(030) Vamos a ir de compras..!

“Vamos a ir de compras..! Let’s go shopping..!

Meski masih ada pasar tradisional, semakin banyak orang-orang di Kolombia yang pergi ke supermarket atau toko modern untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Saya suka sekali jalan-jalan ke supermarket atau pasar jenis lainnya di setiap negara yang saya kunjungi. Dari hal sepele seperti ini, saya bisa belajar banyak tentang budaya setempat. Supermarket di Kolombia umumnya dikuasai oleh pemain lokal seperti supermarket Exito, Carulla, Olimpica, dan Pomona; tapi ada juga merk internasional seperti Carrefour dan Makro.

Emmy's iPhone 4G 069IMG_9004IMG_9003IMG_9002IMG_9033IMG_9061IMG_9062

Sekilas semua supermarket tersebut sama seperti yang ada di Indonesia, namun tetap ada hal-hal unik seperti berikut ini:

1. Semuanya dalam Bahasa Spanyol (tentu saja.., bahasa yang sedang saya pelajari waktu itu..), sehingga setiap acara belanja selalu berarti acara sekolah bahasa bagi saya. Dan karena hal ini acara belanja jadi lama, tapi tetap seru!

IMG_8996IMG_8995IMG_9020IMG_9001
IMG_8994

2. Setiap kali berada di bagian sayuran dan buah-buahan, untuk sesaat saya selalu merasa sedang berada di Indonesia karena kemiripan hasil bumi yang terpajang di situ. Teman-teman saya, ibu-ibu expats dari negara empat musim kadang suka terpesona melihat sayuran dan buah-buahan “eksotis” tersebut (misalnya: sarikaya, markisa, kesemek, sirsak, mangga beraneka warna, pisang beraneka ukuran/warna/bentuk/rasa, kacang-kacangan beraneka warna, dll), sementara saya langsung teringat emak di kampung begitu melihat singkong dan kelapa utuh terpajang di depan mata..hehehe..

IMG_9017   IMG_9013 IMG_9012  IMG_9009IMG_9008IMG_9007IMG_9006IMG_9010???????????????????????????????

3. Hampir semua supermarket besar punya konter jus jeruk segar di dalamnya, tinggal bilang mau berapa liter, mereka akan langsung peras jeruknya di depan kita (saya tidak suka jus yang diberi tambahan gula, jadi konter ini “surga” buat saya)

IMG_9064

4. Di semua supermarket, produk minuman beralkohol, entah itu alkohol 5% atau 55%, ditampilkan sama bebasnya seperti minuman non alkohol. Pertama kali melihat pemandangan ini, saya dan M sama-sama terkejut. Bagi saya, di negara dengan mayoritas penduduknya muslim seperti Indonesia, pemandangan ini akan dianggap “meresahkan”, meski pada kenyataannya penegakan hukum atas orang-orang mabuk di tempat umum yang pastinya meresahkan pun tidak jelas penerapannya. Sementara bagi M yang berasal dari Queensland – Australia, meski mungkin tidak berdasarkan agama, tapi peraturan bisnis dan konsumsi alkohol di negara bagian Queensland ini mungkin salah satu yang paling ketat di dunia, bahkan jika dibandingkan dengan negara bagian lainnya di Australia. Seingat saya, di Queensland hanya bir yang boleh dijual di supermarket, selebihnya harus dijual di toko khusus dengan ijin khusus dan pengawasan ketat dari pihak berwenang. Penyuka alkohol pun “diijinkan mabuk” HANYA di tempat pribadi (rumah sendiri, kamar sendiri, dan sejenisnya). Sementara di Kolombia orang-orang mabuk bisa ada di mana saja dan kadang harus dibubarkan dengan tembakan senjata api ke udara dan sirine mobil polisi. Tembakan dan sirine ini terdengar setiap akhir pekan di malam hari, kadang terdengar jauh, kadang terdengar dekat. Jadi berasa seperti berada di dalam adegan film/seri TV Hollywood, hanya ini sungguhan sehingga saya harus pastikan semua jendela apartemen kami yang ada di lantai 2 tersebut tertutup rapat untuk menghindari kemungkinan peluru ‘nyasar’.

