan barang-barang milik M yang unik dan menarik. Ada dua benda yang saya anggap paling menarik.
Benda yang pertama, buku jurnal bayi (baby journal) milik M ketika dia masih bayi! Bayangkan.., jurnal itu sudah berumur 47 tahun dan masih tampak bagus. Ceritanya, buku jurnal itu hadiah dari tantenya M ke ibunya M ketika M lahir. Buku itu kemudian diisi catatan perkembangan M di masa bayi. Saya bisa baca tulisan ibu mertua saya seperti: “Today M started on solid food.. He seemed to like it..” Atau yang ini: “This week M is more confident in walking..” Terharu gak sih bacanya..
Benda yang kedua masih berupa catatan, kali ini raport-nya M waktu dia kelas 2 SD. Nilai raport-nya cukup bagus kelihatannya. Namun yang bikin saya senyum-senyum adalah catatan gurunya di raport tersebut: “M is such a soft spoken and shy but nice young boy. He likes playing soccer. He seems to get along well with other students..” Saya lupa kata-kata persisnya tapi kira-kira seperti itulah intinya. Membayangkan M sebagai anak kecil kelas 2 SD yang pemalu dan suka main bola berhasil membuat saya mesem-mesem sendiri..hehehe..
Akhirnya di penghujung tahun 2012 itu kami resmi punya rumah di Australia. Kami sangat bersyukur.. Satu persatu rencana besar kami terlaksana. Proyek pribadi selanjutnya masih akan tetap berlanjut..

Bersambung…
Episode sebelumnya : (053) Orange..

(053) Orange..

Catatan: Foto-foto di bawah ini diambil secara alamiah. Artinya, tidak ada objek foto yang disuruh berpose, dan tidak ada pula pemotret yang secara sengaja menantikan kehadiran objek foto tersebut.

Perkenalkan.., makhluk besar di bawah ini, Orange.. Dia salah satu “tetangga” kami di Sangatta, Kalimantan Timur.. Si Orange ini seekor orangutan yang dilihat dari penampilannya, kemungkinan jantan remaja atau dewasa muda.
Hampir setiap hari si Orange datang ke area tempat M bekerja di lokasi pertambangan. Awalnya dia hanya melihat-lihat dari kejauhan, memperhatikan kegiatan manusia bengkel (para mekanik alat-alat berat pertambangan) yang sedang bekerja di Maintenance Workshop. Sejak awal kehadirannya, orang-orang bengkel sudah ngeh ada orangutan besar berkeliaran di sekitar lokasi kerja mereka. Beberapa mekanik sempat terpikir untuk menyuruh orangutan itu pergi menjauh, dan kalau bisa jangan datang lagi. Tapi sebagian besar mekanik lainnya (termasuk M, Pak Guru Mekanik) berpikir, biar saja si Orange berkeliaran di situ, ‘kan tidak saling mengganggu. Saya menamakan orangutan ini “Orange” karena cara M mengucapkan kata “orangutan” itu terdengar seperti Orange (atau setidaknya seperti itulah yang terdengar di telinga saya)
Dan begitulah.. Si Orange datang hampir tiap hari, menonton manusia kerja. Semakin sering dia datang, semakin dekat pula jarak antara tempat dia mengamati dengan lokasi bengkel. Seolah-olah ada kesepakatan tak tertulis di antara yang mengamati dan yang diamati, bahwa mereka “tak akan saling ganggu”, rasa saling percaya antara sesama makhluk hidup. Dan kata M, ketika sedang mengamati, si Orange tampak serius sekali. Salah satu rekan kerja M sempat bercanda begini: “Pak, besok kalau si orangutan itu datang lagi, kita suruh ikut training saja bersama karyawan baru. Siapa tahu bisa jadi mekanik handal..” Hahaha.. Ada-ada saja..
Dan suatu hari, si Orange semakin mendekat.. Saking dekatnya, sebetulnya bisa dikatakan, dia berada di bengkel, bukan lagi mengamati bengkel dari kejauhan. Berikut ini foto-fotonya, yang diambil oleh M.

