“I missed you at tea..” Hal-hal unik tentang Australia..

logo_cuadrado_400x400

twitter.com

Terilhami tulisan Mariska beberapa waktu lalu tentang kebiasaan orang New Zealand, saya jadi ingin menulis versi Australia-nya.. Apa yang saya tuliskan berikut ini berdasarkan pengalaman pribadi, jadi secara umum mungkin sama dengan pengalaman orang lain, tapi secara spesifik mungkin juga berbeda. Selain itu, ada banyak aspek lainnya yang bisa mempengaruhi kebiasaan sehari-hari, misalnya aspek sosiogeografis. Lingkungan saya sehari-hari di sini adalah kelas pekerja di kota berukuran sedang, yang terletak di daerah beriklim tropis savanna. Tentu kebiasaannya akan sedikit berbeda dengan orang-orang Australia yang berprofesi sebagai petani/peternak di daerah yang beriklim subtropis, misalnya.

Jadi inilah dia.., beberapa hal unik tentang Australia atau orang Australia:

1.Sangat suka memendekkan kata/frasa sehingga membentuk kata baru.. Misalnya: brekky=breakfast, barbie=barbecue, cuppa=cup of tea, choccy=chocolate, biccy=biscuit, choccy biccy= chocolate biscuit, ambo=ambulance, servo=service station(pom bensin), undies=underwear, hanky=handkerchief, footy=football (rugby maksudnya, kalau football=sepakbola disebut soccer di sini), Macca’s=MacDonald, arvo=afternoon, s’arvo=this afternoon, Straya=Australia, Aussies=Australian (orang Australia), selfie=self photo taking, avo=avocado, tradie=trader (profesi orang berkeahlian pertukangan), postie=postman, lappy=laptop, garbo=garbage truck driver, prezzie=present (hadiah), Chrissie=Christmas, Brissie=Brisbane, Tassie=Tasmania, mozzie=mosquito, uni=university, bestie=bestfriend. Ini hanya contoh kecil. Orang Australia saking terobsesinya dengan singkatan, nama orang pun sering disingkat. Misalnya, nama “Richard Skiffington” dipanggil Skiffo (dari Skiffington). Bahkan, maskapai penerbangan utama mereka, Qantas, sebetulnya singkatan dari Queensland and Northern Territory Airline Service.

2. Bunyi ‘er’ di akhir kata diucapkan ‘a’.. Ini kaitannya dengan dialek alias logat. Jadi dalam Bahasa Inggris logat Australia, dinner diucapkan/terdengar seperti dinna, order=orda, better=betta, slimmer=slimma, runner=runna, cheaper=cheapa, water=wata, dll..

3. Penyebutan waktu makan yang unik.. Breakfast tentu saja brekky, morning tea=mengemil di antara sarapan dan makan siang, smoko=smoke break (waktu rehat untuk merokok atau makan makanan ringan), lunch tentu saja makan siang, afternoon tea=makan malam sehari-hari, dinner=makan malam yang bersifat lebih formal, misalnya makan di restoran, atau di acara-acara resmi. Penjelasan soal afternoon tea dan dinner ini saya dapatkan dari mertua, jadi “shahih” lah ya istilahnya..hehehe.. Afternoon tea biasa disebut ‘tea’ saja, yang mana sama sekali tidak berhubungan dengan tea=teh. Kalau yang ingin dibahas itu tea=teh, maka istilah cuppa=cup of tea yang lazim digunakan. Ada lagi yang disebut tucker=food alias makanan. Kadang orang sini suka bilang: So you had some tucker (baca=taka)? Ini maksudnya, kamu sudah makan? Zaman dulu waktu saya dan M masih dalam tahap PDKT (ehemm..ehemmm..hehehe), suatu malam saya dapat SMS dari dia yang isinya: “I missed you at tea..” Saya kira maksudnya kami sudah janjian untuk minum teh bareng dan kemudian saya lupa datang. Ternyata.., dia heran kenapa saya tidak muncul di saat jam makan malam di kantin karyawan, karena biasanya kami makan bareng..hahaha..

4. Lebih suka mengucapkan ‘no worries’, ‘no dramas’, atau ‘too easy’ yang artinya kira-kira sama dengan ‘no problem’, dalam konteks ketika diminta melakukan suatu tugas. No worries juga lebih lazim diucapkan (daripada you’re welcome) ketika membalas ucapan ‘thank you’.