IMG_9031 IMG_9030 IMG_9029  IMG_9027  IMG_9025IMG_9026

5. Sama seperti orang Indonesia, orang Kolombia juga banyak mengkonsumsi kacang-kacangan, termasuk kacang kedelai. Salah satu produk olahan kedelai adalah tahu. Karena prosesnya yang mirip dengan pembuatan keju, setidaknya begitulah menurut orang Kolombia, maka tahu dimasukkan ke kategori “keju nabati”, sehingga di supermarket pun disimpan/dipajang di rak pendingin produk olahan susu (dairy products), berdampingan dengan keju. Mereka menyebutnya queso de soya ((keju kedelai) dan sekilas memang seperti keju. Si tahu ini agak keras dan rasanya hambar, lebih cocok digoreng untuk dijadikan keripik. Saya sampai geleng-geleng kepala dan senyum-senyum sendiri melihat tahu dan keju duduk manis bersebelahan..hehehe..

IMG_9024 IMG_9023 IMG_9022 IMG_9021

Tempat lainnya di mana orang-orang berbelanja kebutuhan sehari-hari tentu saja pasar tradisional. Yang ini lebih mirip lagi dengan pasar sejenis yang ada di Indonesia, termasuk fenomena yang biasa kita sebut pasar tumpah. Berikut penampakannya.

IMG_9057  IMG_9056  IMG_9054  IMG_9053IMG_9051IMG_9050IMG_9046IMG_9042

Ada satu lagi tempat orang belanja beli kebutuhan sehari-hari yaitu la tienda alias…warung. Terjemahan bebas dari la tienda sendiri adalah shop atau toko/kedai, namun tampilan umumnya terutama yang menjual sembako dan bahan makanan segar sangat mirip dengan apa yang kita kenal sebagai warung di Indonesia. Selain itu, persamaan lainnya adalah tienda ini ada di mana-mana, bahkan di kawasan pemukiman menengah ke atas sekali pun, terselip di antara rumah-rumah mewah dan/atau gedung-gedung apartemen. Hanya bedanya mungkin yang di Kolombia ini sedikit lebih modern dan lengkap, contohnya jika di ‘warung’nya tersebut ada bahan makanan yang harus dalam kondisi segar/dingin/beku (sayuran, buah-buahan tertentu, daging, ayam, jus, susu segar, es krim dan produk olahan susu lainnya), maka mereka pasti menempatkannya di chiller/kulkas/ freezer.

DSC00832 IMG_9036IMG_9035OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Satu lagi keunikan belanja kebutuhan sehari-hari di Kolombia adalah mayoritas warung/toko/supermarket di sini punya jasa Servicio a Domicilio alias Home Delivery alias Layanan Antar. Ini tidak berlaku untuk pasar tradisional tentunya. Semua toko/warung/supermarket yang ada tulisan Servicio a Domicilio biasanya bisa mengantar barang dalam radius 1 km s/d 5 km, tergantung moda transportasi yang digunakan si pemilik toko. Jarak sangat dekat biasanya menggunakan sepeda, jarak sedang/jauh menggunakan sepeda motor atau kendaraan roda empat. Sang pembeli tinggal telpon minta dikirim apa, sang penjual akan sebutkan jumlah nilai belanjaan dan tanya berapa uang yang akan diberikan oleh pembeli, sehingga si pengantar barang akan siap dengan jumlah uang kembalian. Teman saya, Molly, yang pernah ditodong senjata itu pas lagi jalan, adalah penggemar berat layanan antar ini, mulai dari belanja dapur, alat/bahan pembersih rumah, alkohol/rokok dan kawan-kawannya, benda-benda di kamar mandi, makanan cepat saji maupun tidak cepat saji, semuanya..

Hal lainnya, jika kita belanja datang langsung di supermarket yang jaraknya sangat dekat dari rumah/apartemen, mungkin jarak kurang dari 1 km, tidak bawa kendaraan dan naik taksi pun terlalu dekat, kita bisa minta petugas troli untuk jalan kaki mendorong troli belanjaan kita sampai rumah. Tinggal beri tip 3 ribu peso (15 ribu rupiah), sampailah si belanjaan di depan pintu.

Budaya memberi tip (tipping) berlaku di negara ini, cara dan nilai prosentasenya mungkin mirip seperti tipping di Amerika Serikat, hanya bedanya kalau kebetulan kita sedang tidak bisa kasih tip (karena tidak ada receh, misalnya) mereka tidak akan cemberut, setidaknya tidak di depan kita.