IMG_4972

Si Orange berada di antara sebuah dump truck dan rongsokan barang-barang bengkel. Rupanya dia menemukan “cemilan” di situ, serumpun tanaman tebu. Dia mengamati kegiatan bengkel sambil mengunyah tebu.

 

IMG_4973

Masih mengunyah tebu, tiba-tiba si Orange menyadari bahwa orang bengkel sedang memotretnya. Lalu dia menunduk dan menutupi muka dengan tangannya. Mungkin dia grogi atau risih karena seketika jadi pusat perhatian..

 

IMG_4974

Semakin banyak orang bengkel yang memotretnya, semakin grogi si Orange ini.  Bayangan orang-orang bengkel yang sedang memotret terlihat di cermin di sebelah kanan. Si Orange merasa tidak nyaman, sehingga memutuskan bersembunyi di balik rumpun tebu yang lebih tinggi..

 

IMG_4975

Sambil bersembunyi, tak lupa mematahkan batang tebu lagi untuk dimakan..

 

IMG_4976

Setelah bersembunyi lumayan lama sambil ngemil tebu, ternyata orang-orang bengkel masih memperhatikannya. Ada yang memotret, mungkin mengambil video juga, bahkan katanya ada karyawan (yang mungkin ketakutan) melempari si Orange dengan kerikil agar dia menjauh dari bengkel.. Si Orange makin merasa grogi, jadi dia mencari tempat bersembunyi yang lebih “canggih”.. Dengan perlahan dia menjauh dari rumpun tebu, dan mendekat ke lembar metal warna kuning yang tersandar di sebelah kanan..

 

IMG_4977

Dan di sinilah akhirnya dia bersembunyi.. Orang-orang bengkel masih memperhatikannya, bisa terlihat dari detil foto di sebelah kiri. Tapi setidaknya, si Orange tampak lebih terlindungi dari pandangan orang-orang di tempat persembunyian ini.