5. Kata-kata basa-basi andalan.. “G’Day..” (bentuk singkat dari ucapan ‘I wish you have a good day = semoga hari Anda menyenangkan, setara dengan ‘how are you’). Selain itu ada ‘how are you going..?’, yang maknanya setara ‘how are you?’ juga, tapi secara harfiah artinya ‘kamu perginya bagaimana..?’ Jadi jika ada yang bertanya seperti ini di Australia, jangan dijawab ‘by bus (naik bis)’ ya..hahaha.. Jawab saja: “I’m good, thanks..”

6. Mengenakan alas kaki adalah pilihan pribadi.. Dengan kata lain.., suka nyeker..hahaha.. Mobil boleh mewah (merk asal Eropa misalnya) tapi hobi nyeker tetap jalan.. Tidak aneh melihat orang-orang muda atau tua tak beralas kaki di ruang publik, seperti di mal, klinik, taman, dll. Dulu pertama kali lihat M dengan santainya nyeker pergi ke kantor pos, kemudian ke kantor asuransi, saya “speechless”..hahaha.. Tapi sekarang, kadang saya dan Bear pun tak pakai alas kaki kalau pergi ke taman dekat rumah.. Oh ya, Bear sehari-hari bermain di halaman rumah juga nyeker..

7. Kopi harus panas dan bir harus dingin.. Bagaimana pun cuacanya, kopi harus disajikan panas, dan bir harus disajikan dingin (kalau ini memang harus dingin kayaknya).. Jangan aneh jika melihat di siang hari bolong di tengah musim panas yang bersuhu nyaris 40’C, orang Australia tetap minum kopi yang diseduh air panas, atau di musim dingin malam hari dengan suhu 5’C bisa saja minum bir yang baru keluar dari kulkas.

8. Sumpah serapah.. Ini kebiasaan yang saya tidak suka.. Yang paling umum tentu saja kata ‘fuck’.. Di Australia kata sumpah serapah tidak selalu identik dengan konteks negatif seperti kemarahan atau menyumpahi orang. Ini sudah seperti hal biasa yang mengalir dalam percakapan sehari-hari, terutama dalam konteks informal. M pun tidak luput dari hal ini. Saya tentu protes, terutama jika dia mengucapkannya dalam pembicaraan kami. Saya sempat kesal pada M soal ini. Saking kesalnya, saya memberi ‘ultimatum’, jika dia tak bisa berhenti menggunakan kata sumpah serapah, atau setidaknya mengurangi, maka saya akan beli perhiasan mahal setiap kali dia bersumpah serapah (pakai duitnya dia dong..hahaha). Dia pikir saya bercanda. Di kali berikutnya dia ber F-word lagi, langsung saya beli anting berlian yang harganya cukup bikin sumpah serapahnya berkurang drastis..hahaha..

9. Naik taksi duduk di kursi depan.. Ini biasanya berlaku jika kita naik taksi sendirian, tak punya teman seperjalanan selain si supir taksi itu sendiri. Jadi akan sangat dihargai jika naik taksi sendirian, kita duduknya di sebelah supir taksi, kemudian berbasa basi sedikit. Hal ini didasarkan pada azas kesetaraan yang dianut bangsa Australia. Maklum.., meski berbeda-beda tampilan luar, mayoritas orang Australia ini kalau bukan migran, ya keturunan migran, kecuali kelompok penduduk asli yang biasa disebut orang aborigin atau indigenous people, yang mana jumlahnya tak banyak, alias minoritas.

10. Orang Australia umumnya berkarakter santai dan tidak rewel, namun mereka juga sangat tepat waktu. Artinya, kalau memang harus antri, sepreman-premannya orang di sini, mereka akan tetap antri dengan manis. Atau suami sendiri, M, dia tidak rewel mau makan apa buat sarapan atau makan siang misalnya, tapi kalau urusan tepat waktu, untuk jadwal penerbangan contohnya, dia “tak kenal kompromi”: penerbangan domestik minimal 2 jam sebelum keberangkatan, dan penerbangan internasional minimal 3 jam. Minimal loh.. Seringnya, kita sudah di bandara 3 jam sebelum berangkat untuk domestik, dan 4 jam sebelum berangkat untuk internasional. “Just in case..” kata dia.. Hadeuuuhh..

