(018) Dan gegar budaya pun terjadi bahkan di saat tak terduga…

Minggu ketiga di Barranquilla, M sudah harus mulai bertugas di mine site, sebuah lokasi pertambangan yang berjarak 1 jam naik pesawat ke daerah yang berbatasan dengan Venezuela. Dia merasa kuatir harus meninggalkan saya sendirian, dan mungkin agak merasa bersalah juga karena sudah “mencabut” saya dari akar kehidupan di Indonesia, dan sekarang harus memulai kehidupan baru yang benar-benar berbeda. Tentu saya bilang: “Don’t worry, honey… I’ll be just fine… Don’t you see how easy I can make friends with…?” Dan dia manggut-manggut tak yakin sambil bilang: “Yes, I see that… Well then, take care. I’ll call you as soon as I can…” Akhirnya dengan berat hati (kayaknya…) dia pergi di pagi buta itu bersama jemputan kantor menuju ke bandara. See you in 10 days, hubby… Kasihan juga suamiku ini…, mau kerja di negara manapun ujung-ujungnya tetap saja balik ke camp minimalis (barak kecil, fasilitas minimum, lokasi terpencil…) Mungkin lain kali aku sarankan pensiun saja dari pekerjaan mekanik keliling ini…

Dan gaya hidup baru pun dimulai. Sendirian di apartemen, tidak ngantor lagi setelah 12 tahun kerja (horeeee…bebas euy…!!!), berada di negara asing yang bahasanya tidak mengerti, belum punya kegiatan apapun, belum tahu banyak seluk beluk lingkungan sekitar, dan kalau ke luar rumah harus extra hati-hati, dst…, dst… Untuk sesaat saya merasa aneh dengan perubahan ini. Bukan faktor sendiriannya yang jadi masalah. Saya tipe orang yang nyaman-nyaman saja kalau pun tidak ada orang di sekitar saya. Yang terasa agak aneh mungkin karena faktor terbiasa bekerja sejak jaman kuliah dan selalu berada di tempat yang saya mengerti bahasanya. Culture shock #5 ini mungkin yang paling pribadi buat saya, pegawai kantoran yang tiba-tiba jadi nyonya rumah full time…hehehe…
Lalu apa saja yang dilakukan…? Pertama-tama, saya jelajahi dapur. Saya tahu bagaimana cara menggunakan semua peralatan yang ada di situ kecuali oven. Di situ ada oven yang lumayan besar, mungkin satu ekor kambing utuh bisa masuk… (lebay gak, ya…?) Bagi saya dan mungkin orang Indonesia pada umumnya, oven dipakai hanya untuk buat kue Lebaran. M senang sekali pas lihat ada oven sebesar itu. Dia bilang: “Honey, let’s make a very big lamb roast like what my Mom usually does!” Dan dengan pede-nya saya jawab: “Sure! Can’t wait… That must be exciting!” Lain waktu dia juga bilang: “What about roast beef…, oh and roast chicken…? That would be awesome if we can make our own roast stuffs… Don’t you think so?” Dan tentu saya jawab: “Yes, of course, honey… Let’s make some roast stuffs one day…”
Kenyataannya, pertama, saya tidak pernah menggunakan oven selain untuk membuat kue Lebaran. Kedua, saya tidak tahu cara membuat daging panggang.. Ketiga, saya tidak pernah memasak untuk M sebelumnya (karena waktu masih di Indonesia kami tinggal di mine site camp yang ada kantinnya, dan kalau sedang di Australia kami tinggal di rumah mertua jadi beliau-beliau yang masak, saya bantu bersih-bersih saja…). Keempat, saya tidak suka memasak! Jangan salah sangka, “tidak suka” di sini artinya saya bisa masak terutama masakan Sunda, tetapi memasak bukanlah kegiatan favorit saya…, di posting yang lain saya akan cerita kenapa…
Meski tidak suka masak, saya lebih tidak suka lagi kalau harus makan di luar atau beli takeaway. Jadi sementara M ada di mine site, saya putuskan untuk belanja. Dan dengan pede-nya lagi saya pergi belanja sendirian saja ke supermarket terdekat yang jaraknya 5 menit jalan kaki. Saya pikir, hal aneh apa sih yang bisa terjadi, saya kan cuma mau belanja kebutuhan dapur. Jadi…, pakai sendal jepit, T-shirt, celana pendek…, cuss deh pergi jalan kaki ke mall kecil yang ada supermarketnya itu…
Ketika di supermarket, barang yang harus dibeli sebetulnya tak banyak, tapi berhubung itu pertama kalinya ke supermarket di sana, saya keliling dulu di semua lorongnya, melihat dan memerhatikan, mungkin semacam market tour gitu. Ahh…saya suka sekali supermarket/traditional market tour kalau sedang di negara orang… Dan setelah puas menjelajah, saya menuju ke kasir. Sang kasir mulai memindai barang belanjaan saya dan ketika selesai saya berikan uangnya. Tapi kemudian dia bicara sesuatu dalam bahasa Spanyol yang saya tidak mengerti (‘kan waktu itu kursus bahasa Spanyol belum dimulai…) Saya kira uangnya kurang (masa sih kurang…), jadi saya sodorkan kartu debit. Tapi dia menggelengkan kepala, berarti bukan itu yang diminta. Apa mereka tidak terima pembayaran pakai kartu ya…? Tapi masa iya… Saya coba jelaskan dalam bahasa Inggris bahwa saya tidak mengerti apa yang diminta, dan minta dia atau orang lain untuk menjelaskan dalam bahasa Inggris. Ternyata tidak ada yang bisa bahasa Inggris…

