Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung..

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung..”

Masih ingat ‘kan dengan peribahasa ini? Semoga rekan bloggers/readers juga masih ingat maknanya..

Beberapa waktu yang lalu M ajak saya pergi ke acara barbeque yang diadakan rekan-rekan kerjanya. Ini acara rutin sebetulnya tapi kami jarang hadir karena jadwal kerja M yang padat.

Malam itu yang hadir adalah para karyawan (sebagian besar expats) dan keluarganya, jumlahnya sekitar 20 orang. Saya kenal semua, kecuali beberapa, salah satunya seorang perempuan Indonesia berusia sekitar 30 tahun, yang tampak tak terlalu antusias ketika saya menyapa dia. Oh ya, kebiasaan saya kalau menghadiri acara skala kecil seperti ini, saya sapa semua orang satu persatu, kenal atau tidak kenal, dengan tingkat antusiasme yang sama. Agak SKSD (sok kenal sok dekat) memang tapi buat saya ini lebih baik ketimbang masuk ruangan dengan muka datar..hehehe..

Awalnya saya kira sang perempuan ini adalah istrinya expat yang mengundang kami. Sebelumnya M sudah briefing saya bahwa istri sang pengundang adalah orang Indonesia, dan sang suami sangat ingin kami, para istri orang Indonesia, untuk saling kenal. Nah, karena saat itu satu-satunya perempuan Indonesia (selain saya) yang ada di situ adalah dia, maka dengan pede-nya saya bilang: “Hai.., apa kabar..? Salam kenal.. Saya Emmy, istrinya M.. Kamu pasti istrinya Mr. A ‘kan..?

Kemudian dengan nada enggan dia jawab: “Hai juga, mbak.. Saya B.., tapi saya dan A masih pacaran koq.., belum resmi menikah..”

Rasanya ada yang tidak mudeng ini. Tapi sudahlah, saya hanya manggut-manggut dan lanjut keliling menyapa beberapa orang sampai akhirnya balik lagi ke sang perempuan tadi. Setelah mengobrol tentang hal-hal umum, si Nona B ini tampak mulai merasa nyaman bicara dengan saya. Dan akhirnya dia cerita tentang sejarah bagaimana dia bisa berada di lingkungan ini.

Nona B dan Mr. A sudah 3 tahun berpacaran. A bekerja di proyek yang sama dengan suamiku, sementara B bekerja di perusahaan lain di kota yang sama, kota Sangatta yang kecil dan terpencil ini. Para karyawan proyek tinggal di kompleks perumahan milik perusahaan, begitu pula dengan A. Kemudian sampailah saya ke bagian “Aha!” moment, kenapa awalnya dia tampak enggan bicara dengan saya.

Nona B pun terus bertutur. Dia bilang, tak lama setelah mereka berpacaran, dia pindah ke rumah A (yang merupakan milik perusahaan dan berada di kompleks perusahaan, yang pastinya penuh dengan segala macam peraturan dan tata tertib). Nona B mengeluh, katanya sejak tinggal serumah dengan A, dia beberapa kali mendapat teguran dari pengelola kompleks, dan mendapat tatapan/sindiran tajam dari ibu-ibu kompleks. Menurut Nona B, semua orang harusnya tidak perlu ikut campur urusan pribadi dia. Inilah kenapa awalnya dia enggan bicara dengan saya. Begitu dia tahu bahwa saya istri salah satu karyawan, dia langsung kuatir saya akan seperti ibu-ibu kompleks lainnya, bersikap menghakimi (dan langsung berubah jadi naga yang menghamburkan api dari mulutnya.. Oh sebentar.., itu imajinasi saya rupanya..hehehe..)

Di tahap ini, benak saya sudah penuh dengan pemikiran: “Aduh, Neng.. Masa sih kamu senaif ini dalam hidup bermasyarakat..? Ingin rasanya memberikan “pencerahan”. Tapi saya putuskan untuk bersikap bijak.. (baca: belajar bijak, hehehe..)

Saya bilang: “Memang menyebalkan ya kalau orang mulai reseh dengan kehidupan pribadi kita.. Kamu tahu gak? Saya kadang suka lho ditanya ini itu sama satpam kompleks ketika saya sedang olahraga jalan pagi misalnya, yang intinya mereka perlu memastikan kalau saya ini istri resmi dari karyawan yang tinggal di sini..”

Nona B: “Oh gitu ya, mbak..?! Saya juga dengar katanya ada beberapa bule yang tinggal di kompleks sini suka bawa “cewek bar” ke rumah mereka.. Mungkin karena itu juga ya, mbak..?”