11. Hierarki di tempat kerja dan di mana pun secara umum nyaris tak ada.. Kalau di tempat kerja maksudnya begini, di Indonesia pasti janggal dan dianggap tidak sopan jika memanggil pimpinan atau orang yang dianggap senior di tempat kerja dengan nama depannya saja tanpa ada awalan ‘Pak’ atau ‘Bu’, atau sebutan lazim lainnya. Sementara di sini dianggap wajar, malah kalau kita panggil dengan sebutan Mr. Smith, orangnya akan bilang, “Just call me John..” (misalnya untuk orang yang bernama John Smith). Ini kejadian di M, dia dengan santainya panggil ‘big boss of the big boss’ di kantornya pakai nama depan saja. Atau oleh ponakannya, M dipanggil M tanpa ada embel-embel ‘uncle’dalam sapaan sehari-hari. Tapi kalau sang ponakan memperkenalkan M ke orang lain, dia akan bilang bahwa: “This is M, my uncle..” Saya pun dipanggil ‘Emmy’ saja tanpa ada embel-embel ‘auntie’ oleh ponakan suami. Tapi kalau anak ke orang tua tetap panggil Mum and Dad ya. Dulu waktu saya masih kerja di Kalimantan, atasan saya orang Australia, lingkungan kerja juga banyak melibatkan ekspats asal Australia. Jabatan atasan saya itu General Manager, dan mayoritas orang kantor panggil dia dengan nama depannya saja. Di Australia sistem hierarki tidak menentukan level kesopanan atau rasa hormat kita terhadap orang lain.

12. Orang Australia sangat suka melancong.. Tapi umumnya melancong atau traveling ke luar Australia, karena bepergian/berwisata di dalam wilayah Australia itu sangat mahal. Mahal karena biaya hidup memang mahal, dan juga karena jarak antar kota/wilayah itu sangat berjauhan, jadi belum apa-apa sudah habis di ongkos. Sementara kalau bepergian ke wilayah Asia Tenggara misalnya, sepanjang bisa dapat tiket promo dari maskapai berbiaya murah atau maskapai asal Asia, seseorang berprofesi pegawai biasa bisa dengan nyaman berlibur di Bali atau Bangkok selama beberapa minggu. Jadi jangan heran, orang Townsville mungkin akan lebih sering ke Bali (4.5 jam flight) daripada ke Perth (8 jam flight, belum termasuk waktu transit jika ada).

13. Banyak hal besar.. Maksudnya, Australia ini kan pulau maha besar, negara juga, benua juga, dan entah kenapa ukuran besar ini ‘menular’ ke hal lain, misalnya ukuran pohon mangga yang di Indonesia tahu sendiri seperti apa, di sini pohon mangga lebih mirip pohon monster saking tinggi dan besarnya. Ukuran sayuran dan buah-buahan juga cenderung XL dibandingkan ukuran di Indonesia. Saya pernah beli apel hijau yang ukurannya nyaris sebesar batok kelapa. Ukuran beberapa jenis hewan juga lumayan fantastis: semut sebesar kecoa, atau buaya dengan panjang nyaris 6 meter. Soal properti, tidak aneh di sini orang punya rumah yang berdiri di atas tanah seluas 2000 m2 misalnya, 2000 ya, bukan 200. Atau ipar saya dan keluarganya mengelola tanah peternakan yang cukup luas untuk menggembalakan 40 ribu ekor sapi sekaligus. Dan jangan kaget kalau saya bilang, ada petani yang tanah pertaniannya seluas negara Belgia..

14. Sangat suka minum teh, kopi, dan alkohol.. Tidak dalam waktu yang bersamaan tentunya. Saya pernah berada di beberapa tempat yang menganggap salah satu dari ketiga minuman itu dianggap tidak lazim. Tapi di Australia, banyak orang yang suka semua jenis minuman tersebut. Teh dan kopi umumnya dijual di supermarket, sementara alkohol dijual di toko khusus dengan izin khusus, dan dijual dengan aturan yang super ketat.

15. Australia adalah ‘gudang aturan super ketat’.. Mulai dari aturan yang lazim sampai yang (dianggap) tidak lazim terutama bagi orang luar Australia. Di negara bagian Queensland tempat saya tinggal, membunyikan klakson kendaraan itu ada Perda-nya. Yang jelas, klakson boleh dinyalakan hanya pada saat kondisi gawat darurat. Jika melanggar, siap-siap saja kena denda. Memancing pun tak boleh sembarangan tempat, waktu, jenis ikan, ukuran ikan, dan lain sebagainya. Pernah saya dan M pergi memancing di sungai. Kemudian saya dapat ikan lumayan besar, tapi menurut buku panduan ukuran ikan (ya betul ada ketentuan ukuran ikan yang boleh diambil), ikan itu kurang 1 cm panjangnya dan harus dilepaskan lagi ke sungai. Saya protes dong ke M, saya bilang, memangnya bakal ada orang yang kurang kerjaan banget sampai perlu memeriksa ikan hasil tangkapan saya. Ketika selesai mengomel begitu.., lewatlah perahu patroli polisi perairan . Dan sambil cengar-cengir M bilang, nah itu dia “orang kurang kerjaan” yang akan periksa setiap tangkapan ikan secara acak. Mungkin perahu kita kena periksa, mungkin juga tidak. OMG..!

