(019) Hola… ¿Cómo estás?

IMG_8505IMG_8506

Memasuki bulan kedua kami tinggal di Kolombia, irama hidup mulai tertata. Saya dan M sudah punya Colombian ID card, sang cedula yang menghebohkan itu (wahai para kasir se-Kolombia.., saya sudah punya cedula lho….hehehe). Dan kami pun sudah mulai kursus bahasa Spanyol. Waktunya dua kali seminggu, gurunya adalah karyawan departemen training di kantor M, yang juga pengajar bahasa Inggris untuk kelas karyawan lokal. Setelah beberapa kali pertemuan, saya jadi suka sekali dengan bahasa Spanyol ini. Oh ya, saya punya satu kata dalam bahasa Spanyol yang sejak awal melihat penasaran sekali ingin tahu artinya? Gratis… Artinya ya gratis…hehehe… Saya melihat kata ini terpampang dengan jelas di banyak papan reklame. Saya sama sekali tidak menyangka makna Gratis dalam bahasa Spanyol sama dengan gratis dalam bahasa Indonesia.

Lalu apakah sajakah kegiatan saya sehari-hari? Pada dasarnya, saya masih “ngekor” ke teman-teman yang sudah lebih dulu tinggal di situ, termasuk mengikuti hampir semua kegiatan mereka.
Bulan itu teman-teman mengajak saya untuk ikut kegiatan olahraga dan beberapa kegiatan lainnya yang biasa mereka lakukan sehari-hari dalam seminggu. (Ah…., beruntungnya saya punya teman-teman yang baik begini… Muchas gracias, mamacitas…) Saya pikir, OK…, paling sekedar jogging, terus mungkin pergi ke cafe… Saya sering lihat tiap pagi buta yang masih gelap itu di jalan depan apartemen pasti banyak orang yang lalu lalang memakai baju olahraga. Saya pikir, yuk mari…
Di minggu pertama Tess ajak saya ikut kelas yoga di hari Senin, pilates di hari Rabu, dan tae bo (semacam taekwondo + kickboxing diiringi musik aerobik) di hari Jumat. Saya sampai heran, bagaimana mungkin ibu hamil muda masih bisa/boleh ikut kegiatan fisik sebanyak ini. Sesi satu minggu ini diselingi pula dengan tips dan info seputar macam-macam; seperti di mana penata rambut terbaik, tempat manicure/pedicure terkeren, ahli kecantikan yang paling bagus mengerjakan facial peeling, toko yang jual cupcake dan macaroon terenak, toko bunga yang paling bagus produk dan servisnya, dst…, dst…
Minggu kedua Sofia mengajak saya ikut kelas rumba (semacam zumba, latin dance aerobic) setiap hari dari Senin sampai Sabtu setiap jam tujuh pagi. Selain itu dia juga membawa saya jalan ke semua supermarket berbagai ukuran dan nama, yang ternyata banyak sekali di kota ini. Dan tak lupa dia kasih tahu di mana cafe, restoran, lounge, spa, dan club yang paling hit di kota ini.
Dan di minggu ketiga setiap hari mulai jam enam pagi saya ikut Daniela atau Evelyn, mencoba segala macam peralatan fitness di gym dekat apartemen mereka, sambil tak lupa menerangkan alat apa untuk apa, dan gym atau fitness centre mana yang syarat keanggotaannya paling bagus. Selain itu mereka juga kasih info tentang klinik dermatologi mana yang paling bagus pelayanan dan kualitasnya di kota ini.
Bagaimana dengan Irma, satu-satunya teman Indonesia saya di negara ini? Berhubung hamilnya sudah agak besar, dia cukup menunjukkan toko/tukang daging terlengkap di kota ini, sambil sesekali ngopi bareng…hehehe…
Lalu apa yang dilakukan di minggu keempat? Saya tewas dengan sukses (baca: kecapean) dengan segala macam kegiatan olahraga tersebut… Whoaaa….! Apa kabarnya dengan jogging dan pergi ke cafe saja..? Kenyataannya adalah…, saya ternyata tidak suka olahraga… Maksudnya saya kurang bisa menikmati aktivitas fisik yang sifatnya sengaja niat pergi ke suatu tempat dan harus bayar pula untuk berolahraga.., karena kalau disuruh bersihkan rumah luar dalam saya rajin lho… Akhirnya untuk olahraga saya ambil kegiatan yang saya masih sanggup menjalani dan menikmatinya: rumba the latin dance aerobic! Hehehe… Ini sudah prestasi besar bagi saya yang tidak pernah berolahraga rutin: mau keluar rumah jam 06:40 pagi, jalan