Si Neng nih masih belum ‘ngeh’ rupanya.

Saya: “Pastinya.. Tapi meski kesal, saya jawab saja pertanyaan Pak Satpam itu sesuai faktanya.. Itu salah satu tugasnya, toh dia juga bertanya dengan sopan. Paling juga nanti dia cross check dengan data di pengelola kompleks..”

Nona B: “Cross check..?!? Memangnya kita harus terdaftar ya, mbak..?”

Saya: “Ya, kayaknya lihat arsip dokumen seperti Surat Nikah misalnya. Sebelum datang ke sini, kami diminta fotokopi surat nikah juga. Penghuni dan tamu di kompleks perusahaan ini harus terdaftar di pengelola kompleks. Dan setahu saya ada peraturan perusahaan mengenai penghuni dan/atau tamu kompleks..”

Kelihatannya dia mulainyambung”

Nona B: “Oh…, saya jadi ingat si Nona C.. Mbak, kenal dia kan, yang dulu kerja di tempat yang sama dengan mbak.. Dia waktu itu pacaran sama Mr. D.., sekarang sih mereka sudah menikah dan tidak tinggal di sini lagi..

Saya: “Ya, kenal.. Memangnya kenapa?”

Kebetulan kami kenal orang-orang yang sama di kompleks ini.

Nona B: “Ya.., dulu waktu masih pacaran, Nona C sempat bilang ke saya.. Katanya dia dapat teguran karena lebih sering berada di rumah pacarnya daripada di tempatnya sendiri yang letaknya berdekatan.. Terus si Mr. E, dia ‘kan sudah punya istri di negaranya, tapi di sini dia pacaran sama Nona F yang sering juga tinggal di rumahnya Mr. E itu.. Para tetangga sih sudah tahu.. Mungkin itu sebabnya ya mbak jadi suka ditanya-tanya juga, padahal statusnya jelas resmi menikah..”

Tampaknya si Neng mulai paham..

Saya: “Wah kalau soal nona C dan F saya baru tahu..(ketahuan deh kurang gaul..hehehe).. Tapi bagi saya, di manapun berada, saya selalu berusaha menghormati tata tertib, adat istiadat, dan/atau norma sosial yang berlaku. Suka tidak suka, tetangga kita menjadi saudara kita. Jadi lebih baik memang berusaha bertenggang rasa”

Nona B: “Oh gitu ya, mbak..? Iya juga sih.., tapi saya dan A akan segera menikah koq.. Kayaknya akhir tahun ini..

Saya: “Oh ya..? Wah, selamat dong..! Saya turut senang lho dengarnya meskipun baru rencana.. Tidak mudah memang, menyeleraskan keinginan pribadi dengan apa yang berlaku di lingkungan kita, apalagi kalau kita ini perantau atau pendatang. Saya bukan bicara moralitas ya.. Ini wacana dari sudut pandang toleransi bermasyarakat..”

(Di tahap ini saya sudah ikhlas sebetulnya kalau dia memutuskan untuk “unfriend” saya..)

Akhirnya dia bilang: “Wah mbak Emmy ini asyik juga ya ternyata..hehehe.. Makasih ya mbak sudah ngobrol.. Saya senang deh.. Kalau ada waktu luang main-main lagi dong ke acara barbecue ini.. Eh, kalau mbak suka traveling, kita ke Derawan yuk, yang di Kalimantan Selatan itu.. Bagus loh..!”

(Bagi yang belum tahu Derawan, silakan tanya mbah Google..)

Di sini saya masih ragu, apa dia anggap saya teman baik atau teman baik yang harus segera dijauhi..hehehe..

Tak lama kemudian saya dan M pamitan pulang. Saya dan Nona B berpamitan dan tak lupa bertukar nomer telpon, dan saya juga bilang semoga lancar untuk rencana pribadinya (menikah tahun ini).

Dalam perjalanan pulang, saya baru ngeh, ternyata di acara barbecue tersebut ada dua orang expats yang bernama Mr. A. Yang satu pacarnya Nona B, satunya lagi yang mengundang kami malam itu, yang istrinya ternyata tidak bisa hadir. Oalahhh…, pantas gak mudeng..

Beberapa minggu berikutnya, Nona B SMS saya, tanya kenapa saya tak datang ke acara barbecue malam itu, dan mengajak saya gabung. Saya pikir, hmm.. status saya ternyata masih teman baik..hehehe..