Penampakan hewan liar seperti ini adalah hal biasa di area sekitar lokasi tambang. Mungkin orang yang tidak tahu akan mengira kami tinggal di hutan belantara yang biasa digambarkan di acara Flora dan Fauna atau National Geographic Channel. Tapi sebetulnya, dilihat dari letak geografisnya, Sangatta sendiri adalah kota pesisir, bukan daerah hutan lebat pedalaman. Namun tetap saja penampakan seperti ini (yang lebih identik dengan habitat hutan lebat pedalaman) sering terjadi. Saya sendiri sering menyaksikannya; melihat orangutan induk dan bayinya menyeberang jalan di kompleks perumahan karyawan di sini; ratusan monyet di daerah rawa bakau/mangrove; merak liar dan burung-burung liar lainnya di halaman belakang rumah, tupai di hampir semua pohon; kera bekantan di pekarangan orang lain; segerombolan rusa liar di sekitar lapangan golf; dll..
Para aktivis lingkungan hidup mungkin akan menilai ini sebagai hal negatif: manusia dan kehidupan hewan liar bersinggungan, dan seringnya manusia yang “menang”. Namun saya punya sudut pandang lain. Tentunya saya tidak setuju dengan perlakuan buruk terhadap hewan, hanya karena makhuk tersebut adalah hewan, atau bahkan jika hewan itu dianggap mengganggu. Saya tahu banyak kasus hewan liar ditangkap, kemudian dikurung, mungkin dengan maksud domestikasi atau dijadikan hewan peliharaan. Proses domestikasi ini sendiri banyak yang berakhir menyedihkan bagi hewan tersebut. Namun, di luar hal itu, rasanya kehidupan yang saling bersinggungan tersebut adalah sesuatu yang tak terhindarkan.
Maksudnya begini, dengan populasi Planet Bumi yang sudah mencapai 7.5 milyar penduduk, tentu perlu sumber daya yang maha besar untuk menggerakkan kehidupan sekian banyak orang tersebut. Berikut beberapa contohnya:
1. Minyak goreng
Umumnya orang suka gorengan ‘kan.. Salah satu bahan utama untuk membuat gorengan tentu saja minyak goreng. Minyak goreng di Indonesia mayoritas terbuat dari kelapa sawit. Dengan populasi Indonesia yang berjumlah sekitar 250 juta orang saat ini (urutan ke-4 di dunia, setelah India, China, dan Amerika Serikat), coba bayangkan seberapa banyak minyak goreng yang diperlukan untuk menggoreng makanan bagi 250 juta orang setiap harinya, seberapa luas lahan yang kemudian dijadikan perkebunan sawit. Belum lama di tahun 1961, kita perlu menyediakan minyak goreng hanya untuk 97 juta orang.
2. Energi listrik
Zaman sekarang tidak susah menemukan orang yang punya ponsel, laptop, atau keduanya. Dua benda ini perlu energi listrik dalam penggunaannya. Jika 10% saja penduduk Indonesia (sekitar 25 juta orang) adalah pengguna aktif dari kedua benda tersebut, bayangkan berapa banyak instalasi pembangkit listrik yang harus dibangun. Di Indonesia banyak instalasi pembangkit listrik ini berbahan bakar fosil seperti batu bara, gas alam, dan minyak bumi yang proses pengambilannya banyak berkaitan dengan tata kelola lingkungan hidup. Dan sekali lagi, di tahun 1961 ketika penduduk Indonesia masih 97 juta orang, tak banyak barang-barang yang perlu energi listrik.
