(029) Un café, por favor..

“Un café, por favor.. Coffee, please..”

Pertama kali saya mendengar kata ‘café’ di Kolombia (Bahasa Spanyol), saya kira artinya sama seperti ‘cafe’ dalam Bahasa Inggris dan ‘kafe’ dalam Bahasa Indonesia. Ternyata saya salah. Café dalam Bahasa Spanyol artinya kopi, sementara kedai kopi sendiri disebut cafetería. Awalnya terasa lucu dan agak membingungkan, tapi lama-lama terbiasa juga membedakan dan menggunakan kata yang tepat.

Can I have a cup of coffee in the cafe?

¿Puedo tomar una taza de café en la cafetería?

Orang-orang Kolombia umumnya menganggap urusan kopi ini adalah sesuatu yang sangat serius. Saking seriusnya mungkin setara dengan betapa fanatiknya orang-orang Inggris terhadap sepakbola, atau orang Indonesia dengan batiknya. Ini pastinya hanya pendapat saya, tapi berikut adalah fakta-fakta menarik tentang kopi di Kolombia:

1. Kopi adalah identitas nasional. Orang Kolombia yang ada di Kolombia hanya minum kopi Kolombia. Orang Kolombia yang ada di luar Kolombia mungkin minum kopi dari negara lain, tapi mereka tetap akan lebih bersemangat jika minum kopi Kolombia. Sebagai salah satu produsen kopi dunia, orang-orang Kolombia sangat bangga dengan kopinya. Saking bangganya, mereka sulit percaya bahwa ada beberapa negara lainnya juga yang sering masuk LIMA BESAR negara produsen kopi dunia, yang rasa kopi dan kualitasnya dianggap enak dan bagus (salah satunya Indonesia).

IMG_8979IMG_8952IMG_8927

2. Semua kedai kopi di Kolombia hanya menjual kopi Kolombia yang dibeli dari para petani pembudidaya kopi Kolombia yang tergabung dalam Federasi Petani Pembudidaya Kopi Kolombia (Colombian Coffee Growers Federation = Federación Nacional de Cafeteros de Colombia), disingkat Fedecafé. Organisasi ini awalnya adalah sebuah koperasi petani kopi yang didirikan tahun 1927. Seiring waktu, koperasi tersebut berkembang menjadi asosiasi bisnis nirlaba yang misi utamanya adalah memajukan dan mensejahterakan para petani kopi di Kolombia. Selain itu, tiga sasaran utamanya adalah melindungi industri kopi, melakukan penelitian dan pengembangan kopi, dan menjalankan perluasan bisnis kopi. Saat ini Fedecafé mewakili lebih dari 500 ribu produsen/perkebunan kopi yang umumnya adalah perkebunan kecil milik individu/keluarga.

IMG_8962IMG_8955

IMG_8957IMG_895610.Logo-FedeCafe_10-300x2583. Terlepas dari dinamika jatuh bangunnya organisasi tersebut, industri kopi di Kolombia benar-benar menjadi solid dengan adanya Fedecafé ini. Saking solidnya, raksasa kedai kopi sekelas Starbucks baru diijinkan buka ‘lapak’ di Kolombia sekitar Juli 2014 lalu, itu pun satu kedai saja di Bogotá, dengan satu syarat mutlak: hanya menggunakan biji kopi Kolombia! Jadi, jangan tanya apa ada kafe The Coffee Bean, Gloria’s Jeans, atau merk-merk internasional lainnya. Atau jika kebetulan mampir ke Starbucks di Kolombia, jangan coba-coba minta designer coffee seperti secangkir kopi Toraja yang diracik dengan kopi Venezuela dan Brazil yang kemudian diberi perisa karamel misalnya.

3. Selain negara penghasil kopi, orang-orang Kolombia juga peminum kopi fanatik. Starbucks (dan mungkin juga merk internasional lainnya) melihat ini dan tentu sangat tertarik untuk berbisnis. Selain itu, Starbucks mungkin juga “gerah” karena kedai kopi Juan Valdez yang notabene adalah salah satu hasil ekspansi bisnis Fedecafé yang sangat sukses itu sudah lebih dulu masuk ke Amerika Serikat.