16. Dilarang mabuk di tempat umum.. Ini termasuk di tempat-tempat yang umumnya orang datang untuk minum alkohol, seperti di pub, klub malam, dan sejenisnya. Jika ada tempat bisnis yang membiarkan pengunjungnya mabuk, kemungkinan akan kenda denda, mungkin izin usahanya dicabut juga. Jadi minum alkohol boleh, tapi kalau mau mabuk di rumah sendiri saja..

17. Merokok juga hanya diperbolehkan di tempat pribadi.. Jangan harap menemukan area merokok di tempat umum. Merokok di taman umum pun, biarpun ‘outdoor’ tidak diperbolehkan.

18. Tidak ada ‘friend’, yang ada ‘mate’.. Orang Australia menyebut ‘mate’ ke hampir semua orang.. Artinya kurang lebih sama dengan friend, dude, bro dalam bahasa Inggris, atau bung, mas, mba dalam bahasa Indonesia.., tetapi penggunaannya lebih universal.. Bahkan antar ayah dan anak laki-laki pun kadang mereka saling sebut ‘mate’.. So, how are you going, mate..?

Dan begitulah.. Sementara sekian dulu.. Nanti kalau ada yang teringat lagi, saya akan tuliskan sebagai Part 2 saja.. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk baca tulisan saya yang (ternyata) panjang ini..hehehe..

Advertisements

Oh..Bear suka makan ini dan itu..?

Ini ceritanya tentang Bear yang selera makannya kadang memberikan saya kejutan. Maksudnya, sebagai orang tua kadang kita berpikir, anakku mungkin suka atau tidak suka makanan ini itu. Padahal kadang itu hanya ada di pikiran kita saja sebagai orang tua. Dengan kata lain, kalau tidak dicoba ditawarkan (beberapa kali kalau bisa), mana mungkin kita tahu anaknya mau memakan makanan tersebut atau tidak.

Bear saat ini berusia 22 bulan. Pola dan menu makannya sudah nyaris sama seperti orang dewasa, istilahnya sudah makan “table food”, memakan makanan yang disajikan untuk seluruh keluarga. Tentu ada beberapa pengecualian, seperti makanan pedas, berminyak, dan berbumbu pekat misalnya, atau makanan yang mengandung sodium (MSG), atau penguat rasa secara kimia (flavour enhancer). Intinya sebisa mungkin kami sekeluarga memakan masakan rumahan, sehingga semua prosesnya bisa lebih terkontrol.

Dan ini dia makanan atau bahan makanan yang saya kira Bear tidak suka tapi ternyata dimakan juga. Asumsinya berarti dia menganggap makanan itu sesuai selera lidahnya.

