(006) Excuse me.. May I sit here..?

Seperti yang disebutkan sebelumnya, saya suka sekali buffet meal, makan ala prasmanan. Walhasil, di mess karyawan tempat saya tinggal ini, saya tak pernah melewatkannya, seperti saat itu, suatu malam di awal Maret 2009. Seperti biasa saya pergi segera setelah sholat maghrib dengan 2 karyawan perempuan tetangga sebelah, mereka orang baru juga, satu dari  divisi Marketing dan satunya lagi dari divisi Mining. Tapi kali itu mereka baru bisa pergi setelah agak malam. Berhubung saya sudah lapar sekali, akhirnya saya pergi sendiri.

Malam itu di kantin seperti biasa penuh dengan karyawan pria, dan sekitar setengahnya adalah expats, bule-bule yang mayoritas berasal dari Australia.  Hari-hari pertama saya heran juga dengan pemandangan ini, saya pikir di Kalimantan cuma ada orang Indonesia dan orangutan, ternyata banyak orang bule juga.. Setelah ambil makanan, saya celingukan mencari tempat duduk kosong tapi semua meja penuh. Satu-satunya meja yang ada kursi kosong adalah meja favorit saya, meja yang paling dekat dengan meja penyaji dessert. Tapi saat itu sudah ada orang, seorang bapak bule tinggi besar yang tampak lusuh dan menyeramkan dengan rambut gondrong, muka brewokan, memakai baju seragam oranye dan celana jeans robek-robek yang penuh dengan noda oli dan lumpur. Entah apa yang dia kerjakan di kantornya hari itu, mungkin guling-guling di lantai yang penuh oli, lumpur, dan benda tajam..

Saya pikir.., bagaimana ini ya.. Saya enggan duduk bareng bapak bule seram itu.. Apa saya tidak jadi makan..? Apa saya harus makan sambil berdiri..? Sudahlah, saya duduk di situ saja.., dia pasti pergi sebentar lagi karena makannya sudah hampir selesai.. Akhirnya..: “Excuse me.. May I sit here?” Dia mempersilahkan dan saya pun duduk dan mulai makan. Setelah beberapa saat, dia sudah selesai makannya, tapi tidak segera beranjak, seolah-olah seperti sedang menunggu saya selesai makan. Jadi berasa janggal karena duduk satu meja tapi hanya saling diam. Karena tidak mau dianggap tidak sopan, akhirnya saya memulai percakapan. Saya bilang: “By the way, my name is Emmy.. E, double M, Y..”

Ya ampuuun! Kenapa juga saya harus mengeja nama saya..?!?  Eh.., tapi sebenarnya ada pembenarannya juga. Selama 1 minggu jadi orang baru, setiap kali berkenalan selalu saja ada orang yang salah dengar nama saya, entah itu jadi Erni, Evie, Eni, Eti, Eli, Emily, Ermi, dll.. Kemudian dia pun memperkenalkan diri. Namanya M, asal Australia. Bingung mau bicara apa lagi, saya tanya dia kerja di mana, padahal saat itu dia pakai seragam yang ada nama perusahaannya. Hadeuuhh…, pertanyaan bodoh.. (catatan: karyawan yang tinggal di kompleks ini berasal dari beberapa perusahaan berbeda yang mengerjakan proyek pertambangan yang sama) Ternyata dia karyawan kontraktor perusahaan. Lucunya, untuk seseorang yang tampak menyeramkan, cara bicara dia lemah lembut. Akhirnya saya selesai makan dan kami pun keluar ruangan bersamaan dan berpamitan di gerbang kantin. Dia rupanya tinggal di sebuah rumah di sisi lain dari kompleks ini, bersama dengan beberapa expats lainnya.

