(009) Balada cincin sakit gigi…

Pertengahan Agustus 2009 M kembali berada di Australia, kali ini bersama saya, sang calon istri…hehehe… Dalam perjalanan menuju ke sana, kami mulai membahas kapan, bagaimana, di mana kami akan menikah. Salah satu pembahasan yang bikin kami sama-sama bingung adalah:

M: “How do you want it to be? Do you want us to get engaged first?

Saya: “It doesn’t matter to me. I thought we are going to get married..”

Giliran dia yang bingung: “How do you do this normally? Do you get engaged first before getting married..?”

Saya: “Some do, some don’t… Generally in Sundanese tradition, the couple asks for the parents’ blessing first (lamaran) then they get married. There’s no such thing called ‘engagement’.. If so, it is likely influenced by other culture..”

Kali ini dia yang menatap saya keheranan: “But then how do you let everyone knows that you’re getting married? And don’t girls just love to show off their engagement ring?”

Aha! Akhirnya saya mulai ‘ngeh’ maksudnya.

Mulai terbayang beberapa adegan film Hollywood (lagi…) terkait soal begini.. Kalau di film ‘kan sang pria biasanya berlutut di depan sang wanita sambil membuka kotak cincin, terus bilang: Will you marry me? Terus sang wanita menjawab: Yes sambil matanya berbinar-binar. Kemudian besoknya sang wanita memamerkan cincin tunangannya ke semua teman-temannya sambil bersorak gembira: I’m engaged! Terus teman-temannya pasti bilang: OMG!!! Congratulation!!! Sambil terus menjerit-jerit kegirangan.. Tapi, ini kenapa saya ditanya-tanya begini ya..?

Saya: “If you want us to get engaged first, then let’s do so. But really it doesn’t matter to me..”

M: “Do you or don’t you want to wear any engagement ring?”

Saya: “I don’t know… I never thought about that..”

M: “Why..?!?” (keheranan tingkat dewa..)

Saya: I don’t know… (iihhh..meneketehe…!!! Kenapa sih si M ini..?)

Nah, saling memandang heran sudah.. Lagipula, saya bukan fans berat perhiasan, jadi rasanya tak masalah pakai cincin atau tidak. Saat itu kami sedang transit di Brisbane sebelum penerbangan ke Townsville. Kemudian akhirnya dia bilang:

“Well then, after few days rest, let’s find an engagement ring for you in Townsville. I think there are some nice jewelry stores there. What do you think?”

Saya cuma manggut-manggut mengiyakan. Konsentrasi saya sudah terpecah antara kedinginan (Agustus sedang musim dingin di Australia), jetlag, cincin, dan gigi. Salah satu gigi geraham saya mulai terasa sakit. Saya pikir gara-gara minum kopi panas.. Ternyata bukan..

Sepanjang perjalanan dari Townsville ke Charters Towers saya heran karena suasananya sepi sekali, nyaris tidak ada orang. Ketika tiba di rumah orang tua M di Charters Towers, suasana kota lebih sepi lagi padahal itu lagi weekend. Terbayang ‘kan kalau di Indonesia weekend seperti apa…?

Saya tanya M: “Where’s everybody…? It’s so quiet…

M: “What do you mean…? This is everybody…”

Saya: “Oh…” (melongo.com)

Belakangan saya baru tahu bahwa jumlah penduduk Australia hanya sekitar ½ dari jumlah penduduk Jawa Barat, sementara luas areanya 55x Pulau Jawa.. Pantas sepi sekali…

Di rumah orang tua M kami disambut ibu dan bapaknya. Ibunya M gerak geriknya mirip sekali dengan ibu saya. Mereka menerima saya dengan baik. Selama beberapa hari berikutnya M membawa saya menemui adik-adiknya, ponakan, sepupu, paman, bibi, semua kerabat dekat dan jauh, dan para sahabat M yang tinggal di kota itu. Ya ampun…, saya pikir cuma mau ketemu calon mertua.. Koq jadi berasa seperti di Indonesia ya..hehehe.. Tapi untungnya semua berjalan lancar, saya diterima keluarga besar dengan baik (entah saya yang ke-pede-an), tapi setidaknya itu yang saya rasakan.

Tak terasa sudah 1 minggu saya ada di sana. M hari itu akan bawa saya jalan-jalan ke Townsville, kota tetangga yang lebih besar, kebetulan dia ada janjian medical check up. Dan dia juga mau bawa saya ke toko perhiasan agar bisa pilih sendiri cincinnya. Masalahnya adalah, gigi saya makin terasa sakit. Sudah minum obat tapi efeknya sementara saja. Saya maunya berbaring saja di kamar, tahu ‘kan sakit gigi seperti apa..? Tapi akhirnya pergi juga setelah minum obat penahan rasa sakit.