3. Keluarga Berencana
Di dekade 80an-90an slogan “Dua Anak Cukup” lumayan menggema. Sekarang…? Siapa peduli..? Mohon hal ini tidak ditafsirkan negatif. Tingkat kesejahteraan dan kesehatan yang terus membaik menjadikan tingkat harapan hidup juga membaik. Bagi saya, ini artinya akan semakin banyak orang sehat sejahtera dan berumur panjang yang optimis bahwa punya anak lebih dari dua bukan ide yang buruk. Ini tentu pilihan pribadi. Namun perlu diingat pula, semakin banyak penduduk, semakin banyak pula rumah yang harus dibangun, semakin banyak pula lahan hijau beralih fungsi menjadi pemukiman. Oh ya.., sekedar informasi, kelihatannya slogan KB sempat berubah menjadi “Dua Anak Lebih Baik”, tapi kemudian diubah lagi ke “Dua Anak Cukup, Empat (Anak) Terlalu..”. Silahkan koreksi kalau informasi ini tidak tepat.

Di satu sisi saya salut pada para penggiat/aktivis lingkungan, karena saya tahu ada banyak pihak yang hanya memikirkan kepentingannya dan tidak peduli dengan lingkungan. Sementara di sisi lain, terlepas dari katakanlah kesuksesan menjaga lingkungan hidup, ada hal lain yang tak terhindarkan, yaitu kompetisi hidup. Akan selalu ada yang datang dan pergi, punah dan bertahan, menang dan kalah. Dan melihat apa yang terjadi selama 100 tahun terakhir peradaban manusia, entahlah.., saya merasa antara sedih dan miris mengungkapkan hal ini, tapi kelihatannya bisa ditebak siapa yang akan lebih sering menang dalam kompetisi kehidupan tersebut. Saya berpikir seperti ini juga bukan sebagai pembenaran karena dulu sempat bekerja di industri pertambangan. Saya hanya berusaha melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang.
Baiklah, kembali ke cerita si Orange.. Setelah kejadian di foto-foto tersebut, Orange secara diam-diam berlalu meninggalkan bengkel. Dan dia tak pernah datang lagi. Mungkin dia takut, atau pada dasarnya memang pemalu. Mungkin dia pergi ke lokasi lain. Entahlah.. Tak ada yang tahu..

Bersambung…

Episode sebelumnya: 052 – Rekan Sejawat

(052) Rekan “sejawat”

540550920-vision-project-hope-emotion-internationalism

Catatan: Setelah vakum sekian lama, inilah episode lanjutan dari kategori/seri Flashback di blog saya. Sekadar mengingatkan, seri ini adalah rangkuman kisah sepanjang 2007 s/d 2014. Selama periode tersebut, perubahan dalam kehidupan saya sangat signifikan, sehingga saya pikir ini perlu diabadikankan dalam bentuk tulisan.