IMG_8949IMG_8976IMG_8937IMG_8932IMG_8951IMG_8943IMG_8938IMG_8933

4. Juan Valdez (JV) adalah “Starbucks”-nya Kolombia. Bahkan mungkin lebih “raksasa” daripada Starbucks karena JV punya perkebunan kopi / produsen biji kopi sendiri. Sejalan dengan visi dan misinya, di tahun 1981 Fedecafé mulai melakukan aksi kampanye kedai kopi Juan Valdez untuk secara total membedakan kopi Kolombia dari kopi racikan campuran yang biasanya biji kopinya berasal dari berbagai negara. Terbukti branding concept ini sangat sukses karena sampai akhir 2013 lalu JV memiliki 135 gerai di Kolombia dan 35 gerai di luar Kolombia yaitu di Chile, Costa Rika, Aruba, Ekuador, El Salvador, Panama, Spanyol, Kuwait, dan Amerika Serikat.

Juan Valdez marketing title:

Disfrute de un buen café! Enjoy a good coffee!

IMG_8958IMG_8931 IMG_8923

5. Nama “Juan Valdez” sendiri awalnya adalah nama karakter fiktif seorang pria petani kopi yang muncul dalam iklan organisasi Fedecafé sejak tahun 1958. Iklan ini berisi kampanye tentang pentingnya menjaga, melindungi, dan memajukan industri kopi Kolombia. Awalnya sang petani fiktif dalam iklan ini diperankan oleh aktor/model, tapi sejak tahun 2006 seorang petani sungguhan bernama Carlos Castañeda yang memiliki perkebunan kopi di kota Andes yang berada di wilayah pegunungan di Kolombia terpilih menjadi “the new face of Juan Valdez”. Tidak kalah dengan Gucci, Chanel, atau Prada ‘kan branding and marketing concept-nya..hehehe.. Berikut adalah penampakan sang petani merangkap model itu…

IMG_8926IMG_8924IMG_8966

6. Di Kolombia, biji kopi sendiri identik dengan kerja keras karena perkebunan kopi terletak di daerah perbukitan/pegunungan yang sejuk/dingin. Memanen biji kopi adalah tugas yang tidak mudah karena harus dilakukan secara manual, sementara moda pengangkutan pun terbatas pada beberapa pilihan karena medan yang curam. Oleh karena itu, umumnya pekerjaan ini dilakukan oleh para pria, meski ada juga para wanita yang melakukannya.

IMG_8974 IMG_8973  IMG_8971 IMG_8970 IMG_8969 IMG_8968IMG_8963IMG_8961IMG_8960IMG_8959IMG_8956IMG_8955IMG_8953IMG_8944IMG_8947IMG_8941IMG_8939IMG_8934IMG_8930IMG_8915

7. Terkait dengan point nomer 6, mungkin itu sebabnya porsi minuman kopi yang disajikan di semua kedai kopi, restoran, atau tempat makan lainnya umumnya hanya setengah dari apa yang biasa disajikan Starbucks atau kedai kopi internasional lainnya. Selain itu, di hampir semua kedai kopi jika kita pesan kopi yang diminum di tempat, maka kita juga akan diberi segelas kecil air putih untuk membilas mulut dan gigi kita dari warna kopi.

IMG_8977

Ada satu berita “bisik-bisik” tentang industri kopi ini. Jaman dulu ketika situasi Kolombia sedang parah-parahnya karena perdagangan narkoba, konon kabarnya ada beberapa kelompok orang dalam industri kopi ini yang juga terlibat dalam bisnis narkoba. Modus operandinya biasanya menyembunyikan/menyisipkan narkoba (kokain, heroin, dll) dalam tumpukan karung kopi sehingga anjing pelacak tak bisa mencium keberadaan narkoba tersebut karena baunya kalah oleh aroma kopi.

Suamiku M adalah peminum kopi fanatik, sedangkan saya bukan. Tiap pagi saya minum hanya satu cangkir kopi hitam dengan sedikit gula, bahkan dulunya malah tidak suka kopi. Perbedaan antara kopi Indonesia dengan kopi Kolombia pun saya tidak tahu. Bagi saya semua kopi rasanya sama. Namun ketika kami tinggal di Kolombia ini, saya sangat kagum dengan betapa kompaknya pelaku industri kopi di negara itu. Luar biasa!