Besoknya yang kebetulan hari Minggu, saya sarapan di kantin, kali ini lebih bersemangat karena ini hari libur sehingga bisa berlama-lama di kantin mencicipi semua makanan..hehehe.. Saya sampai kantin sekitar jam 7 pagi dan di sana masih sepi. Tak lama kemudian, beberapa orang mulai berdatangan, salah satunya pak bule yang itu. Berhubung sudah kenal, kami bertegur sapa dan akhirnya duduk satu meja lagi. Kali ini dia tampak normal (baca: rapi), tidak menyeramkan seperti tadi malam, bahkan terlihat lebih muda. Rambutnya masih gondrong tapi brewoknya sudah hilang dan bajunya baju biasa bukan baju seragam. Rupanya hari itu dia sedang libur juga. Saat makan kami ngobrol seputar hal umum, kemudian saya tanya apa dia ada rencana mau ke pusat kota karena saya sedang cari tebengan buat belanja kebutuhan pribadi. (Ingat kan saat itu saya orang baru, belum kenal banyak orang, belum bisa menyetir, belum punya SIM, belum boleh bawa mobil perusahaan, harus cari tebengan kalau mau ke mana-mana..)

Dia menawarkan diri untuk mengantar, katanya dia juga sedang tidak ada kegiatan lain. Saya tentu senang ada yang menawarkan tebengan karena kalau hari libur susah sekali dapatnya. Tapi sebelumnya saya pastikan dulu kalau dia bukan married man.. Lho..kenapa..? Bukannya saya mau ajak dia pacaran, tapi saya tidak mau digosipkan aneh-aneh kalau pergi berdua saja meski hanya ke minimarket terdekat di pusat kota. Di lingkungan kecil seperti ini berita miring cepat tersebar dan itu pernah dialami rekan saya. Dan lucunya dia juga tanya hal yang sama karena alasan yang sama..hahaha..!!! Setelah jelas dengan status masing-masing kami pergi dan akhirnya makan siang bareng di salah satu warung makan di sana. Setelah itu pulang, dia antar ke tempat saya dulu, kemudian dia pulang ke tempatnya.

Saya tidak pernah melihat dia lagi setelah itu sampai seminggu kemudian pada saat makan malam. Kami duduk semeja lagi, ngobrol tentang macam-macam, salah satunya tentang kegiatan pengisi waktu luang selama tinggal di site camp. Saya belum bisa bawa mobil, belum punya laptop, belum punya TV di kamar, sinyal HP jelek, koneksi internet antara jelek dan tidak ada, kegiatan di kantor belum penuh, jadi saya punya banyak waktu luang yang bisa bikin mati gaya kalau tidak dimanfaatkan. Saat itu saya sudah ikut grup tenis, renang, golf, dan gym/fitness; bukan karena saya hobi olahraga, tapi karena tidak ada kegiatan lain. Ternyata dia suka main squash, itu lho olahraga yang seperti tenis lapangan tapi bolanya dipantulkan ke dinding. Dan dia ajak saya main squash bareng, nanti dia yang ajari. Saya pikir.., yaaaah..koq olahraga lagi sih.., tapi coba dulu saja, kalau tidak cocok ‘kan tinggal berhenti..

Akhirnya kami jadi sering bertemu (tapi tidak pacaran, biasa saja), entah itu di saat makan malam kalau dia sedang shift pagi atau saat makan pagi kalau dia sedang shift malam, atau saat bermain squash kalau dia sedang libur sehari. Ternyata meski orangnya pendiam, tapi setelah diajak ngobrol ramah juga. Ini berlangsung selama sebulan sampai suatu hari ketika dia pamitan mau pulang/berlibur ke Australia, saya bilang selamat berlibur, hati-hati di jalan. Oh ya, jadwal kerja kami berbeda; jadwal saya 5 hari kerja 2 hari libur dan libur panjang setiap 6 bulan selama 1 minggu. Sementara jadwal dia 5 minggu kerja 2 minggu libur. Saya orang admin, dia orang mechanical maintenance (baca: orang bengkel.., itu sebabnya sering tampak lusuh belepotan oli..hehehe..)

Setelah dia kembali dari Australia, kami jarang bertemu karena saya mulai sibuk, pekerjaan di kantor sudah normal dan bukan training lagi. Suatu hari kami jalan-jalan di pantai di sekitar lokasi kerja, saat itu saya baru tahu rambutnya sudah tidak gondrong lagi. Di tengah perjalanan pulang dia tiba-tiba tanya begini: “How to marry an Indonesian lady?” Merasa heran dan bingung, saya jawab begini: “I think it’s basically the same as if you want to marry a woman from any nationalities. The slight difference is probably that the Indonesian law allows the marriage between 2 persons who are both from the same religion only” Dia hanya manggut-manggut mendengar jawaban saya.