  1. Brokoli.. Dulu sebelum punya anak, sering banget saya dengar anak kecil tidak suka sayuran, terutama brokoli. Kemudian ketika Bear sempat rawat inap di RS di Townsville, salah satu menu makanannya adalah puree brokoli. Dan dia tidak suka, karena begitu sampai di lidahnya, si puree langsung disemburkan..hahaha.. Waktu itu Bear berumur 6 bulan. Seiring waktu, dia sering lihat saya dan M makan brokoli rebus sebagai bagian dari menu makan malam kami. Nah dia sudah ada di tahap “penasaran dengan isi piring orang lain” ketika jam makan. Suatu malam, dia menunjuk-nunjuk brokoli yang ada di piring saya. Saya kasih sedikit, setelah dipotong kecil-kecil dulu tentunya. Ehh.., ternyata si brokoli dimakan sampai habis, dan minta lagi.. Sejak saat itu, secara rutin saya kasih brokoli kukus/rebus di menu makanannya.
  2. Kornet, alias corned beef.. Yang dimaksud kornet di sini adalah kornet yang saya buat sendiri di rumah, bukan kornet kalengan seperti yang biasa ada di Indonesia. Proses pembuatan kornet pada dasarnya merupakan proses pengawetan protein hewani, dalam hal ini daging sapi. Jadi sekali buat biasanya saya memasak sekitar 2.5 kg daging sapi utuh. Setelah jadi, si kornet bisa tahan di kulkas selama 2 minggu. Saya coba kasih kornet ke Bear, untuk tahu apa gigi dan rahangnya sudah cukut kuat untuk mengunyah daging. Tentu saya iris tipis dulu kornetnya. Dan ternyata dia suka, dan sekarang malah jadi salah satu makanan favoritnya.
  3. Steak (daging sapi atau daging domba).. Suatu malam ketika kornet di piring Bear habis dia makan, dia masih ingin makan lagi, dan menunjuk-nunjuk makanan yang ada di piring saya. Menu saya dan M adalah steak daging domba saat itu. Saya ragu sebetulnya memberi Bear steak, karena daging steak teksturnya tidak semudah daging kornet ketika dikunyah. Steak hanya digoreng pan fried beberapa menit, sementara kornet direbus selma 1 s/d 2 jam. Tapi saya kasih juga, setelah dipotong kecil-kecil terlebih dahulu. Dan ternyata dia suka dan tidak ada masalah ketika mengunyah/mencernanya. Sehingga di lain hari saya coba kasih steak daging sapi, dan sukses juga.
  4. Smoothies buah-buahan dan puree apel hijau.. Smoothies yang biasanya saya buat terdiri dari aneka buah berry (strawberry, raspberry, blackberry, bluberry, atau gabungan dari semuanya) dicampur pisang dan 2 sendok makan santan kelapa (coconut milk) atau almond (almond milk), dan sedikit jus apel. Santan kelapa/almond ini sebagai pengganti susu/yoghurt karena saya punya intoleransi laktosa, sementara jus apel sebagai pemanis alami. Smoothies ini sebetulnya untuk saya, tapi lagi-lagi Bear penasaran dan ingin coba. Dan ternyata dia suka.. Sementara puree apel hijau saya buat awalnya karena kebetulan, kebetulan di supermarket si apel hijau sedang diskon 50%..hehehe.. Ketika apel tersebut saya cicipi di rumah, ternyata rasanya manis asam, bukan manis saja seperti apel lainnya yang biasa dibeli. Tapi tetap saya jadikan puree juga, saya pikir kalau Bear tidak suka ya sudah tak usah buat lagi. Eh..ternyata dia doyan.., padahal rasa asamnya itu lumayan terasa.
  5. Bawang daun, bawang bombay, tomat.. Saya membuat telur dadar, pasta, atau tumisan sayur itu biasanya memakai bahan 3 bumbu tersebut. Nah.., ketika disajikan ke Bear (misalnya si pasta), maka di piringnya itu dia akan cari dulu si irisan bawang dan tomat tersebut, terus dia makan. Setelah yakin duo bawang tomat habis, baru dia makan “tokoh utamanya” (pasta/telur/sayuran)..hahaha.. Seingat saya, anak kecil umumnya menyingkirkan irisan tomat bawangnya, dan hanya memakan si tokoh utama..
  6. Bubur gandum tawar.. Ini sebetulnya salah satu menu sarapan saya. Dan seperti biasa Bear penasaran ingin mencoba, dan ternyata dia suka. Bubur ini saya buat dari muesli (gandum giling kering yang dicampur buah kering seperti sultana misalnya) yang diseduh air panas. Orang lain biasanya menambahkan susu segar atau yoghurt dan potongan buah segar. Tapi saya hanya menambahkan air panas dan perasaan lemon. Sarapan Bear sendiri biasanya roti panggang diolesi sedikit margarin dan Vegemite atau selai buah-buahan (silahkan Google sendiri, apa itu Vegemite), atau sosis daging ayam. Oh ya, sosis yang biasa saya beli di sini, campuran tepungnya itu berupa tepung beras, bukan tepung terigu. Jadi kalau makan sosis ayam/sapi itu serasa makan nasi campur daging ayam/daging sapi..hehehe.. Dan sejak saat momen bubur gandum itu, bertambahlah daftar menu sarapan Bear..
  7. Roti tawar.. Bear suka sekali menjelajah dapur. Suatu hari dia temukan di mana roti tawar biasanya disimpan. Selanjutnya, ketika dia merasa lapar di luar jam makan rutin, dia akan buka lemari pantri (di mana roti itu disimpan), ambil si kantong roti, dan meminta saya atau ayahnya untuk membuka kantongnya sehingga dia bisa ambil selembar roti tawar. Dan beneran dia makan itu roti sampai habis..
  8. Pizza dan pasta.. Ini merupakan bagian dari pengenalan “finger food” (makanan yang bisa dijimpit jarinya). Pizza kadang beli jadi atau buat sendiri, dan Bear memakannya dalam bentuk potongan kecil. Sementara jenis pasta yang dipilih biasanya yang gampang diambil dengan jari, misalnya fusili (bentuk spiral) atau macaroni (bentuk pipa). Kadang dikasih juga yang bentuk spaghetti (bentuk mi panjang kurus itu loh..), tapi memang jadi berantakan meja makan..hahaha..
  9. Sayuran dedaunan hijau.. Ini “nasibnya” sama dengan nomer 5. Jadi jika dimasak tersendiri, Bear awalnya seperti bingung bagaimana cara memakannya, tapi ketika dicampurkan ke pasta atau nasi, maka dengan cekatan dia akan makan dulu si sayurannya.. Aneh kan.. Oh ya.., mungkin saking “doyannya” dengan sayuran hijau, kadang dia mencabuti rumput dan memakannya.. Halahhhh..ada-ada saja.. Dia pikir semua yang berdaun hijau itu bisa/biasa dimakan.. Mentang-mentang turunan orang Sunda..hehehe..
  10. Nasi liwet.. Nasi liwet yang biasa saya buat biasanya berbumbu tomat, bawang merah, sedikit garam, sedikit minyak zaitun/minyak kelapa murni, daun salam, batang serai. Yang disajikan ke Bear biasanya dalam bentuk bola-bola nasi ukuran kecil. Ini percobaan juga untuk mengetahui dia doyan nasi dalam bentuk tersendiri seperti itu.. Dan tentu saja dia doyan..hehehe..