Jadi terpikir, apa kabarnya industri kopi di Indonesia ya.. Semoga sekompak yang di Kolombia ini..

(Materi tulisan dan gambar berasal dari catatan dan dokumentasi pribadi serta dari beberapa sumber lainnya)

Bersambung…

Advertisements

77 thoughts on “(029) Un café, por favor..

  1. Kopi di Indonesia sendiri beragam mbak em. Dari Sabang sampai Merauke, beda beda citarasanya. Ada teman yang cerita kalau kopi dari Toraja lebih beraroma tanah. Sedangkan yang kopi dari Aceh maupun Sidikalang aromanya lebih kental dan kuat. Sementara yang paling enak, ya pasti kopi olahan luwak…. Apakah di Kolombia juga ada luwak mbak em?

    Kebetulan saya sendiri untuk kopi hanya mampu yang cappucino. Getir pahit kopi membuat saya ogah menikmati kopi asli dan biasanya jadi susah tidur. Pernah pengalaman sampai jam 5 pagi tak bisa tidur juga sampai akhirnya memilih untuk bangun. Dan alhasil tengah hari ngantuk pun melanda. Tobat deh minum kopi asli…

    Untuk industri kopi sendiri pelan pelan menggeliat. Kalo mampir ke Medan, mbak em bakal menyaksikan pesatnya bisnis dan trend kopi menyerbu kota Medan. Di setiap sudut bisa dijumpai. Trend anak muda sampai tua kalo mau gaul, ya ke kedai kopi, cafe buat nongkrong…

    Liked by 1 person

  2. Satu lagi kalo mau beli kopi, sebisa mungkin beli yang biji utuh mbak. Teman saya yang saya ceritakan ini, sampai beli grinder manual lho. Jadi aroma dan rasa lebih bisa tahan lama ketimbang bubuk kopi. Memang sewaktu dia demokan ke saya, aromanya sungguh menggiurkan…

    Kebetulan juga papanya teman juga pernah jualan kopi bubuk, dan praktik mencampurkan bubuk kopi asli dengan bubuk jagung yang disangrai sudah jamak. Itulah kenapa kopi bubuk instan terkadang bisa kental ketimbang bubuk kopi hasil gilingan sendiri.

    Like

      • Yups. Udah jamak sih mbak kopi dicampur jagung…. Sampai sampai bunda di rumah juga mengiyakan… Banyak yang tahu, pas minum kopi asli baru digrinder, malah bilang kok encer ya… Gak sekental yang biasa (maksudnya yang sudah dicampur jagung)… Jagung sebagai emusifier sekaligus menambah bobot sehingga bisa lebih untung…. Di sini ada satu coffee shop (bisa belanja online juga, mau link boleh nanti di e-mail). 250 gr biji kopi atau pun bubuk kopi langsung digrinder di depan mati dihargai 50rb. Itu pun kopi nusantara punya… Bandingkan dengan 1 kg cuma 50rb versi campur jagung…

        Ayo ayo usaha kopi yuk?

        Like

  3. Sbnrnya sistem frdecafe ini bgs bgt ya tp kok sampai fanatik sprtnya kurang sreg jg krn segala sesuatu yg sgt berlebihan akan jd tdk baik. Soalnya walau org indo bangga dgn batiknya tp msh mengizinkan produk2 lain masuk di indo. Itu bgs mnrtku agar kita tau kalo didunia ini tdk hy ada batik. Eh iya kok aku gak ngeh dgn gerai kopi JV ini disini ya? Ntar kalo lg jln aku lebih perhatiin deh. Org2 disini jg sgt fanatik dgn kopi kalo aku gak suka mknya kdg2 suka bingung kalo diajak ngopi sama temen2 jdnya sering order air atau orange juice hehe ngopi kok ngorder juice 🙂 pdhl kopi2 disini enak pake banget kata temen2 tp tetap sj aku gak suka kopi hiks. Kalo suamiku lebih suka kopi buatan indo. Jd dia suka beli kopi di indo trus dia isi capsul kopi krn mesin kopi drmh yg expreso. Lebih mantap katanya hehe.. Thx sdh berbagi disini

    Like

    • Mungkin kebijakan kopi di kolombia lebih ke proteksi produk lokal yg kebetulan kualitasnya memang bagus.. Tau sendiri kan yg namanya kaum kapitalis kalo ada kesempatan berdagang maen embat aja, kadang gak peduli sama produk lokal.., yg penting dia untung.. Aku juga bukan peminum kopi banget.. Bahkan lagi ngurangin kafein belakangan ini biar lebih nyenyak tidur..
      Makasih sudah mampir ya ke blog-ku.. Duh jadi pengen ke Spanyol nih, nerusin kursus bhs spanyol di negara asalnya..hehehe..

