(007) Yakin mau nikah sama bule…?

“Are you sure..? Yes, I am.. Well.., kind of sure.., but I don’t know.. See what happens..”

Ini pertanyaan yang berputar-putar di benak saya sejak percakapan aneh tapi nyata dengan M seminggu sebelumnya.

Dalam rentang waktu satu dekade karier saya di bidang Admin&HR, saya banyak berinteraksi dengan beraneka ragam kumpulan orang. Satu kumpulan tertentu yang saya dan tim tangani adalah expatriate, para WNA yang terkait dengan perusahaan tempat saya bekerja, entah itu karyawan, manajemen perusahaan, pemegang saham, pemilik perusahaan, rekanan bisnis perusahaan, dll. Cakupan tugas kami untuk urusan expatriate ini sangat luas, A to Z, dari urusan formal sampai personal, dari yang menegangkan sampai menggelikan, semuanya… Berdasarkan pengalaman tersebut, saya berkesimpulan bahwa punya suami WNA bukanlah yang terbaik untuk saya. Kenapa..? Saya akan cerita secara rinci tentang hal ini di posting terpisah.

Nah.., soal M, dia muncul begitu saja seperti jatuh dari langit, dan dengan anggunnya menampilkan hal yang berbeda dari apa yang selama ini biasa saya temui (catatan: di kemudian hari M bilang bahwa sebelum bertemu saya dia pun punya “persepsi tersendiri” tentang wanita Asia).

Akhirnya saya putuskan untuk berdoa: “Ya Allah, jika ini memang yang terbaik untukku, mudahkanlah. Jika bukan, jauhkanlah. Hanya Engkau Yang Maha Mengetahui..”

Hal ini untungnya tidak mempengaruhi suasana kerja saya di kantor. Saat itu masa training sudah selesai. Dan seperti biasa Pak Bos tanya saya: “So.., are you still alright living and working in the middle of the jungle..?”

Saya jawab: “Of course.. And guess what..? I even just got myself a boyfriend…hehehe…” Saya tidak bilang kalau M sudah mengajak nikah..

Dia takjub dan bilang: “Wow…, you certainly did not waste your time, young lady..!”

Selanjutnya dia tanya soal M. Pak Bos rupanya tidak kenal M secara pribadi, tapi tahu tentang dia. Kemudian Pak Bos jadi punya ide ajaib. Berhubung nama saya masih dalam antrian untuk kursus menyetir di Safety Dept, dia mengusulkan supaya M mengajari saya menyetir mobil dengan menggunakan mobil pribadinya Pak Bos!

Astaga..!!! Dia rupanya tidak mau buang-buang waktu juga! Walhasil tiap hari Minggu M mengajari saya menyetir mobil memakai mobilnya Pak Bos..hahaha..

Di saat yang sama saya juga mulai mengurus semua hal tentang proses muallaf di DKM masjid kompleks, sambil setiap hari tanya M apa dia masih yakin dengan keputusannya. Saya jelaskan semua kemungkinan konsekuensi, kadang sambil bercanda sedikit “menakut-nakuti” dia. Dan dia selalu jawab yang intinya: “Once we push that button, things are never going to be easy, but I’m up for it. Are you…?”

Alhamdulillah prosesi muallaf berjalan lancar. Kebetulan salah satu pengurus DKM yang terlibat dalam hal ini adalah salah satu pimpinan di divisi tempat saya bekerja, yang mana 15 tahun sebelumnya dia juga seorang muallaf. Dia memberikan banyak buku panduan muallaf dalam bahasa Inggris kepada M sehingga memudahkan dia untuk lebih memahami ajaran Islam.

Setelah itu, semua berjalan begitu cepat. Begitu cepatnya sampai-sampai saya nyaris tak percaya bahwa 6 bulan sebelumnya ini adalah hal yang tak terbayangkan.

Saya dan M mulai membahas perkenalan keluarga masing-masing. Diputuskan saya dulu yang akan memperkenalkan M ke keluarga saya di Cianjur. Kebetulan saat itu saya memang ada keperluan lain di sana. Rumah yang saya beli di tahun 2006 ada yang berminat menyewa, tetapi sang calon penyewa ingin ada garasi di rumah tersebut, jadi saya harus lihat dulu kemungkinannya.

Pertengahan Mei 2009 kami pergi ke Cianjur untuk menemui ibu saya. Beliau waktu itu masih bertugas sebagai guru SD. Bapak saya, seorang guru SMP, sudah meninggal 9 bulan sebelumnya, hanya beberapa hari sebelum saya pergi ke luar negeri (Singapura dan Vietnam) untuk pertama kalinya. Waktu beliau meninggal, saya masih bekerja di Jakarta dan tentunya belum bertemu M. (Akan ada satu posting khusus tentang momen pertama kali ke luar negeri ini)

Sebelum berangkat ke Cianjur, saya telpon ibu saya dulu, bilang:

“Mak, saya mau liburan 2 hari di Cianjur. Kali ini mau bawa seseorang yang MUNGKIN akan jadi jodoh saya. Dia orang Australia, kami kenal di tempat kerja..”