Kayaknya masih ada lagi makanan yang bikin saya..: “Oh..ternyata kamu suka ini toh, Nak..” Yang saya ingat sekarang cuma 10 item tersebut. Ada yang punya pengalaman serupa..?

The Australian Outback

Mari kita sedikit mengintip area maha luas Tanah Oz..

Yang dimaksud dengan “Outback” adalah daerah pedalaman terpencil yang maha luas di Australia. Istilah “The Outback” (secara harfiah artinya Bagian Luar Belakang, alias pedalaman) secara umum digunakan untuk merujuk pada lokasi-lokasi yang jauh lebih terpencil dibandingkan dengan area yang disebut “the bush” (area semak-semak).

Meski sering digambarkan sebagai area kering kerontang, wilayah Outback sebetulnya terhampar dari pesisir Australia bagian utara ke selatan, meliputi sejumlah zona iklim; termasuk iklim tropis dan iklim monsoon (banyak hujan) di wilayah utara, area kering kerontang di ‘red centre’ (pusat merah), dan semi kering kerontang dan iklim hangat sedang di area yang lebih selatan.

Secara geografis, the Outback dipersatukan oleh kombinasi beberapa faktor. Faktor yang paling dikenal adalah rendahnya tingkat kepadatan penduduk (ilustrasi: rumah kita di Bandung, tetangga terdekat di Surabaya, misalnya), suatu lingkungan alam maha luas yang tak banyak terganggu sentuhan manusia, dan di banyak tempat, area ini merupakan dataran yang digunakan tanpa banyak pengolahan, misalnya digunakan untuk pastoralisme (pemeliharaan hewan ternak skala besar yang dilakukan di alam lepas, tanpa kandang, hanya menggunakan pagar pembatas antar properti peternakan), yang mana pengelolaannya bergantung pada lingkungan alam secara natural. Ini sekedar ilustrasi lagi mengenai the Outback dan the bush. Sebelumnya saya gambarkan betapa jarang dan sedikitnya jumlah penduduk yang tinggal di daerah Outback ini. Saya belum pernah ke daerah Outback, tapi saya pernah melakukan perjalanan darat ke area the bush (area semak-semak) yang tidak seterpencil the Outback. Ada satu momen ketika saya dan M sudah berkendara selama 5 jam dengan jarak tempuh setara Bandung-Yogya, “peradaban manusia” yang kami temui hanyalah satu pom bensin beserta rumah pemiliknya..hahaha.., selebihnya.., tanah datar berisi padang rumput dan pohon-pohon kurus, serta rombongan kangguru.