      Like

  4. Bagus Em postnya, informatif. Peduli ya pemerintahnya sampe proteksionisme mengenai kopi. Di Belanda Starbucks masuk tahun 2009 hanya buka satu cabang di Schiphol. Tahun depannya di Amsterdam dan Utrecht. Setelah 2011 baru mulai ekspansi kekota lain. Gossipnya karena pemerintah Belanda melindungi produsen kopi lokal (Douwe Egberts & Kannis & Gunnik).

    Dan sampe sekarang pun juga orang Belanda pada umumnya lebih suka minum kopi sini atau kopi Italia.

    Bagus bener brandingnya Juan Valdez, ngena dan untuk personifikasi jadi lebih dikenal.

    Ada ngga makanan Kolombia yang pake bahan kopi selain minuman?

    Like

    • Makasih, Lorraine.. Ya aku juga salut sama sistemnya.. Tapi memang itu perjuangan panjang, kita orang luar taunya udah sukses aja si Fedecafe dan Juan Valdez itu.. Jadi kalo kopi Indonesia mau maju pasti bisa, asal kuat berjuang aja dan konsisten..
      Makanan Kolombia yg ada unsur kopinya kayaknya ada, kalo gak salah aku pernah nyicipin es krim rasa kopi Kolombia.. Ntar aku lihat lagi.. Thanks for your comment:-)

      Like

  5. Woow keren nih postingannya. Aku pun bukan penikmat kopi sejati. Pokoknya asal minum aja. Sebenarnya punya maag akut dan nggak kuat minum kopi. Tapi yaa kalo masuk cafe dan nyium bau kopi siapa yg nggak tahan. Aku biasanya minum cappuccino karena dia susunya banyak. Masalahnya disini cappuccino tuh cuma buat sarapan. Pesen cappuccino siang2 atau sore gitu bisa diliatin aneh sm yg jual hehehe. Jadinya aku biasa pesen macchiato tp plus susu yg banyak :p

    Oh yaa di Italia nggak ada Starbucks at all. Kata suamiku alasannya dulu yg bikin Starbucks itu dapat ide bikin coffee shop setelah nongkrong di caffetteria di Itali. Jadi dia nggak mau buka disini. Biar disini tetep orisinil caffetterianya.

    Like

    • Hehehe..makasih Gi.. Oh pantesan waktu aku dan M di Italia Mei lalu, setiap kali pesen cappuccino yg pastinya bukan di jam sarapan, yg punya warung kopi pasti mastiin dulu beneran pesennya yg itu..hahaha.. Dan waktu itu kami juga merhatiin dan ngebahas kayaknya emang gak ada Starbucks di Italia.., soalnya kami ke sekitar 8 kota gak nemu satu pun..
      Kalo aku karena gak doyan susu dan gak terlalu suka manis, jadinya minum kopi hitam pake gula dikit aja tiap pagi, dan hanya secangkir kecil.., hanya utk “ngebangunin” otak..hehehe..

      Like

  6. dan peminum kopi yang terbanyak per hari nya adalah orang di Belanda, diikuti Finlandia, Sweden dan Denmark , udah pernah baca belom Em statistik mengenai itu? Seru juga yah nge bahas kopi, aku sih ga minum kopi samsek, paling top kena Cappucino, but i do love the smell ! 🙂

    Liked by 1 person

  7. aku non peminum coffee.. hehe
    entah kenapa sama sekali gabisa menikmati kopi, baik yg mahal maupun yg murah..
    lebih suka chocolate, atau tiramisu frappucinno nya starbucks tp yg tanpa coffee 🙂