Bicara belanja, beli, dan bayar pasti ujungnya ke pertanyaan bagaimana biaya hidup di Kolombia. Menurut saya secara umum biaya hidup di Kolombia sekitar dua kali lipat biaya hidup di Indonesia. Mata uangnya adalah peso (COP = Colombian Peso), 1 peso = 5 rupiah. Bagi saya biaya hidup di Kolombia mahal, tapi bagi orang-orang dari negara berbiaya hidup tinggi (Australia, Amerika Serikat dan lain-lain) ini “surga” banget! Teman-teman expats dari negara ini kaget ketika saya bilang di Indonesia lebih murah lagi. Irma, satu-satunya teman Indonesia di sana, tampaknya tak paham atau peduli soal perbandingan biaya hidup tersebut karena kelihatannya bagi dia yang penting adalah membeli sehingga barang yang diperlukan tersedia.

Jadi, kalian belanja apa hari ini..? Hehehe..

(Materi tulisan dan gambar berasal dari catatan/dokumentasi pribadi dan dari berbagai sumber lainnya)

Bersambung…

Advertisements

39 thoughts on “(030) Vamos a ir de compras..!

  1. Wah enak ya hampir sama seperti di Indonesia buah dan sayuran. Ada Sawo ngga disitu Em? Hmm, baru denger tentang queso de soya. Cuma digoreng jadi seperti kripik gitu ya?

    Asik posnya, aku suka. Seperti ikutan belanja di supermarket dan pasar.

    Liked by 1 person

    • Hehehe..makasih, Lorraine..
      Sawo ada, orang Kolombia nyebutnya sapodilla.., di Australia yg daerah tropisnya ada juga sawo, bahkan ada pengusaha es krim yg bikin sorbet sawo.. Enaaaakkk banget..!!!
      Kalo soal tahu, aku gak tau persis orang Kolombia masaknya gimana, cuma aku pernah coba goreng tebal2 kayak tahu Indonesia, itu asli gak enak banget.. Akhirnya aku potong tipis2, direndam air garam, trus digoreng.., baru deh berasa enak..:-)

      Like

    • Hehehe iya Gi.. Nemu singkong dan pisang tanduk tuh serasa gimanaaaa gitu..😄 Kalo rempah mereka kayaknya jarang pake yg dari akar2an.. Kalo di supermarket gitu yg sering aku lihat sih daun salam, segalam macam bawang dan sledri, jintan, trus banyak lagi yg aku gak tau bhs indonesianya..

      Like

  2. Mbak slama ini sayur dan hasil bumi yang mirip ya.. apa akan ada edisi bumbu-bumbu? Hehehe macam kunyit lengkuas asem laos dan sejenisnya. Kalo mreka punya ubi-ubian apa mereka punya macam tiwul (mbak tau tiwul? ) gatot atau getuk? penasaran 🙂

    Like

    • Kalo rempah/bumbu dari akar-akaran (lengkuas, kunyit, dll) belum pernah lihat, tapi yg lainnya sih sama kayak indonesia.. Umbi-umbian umumnya dibikin campuran sup atau digoreng, tapi saya pernah juga makan cemilan yg kalo di indonesia (jawa barat) tuh disebut comro, singkong parut yg diisi sambal oncom dan digoreng.., tapi yg di kolombia isinya daging cincang..

      Like

  3. Ih ketahuan, Mbak Emnya suka shopping. Sampai sampai semua disurvei! Hihihi. Tapi iya, semuanya sama macam di Indonesia, di Medan, mau belanja di warung bisa juga minta antar mbak, tanpa tip lagi. Yang penting belanja nya sesuai dengan minimal belanjaan…

    Lucu ya tahu dan keju disejajarkan… Ekspor tahu ke Kolombia bisa gak ya kira kira? Bagaimana kabar rekannya tempe? Adakah mbak Em temukan di sana?

    Like

    • Ya namanya juga emak2.., belanja itu kewajiban bukan hobby😄 Yg penting hanya membeli yg dibutuhkan.. Bagus dong kalo di Medan sdh bisa delivery service, di kalimantan dan jawa belum nemu yg kayak gitu..
      Tempe itu menurut saya asli indonesia. Gak ada di kolombia.. Kalo pun ada nemu di luar negeri, penjualnya pasti bilang itu makanan khas indonesia..