Setelah kembali dari liburan di Amerika Serikat di bulan Juni 2012, saya dan M kembali ke dunia nyata di Sangatta, Kalimantan Timur. Di sini kami tinggal di kompleks perumahan karyawan. Karena itu saya mulai mengenal lebih banyak rekan-rekan kerja M dan istri/suaminya.
Seperti umumnya kehidupan di perumahan, ada banyak tetangga, ada pertemuan warga, ada gosip, ada keluhan umum, dan lain sebagainya. Sejak saya dan M menikah, baru kali itulah kami tinggal di suatu lingkungan perumahan secara lebih permanen.
Saya juga mulai kenal istri para ekspats lainnya. Mereka ini ada yang orang asing, tapi kebanyakan orang Indonesia seperti saya. Saat itu saya baru sadar bahwa sebelumnya saya tidak pernah bergaul dengan sesama istri ekspats atau istri orang asing di Indonesia. Dan dari sinilah saya mengalami kejutan tak terduga. Bukan sesuatu yang parah, tapi cukup unik (buat saya).
Dari sekian banyak istri para ekspats yang saya temui di kompleks ini, saya amati ada beberapa tipe. Nah.., sebelum saya jelaskan tipe-tipenya, mohon diingat bahwa ini bukan generalisasi. Tolong jangan jadikan ini sebagai acuan untuk menilai kepribadian seseorang ya.. Kalau ada pembaca blog ini yang kebetulan istri ekspats yang tinggal di Indonesia, jangan terlalu diambil hati, ini cuma pendapat dan pengamatan pribadi.
Baiklah, mari kita mulai..
1.  Tipe “Irit Bahan”
Irit bahan di sini maksudnya pakaiannya. Tak peduli jenis acara yang dihadiri, biasanya baju bawahan posisinya “mendekat ke langit”, sementara baju atasan posisinya “mendekat ke bumi”. Kalau orang yang memakainya tampak percaya diri, mungkin masih kelihatan bagus. Herannya, misalnya nih.., sudah tahu sedang mengenakan baju irit bahan, tapi roknya (yang sangat pendek itu) masih saja ditarik-tarik ke bawah supaya lebih menutupi paha.. Atau ketika duduk di sofa, tasnya selalu ditaruh di atas paha. Intinya sangat jelas kalau mereka kadang risih sendiri. Lha…, bagaimana toh, Bu.. Saya tidak bicara soal moral ya.. Banyak di antara mereka yang bertipe irit bahan ini secara pribadi orangnya baik. Mungkin mereka hanya perlu belajar lebih banyak tentang berpakaian yang sesuai situasi, kondisi, dan kepantasannya. Saya tulis tipe ini lebih dulu karena memang mereka ini yang langsung kelihatan begitu saya masuk ke lingkungan tersebut.
2. Tipe “Beli-beli”
Jadi setiap kali kita bertemu, selalu saja membahas barang yang baru dibeli. Saya tahu setiap orang dalam kehidupan sehari-harinya pasti ada beli barang-barang, mulai dari yang remeh temeh macam belanjaan dapur sampai yang bersifat besar/penting seperti beli properti atau kendaraan. Tapi masa iya harus dibahas setiap kali bertemu lengkap dengan segala macam detilnya (terutama harga), meskipun bertemunya hanya sebulan sekali misalnya. Kalau merasa jenuh dengan topik pembicaraan ini, biasanya saya ganti topik pembicaraan (tanpa mereka sadari..hehehe..), atau saya berpindah grup pembicaraan saja..
3. Tipe “Gadis Kota”
Bawaannya mudah mengeluh tentang kehidupan di daerah pedalaman, serta menganggap clubbing (ngedugem) dan malling (ngemal) adalah 2 cara utama untuk menghibur diri. Kelihatannya tipe ini lebih cocok tinggal di kota-kota besar. Berarti mereka sebetulnya hanya “salah tempat” merantau.
4. Tipe “Istri Boss”
Suatu hari saya mendengar kisah “luar biasa” tentang salah seorang istri ekspat lainnya.  Ceritanya si ibu ini sedang dalam perjalanan pulang menuju kompleks perumahan. Dia menyetir mobil pribadi. Ketika tiba di gerbang pos keamanan, dia tidak diizinkan masuk karena tidak membawa kartu ID penghuni. Rupanya si ibu lagi terburu-buru, si petugas keamanan bersikeras tidak memberi izin. Marahlah si ibu dan bilang: “Pak Satpam.. Jangan macam-macam.. Tahu gak siapa suami saya!! Mr. XXX, manajer Dept. A loh..!!!” Rupanya itu bukan pertama kali si ibu berperilaku demikian. Dan ternyata, ada beberapa istri ekspats lainnya yang mirip-mirip tabiatnya.
5. Tipe “Tak Terdeteksi”
Suatu hari di acara Family Gathering di kantornya M. Seperti biasa saya mengobrol ngalor ngidul dengan banyak orang, baik itu karyawan maupun istri/suami dari karyawan yang kebetulan saya sudah kenal. Kemudian M panggil saya untuk foto bareng, setelah itu saya balik lagi mengobrol dengan orang-orang tadi. Nah.., beberapa ibu-ibu (istri karyawan orang Indonesia, bukan istri ekspats) tiba-tiba tanya..: :Mba Em.., sudah kenal banyak bule di perusahaan ini ya.. Koq barusan akrab banget foto-foto sama bule yang itu (sambil menunjuk M).. Emang suamimu gak bakalan marah tuh..?”
Lhaaaa.., maksudnyaaaaa..???
Usut punya usut, ternyata selama ini banyak ibu-ibu kompleks mengira suami saya itu orang Indonesia. Padahal saya sering bilang suamiku itu namanya Pak M (saya tidak bilang Mr. M memang..), kerjanya di Dept. B. Padahalnya lagi nih.., saya dan ibu-ibu yang salah sangka itu sering jalan bareng, belanja bareng ke pasar..
Akhirnya salah satu di antara mereka bilang: “Ohh..itu suamimu toh.. Hahaha.. Maaf ya.. Habis Mba-nya kelihatan biasa aja sih..”
Iya deh.., iya.., saya tahu.., saya mah memang cupu dan un-fashionable.., tidak seperti nyonyah-nyonyah itu..hahaha..