OMG! Bagaimana ini… Sementara antrian di belakang saya sudah memanjang…. Sang kasir dan rekannya berusaha menjelaskan lagi, dan dia terus menerus menyebut kata “sedula” atau “selula” tapi saya tetap tidak ngeh. Saya coba jelaskan lagi, bahkan menyodorkan kartu lainnya, mereka tetap menggelengkan kepala. Ini berlangsung sekitar 10 menit, antrian di belakang saya sudah dipindahkan ke kasir sebelah, saya sudah mau menyerah saja, tidak jadi belanja. Tiba-tiba…, Maria Elena, sang asisten domestik dari kantor, sudah ada di depan saya. Dia kelihatannya tahu saya dan kasir sedang “lost in translation”, dan berusaha menjembatani komunikasi. Setelah beberapa saat, dia bilang dalam bahasa Inggris campur Spanyol:

“Señora, la chika want cedula… Identificación… Sí…?” sambil memperlihatkan kartu identitasnya sendiri yang tampilannya mirip KTP Indonesia.
Oalaaaahhhh…., dari tadi tuh minta KTP toh..? Langsung tepok jidat… Eh tapi kenapa juga transaksi tunai perlu KTP segala ya..? Tapi ya sudahlah…, saya kasih saja KTP-nya. Langsung deh sang kasir berseri-seri wajahnya, tapi kemudian dia bertanya ke Maria Elena, yang menurut tebakan saya artinya kira-kira, “Kenapa tidak punya KTP Kolombia…?” Maria Elena jawab (kayaknya…), “Oh yang itu lagi diproses, maklum baru datang dari Indonesia..” Dan sang kasir pun puas dengan jawabannya. Lalu dia mengamati KTP tersebut sambil terkagum-kagum gitu, seolah-olah dia tidak pernah lihat ID card warga negara lain sebelumnya, eh jangan-jangan memang belum pernah… Tak hanya itu, dia pun panggil kasir sebelahnya dan memperlihatkan KTP saya, dan mereka berdua pun senyum-senyum sambil keheranan, seolah-olah si KTP itu semacam barang antik atau apalah…, sambil sesekali terdengar…”Ah…Indonesia…” (Waduh mbak.., please deh…, ayo cepetan diproses ini pembayarannya…)