      Like

  4. Wah kayanya seru dan asik banget supermarket dan pasar tradisionalnya! TIap aku traveling pasti mau ngunjungin supermarket n pasar karena mau liat gimana dan kayak apa sih makanannya, hahaha. Konter jus jeruknya menarik ya. And sama aku juga kaget pas baru ke sini, di tiap supermarket jualan bir dan wine sampe ber-aisle2 hehehe. Kalo alcohol yang lebih sih harus beli di toko khusus, harus nunjukin ID dan gak boleh minum d tempat umum (ada sign di jalan2 yg bilang gak boleh mabuk di sini)

    Like

    • Wah berarti kita sama, Mar.. Suka lihat pasar..hehehe.. Favoritku juga si konter jus segar itu loh.., pasti tak lupa nangkring dan beli kalo belanja ke supermarket..
      Eh..kamu kan di NZ ya.., kayaknya peraturan di NZ soal alkohol mirip dengan di Australia.., cuma kata suamiku M, di Queensland tuh yang paling ketat dibandingkan negara bagian lainnya di Australia..

      Like

  5. wah surga beneran kalau belanja disana, kalau kebutuhan pokoknya mirip dengan indonesia, disni kami di turki negara yg galau heheh..sebelah asia tapi sama sekali ga ada kemiripan bumbu2 asia nya cenderung ke timur tengah dan eropa..tahu aja bikin sendiri…boleh dong tukeran marketnya gitu sama sini:Dd

    Like

    • 😃👍emang mantap lah.. Coba kapan lagi bisa beli singkong dan manggis pake bhs Spanyol😝😝😝
      Boleh tuh pindahan aja salah satu pasar di Kolombia ke Turki biar kamu bisa belanja a la khatulistiwa lagi..😄

      Like

  6. Enak ya bias belanja buah/ sayur yang seperti di Indonesia. Disini juga ada tapi rata2 jualnya di Chinese/ Asian grocery store. Disini jual alcohol juga strict banget, ga bias beli di supermarket atau corner store, harus either di Beer store atau Liquor store, Ontario ini provincenya aga2 strict juga karna yang punya beer/ liquor store itu pemerintah jadi mungkin mereka ga mo public go a hand in selling alcohol. Sorry aku tinggal di Toronto, Canada. Disini juga ga boleh bawa2 minuman alcohol in public. Semua mesti di rumah ato restaurant. Dan kalo lagi ada outdoor venue juga mesti ada special area yg orang2 boleh minum alcohol, sampe dipagerin gitu.
    Aku paling suka kalo lagi belanja ke farmer’s market, rasanya semua juga mau dibeli karna fresh semuanya dan banyak barang2 home made seperti, honey, jam, sausages etc.

    Like

    • Ya rata-rata di negara 4 musim paling di chinese/indian grocery stores.. Wah berarti privinsi Ontario tuh peraturan daerah soal alkohol mirip dengan yg di state Queensland di Australia sini.. BTW, di Queensland kami tinggal di Townsville..

      Like

      • Kamu tinggal di Indonesia ato di Australia sekarang? I lived in Melbourne for 3 years in late 80s eraly 90s before moving to the US and now Canada. Belom pernah ke Queensland sih tapi mau ajak anak2 ke Australia one day dan juga ke Queensland.

        Like

      • Di atas kertas aku tinggalnya sekarang di Indonesia.., tapi karena jadwal kerja suami yg libur 2 minggu setiap 2 bulan, kami jadi sering bolak-balik Indonesia-Australia..
        Wah aku malah belum pernah ke Melbourne.. Ntar kalo emang jadi ke Queensland, dan kalo mau ketemuan, kasih tau aku aja.. Siapa tau pas aku lagi di Queensland juga..

        Like

  7. Mbak Emmy, la tienda-nya mirip toko kelontong 😆 udah bukan warung lagi donk hehe.
    Yak yang alkohol yang alkohol.. Aku kurang tau sih presentase alkoholnya brp tp di Carrefour segala jenis alkohol ada, mbak. Dipajang gitu gede2. Kalo di minimarket macam alfamart/indomaret di Bali jg ada tp ga banyak.

    Like

    • Oh ya la tienda itu arti harfiahnya memang toko.. Cuma di sana tuh tienda yg jualan sayuran atau produk segar dan kebutuhan sehari-hari lainnya tampilannya persis kayak warung di indonesia..
      Soal alkohol dan Carrefour itu kamu ngomongin yg di Bali kan? Karena kalo di Jawa atau Kaltim gak pernah lihat tuh yg kayak gitu…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s