kaki menuju studio aerobik (jarak apartemen dan studio sekitar 15 menit jalan kaki), dan berolahraga selama kurang lebih 1.5 jam, kemudian balik ke apartemen, jalan kaki lagi. Dan ini ditambah dengan pilates 1 kali seminggu, lebih karena penasaran ingin tahu. Salut saya sama para wanita setempat terutama wanita kantoran, demi menjaga kesehatan dan kecantikan tubuh, mereka rela SETIAP HARI (Senin sampai Sabtu) sudah nangkring di gym jam 5 pagi untuk latihan selama satu jam, setelah itu pulang dan bersiap-siap ke kantor… Wah, jangan harap saya bisa begitu waktu jaman masih kerja….!!!
Lalu bagaimana dengan kegiatan lain…? Saya coba semua perawatan yang direkomendasikan: facial, meni/pedi, tata rambut ini itu, pijat/spa. Hanya ke dermatologis yang saya putuskan tidak mau, mahal sodara-sodara… Hasilnya…, ternyata saya tidak tahan berlama-lama (dan kadang bersakit-sakit, berpegal-pegal) di tempat-tempat perawatan diri tersebut… Katrok…? Mungkin… Seumur-umur ini pertama kalinya saya facial, meni/pedi, dan tata rambut yang pakai hairstylist profesional…(siap-siap ditertawakan socialita se-Jakarta Raya) Apa saya suka? Ternyata tidak…, bukan karena mahal, meski iya sih mahal, tapi tidak tahan saja berlama-lama di tempat begitu. Tapi saya suka pijat/spa. Dan itulah satu-satunya kegiatan leyeh-leyeh yang dipilih, itu pun jarang, mahal ternyata… Paket massage satu jam saja + makan siang harganya 200 ribu peso (sekitar 1 juta rupiah)… Hmmm… Pertanyaan berikutnya, apa sang dermatologis kekurangan pasien karena saya memutuskan tidak pergi… Tentu tidak…! Untuk dapat appointment besok, pesannya harus sebulan sebelumnya… Antri…. Hmmm lagi…
Lalu bagaimana dengan clubbing alias ngedugem..? Sofia mengajak saya clubbing di beberapa tempat hit di kota ini dalam satu malam… Dan sekali lagi, ini pertama kali saya clubbing sampai dini hari…(ya…, siap siap lagi ditertawakan tukang dugem se-Jakarta Raya…) Waktu masih ngantor, saya pernah ke tempat seperti ini meski semuanya karena ada acara kantor, bukan niat asli mau ngedugem, dan itu pun clubbing Cinderella, artinya sebelum jam 12 malam sudah harus ada di rumah lagi… Ngantuk…, kan besoknya masih harus kerja… Berapa biaya clubbing di Barranquilla…? Tidak tahu persis, saya hanya minum air mineral… Tapi perkiraan kasar untuk cocktail misalnya sekitar 4x harga di Jakarta… Jadi bagaimana, apa saya suka si clubbing ini? Sulit untuk suka…
Ah sudahlah…, kesimpulannya jelas sekali saya ini tidak berbakat untuk jadi anak gaul, sosialita, atau clubber…, atau apapun orang menyebutnya….(culture shock #7) Lalu apa kata teman-teman saya? Ini dia yang saya kagumi betul dari mereka, sangat menghargai perbedaan, termasuk perbedaan minat tentunya…
Sebetulnya ada satu lagi kegiatan lainnya yang para wanita di sini, expats atau lokal biasa lakukan, yang bikin saya tercengang sejadi-jadinya….
Apakah itu…?

Bersambung…

Advertisements

8 thoughts on “(019) Hola… ¿Cómo estás?

  1. Hola como estas? Banyak juga aktifitas olahraganya mbak. Diantara itu kursus Spanyolnya kayaknya keren minat aku kalo kursus bahasa apalagi langsung praktek tiap hari langsung tau kulturnya. Aku dah nonton Love in a time of Cholera loh settingnya colombia tahun lampau deh, jadi penasaran dg colombia 🙂

    Liked by 1 person

    • Wah aku malah belum nonton film itu.., cari ah.. Aku juga bener2 jatuh cinta loh sama bhs Spanyol ini.., meski grammarnya lebih susah drpd bhs Inggris, tapi bunyinya itu loh, merdu… Ayo ke Kolombia, bisa visa on arrival loh itu…, tapi sebaiknya jangan sendiri..

      Like

  2. Itu kelas olahraganya pagi bener ya Em😀 untuk orang yg non-morning person kayak gue ini…halah lupakan saja deeh😛 Rajin2 dan semangat bener ya mereka apalagi avis itu harus ngantor pula….salute dweh!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s