Dan selesailah acara belanja aneh yang berakhir bahagia itu. Tapi saya masih heran dengan urusan KTP tadi. Sudahlah, nanti saya tanya Tess saja. Saya pun pulang ke apartemen dengan Maria Elena sambil tak lupa bilang gracias (terima kasih) atas bantuannya. Rupanya hari itu hari Jumat, seperti biasa dia datang ke tempat saya untuk bantu pekerjaan domestik, padahal saya sudah bilang tidak usah lho (malu dong punya asisten…., kayak aku ini emak-emak beranak banyak saja yang perlu bantuan  mengurus rumah…) Kali ini dia datang diantar staf admin dari kantor yang dulu jemput kami di bandara, namanya Ronaldo. Kalau dia ini staf admin merangkap driver, tapi bukan bodyguard seperti sopir pribadi teman-teman saya itu ya… (ah sayang sekali….hehehe…)
Dengan bahasa Inggris yang campur aduk dengan bahasa Spanyol, Ronaldo bilang ke saya yang artinya kira-kira kalau mau pergi-pergi bisa telpon dia, nanti diantar. Lhaaa… kalau perginya jauh seperti ke bandara atau kantor-kantor pemerintahan bolehlah minta antar, tapi kalau cuma ke pasar yang jaraknya hanya “sejengkal” dari apartemen masa iya sih minta diantar sama orang yang jaraknya 30km dari kita… (jarak kantor ke apartemen saya) Tuan Putri banget kesannya… Tapi saya hargai tawaran Ronaldo dan bilang gracias ke dia.
Nah…, balik ke urusan KTP tadi, saya telponlah Tess. Dan ternyata oh ternyata… Di Kolombia semua transaksi pembayaran yang sah, berapapun itu jumlahnya, mau tunai atau pakai kartu debit/kredit, si pembayar (customer) harus memperlihatkan ID card yang mereka sebut cedula. Pengecualian pastinya ada tapi pada dasarnya berlaku bagi semua transaksi pembayaran dan warga yang tinggal di negara ini, baik penduduk tetap maupun penduduk sementara seperti saya. Ini sebetulnya tidak berlaku bagi turis, tapi saya kurang paham bagaimana pembuktiannya. Status saya waktu itu sedang transisi dari tourist ke temporary residence. Ini dia penampakan contoh cedula disandingkan dengan contoh KTP. Mirip ‘kan….

IMG_8497  IMG_8499

Cedula ini pada dasarnya ID card, semacam KTP dan KITAS/SKTT di Indonesia. Hanya karena beberapa hal, fungsinya jauh lebih luas daripada KTP versi Indonesia, terutama di bidang pengawasan kekayaan individu. Menurut teman-teman yang sudah lama tinggal di sana, fungsi utama dari sisi pengawasan kekayaan perseorangan ada dua:

1) Untuk kepentingan pajak; siapapun terutama orang kaya diharapkan tidak akan bisa ngemplang pajak

2) Untuk pencegahan praktek pencucian uang; jaman dulu waktu bisnis narkoba dan turunannya seperti prostitusi dan migran gelap sedang jaya-jayanya, tidak jarang orang tertentu titip uang ke orang tertentu supaya tidak ketahuan kejahatannya… Jadi misalnya kalau tiba-tiba si Emmy yang penghasilan suaminya katakanlah 1 juta peso/bulan (5 juta rupiah) tiba-tiba beli mobil BMW seharga 100 ribu dolar (1 milyar rupiah) ya siap-siap saja menuliskan penjelasan setebal buku sejarah dunia untuk dipersembahkan saat penyidikan

Dan di kemudian hari, usut punya usut, menurut Maria Elena inilah sebab utama kenapa saya dimintai ID card: karena awalnya sang kasir mengira saya adalah orang lokal, persisnya, orang Kolombia keturunan suku Indian…hahaha… Dan dia langsung sadar bahwa saya orang asing begitu tahu saya tidak bisa bahasa Spanyol… Hahaha….masa sih mirip…. Tapi setelah dilihat-lihat, orang Asia Tenggara memang mirip juga sama penduduk awal benua Amerika ini…

Tuh bener ‘kan…. Bahkan KTP saya pun kena gegar budaya…

Culture shock #6…. Hahaha!