Beberapa hari kemudian kami bertemu lagi saat makan malam di kantin. Setelah makan, dia ajak saya duduk-duduk sebentar di beranda rumahnya. Dia tampak agak gelisah. Dia bilang mungkin tidak lama lagi dia akan pindah kerja ke proyek lain, belum tahu di mana. Saya manggut-manggut saja mendengarkan.

Kemudian dia bilang: “I enjoy being with you, but my job requires me to move around a bit sometimes. What do you think if we get together or something?”

Untuk beberapa saat saya hanya melongo, berusaha mencerna apa yang baru saja dia katakan. Dan saya jawab: “I enjoy being with you too, but I don’t think my parent would allow me to be with a man in a permanent basis without any official commitment”.

Tanggapan dia: “Well, then let’s get married..”

Saya bilang: “OK.., but I only want to get married to a moslem man..”

Respon dia: “I understand, I’ve been learning about that.. I’ll convert to Islam. Can you help me arrange that?”

Saya jawab: “Sure..”

Lalu segera saja saya tersentak.. Sebentar.., sebentar.. Barusan itu nyata kah? Saya baru saja diajak nikah..? Sadarkah dia dengan apa yang baru saja kita bicarakan..?

Bersambung…

 

Advertisements

41 thoughts on “(006) Excuse me.. May I sit here..?

  1. Baca postingan ini jadi kilas balik saat saya ketemu T (hubby), sama juga kurang lebih tapi settingan beda. Saya lagi duduk di bangku bandara sementara dia baru datang cari tempat buat duduk dan bilang: ‘Excuse me, may I sit here?’ Penampilannya sih waktu itu berantakan karena memang insinyur di lapangan yang rada cuek. Pas tahu dia kerja di Aceh baru saya tertarik, ternyata dia pinter, berjiwa sosial dan ramah 😀 , dua minggu kemudian saya dapat panggilan kerja di Aceh juga….ketemu lagi deh, yah sejak itu kita jadi dekat saaat ketemu waktu di luar kesibukan kerjaan.

    Like

    • Cuit..cuit..kayak adegan sinetron aja ye..hahaha… Ada satu blogger lagi yang pernah bilang ke saya katanya jalan hidup dia banyak kemiripan dengan jalan hidup saya… Mungkin Tuhan punya semacam “copy & paste” button juga ya dalam proses penciptaan manusia baru..

      Like

  2. Pingback: (043) Kembali ke titik awal.. | Crossing Borders

      • Maksudnya dirimu bilang garing dibandingan drama korea ato hollywood (apa blyywodd ya)….

        aku jawab ngga garing kok…

        Bandinginnya jangan sama drama korea… itu romantisnya di drama korea doang…. aslinya orang korea ngg seromantis itu, hehehe

        Like

      • Oh ya sedikit salah paham kalo gitu😝
        Wow ada yg pengalaman sama orang Korea sesungguhnya kah?😉 Tapi samalah kayak orang bule dibilang romantis kayak film Hollywood.., padahal kan tergantung tiap orangnya juga..

        Like

      • setiap ngajar bahasa indo ke orang korea dan trus ada materi suka apa, ntar kan ada pertanyaan suka film (jenis) apa, makanan apa dll…

        nah ntar mereka juga balik nanya suka drama korea…. et dah mereka umumnya bilang drama korea itu bener2 ngga nyata… ngga ada cowo korea yang seromantis itu, hahaha…

        dikiranya gue suka cowok korea kali yaaa, hehe…

        Like

      • Hahaha..gitu toh.. Trus yg aku heran.., cowok Korea di drama Korea itu kayaknya merawat diri banget ya.., koq wajah mereka bisa super mulus gitu..? *iri*.. Dan wajahnya koq feminin gitu yah.. *siap-siap ditimpuk penggemar fanatiknya..*

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s