    Like

  8. keren ini pemerintah kolombianya. Dulu pas SD dibelakang sekolah ada kebun kopi. Kopi sempat jadi minuman keluarga, saya ingat mbah buyut sangrai kopi di kompor tanah bahan bakar kayu ntar ditumbuk gantian sama asisten rumah. Mbah putri juga sama numbuknya pake palung batu &kayu yg ukurannya gede dan mbah juga campurin dg jagung mbak jagungnya di sangrai dulu udah biasa itu di kampung mah. Kedai kopi menjamur dimana-mana mbak bahkan di kampungku di malang juga. Kopi kayaknya smakin populer disini kawan baik saya belain beli grinder dan segala alat bikin kopi, lebih favorit beli biji kopi sendiri dan dia suka kopi nusantara rasanya lebih mantab mnurutnya. Buat saya sih rasa kopi gak da bedanya. Saya sukaaaa aroma kopi tapi kalo minum kopi beneran kopi hitam (bukan instant campuran gula/krim) dikit-dikit aja

    Liked by 1 person

    • Wah kisah mbah-mu tuh sama kayak emak-ku dan ortunya.. Katanya zaman dulu gak ada tuh yg beli kopi sachet kayak sekarang.. Kopi kaleng pun mahal.. Jadi umumnya banyak keluarga petani yg punya satu atau dua pohon kopi di halaman rumahnya.. Biji kopinya disangray dan tumbuk sendiri gitu..
      Eh berarti gaya ngopimu sama kayak aku.., kopi hitam plus gula dikit, dan 1 cangkir kecil aja, kalo aku tiap pagi biar “nendang” nih otak..hahaha..

      Like

  9. Em, ada trip ke kebun2 kopi gitu gak disana? kalau di Medan (kantornya si Matt) mereka punya trip gitu, tapi biasanya yang ngikut yah kebanyakan buyer2 gitulah. Mereka jalan keliling2 Sumatera. Lumayan seru sebenaarnya soal kopi ini. Sayang aku udah harus berhenti minum karena kista sialan itu.

    Like

  10. Reblogged this on JNYnita and commented:
    Harusnya di Indonesia diberlakukan yang seperti inii.. Hanya menggunakan produksi Indonesia, gak cuma utk kopi, tapi juga beras (tp sayangnya gak cukup ya?), buah2an, dsb. Produk asing dibuat susah masuk atau dengan syarat & ketentuan tertentu…

    Like

  11. Aku sih bisa aja minum kopi tp bukan yang asli, aliasbudah ada campuran susu. Kapok minum kopi asli mbak Em, yg masih pait, duh jantungku ini deg2an kenceng banget ga brenti2 sampe susah tidur.
    Aku ga tau deh kopi Kolombia ada di Indo ato engga, but my fave coffee is Luwak White Coffee 😀 itupun jarang2 minumnya hehehe

    Like

    • Minum kopi asli sebetulnya lebih bagus utk kesehatan apalagi kalo gulanya dikit aja.. Cuma kayaknya dulu kamu tuh kebanyakan bubuk kopinya.. Aku minum kopi asli tapi dgn konsentrat rendah aja trus gulanya dikit, sekedar bikin otak nendang di pagi hari, satu cangkir kecil saja..
      Kopi Kolombia ada di Indonesia, Starbucks tuh jualan biji kopi Kolombia di hampir semua gerainya.. Ada yg dicampur dgn biji kopi dari negara lain, ada juga yg murni.. Wah Luwak white coffee sih buatku bukan kopi, tapi air gula yg dikasih rasa kopi..abis manis banget..hahaha..

      Like

      • Iya kali ya kebanyakan bubuk kopi. Waktu kecil seneng sih minum kopi susu makin gede makin jarang. Ga pernah minum Starbucks mbak Emmy, kita pake yang lokal2 ajah hehehe

        Like

      • Aku juga jarang banget ke Starbucks dan sejenisnya…, mahal! Eh tapi suka heran koq sering lihat anak SMA atau kuliahan zaman sekarang banyak tuh yg ngopinya ke SB.. Tajir-tajir ya anak zaman sekarang..