Secara budaya, the Outback terukir sangat mendalam di warisan budaya, sejarah, dan cerita rakyat bangsa Australia. Di tahun 2009 sebagai bagian dari perayaan Q150, Queensland Outback diumumkan sebagai Q150 Icons of Queensland atas peranannya sebagai “atraksi alam”. Catatan: Q150 adalah perayaan 150 tahun terpisahnya Queensland dari negara bagian New South Wales (NSW) di tahun 1859. Pemisahan ini menghasilkan Colony of Queensland  yang kemudian menjadi negara bagian Queensland, dengan ibukota Brisbane. Sementara ibu kota dari negara bagian NSW adalah Sydney.

Townsville, kota tempat saya dan keluarga tinggal di Australia, adalah bagian kecil dari the Outback ini. Tapi tenang saja, saya tidak tinggal di bagian gurunnya..hehehe.. Tapi iklimnya memang sering berudara kering seperti yang pernah saya ceritakan di sini. Townsville berada di negara bagian Queensland, persisnya di wilayah utara Queensland yang beriklim lebih kering daripada Queensland bagian selatan di mana kota-kota seperti Brisbane dan Gold Coast berada. Seperti umumnya kota-kota di Australia, Townsville adalah kota pesisir. Keluarga suami banyak yang tinggal jauh dari area pesisir/laut. Bahkan ada yang tinggal di daerah pastoral/peternakan sapi dengan pemandangan kurang lebih seperti salah satu gambar di bawah ini.

Jadi baiklah.., silahkan menikmati sekilas wajah pedalaman Australia.

(Tulisan dan gambar dirangkum dan diambil dari beberapa sumber)

       
                                

Firasat..(2)

Screen Shot 2017-08-22 at 9.53.17 pm.png

Sambungan dari post sebelumnya..

Kelima.. Saat itu Mei 2014.. Saya dan M sedang dalam penerbangan dari Singapura ke London, Inggris. Saat pesawat berada di atas wilayah udara Ukraina, tiba-tiba saya merasa gelisah luar biasa. Saya takut pesawat yang saya tumpangi saat itu, Singapore Airlines, bakal terkena rudal nyasar. Seingat saya, konflik di Ukraina saat itu sudah ada tapi belum memanas. Tapi entah kenapa, saya merasa pesawat ini bakal terkena rudal nyasar. Selama berada di wilayah udara Ukraina itu, mata saya tak lepas memandangi layar monitor, memantau flight path yang terpampang di situ. Tak sabar rasanya ingin pesawat segera berlalu dari wilayah tersebut.  Saya tengok M yang ternyata sedang tertidur lelap. Saya ketakutan tapi tak tega membangunkan dia. Akhirnya saya diam saja sambil berusaha menenangkan diri dari serangan rasa panik yang tak jelas itu. Ketika kami akhirnya tiba di London, baru saya cerita ke M. Dia bilang: “You had panick attack. Maybe because you were exhausted. It’s okay, darling. There are long distance missiles (rudal=peluru kendali) but I don’t think they can reach commercial jet plane on a cruise altitude. It’s way too high above for those missiles..” Dan, saudara-saudara.., apa yang terjadi beberapa bulan kemudian..? Pesawat Malaysia Airlines tertembak rudal nyasar, di lokasi di mana saya merasa sangat panik itu.. Duhhh.., saya langsung lunglai dengar berita itu.. Lalu saya bilang ke M: “Too bad.. Apparently those missiles can fly higher than you think..”

Keenam.. Sekitar Maret 2017.. Beberapa bulan setelah tinggal di Townsville, saya mendapat kabar bahwa salah satu sahabat saya di Cianjur, kita sebut saja Lynn, tiba-tiba jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Lynn adalah salah satu teman SMP, jadi kami berteman sudah sekitar 30 tahun pada saat itu. Menurut kabar, ada masalah dengan ginjalnya. Begitu mendengar berita ini, ya ampun.., bisikan itu datang lagi.. Bisikan yang terakhir kali melintas di otak saya 22 tahun sebelumnya: “Moal lami deui..(tidak akan lami lagi..) Kali ini saya pastikan saya tidak cerita ke siapa pun  yang ada di lingkungan pertemanan kami, mengingat pengalaman buruk yang saya alami akibat salah penafsiran perkataan saya waktu zaman kuliah dulu. Saya hanya cerita ke M soal ini, sambil berharap kali ini firasat saya salah. Beberapa kali dirawat di rumah sakit, kondisi Lynn membaik. Saya pun merasa senang, bisikan itu berarti khayalan saja, saya pikir.. Kemudian tak ada hujan tak ada angin, beberapa hari sebelum Ramadhan di bulan Mei, sebuah notifikasi di grup WA teman Cianjur berbunyi: “Innalillahi wa ina ilaihi rojiun.. Teman-teman, Lynn sudah pergi untuk selamanya.. Tadi pagi..” Saya benar-benar terhenyak..

