(034) Ketika si paspor hijau bertemu R – B1/B2..

Di bulan puasa 2011 itu saya tak hanya sibuk berpuasa, tapi juga sibuk menyiapkan pengajuan US Visa. Saya merasa perlu mengajukan visa ini karena kemungkinan kami akan transit di Amerika Serikat untuk perjalanan pulang saat cuti tahunan kami yang pertama di bulan Februari 2012. Selain itu, saya mau juga jalan-jalan ke Miami, Florida yang hanya berjarak dua jam penerbangan dari kota Barranquilla tempat kami tinggal. Jadi mulailah saya mencari informasi mengenai hal ini.

Kebetulan Evelyn, teman saya yang orang Afrika Selatan ini juga akan mengajukan US Visa untuk liburan akhir tahun. Suami kami bekerja di perusahaan yang berbeda, sehingga proses internal untuk keluarga karyawan yang perlu mengajukan visa (di luar visa Kolombia) juga berbeda. Saya harus mengerjakan semuanya sendiri, sedangkan Evelyn hanya perlu datang untuk wawancara di kedutaan sementara pernak pernik lainnya dikerjakan orang admin dari kantor suaminya. Tadinya saya jengkel banget (iri sebenarnya.. Hehehe..) tapi ketika menjalani semua prosesnya, saya bersyukur pihak kantornya M menyarankan saya untuk mengerjakan sendiri karena banyak persyaratan yang terkait data pribadi. Selain itu, saya jadi tahu bagaimana cara mendapatkan visa US (visa kunjungan biasa B1/B2).

Namun, awalnya saya tetap ogah-ogahan, soalnya waktu di Indonesia sering dengar betapa susahnya dapat visa US. Jadinya keburu berpikiran bahwa si visa ini ribet, lama, dan susah dapatnya. Apalagi saya dengar dari Evelyn, proses screening di Kedutaan Amerika Serikat di Kolombia ini lebih ketat. Duh! Saya pikir, sudahlah pulang kampung transitnya di Chile atau Ekuador saja, tidak perlu visa-visaan segala, pusing! Tapi setelah dibujuk-bujuk M, akhirnya dikerjakan juga. Dan mulailah saya mempersiapkan semuanya.

1. Isi formulir online: Pada saat isi formulir, ceritanya M berniat baik membantu saya menjawab pertanyaan yang serombongan itu, kalau ditotal mungkin ada seratus. Baru dua puluh pertanyaan, menyerah!!! Katanya: “Why the hell are they asking about those silly stuffs..?!?” Sambil mengerutkan dahi, cemberut, dan garuk-garuk kepala yang tidak gatal itu.. Hahaha…, gak tahu dia, setiap kali mengurus visa.., inilah yang harus saya hadapi.., segerombolan pertanyaan menyebalkan..hehehe.. Selain isi formulir, saya siapkan juga semua dokumen pendukung yang menguatkan hal-hal yang saya tulis di formulir, misalnya Surat Keterangan Pekerjaan Suami, semua ID card yang saya punya (asli dan fotokopi), salinan bank statement, dll.. Untuk dokumen pendukung ini tidak ada panduan khusus apa saja yang harus dibawa/diperlihatkan, saya pun mempersiapkannnya hanya berdasarkan logika alias dikira-kira saja..

2. Bayar visa fee di bank yang ditunjuk: Saya pikir bakalan ribet, ternyata simpel. Tinggal datang ke bank, serahkan lembar konfirmasi dari hasil isi formulir online, kasih uangnya, kemudian saya diberi tanda terima. Kebetulan bank yang ditunjuk letaknya tidak jauh dari apartemen, hanya lima menit jalan kaki. Kemudian antrian di bank ada jalur khusus untuk pembayaran US Visa Fee, pas saya di sana antriannya malah kosong. Urusan bayar kelar lima menit saja. Beres deh.. Teman saya Evelyn akhirnya malah jadi rempong sendiri karena orang admin di kantor suaminya tampaknya ada salah apa gitu sehingga akhirnya dia harus lakukan sendiri proses bayar ini. Dan dia bingung karena tidak paham proses awalnya. Jadi saya antar dia ke bank yang sama.

3. Buat janji wawancara: Dengan berbekal nomer registrasi formulir, bukti pembayaran+PIN untuk masuk ke line telpon kedutaan, saya telpon bagian visa dan minta jadwal wawancara. Tak diduga saya ditawari jadwal wawancara besok harinya! Ha..?!? Cepat sekali..!! Padahal Evelyn baru bisa wawancara empat minggu lagi.. Saya sampai tergagap dan bingung karena belum persiapan apapun untuk pergi ke Kedutaan Amerika Serikat di Bogotá. Mana petugasnya bicara Bahasa Spanyol pula.. Akhirnya saya tanya apa ada jadwal wawancara untuk dua atau tiga hari lagi. Kemudian si petugas bilang ada yang tiga hari lagi di pagi hari jam 08:30, langsung saya ambil time slot yang itu. Dan lagi-lagi Evelyn kesal karena dapat jadwal wawancara yang masih lama banget, padahal dia juga masih harus mengajukan visa Inggris untuk transit sebelum pulang kampung ke Afrika Selatan, dan juga visa New Zealand untuk menonton Rugby World Cup. Astaga..! Ini anak sibuk banget mengurus banyak visa di tahun itu… Akhirnya Evelyn dapat juga jadwal lebih awal, sekitar seminggu setelah jadwal saya, setelah telpon sendiri ke kedutaan..! Dan di sini saya baru ngeh, ternyata paspor Afrika Selatan sama rempongnya dengan si hijau-ku tercinta ini. Penyebabnya konon karena sejarah politik apartheid yang dulu berlaku di negara ini.

