(013) Where do we go from here…?

IMG_8421

Where do we go from here…?

(Saat itu sekitar Oktober 2010…)
Sebelum saya sebutkan ke mana tujuan kami berikutnya, saya akan cerita dulu latar belakang beserta plus/minus dari empat kemungkinan tempat tinggal baru tersebut: Rusia, Prancis, Jerman, dan Kolombia. Tiga di benua Eropa, satu di benua Amerika Selatan.

Jika kami tinggal di Rusia, kami akan tinggal di kota Saint Petersburg, kota terbesar kedua di Rusia setelah Moskow, tetapi M akan bekerja di lokasi tambang yang letaknya hanya beberapa “jengkal” lagi ke garis Kutub Utara (baca: jauh, sangat dingin, terpencil), dan hanya bisa pulang seminggu sekali. Serunya, saya akan punya kesempatan untuk melatih kembali kemampuan Bahasa Rusia saya yang saat itu sudah sangat “karatan”. Siapa tahu kalau sudah fasih kembali, saya bisa jadi diplomat sesungguhnya hehehe…(“diplomat wannabe” begini deh jadinya…) Hal kurang enaknya, ini adalah negara 4 musim yang musim panasnya saja pasti masih terasa dingin membeku buat saya.

Jika kami tinggal di Prancis, kami akan tinggal di kota kecil bernama Colmar, yang kalau menurut mbah Google tampaknya cukup menyenangkan. M akan berbasis di sini tetapi secara berkala akan dinas luar kota/luar negeri. Serunya, saya akan belajar bahasa baru, Bahasa Prancis. Hal kurang enaknya, cuaca musim dingin. Tidak akan seheboh cuaca dingin di Rusia tapi tetap saja dingin bagi orang tropis sejati seperti saya.

Jika kami tinggal di Jerman, kami akan tinggal di kota kecil juga tapi saya lupa namanya. Ini pengaturannya akan sama seperti yang di Prancis. Plus minusnya juga sama seperti di atas.

Jika kami tinggal di Kolombia, kami akan tinggal di kota Barranquilla, kota terbesar keempat di negara tersebut. Letaknya menghadap ke Laut Karibia (ingat ‘kan the Pirates of the Carribean…) Kami akan tinggal di kota ini tetapi M akan bekerja di lokasi tambang yang terletak di dekat perbatasan Kolombia dengan Venezuela, dan pulang ke kota Barranquilla satu kali dalam dua minggu selama 4 hari. Wilayah di mana tambang ini berada konon kabarnya menjadi salah satu tempat persembunyian para anggota militant FARC (Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia), organisasi gerilyawan penganut Marxisme yang merupakan grup pemberontak terbesar di Kolombia. Selain itu, Kolombia sebelum era milennium juga dikenal sebagai “salah satu pusat narkoba sedunia”, sehingga DEA (agen pemerintah Amerika Serikat pemberantas peredaran narkoba) punya target khusus di sini. Salah satunya adalah menangkap Pablo Escobar, gembong narkotika terbesar di masanya, yang akhirnya tertembak mati di tahun 1993 (catatan: ada beberapa versi dari kejadian ini, antara tertembak, dieksekusi dengan tembakan, atau bunuh diri). Hal bagus jika tinggal di sini adalah saya akan belajar bahasa baru, Bahasa Spanyol yang merupakan bahasa resmi Kolombia. Kemudian iklim di negara ini sama seperti di Indonesia. Hal kurang bagusnya, faktor keamanan yang masih diragukan.

Seandainya saya boleh memilih di antara 4 tempat tersebut, saya akan pilih Rusia… Tapi tahukah ke mana akhirnya kami pergi..? Kolombia…!

Reaksi awal saya dengar berita ini dari M..: (dengan muka kegirangan..) “Yaaaayyyy…! We’re going to Colombia..!!! Wait a minute.., isn’t it the drug capital of the world..?” (diakhiri dengan muka waswas…)

Sebelum berkata Ya untuk Kolombia, kami tentunya lakukan riset dulu. Hasilnya, situasi/kondisi politik, ekonomi, sosial, dan keamanan negara ini ternyata sudah mulai membaik sejak tahun 2000. Tapi tentu sebagai calon expatriate yang akan tinggal di sana, kami harus memahami bahwa tinggal di Kolombia, meski cukup aman, tetap tidak bisa disamakan dengan tinggal di Indonesia atau Australia. Ada banyak hal yang perlu lebih diperhatikan dan diwaspadai. Oleh karena itulah, kami sepakat, ini kesempatan baik untuk memperluas wawasan (halaaaahhh…bahasanya..hehehe…)

Di tempat kerja, saya sampaikan hal ini ke Pak Boss. Dia cukup terpana dengan pilihan kami: “Colombia…? Are you saying Colombia in South America..?!? You never stop surprising me, don’t you?”

