(010) Orchestrating a wedding from a distance…

September 2009, saat itu minggu terakhir di bulan Ramadhan, M, saya, dan ibu saya kembali membahas rencana pernikahan, via telpon dan secara terpisah tentunya. Saya di Sangatta, M di Samarinda, ibu saya di Cianjur. Selain sebagai salah satu pemeran utama dalam urusan ini, saya juga berfungsi sebagai penghubung dan penerjemah (seperti biasa..) Satu hal yang langsung disepakati, kami akan menikah di Cianjur. Ibu saya rupanya masih mencerna apa yang sedang berlangsung dan beliau menyarankan agar M menemuinya lagi untuk memastikan keseriusannya. Dalam adat Sunda ini disebut acara lamaran yang berupa kunjungan sang pria dan orang tuanya ke kediaman sang wanita untuk meminta ijin/restu menikah.

Menjelang Idul Fitri 2009 saya pulang ke Cianjur meski hanya untuk beberapa hari karena belum punya jatah cuti. Saya dan ibu mulai membuat semacam konsep awal acara pernikahan. Tantangan kami yang terberat adalah bagaimana mencocokkan jadwal semua pihak terkait. Saya dan M punya jadwal kerja/libur dan lokasi kerja yang berbeda, ibu saya (yang waktu itu masih aktif mengajar) punya jadwal tersendiri juga. Belum lagi di kantor, waktu cuti saya diharapkan tidak bersamaan dengan si Pak Bos. Pusing…

Sebulan kemudian di Oktober 2009, M dan saya kembali menemui ibu saya di Cianjur. Sebelumnya M latihan dulu, bagaimana caranya meminta ijin menikahi anak seseorang ke orang tuanya dalam bahasa Indonesia. Tadinya mau saya ajari dalam bahasa Sunda, tapi kasihan juga, bahasa Indonesia dia itu antara jelek dan tidak bisa (tidak ada mendingnya ‘kan..?), apalagi bahasa Sunda…

Saat latihan dengan saya, M bisa mengucapkan kata-kata dengan lancar, tapi pada hari H, mendadak grogi dan harus mengintip secarik contekan kecil di tangannya setiap kali mau bicara, sambil sesekali menoleh ke saya dengan tampang memelas. Mungkin dia sudah hampir menyerah dan minta bicara bahasa Inggris saja dan saya menerjemahkan. Ibu saya ikutan gugup, dipikirnya beliau harus jawab pakai bahasa Inggris. Untung ada saya duduk di tengah (sebagai penengah, penerjemah, dan juga orang yang akan dilamar) menjembatani komunikasi ini. Jadi waktu itu, pada saat yang sama saya harus berkomunikasi dalam 3 bahasa: Inggris, Indonesia, dan Sunda. Mungkin di tahun 2009 saya adalah satu-satunya calon mempelai wanita yang sibuk dengan urusan terjemahan.

Akhirnya kelar juga urusan mohon restu ini. Ibu saya memberikan restunya dibarengi dengan sejumlah petuah dan nasehat. Hari pernikahan disepakati di bulan November 2009, berarti kami punya waktu sekitar sebulan untuk persiapan. Semua urusan acara di Cianjur akan ditangani ibu saya, sementara urusan lainnya akan kami tangani sendiri. Setelah itu, saya dan M kembali ke tempat kerja masing-masing di Kalimantan. Kali ini kami mampir dulu ke Kedutaan Australia di Jakarta untuk minta Letter of No Impediment, semacam surat pernyataan resmi bahwa yang bersangkutan (M) betul warga negara Australia dan dapat melangsungkan pernikahan di Indonesia, ini adalah salah satu dokumen yang diminta KUA/Catatan Sipil untuk WNA yang menikahi WNI. Sebelumnya M sudah telpon pihak kedutaan sehingga pada saat kami di sana statusnya hanya memastikan semua data cocok. Surat ini langsung bisa diambil saat itu juga, dan langsung diberikan ke ibu saya yang ikut mengantar kami ke bandara.

Ibu saya selaku penanggung jawab utama acara ini memutuskan untuk memakai jasa sebuah wedding organizer sepenuhnya. Saat itu di Cianjur ide ini belum begitu populer, dan lebih identik dengan pesta mewah (bukan saya banget..!) Saya dan M awalnya enggan karena kami hanya ingin selamatan sederhana, bukan pesta mewah nan meriah, selain itu juga tidak mau merepotkan ibu saya. Tapi beliau meyakinkan kami bahwa format acara akan cenderung elegan dan kekeluargaan daripada meriah gegap gempita tak karuan karena terlalu banyak undangan misalnya. Selain itu ibu saya kuatir, kalau acaranya terkesan “terlalu bersahaja dan mendadak”, saya mungkin akan digosipkan hamil duluan..hahaha.. Akhirnya saya setuju dengan catatan semua detil harus atas persetujuan saya. Kalau M sih terserah saya saja..