Catatan penulis:

Seandainya Nona B ini adalah keluarga dekat atau sahabat saya, inilah versi lain dari “pencerahan” di atas yang akan saya katakan:

“Yang bener aja..! Kamu ini sadar gak, neng.. Kita ini tinggal di kompleks perumahan milik perusahaan, di suatu kota kecil di Indonesia pula lagi.. Bukan di New York City sono, bukan di London situ.., bukan pula di kompleks perumahan/apartemen mewah khusus expats kaya raya di Jakarta sana yang biasanya tak ada peraturan macam gini.. Bukaaannnn..!!! Kamu sebetulnya orang Indonesia bukan sih..? Masa gak tau hal-hal basic gini.. Ohhh..anak muda jaman sekarang begini kah..? Atas nama kebebasan pribadi, tenggang rasa alias toleransi diabaikan.. Urusan moralitasmu adalah tanggung jawabmu terhadap Tuhan.., orang lain hanya bisa mengingatkan.. Tapi jangan heran kalau suatu hari nanti kamu bangun di pagi hari dan melihat kenyataan Perang Dunia berikutnya terjadi karena akumulasi dari hilangnya toleransi..!!! Jadi, nikmati saja semua sindiran itu dan teruslah mengeluhkannya, sampai kamu memutuskan untuk ngaca!”

Beruntunglah Nona B karena dia bukan keluarga/sahabat saya..hehehe..

Advertisements

30 thoughts on “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung..

  1. wah saya baru tahu kalau kehidupan para expats ditambang seru juga ya..saya sih nggak pernah di tinggal lama di mining cuma pernah nginap 2 hari acara kantor survey… seru juga deh bacanya… soal yang satpam..kalau di kompleks sih saya aman semua tahu MB.. malah senang karena MB aktif di masjid… nah biasanya kalau keluar tuh…selalu deh ditanya tanya..capek juga jawabnya………………..#nasibjadiistriwna

    Like

    • Aku sebetulnya juga termasuk org yg gak suka komentar kalo gak perlu2 amat.. Yang aku sayangkan di sini tuh, koq bisa2nya dia mengeluh sebelum Instrospeksi, ngeluhnya ke aku lagi yang secara langsung terkena dampak dari sikap/pemikiran dia.. Eh koq jadi curhat ya😝

      Like

    • Embeeeeerrr…!!! You know lah dunia expats Mining di Kalimantan macam mana… Sampe2 dulu waktu baru nikah, salah satu kerabatku, seorang geologis senior yg sering wara wiri Kalimantan, sempet menyayangkan kenapa aku nikahnya sama bule orang Mining..😁 Berarti kan kesannya memang sdh gimana gitu..

      Like

  2. Org Indo yg tinggal di luar aja kl yg kelakuannya aneh2 masih diomongin ama orang2 Indo lainnya, apalagi yg jelas2 tinggal di pulau. Kadang urat malu perempuan2 skrg udah pada putus.

    Like

  3. Itu si cw kenapa meuni oneng begitu ya, haha. Kenapa juga dia bisa lupa kalo dia ada di Indonesia? Jangan2 dia merasa bukan di Indonesia kali teh hahaha

    Like

  4. hrsnya dia udh kena “kick” dgn omonganmu “Tidak mudah memang, menyeleraskan keinginan pribadi dengan apa yang berlaku di lingkungan kita, apalagi kalau kita ini perantau atau pendatang. Saya bukan bicara moralitas ya.. Ini wacana dari sudut pandang toleransi bermasyarakat..”.

    mungkin orgnya tipe ndableg jg kali ya. biar udh dijutekin sekompleks ttp santai aja. hehehe…

    Like

  5. Kok ngga bisa jawab pertanyaan kamu diatas ya? Maksudnya ada WNA yang generalisir semua perempuan Indonesia sama. Stereotipenya; gampangan, hanya bisa dandan & masak, materialistis. Ada memang yang seperti ini tapi kan ngga semua perempuan Indonesia seperti ini.

    Like

    • Hahaha! WNA kayak gitu sih aku pernah nemu bbrp kali di seputar Bandung/Jakarta. Ada yg sampe pernah aku damprat dan aku laporkan ke atasannya karena dia bilang perempuan Indonesia gak perlu dikasih cincin kawin, kemahalan, kasih aja duit bbrp ratus ribu rupiah.
      Kebayang kan maksudnya. Chauvinistic bastard gak sih makhluk kayak gitu😬

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s