Ketujuh.. Masih di tahun 2017.. Waktu itu Juni, sedang bulan puasa. Adik saya mengabari bahwa pekerja yang biasa mengurus taman rumah saya di Cianjur, kita sebut saja Pak Asep, sudah lama tidak bisa bekerja karena sakit. Pak Asep ini sudah lama kerja lepasan di keluarga kami, mungkin sudah 10 tahun. Kami suka dengan cara dan hasil kerja dia, karakternya juga baik. Jadinya sudah seperti keluarga. Kemudian saya minta adik saya untuk mewakili menengok dia dan memberi bantuan untuk berobat. Mendengar berita tentang Pak Asep tersebut, saya langsung waswas, jangan-jangan saya akan mendengar “bisikan” itu lagi. Dan ternyata saya tidak mendengar bisikan itu.. Oh..leganya.. Tapi, anehnya pikiran saya terus saja berkutat tentang Cianjur, kampung halaman saya, masa kecil saya. Sekedar gambaran, saya cinta kampung halaman tapi saya bukan tipe orang yang gampang homesick (rindu kampung).  Saya mulai merasa, “sesuatu” akan terjadi, sesuatu yang terkait dengan kampung halaman saya. Dan akhirnya beberapa hari kemudian, ibu saya mengabari bahwa sepupu saya, Dina, meninggal hari itu karena kecelakaan, dia terjatuh ke kolam saat sedang membersihkan tanaman.. Saya terpukul.. Teh Dina bukan hanya sepupu, tapi sudah seperti kakak sendiri. Dia kira-kira 10 tahun lebih tua daripada saya. Waktu saya dan adik-adik masih balita, Teh Dina ikut tinggal bersama kami sampai dia lulus SMA. Yang paling bikin saya sedih, dia tak sempat mengenal Bear..

Kedelapan.. Lagi-lagi di tahun 2017 dan di bulan Juni, beberapa hari menjelang Idul Fitri. Saya dapat invite grup WA dari teman-teman SMA satu sekolah, jadi grupnya berisi murid satu angkatan, bukan hanya satu kelas. Saya terima invite grup ini. Di grup itu saya lihat ada teman sekelas waktu kelas 1, tapi kelas 2 dan 3 tidak sekelas karena beda jurusan. Saya masuk Bio, dia masuk Sos. Namanya Anna. Saya dan Anna dulu berteman dekat, terutama waktu sekelas itu, tapi kemudian hilang kontak sejak lulus SMA. Kemudian bertemu lagi di Instagram, dan satu kali saja kami saling menyapa di situ, dan tak pernah bertemu langsung sekalipun. Begitu melihat namanya ada di grup tersebut, tiba-tiba saya ingin sekali kirim pesan ke dia, tapi anehnya ada saja halangan yang bikin saya tidak jadi kirim pesan. Begitu terus berulang-ulang selama seminggu. Entah kenapa, tiba-tiba saja saya merasa harus menghubungi dia, dan perasaan itu kuat sekali. Perlu diingat, kami tak pernah bertemu lagi sejak lulus SMA, dan itu sekitar 25 tahun yang lalu. Saya sadar ini aneh tapi tidak tahu kenapa. Dan ketika akhirnya saya benar-benar punya kesempatan untuk mengetik pesan ke dia, saya keburu baca notifikasi di grup tersebut, yang mengabarkan bahwa suaminya Anna meninggal mendadak di hari itu karena kecelakaan, terjatuh saat membersihkan tangki air di rumahnya.. Saya bengong, tak tahu harus berkata apa.. Yang jelas, saya tidak jadi mengirimkan pesan ke Anna hari itu..

Delapan kejadian tersebut terbentang dalam masa hidup saya dari masa awal remaja hingga sekarang dengan jeda waktu yang berbeda-beda. Saya tidak tahu apakah saya akan mengalaminya lagi atau tidak. Yang jelas, seandainya saya bisa memilih, saya akan memilih untuk “tidak bisa merasakan” firasat seperti ini. Ada momen di mana saya benar-benar merasa gelisah karena merasakan firasat itu, dan itu sangat menyiksa pikiran. Tapi kelihatannya.., hanya waktu yang akan menjawab..