Selama 1 bulan menjelang hari H, saya berkomunikasi via telpon dengan ibu saya dan WO (Wedding Organizer) untuk memantau semua persiapan. Saya tak bisa lagi pulang ke Cianjur selain untuk cuti menikah karena jatah cuti reguler sudah habis. Karena itu saya dan M tak pernah melakukan fitting (pengepasan) gaun/setelan pengantin, ukuran baju dibuat berdasarkan ukuran baju kami yang ada di Cianjur dan fitting dibuat longgar sehingga akan mudah diubah jika diperlukan. Tapi saya dan M tak cemas urusan detil acara, kami percayakan semua pada ibu saya yang secara garis besar tahu betul apa yang saya suka dan tidak suka. Bisa dibilang, saya dan M adalah calon pengantin yang paling santai, dan mungkin satu-satunya yang tak pernah melakukan fitting baju..hehehe..

Selain urusan acara di Cianjur, saya dan M juga harus mengatur kedatangan orang tua M (ibu dan tantenya) ke Cianjur. Tadinya ayah M mau datang tapi karena kondisi beliau maka akhirnya diwakili adik perempuannya (tantenya M). Cukup ribet, dan hasil akhirnya adalah: ibu dan tante M terbang dari Australia ke Singapura dan di sana dijemput M (yang terbang dari Balikpapan sehari sebelumnya) untuk selanjutnya menuju Jakarta. Di hari yang sama, saya terbang dari Sangatta ke Balikpapan kemudian ke Jakarta dan di sana bertemu rombongan M dan keluarga untuk selanjutnya menuju Cianjur. Sekali lagi.., di tahun 2009 saya mungkin satu-satunya calon mempelai wanita yang lebih sibuk dengan urusan tiket dan jadwal penerbangan internasional daripada urusan pernak-pernik pesta.., apalagi kalau disuruh pilih jenis kue pengantin atau bahan kebaya.. Halaaaaahhh…, tak terpikir sudah..!

Akhirnya.., datanglah hari di mana semua pihak terkait (kedua calon pengantin terutama..) harus segera menuju Cianjur. Acara dilaksanakan di hari Minggu, sementara Jumat siang saya masih di kantor di Sangatta, menyelesaikan meeting mingguan. Aaarrrghhh…! M dan keluarga sudah berada di Singapura, sedang menunggu penerbangan ke Jakarta. Akad nikah dan resepsi memang di hari Minggu, tetapi hari Sabtu ada acara pengajian dan siraman untuk saya. Jadi mau tidak mau, hari Jumat saya harus ada di Cianjur.

Penerbangan Sangatta-Balikpapan lancar, tapi Balikpapan-Jakarta terlambat 1 jam. Penerbangan M dan keluarga dari Singapura juga terlambat 1,5 jam. Walhasil, kami semua tiba di Jakarta sudah malam. Perjalanan dari bandara Cengkareng ke Cianjur lebih parah lagi. Berhubung weekend, jalur Puncak macet luar biasa. Dan Alhamdulillah kami tiba di Cianjur jam 01:30 Sabtu dini hari! Kami semua meluncur ke rumah ibu saya, dan setelah beramah tamah singkat, saya tetap di rumah ibu saya sedangkan M dan keluarganya langsung meluncur ke rumah saya yang difungsikan sebagai “markas” mempelai pria.

Hari Sabtu pagi di bulan November 2009, tak banyak waktu bagi saya untuk bersantai. Jam 9 saya harus coba baju pengantin yang ternyata ada 3 set! Satu untuk akad nikah, 2 untuk resepsi. Di tempat berbeda, M dan keluarganya juga melakukan hal yang sama. Untungnya semua OK.. Dan di sinilah saya pertama kali bertemu muka dengan WO saya. Dia tampak was-was, kuatir saya tidak suka dengan hasil kerjanya, karena selama komunikasi, saya tidak pernah mendapat gambaran visual tentang acara ini. Apalagi adik saya sempat menjahili dia dengan mengatakan: “Kang Aris, hati-hati loh.. Kakak saya galak..!

Astaga..! Tambah guguplah dia! Tapi saya memang tak terlalu berminat mengurusi pernak pernik acara, dari awal semua diserahkan ke ibu saya. Jadi buat saya semua berjalan baik-baik saja.