Sebelumnya saya tak pernah bawa pria manapun ke rumah untuk diperkenalkan pada orang tua. Entah bagaimana raut muka emak saya kala itu, beliau jawab dengan santainya: “Oh ya.. Ntar mak jemput di bandara..”

Ibu saya datang ke bandara bersama ponakan saya yang waktu itu baru berumur 3 tahun. Ponakan saya itu tampaknya nge-fans berat sama saya, selalu ingin tahu update terbaru tentang saya..hehehe..

Kami tiba di rumah ibu saya di Cianjur dan rencananya akan menginap 2 malam dan langsung kembali ke Sangatta. M sedang libur panjang tapi saya hanya punya libur long weekend. Ibu saya agak panik ketika sadar bahwa tempat tidur adik saya yang dipakai M tak cukup panjang sehingga kakinya mentok ke ujung tempat tidur. Tapi M bilang tidak apa-apa. Dia malah merasa tidak enak karena dipikirnya ibu saya jadi repot gara-gara dia.

Acara perkenalan diisi dengan mengobrol ringan layaknya orang yang baru bertemu. Dan seperti yang sudah diduga, saya lebih berperan sebagai penerjemah. Ibu saya kelihatan santai saja, yang grogi malah M, lagi-lagi merasa tidak enak karena tidak bisa bahasa Indonesia. Ibu saya tak banyak berkomentar soal M, beliau tampaknya percaya sepenuhnya pada saya. Beliau hanya takjub melihat M yang jelas-jelas bule tetapi tingkat tata kramanya tidak kalah dengan orang Indonesia.

Dua hari kemudian kami kembali ke Sangatta. Saya langsung bekerja hari berikutnya. M masih libur, jadi dia hanya bersantai di rumahnya, 5 hari kemudian dia mulai kerja lagi.

Hari pertama M masuk kerja, dia sudah mendapat berita luar biasa. Penugasannya di site Sangatta akan segera berakhir tapi belum tahu pasti kapan. Dari cara dia menyampaikan berita ini, saya menduga ada aura yang tidak enak antara dia dengan atasannya. Dan ternyata benar, dua hari berikutnya, tugas dia dinyatakan selesai dan harus kembali ke Australia hari itu juga!!!

Saya tertegun waktu dia telpon soal ini. Kemudian dia bilang: “ I understand it’s so sudden, but I have to go back to Australia now. However, I will be back to you, to us, soon…”

Saat itu juga saya permisi sebentar dari kantor dan langsung ke rumahnya M. Untung jaraknya cuma 5 menit berkendara.

Waktu saya sampai di rumahnya, M sedang mengemasi barang-barangnya ke dalam koper dan ransel. Dia tampak tegang, sedih, dan kecewa. Saya hanya memandangi dia dan tanya bagaimana keadaannya. Jawabannya sama seperti raut mukanya.

Terus saya tanya kapan kira-kira akan kembali. Dia jawab: “At this stage, I don’t know.. Maybe in one month.., maybe in 3 months.. If I don’t hear anything by then, I’ll come back anyway and we’ll get married…”

Saat itulah pertahanan diri saya mulai berguguran dan mata saya mulai berkaca-kaca..! Alamak..!!! Saya paling pantang berurai air mata, tapi ini sedang terjadi.., di depan dia pula.. Eh…dia terbawa suasana dan matanya mulai berkaca-kaca juga.. Aduh.., bagaimana ini..

Saat itu mobil penjemput sudah datang untuk membawa dia ke bandara. Kami berpandangan lagi dan dia menegaskan: “I’ll be back..” Saya cuma bisa bilang selamat jalan dan hati-hati di jalan..

Saya pun kembali ke kantor dengan perasaan campur aduk.. Tiga bulan yang lalu saya masih yakin menikahi bule itu bukan ide yang bagus, seminggu yang lalu saya yakin akan menikahi seorang bule, hari ini saya bertanya pada diri sendiri.. Yakin mau nikah sama bule..?

Bersambung…

Advertisements

22 thoughts on “(007) Yakin mau nikah sama bule…?

    • Waaahhhh..😮😮..untuk orang yg sama sekali gak pernah nulis diari atau jurnal macam diriku ini udah berasa sinetron kejar tayang😝😝😝 Tapi utk para pemirsa setiaku, postingan berikutnya akan tayang ASAP😝😝😝

      Like

  1. wow deg degan nih kayaknya nonton sinetron beneran sayanya …hahaha saya bela belain baca nih di laptop biar seru qiqiiqi…ditunggu kelanjutannya yaaaaaaaaaaaaa

    Like

  2. Gegara baca-baca ulang beberapa postingan Mbak Em, jadi pengen nagih: (Akan ada satu posting khusus tentang momen pertama kali ke luar negeri ini).

    Hmmm… Kapan ya Mbak? Hehehe…

    Like

    • Walahhhh..😝 maafkanlah ibu hamil yg satu ini.., makin gede perutnya makin susah konsentrasi, ditambah jari tangan yg jadi gampang pegel kalo dipake ngetik.. Tapi pokoknya pasti dilanjutin loh ceritanya..😀 Makasih banyak masih suka mampir meski belum ada tulisan baru..😃

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s