Bersambung…

Advertisements

37 thoughts on “(018) Dan gegar budaya pun terjadi bahkan di saat tak terduga…

    • Hehehe..seneng bisa bikin orang merasa terhibur… Iya mata uangnya peso, sama kayak Filipina, tapi nilainya beda, lebih mahal Colombian Peso (COP) kayaknya. Perbandingan kasar dgn dolar amrik dan rupiah: USD 1=IDR 10,000=COP 2000

      Like

  1. La cedula por favor! Eh tapi di Spanyol juga gitu kok Em. Kasir di supermarket, boutique selalu minta lihat ID kalo kita bayar pake credit card atau debit card. Aku denger karena pemerintah Spanyol mencegah sindikat pemalsuan credit card.

    Terus belanja banyak, hari itu masak apa? 🙂

    Like

    • Aku masih inget masak apa.. Prawn pad thai noodle! Biarpun pake bumbu paste instan, tapi kata yg masak mah enak aja..hehehe…
      Di Kolombia ada juga alasan utk memberantas pemalsuan kartu debit/kredit, cuma ya ditambah 2 poin itu tadi. Beberapa kali aku beli barang di toko, harga tak seberapa dan bayar cash tetep aja dimintai cedula..hihihi..

      Like

  2. Oalah!!! I wouldn’t know myself. Ada baru denger ini transaksi di supermarket pake KTP. Aku tahunya sih kalau transaksi dalam jumlah yang lumayan dan biasanya di toko2 yang jumlah belanjaannya lebih banyak. Aku pernah belanja di toko sepatu di Milan (bukan daerah turis) nah itu diminta KTP, tapi nggak pernah di supermarket pake KTP. Lesson learned! 😉

    Liked by 1 person

  3. Di sini (Canada) dan USA juga gitu suka di minta ID kalo belanja pake credit card karna seperti Yoyen bilang banyak pemalsuan credit card disini.
    Gimana akhirnya belajar pake oven nya ga? 🙂

    Like

    • Oh ya kalo bayarnya pake credit card sih sama di Australia juga gitu, dan kadang2 di Indonesia juga.. Di kejadian ini aku gak nyangka karena awalnya sudah nyodorin uang tunai yg cukup.. Di kemudian hari beberapa kali aku bayar cash pun tetap dimintain ID card meski nilai transaksinya kecil…hehehe..

      Like

  4. Ohh kalau di indo yang pakai credit card baru di mintain ID itu juga jarang banget, kalau pakai debit kan udah pakai kode pin setiap transaksi jadi aman.
    Wah kok tau aja ya asisten kamu kalau kamu baru belanja dan butuh pertolongan..?

    Like

    • Ya tuh aku gak nyangka karena di awal kan sdh nyodorin uang tunai, kalo bayar pake kartu sih di banyak negara sdh umum dimintai ID card.. Ah dasar aja culture shock.. Iya itu asistenku itu kayaknya feeling so good aja nyari aku ke supermarket terdekat…hahaha.. Pinter dia..

      Like

  5. Mbak itu yang mbak sodorin beneran KTP Indonesia gitu? Pasti mreka nebak2 indonesia-spanyol nya ya. Aku kl transaksi pake kartu kredit&debit disini skalian kasih KTP jg aku suruh kasir liat specimen soalnya jarang banget mreka minta ID pas kita blanja pake kartu meski paling cuma dilirik at least ngebiasain kasir aja. Aku beberapa kali dikira Indian American jg loh mbak meski paling sering filipino vietnam thailand 😦

    Like

    • Iya Ru…, KTP-ku beneran… Soalnya belum punya ID card setempat (cedula), trus pastinya gak bawa paspor dong.., orang cuma mau ke pasar toh..hehehe.. Kalo di Indo tuh terlalu longgar menurutku, jarang sekali aku dimintain KTP kalo bayar pake KK, kalo di negara lain sdh prosedur standar dan kasir atau merchant berhak membatalkan transaksi loh kalo gak bisa nunjukin ID.
      Oh ya sama dong aku juga sering disangka orang Filipina, Vietnam, dan Thailand bahkan oleh warganya sendiri.., bahkan orang Filipina yg aku temuin suka pede aja gitu ngajak aku ngomong Tagalog, mentang2 mirip, dikiranya semua yg mirip dia nih temen sekampungnya semua kali… Waktu di Kolombia ini nambah deh disangka suku Indian lokal..hahaha.. Jadi aku mikir berarti orang Indonesia nih kalo di luar memang mendadak pemalu dan pendiam apalagi kalo berinteraksi dgn warga negara lainnya, kayak gak pede gitu, baru rame kalo ketemu sesama orang Indonesia lagi.. Padahal bergaul beda bangsa tuh seru loh.. Yg penting bisa menempatkan diri, tetap menghormati budaya orang lain tanpa perlu mengorbankan nilai-nilai keyakinan kita…