Ya, begitulah… Eh…, belakangan saya tahu bahwa beberapa pimpinan di perusahaan ini pernah ada perjalanan dinas ke tambang batubara terbesar di Kolombia. Dan…, Pak Boss sendiri ternyata pernah juga nyaris pindah kerja ke Kolombia… Aha! Kemudian dia bilang: “That should be interesting. Let me know what it’s like once you get there. I might reconsider the idea (of moving to Colombia)” Aiiiihhh…, Pak Boss ini ada ada saja… Segitu sedihnya ‘kah dirimu ditinggal sama aku..? (Gubrakkkk..! Hahaha…!!!)

Akhirnya kami bicara soal mencari pengganti saya. Dan dimulailah proses rekruitmen (lagi) yang panjang dan melelahkan itu. Bedanya, kali ini saya yang diberi tugas utama untuk mencari orang pengganti sebelum saya pergi di awal 2011. Alamak!

Sementara di camp masing-masing, saya dan M mulai memilah barang, ada yang akan dikirim ke Cianjur atau ke Australia, ada yang mau dibawa ke Australia untuk selanjutnya dibawa ke Kolombia, dan ada yang mau ditinggal saja, entah dijual atau diberikan ke orang lain. Kami juga mulai membicarakan hal-hal teknis dan administratif untuk urusan pindah lintas benua ini. Ternyata lumayan pusing…

Dan yang tak kalah seru, bagaimanakah reaksi keluarga dan teman-teman kami..?

Bersambung…

Advertisements

54 thoughts on “(013) Where do we go from here…?

  1. I also think that Colombia sounds more “fun” albeit it is more dangerous. Europe is kinda meh. Once you’ve lived there for a couple of years, everything is pretty much the same, although St. Petersburg sounds intriguing 🙂

    Congrats on your relocation!

    Like

  2. Ya ampun mbak kita yang baca aja kaget apalagi si boss yang denger langsung ya LOL 😆
    Anywa, seru juga tuh ke Colombia.. Jadi inget film2 macam Fast&Furios 5, kan settingnya di Amrik Selatan tuh hihi

    Like

  3. Colombia sounds interesting but also danger, but adventurous, especially when you have no kids yet I suppose it would be fun?😉 If I were you I would choose France, I love the language and Paris😍

    Like

  4. mba emmy, aku silent readermu. tapi kali ini mau ikut nyapa. ceritanya bikin makin semangat buat liat selain indonesia. love your true story. kalo ada org agency bisa buat cerita sinetron nih kali bisa ngalahin ganteng ganteng serigala apalagi udh dikasih point untk bersambung per episode dn trbukti bikin org penasaran. hehehehe. smoga bs ktemu mba entah kapan 🙂

    Like

    • Hai Indah.. Makasih banyak sdh mampir dan meluangkan waktu buat baca2 ocehanku..hehehe..
      Iya nih sdh banyak yg bilang suruh hubungi agensi sinetron tapi aku maunya agensi Hollywood tapi yg meranin aku mesti Nirina Zubir..(loh..?!?..kejauhan ya khayalannya..hihihi..)
      Ayo jelajahi dunia.., hidup terlalu singkat utk dihabiskan di satu tempat saja..
      Salam – Emmy

      Like

  5. Yaaah telat sehari bacanya :(. Aku kalo denger amerika selatan itu bayanganku dua 1. Issue drugs ( di kolombia dan pablo escobar) 2. Telenovela yang diputernya di TVRI jaman duli meski settingnya gak yakin di amerika selatan mana, jaman-jaman rudolfo edelaide dan perbudakan, padahal aku masih SD kelas 4atau 5 hehehe piyik tontonannya telenovella 😀

    Like

  6. Gak sabar nunggu cerita berikutnya. Ayo ayo Em..mana lagi cerita selanjutnya. Hihihi.. Eh aku kmrn2 kirim email. Nyampe gak yah?

    Like

  7. Kalau cuaca keliatanya beda tipis kalau sama indo kalau rusia kata sahabat aku amit amit dinginya tapi cantik..

    Lanjut lagi em…
    Btw kalau pindah pindah kasian anak kamu besok say…?

    Like

  8. Ya bisa komen lagi 🙂 Hablas Español? 🙂 Temen suamiku istrinya dari Manizales, Colombia. Dia suka cerita-cerita tentang kota dan negaranya. I can’t wait to read yours.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s