Di Townsville awalnya baik-baik saja, sampai kami masuk ke toko-toko perhiasan. Efek obat sudah hilang, rasa sakit pun datang. Walhasil, saya tak bisa konsentrasi lagi, semua cincin yang ditawarkan mendadak jadi jelek semua kelihatannya. Apalagi pas lihat harganya.. Alamak..! Ini saya yang katrok atau memang harganya segitu sih..? Memang M yang akan belikan, tapi saya juga tidak mau dianggap aji mumpung. Akhirnya saya menyerah. Saya bilang ke M:

“I really appreciate that you ask me to choose the ring, but I am so sorry, I got toothache and the pain is getting more and more unbearable… I can’t concentrate anymore…”

M agak kecewa, mungkin mengira itu hanya alasan saya karena kaget lihat harganya, akhirnya dia bilang:

“I’ll make the dentist appointment for you, but please don’t think too much about the ring. I just want you to wear something you really like. That’s all that matters…

Saya jadi tidak enak hati, tapi hanya bisa manggut-manggut sambil berkata:

“OK then, I really appreciate that, thank you… So, when will we go to see the dentist…?”

Dua hari kemudian, seorang dokter gigi di Townsville memeriksa gigi saya dan ternyata ada tambalan lama yang terbuka, sehingga harus ditambal ulang. Pantas sakit sekali… Setelah selesai  urusan di dokter gigi, M rupanya masih penasaran soal cincin, dan dia bawa saya lagi ke toko-toko itu! Oh tidak..! Gigi memang sudah ditambal tapi kepala rasanya mau pecah.. Kemudian dengan sopan akhirnya setiap keluar toko saya bilang: “I’m sorry… I just haven’t found the right one…” (dengan muka penyesalan..)

M pasti sudah bete saat itu karena saya mendadak reseh. Maaf ya M tapi ini beneran sakit gigi.. Hadeeuuuuhhh…

Akhirnya datanglah hari ketika kami harus kembali ke Indonesia. Waktu selalu terasa lebih cepat kalau sedang liburan. Gigi saya sudah mendingan, tapi saya sudah tak ingin membahas soal cincin, tidak enak hati sama M.

Ketika tiba di Brisbane durasi transit kami ternyata 11 jam, akhirnya kami jalan-jalan dulu ke pusat kota, dan lagi-lagi melewati toko-toko perhiasan! Kami sempat mampir ke satu toko dan kebetulan ada yang cukup bagus (saya sudah lebih konsentrasi nih.., jadi cincin yang bagus kelihatan..hehehe..) Tapi harganya itu..ya ampun..lebih mahal lagi dari yang saya lihat sebelumnya di Townsville! Kali ini saya lebih pandai menyamarkan ekspresi kaget, jadi cuma bilang: “…not the right one just yet..” Hehehe..

Tiba di Singapura kami punya waktu 2 jam transit. Di bandara ketika sedang berjalan dari terminal 3 ke terminal 1 untuk penerbangan ke Balikpapan, tak sengaja kami melewati toko perhiasan. M langsung menggiring saya masuk karena pertama kali inilah saya tampak berminat. Dan benar saja, akhirnya saya temukan satu cincin ruby+diamond yang desainnya saya suka. Salesperson-nya juga dengan rinci menjelaskan dan memberi saran, suasana tokonya memang lebih nyaman karena 1 salesperson hanya melayani 1 customer. Soal harga? Bagi orang yang terbiasa beli benda-benda seperti itu mungkin dianggap wajar. Bagi saya tetap luar biasa. Tapi karena belinya di area duty free lumayan ada diskon bebas pajak. Dan yang jelas, harga lebih damai daripada yang saya lihat di Australia..hehehe..

Dan karena kisah itulah saya menamai cincin tunangan tersebut The Toothache Ring (cincin sakit gigi..) Hahaha..!!!

Besoknya saya tiba di Sangatta dan dari bandara langsung masuk kerja. Saya setor muka dulu ke Pak Bos.

Dia tanya: “So, how is everything..? Good..?

Saya: “Yes, thanks.. And guess what..? I’m engaged..!!! Yaayyy..!!! (sambil memperlihatkan cincin di jari, seperti di film-film..)

Pak Bos: “Congratulation, young lady..! In just 6 months you got yourself a fiancé!”

Saya hanya senyum-senyum. Kemudian berpikir, sekarang bagaimana caranya merangkai suatu acara pernikahan ketika calon pengantin dan orang tuanya berada di tempat berbeda yang saling berjauhan.., sungguh sangat berjauhan.. Wah.., putar otak lagi nih..

Bersambung…

 

 

 

Advertisements

22 thoughts on “(009) Balada cincin sakit gigi…

    • Hahaha!!! Aku pernah dibawa jalan2 ke daerah sekitar tambang di Mackay dan asli itu kayak alien land! Gak nemu manusia sepotong pun dalam perjalanan 4 jam naik mobil! Kanguru sih di mana2..😝😝😝

      Like

  1. ini episode kocak banget dehhhhh bisa bisanya lagi liburan ketemuan camer kok pake sakit gigi sihhhh…. seru seru seru *nunggu sambungan kelanjutannya ..sembari cengar cengir…

    Like

  2. lucu jg ceritanya, sakit gigi emg bikin ilfil. tp kyknya kl gw yg disodorin disuruh milih yg mana suka, kyknya ttp gak ngaruh tu sakit gigi. hahaha…
    btw, love your story.. ^_^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s