Jam 2 siang acara pengajian dan siraman adat Sunda dimulai. Saya benar-benar lelah dan mengantuk sehingga tak terlalu menyimak apa yang sedang berlangsung, calon pengantin tak sopan memang..hehehe.. Eh… semoga tidak kelihatan di foto-foto di bawah ini ya lelah dan mengantuknya… Saya hanya ingin semua acara seremonial tersebut segera berlalu dan kembali ke kehidupan sehari-hari.

1 copy S   4 copy S

2 copy S   7 copy S

Setelah itu, tak disangka saya dapat kunjungan dari teman-teman SMP yang sebagian besar tidak pernah bertemu lagi sejak lulus SMP! Semua yang datang itu sudah menikah kecuali satu orang (yang tidak datang) karena dia juga akan melangsungkan pernikahan di kota lain di hari yang sama! Kebetulan yang lucu.. Akhirnya kami hanya bicara lewat telpon, saling mengucapkan selamat dan mohon maaf tidak bisa datang karena alasan yang sama..hehehe..

Setelah acara siang itu selesai, sorenya sang WO mengajak saya melihat gedung tempat akad nikah / resepsi (hadeeeuuuhhh…, saya sebetulnya ingin segera tidur saja..) Menurut dia, ada beberapa detil yang masih akan ditambahkan, menurut saya sih sudah bagus-bagus saja..

Dan akhirnya datang juga waktu tidur untuk sang calon pengantin.. Saya benar-benar sudah tak berminat lagi mendengarkan segala macam detil urusan acara. Saya hanya ingin tidur, supaya besoknya bisa bangun dengan segar, didandani, dinikahkan, dipajang di depan publik (di pelaminan maksudnya), dan pulang..!

Bersambung…

Advertisements

16 thoughts on “(010) Orchestrating a wedding from a distance…

  1. wah episodenya berlanjut..kemana aja semingguan kutunggu postingannya..btw mbak maaf lahir bathin yaa…………………….besok aku cuss ke US doakan ya………deg degan mau ketemuan keluarga besar suami yang ternyata kel kecil hahahha

    Like

    • Hey bu.. Apa kabar.. Selamat idul fitri juga ya, maaf lahir batin..
      Iya nih menjelang lebaran aku pilek jadi gak konsen nulis.. Abis lebaran ke Australia, rencana balik ke Indo akhir agustus.. Jadi semingguan absen ngeblog gara2 pilek n traveling
      Whoaaaa…ketemu mertua n family yahh…seru dong..hehehe… Titi DJ ya bu.. Semoga semua lancar.. Jangan lupa cerita2 pengalamannya okeh..:-)

      Like

  2. Seru betul ceritanya Emmy. Untung semuanya ok ya walaupun diatur dari jarak jauh. Dan kamunya juga bukan bridezilla yang cerewet sepertinya. Aku juga waktu nikah dulu lebih mementingkan surat-surat daripada pesta pernikahan dan tetek bengeknya. Yang penting menikah resmi 🙂

    Like

    • Makasih Lorraine😄 betul sekali aku sebetulnya hanya ingin menikah resmi..tapi ya namanya juga orang tua.. Untunglah ortu kami juga bukan tipe rempong heboh gimana gitu😝jadi pestanya juga termasuk kecil dibanding umumnya pesta kawinan di Indonesia😝

      Like

  3. Seruuu cerita persiapannya Emmy..jadi inget pengalaman pribadi yang ngurus kawinan dari jarak jauh juga plus menjelang hari H kita berdua malah sibuk urus booking hotel dan tiket ini itu untuk liburan bareng keluarga besar suami setelah hari H, hehe…gak sabar baca lanjutan cerita nikahannya!

    Like

    • Hehehe..berarti dulu kita berdua ini lebih sibuk jadi Travel Agent drpd jadi pengantin..😝
      Makasih banyak loh sdh meluangkan waktu baca2 blog-ku.. Tadi sekilas lihat2 blog-mu.., mirip ya sama kisahku.., terutama bagian pengen keliling dunia.. Ngebet nge-bolang (bocah petualang) kita ya..😉

      Like

  4. aku suka banget gaya mbak em! haha. Nggak ribet sendiri gitu. Btw, mau tanya deh mbak. Sempet ada perasaan minder nggak? Barangkali aja, pas keluarga M datang ke Indonesia trus liat negara ini kok ya banyak sampah dll. Itu gimana mbak?

    Like

    • Gayaku emang anti ribet anti galau tapi hasilnya cetar membahana..*apaaan sih..😏* Waktu keluarga M datang saya bersikap apa adanya saja.., yg baik ya disebut baik, yg belum baik ya dibilang dalam tahap menuju baik.. Toh tiap tempat/negara ada plus/minusnya koq..

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s