Dan begitulah hasil pengamatan abal-abal saya tentang rekan “sejawat” ini.

Bersambung…

Tiga episode sebelumnya: 051, 050, 049

 

Generasi Bahagia..

Beberapa waktu yang lalu saya dikirimi tulisan berikut secara anonim melalui grup WhatsApp. Sampai saat ini saya belum berhasil verifikasi siapa sebenarnya penulisnya. Tapi saya pikir, tidak ada salahnya berbagi bacaan ini di blog, karena ini menarik sekali. Saya merasa tulisan ini “saya banget” karena saya adalah generasi yang lahir di dekade 70an. Kalian yang lahir di dekade antara 1960 s/d 1980 mungkin akan merasakan hal yang sama. Dan kalian yang lahir setelah dekade 80an anggap saja ini cerita sejarah ya..😀

Note: artikel ini saya edit sedikit agar sesuai EYD (Ejaan yang Disempurnakan), yang dimaksud generasi dekade 1960-1980 di sini adalah orang-orang yang lahir antara tahun 1960 s/d 1989.

====================================================================

Berdasarkan penelitian beberapa psikolog, GENERASI BAHAGIA itu adalah generasi kelahiran dekade 1960 – 1980…😉

Dan itu adalah kami… 👏😃😘
Kami adalah generasi terakhir yang masih bermain di halaman rumah yang luas. Kami berlari dan bersembunyi penuh canda-tawa dan persahabatan. Main petak umpet, boy-boyan, gobag sodor, lompat tali, masak-masakan, dokter-dokteran, sobyong, jamuran, putri putri melati tanpa peringatan dari ayah/ibu. Kami bisa memanfaatkan gelang karet, isi sawo, kulit jeruk, batere bekas, dan sogok telik untuk menjadi permainan yg mengasyikkan. Kami yang setiap kali melihat pesawat terbang langsung berteriak minta uang…😁😅
Kami generasi yang mengantri di wartel dari jam 5 pagi, berkirim surat memakai kertas surat sanrio atau flomo dan menanti surat balasan dengan penuh rasa rindu…#eaaa😅😘 Tiap sore kami menunggu cerita radio Brama Kumbara, berkirim salam lewat penyiar radio. Kamilah generasi yang SD-nya merasakan papan tulis berwarna hitam, masih pakai pensil dan rautan yang ada kaca di salah satu sisinya. Kamilah generasi yang SMP dan SMA-nya masih pakai papan tulis hitam dan kapur putih. Generasi yang meja sekolahnya penuh dengan coretan kejujuran kami melalui tulisan Tipe-X putih, generasi yang sering mencuri pandang teman sekolah yang kita taksir, kirim salam buat dia lewat temannya dan menyelipkan surat cinta di laci mejanya…#eheeem…👏😚😘
Kami adalah generasi yang merasakan awal mula teknologi gadget komunikasi seperti pager, komputer pentium jangkrik 486, dan betapa canggihnya Pentium 166Mhz. Kami generasi yang sangat bangga kalau memegang Disket kapasitas 1.44Mb dan paham sedikit perintah DOS dengan mengetik copy, del, md, dir/w/p. Kami adalah generasi yang memakai MIRC untuk chatting, dan searching memakai Yahoo. Generasi bahagia yang pertama mengenal Atari, Sega, Nintendo, Gimbot (Gamewatch maksudnya) yang belum berwarna…😅😘
Generasi kamilah yang merekam lagu dari siaran radio ke pita kaset tape, yang menulis lirik dengan cara play-pause-rewind, dan memanfaatkan pensil untuk menggulung pita kaset yg macet, kirim salam ke teman-teman lewat siaran radio RKPD.., saling sindir dan bla bla bla…, generasi penikmat awal walkman, dan mengenal apa itu laser disc, VHS. Kamilah generasi layar tancap ‘misbar’ yg merupakan cikal bakal bioskop Twenty One…👏😅
Kami tumbuh di antara para legenda cinta seperti Ebiet G Ade, Kla Project, Dewa 19, Padi, masih tak malu menyanyikan lagu Sheila on 7, dan selalu tanpa sadar ikut bersenandung ketika mendengar lagu : ‘mungkin aku bukan pujangga, yg pandai merangkai kata…’ 🎤🎧🎶
Kami generasi bersepatu Butterfly, Dogmart, Warrior dan rela nyeker berangkat sekolah tanpa sepatu kalau sedang hujan. Cupu tapi bukan madesu lhooo…hahaha 😁👏😂
Kami adalah generasi yang bebas, bebas bermotor tanpa helm. Yang punya sepeda, sepedanya disewain 200 rupiah/jam, bebas dari sakit leher karena kebanyakan melihat ponsel, bebas memanjat tembok stadion, bebas mandi di kali, di sungai, dll, bebas memanggil teman sekolah dengan nama bapaknya. Bebas bertanggung jawab…👏😘
Sebagai anak bangsa Indonesia, kami hafal Pancasila, lagu Indonesia Raya, Maju Tak Gentar, Teks Proklamasi, Sumpah Pemuda, nama-nama para Menteri Kabinet Pembangunan IV dan Dasadharma Pramuka dan nama-nama seluruh provinsi di Indonesia…😊😘👍
Kini di saat kalian sedang sibuk-sibuknya belajar dengan kurikulum yang jlimet, kami asik-asikan mengatur waktu untuk selalu bisa kumpul reunian dengan generasi kami…😉
Betapa bahagianya generasi kami…👏😆😘👍
Maaf, adik-adikku dan juga anak-anakku.. Kalian belajar yang keras ya untuk mendapatkan kebahagian dengan cara kalian sendiri…😉
Salam sayang dari kami…😘
~Generasi 60-80’ers~