        Like

  12. Aku sih bukan penggemar fanatik kopi, tapi biasanya minimal minum 1 cangkir kopi setiap hari, tanpa susu dan gula. Padahal dulunya aku nggak suka kopi sama sekali lho… Hehe… Selama ini nyobain berbagai macam kopi, aku paling suka kopi dari indo sih, salah satunya kopi flores dan 100% kopi robusta dari exelco. Aku nggak terlalu suka 100% kopi arabica, karena rasanya terlalu asam. Jadi minumnya pasti kopi campuran robusta dan arabica atau yang 100% robusta. Kalo kopi kolombia kayaknya aku blom pernah nyobain deh…

    Like

  13. nice posting mbak emmy,,aku sendiri kurang suka minum kopi, bahkan jarang, dirumahpun gak ada kopi, suami kalau mau minum kopi ya ke cafe,, tapi dalam bahasa italy juga “caffe” yang artinya kopi tapi dengan 2 huruf F

    Like

    • Kalo cewek indonesia kayaknya emang jarang yg minum kopi banyak2 deh, apalagi kopi hitam kayak yg biasa aku minum.. Bhs spanyol, portugis, dan italia emang mirip satu sama lain.. Aku waktu dulu di italia tuh sering ngomong bhs spanyol aja drpd bhs inggris dan orang italia banyak yg ngerti tuh..

      Like

  14. saya juga tak suka kopi cuma MB penggemar berat kopi namun sampai sekarang pun saya tetap tak suka kopi…………..saya penikmat air putih daahh paling sehat …………..:-D

    Like

    • Hehehe..mungkin lebih baik tidak suka kopi, jadi tak usah beli kopi.. Sama seperti rokok, tak banyak perempuan indonesia yg suka kopi kayaknya, mungkin karena keduanya identik dgn pria.. M penggemar kopi, kalo aku paling minum secangkir kecil kopi hitam tiap pagi, sekedar utk ‘nendang’ syaraf di otak😄

      Like

  15. Ini betul2 mba nikmati selama di Kolombia..JV top enaknya, sempat beli yang di grind utk dibawa pulang 2kg, itupun sudah mengorbankan ga belanja yg lain2, takut keberatan sebab masih muter2 kenegara lain. jatah kopi yg di hotel pun dibawa pulang..mba penggila kopi..

    Liked by 1 person

      • Em, dihotel hotel di Amerika juga disediainnya macam2 kopi, tapi selalu kopi kolombia dibawa pulang ( yang ada saringannya plastik kaku buat slide di coffee machine di dalam kamar). Disana minum kopi yang lain lain.

        Like

      • Oh ya mba aku ngerasa aneh banget loh pertama kali lihat dan pake fasilitas kopi di kamar hotel di US itu.. Kalo mba Fe suka ke Starbucks, di Starbucks Indonesia sekarang mereka jualan biji kopi Kolombia murni, gak dicampur-campur sama biji kopi dari negara lainnya, lumayanlah mba sedikit bernostalgia.. Yang 200 gram harganya sekitar 110 ribu kayaknya..

        Like

      • Tapi kok rasanya beda ya Em, mungkin cara sangrainya beda..yg Colombia itu ‘sangit2’ nya pas bener..heheee…ngerti ga sangit,sebab susah cari padanan kata Indonesia nya., *bau gosong2 gitu deh*

        Like

      • Oh sangit itu saya ngerti mba.. Suamiku juga bilang yang biji kopi dari JV tuh lebih berasa “nutty”, roasting alias sangrainya tuh pas dan katanya gak bisa ditandingi sama yg dari Starbucks.. Dia emang nge-fans banget sama kopi, kalo buat saya mah kopi sama aja kayaknya hehehe..

        Like

  16. Pingback: (042) Pindah (lagi).. | Crossing Borders

  17. kopi kolombia ada jenis jenisnya gak? kl kopi indonesia kan ada kopi toraja, gayo , sidikalang dll.. saya juga gak bisa bedain rasa kopi.. rasanya sama aja sih..apa krna saya seringnya minum kopi banci (kopi sachetan)

    Like

    • Saya gak tau soal itu, tapi sejauh ini setiap kopi asal Kolombia yg pernah saya beli dari kafe merek internasional selalu tertulis Colombian Coffee, udah gitu aja, gak ada embel-embel lain. Sementara kalo kopi asal Indonesia selalu ditulis spesifik, misalnya Torajan Coffee atau Sumatran Coffee..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s