      Like

  6. lesson learned, cedula berarti ID card hihi
    penyelamat banget itu si Maria Elena, kalo gak sampe kapan di supermarket hahaha..
    lucu yah kasir2 disana excited banget liatin KTP kita, jadi bangga sbg org indo *loh hahahaa

    Like

  7. Ini blog yang paling seru yang pernah saya baca. Jarang2 ada orang Indonesia tinggal di Kolombia. Saya pernah dikira orang Meksiko..tapi mata saya sipit haha. Bahasa Spanyol itu mudah loh tapi orang sana kalo ngomong cepat, nga orang Spanyol nga orang Amerika Latin sama saja. Kekeluargaannya juga kental, umumnya beragama, ekonominya, nga beda jauh dengan Asia Tenggara. Sayang sekali belahan jiwa saya bukan yang berbahasa Spanyol, malah lebih rumit bahasanya, Jerman haha.

    Like

    • Hello Ime..(mudah2an saya gak salah panggil..)
      Makasih banyak sudah mampir ke blog saya.. Makasih juga utk pujiannya, jadi tersipu2 nih..hehehe.. Saya pernah baca menurut bbrp penelitian, nenek moyang penduduk awal benua Amerika baik Utara maupun Selatan adalah orang–orang dari Asia.. Tentu ini kejadiannya ribuan bahkan ratusan ribu tahun lalu.. Tapi buat saya sangat masuk akal, semua suku Indian, entah itu yg disebut Apache, Geronimo, atau yg hidup di sepanjang Sungai Amazon, atau orang Inuit di Alaska dan Kanada dan masih banyak lagi, semuanya mirip orang Asia Timur dan Tenggara.. Dan bener banget, bhs Spanyol ini ngomongnya cepet sekali terutama yg di pesisir..
      Saya suka sekali bhs Spanyol ini..kedengarannya romantis tapi gak lebay… Gak apa2 bhs Jerman rumit, yg penting dirimu ‘kan sudah bisa..hehehe..

      Like

    • Boleh belanja, tinggal bilang aja kalo kita tuh turis. Di bbrp tempat belanja mungkin akan diminta tunjukin paspor, tapi ada juga yg gak minta. Tapi waktu kejadian ini belum tau, dan setelah tau pun gak gitu paham aturan persisnya gimana..

      Like

      • oh gitu berarti paspor or id mesti dibawa kemana mana ya…jadi penasaran..muka org Kolombia itu kan sama lah sama Venezuela dan teman temannnya..ya?

        Like

      • Kalo turis sebaiknya bawa ID card kemana pun pergi, kalo bawa paspor kan takutnya hilang. Orang Kolombia tuh campuran antara orang kulit putih keturunan Spanyol, orang kulit hitam hitam Afrika warisan jaman perbudakan, dan penduduk awal yaitu suku Indian. Ada yg murni tampilannya sesuai keturunannya, tapi banyak juga yg sudah campuran karena perbedaan etnis orang tuanya..

        Like

      • Ya, makanan mirip Asia Tenggara yg tropis persisnya, soalnya hasil bumi yg tersedia sama, kayak segala jenis pisang, singkong, ubi, talas, beras, buah2an lainnya banyak yg mirip dgn yg ada di Indonesia.. Apalagi kopi.., penghasil biji kopi terbesar dunia kan 3, Indonesia, Vietnam, dan Kolombia..

        Like

  8. KTP itu berlaku untuk penduduk lokal aja ya mbak, kalo pendatang ga perlu pake KTP belanja-nya ?. Terus apa harus bikin KTP sementara untuk seterusnya ?… Mbak, kalo sampe dikira penduduk lokal, berarti mbak aura sexy dan bahenol-nya sama dong kayak wanita-wanita latin berbody dahsyat XD.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s