Hari Senin itu saya telpon untuk minta jadwal wawancara, dapat jadwal wawancaranya di hari Kamis pagi, sehingga hari Rabu saya terbang ke Bogotá dan menginap semalam di sana. Saya beli tiket pesawat dan reservasi hotel sendiri melalui internet, dan ke Bogotá pun tanpa “pengawal” secuil pun, M sedang di mine site jadi tak bisa ikut. Sebelum berangkat saya perlengkapi diri dulu dengan pengetahuan bagaimana situasi dan kondisi dari dan menuju bandara, kedutaan di mana, hotel di mana, daerah-daerah yang harus dihindari, cara mencari taksi yang aman, mempelajari peta lokasi daerah yang saya datangi, dll. Saya pilih hotel yang jaraknya bisa jalan kaki ke kedutaan. Kemudian hari Rabu saya terbang ke Bogotá dengan Avianca Airlines, penerbangannya hanya satu jam. Sesampainya di bandara Bogotá, saya langsung cari taksi dan pergi ke hotel yang dituju. Saya pastikan sopir taksi ini benar-benar ke tujuan yang saya mau dengan memperhatikan nama-nama jalan yang dilalui. Sesampainya di hotel (lebih tepat disebut guest house sih), saya langsung orientasi lingkungan sekitar untuk persiapan besok. Sang pemilik guest house berbaik hati memberikan tips bagaimana menuju kedutaan lebih awal agar tidak tergesa-gesa di jalan. Informasinya sangat membantu meski diungkapkan dalam Bahasa Spanyol..

4. Wawancara: Besoknya di hari wawancara, saya pergi jalan kaki ke kedutaan yang ternyata luas sekali areanya dan dijaga tank panser plus tentara Amerika bersenjata lengkap di setiap sudutnya. Suhu Bogotá pagi itu dingin seperti biasa, sekitar 15’C, dan angin bertiup kencang.. Brrrrr….!!! Semua barang (kecuali HP, dompet, dan berkas visa) ditinggal di hotel, hal ini juga atas saran sang pemilik hotel. Jadwal saya adalah jam 08:30, ketika sampai ke pintu masuk bagian visa baru jam 8 pagi, sudah banyak yang antri. Screening pasfoto dan tanda terima formulir dimulai di sini. Ketika tiba bagian saya, sang petugas bilang foto saya tidak memenuhi syarat, jadi harus foto lagi.. Duh..! Panik sesaat..!!! Untungnya dia bilang ada banyak studio foto di seberang kompleks kedutaan, tinggal langsung saja ke sana.. Dan saya pun keluar antrian dan jalan kaki ke studio foto yang ternyata berjajar di sisi lain dari kompleks kedutaan ini. Selesai foto, saya kembali ke antrian tapi sudah tidak bisa ikut jadwal jam 08:30. Akhirnya dimasukkan ke yang jam 10:00, tak apalah.. Ketika akhirnya bisa masuk, ternyata HP harus dititipkan. Screening berikutnya adalah paspor. Si petugas heran kenapa nomer ID Card saya (KTP) tidak dicantumkan di paspor. Saya bilang di Indonesia ketentuannya memang begitu. Rupanya di paspor Kolombia dicantumkan juga nomer ID mereka (cedula itu loh..) Kemudian semua pelamar visa dibagi dalam grup yang masing-masing berisi 20 orang, disesuaikan dengan jumlah loket wawancara. Setelah menunggu sekitar 30 menit, giliran grup saya yang maju ke loket. Begitu saya di depan loket, petugas di balik kaca loket langsung menyapa saya dengan Bahasa Spanyol, tapi begitu sadar saya bukan orang Kolombia, dia langsung bicara Bahasa Inggris. Petugas wawancara ini ramah orangnya, dia mengajukan beberapa pertanyaan standar selama kurang lebih 3 menit, setelah itu dia bilang: “Ok, your visa application has been approved. Please proceed to the postal payment section for your passport return..” Saya nyaris tak percaya dong, jadinya spontan bilang: “That’s it..???” Tak ada satu pun dari dokumen pendukung setebal bantal yang sudah disiapkan itu ditanya atau diminta.. Si petugas tersenyum dan berkata: “Yes, Mam.. That’s it. You’ll have your passport back in 4 days..” Horeeeee…., senang luar biasa..!!! Dan ketika saya menuju loket pembayaran biaya kirim paspor, baru sadar bahwa dari 20 orang yang ada di grup saya, hanya 4 (termasuk saya) yang berakhir di bagian pembayaran ini. Artinya, 16 orang lainnya tidak disetujui permohonan visanya. Belakangan saya tahu bahwa nyaris “mission impossible” bagi orang Kolombia untuk dapat visa US, karena sejarah bisnis narkobanya.

5. Tunggu paspor balik via pos: Begitu kelar urusan wawancara, saya balik ke hotel, ambil barang, dan pesan taksi ke bandara, langsung pulang ke Barranquilla siang itu juga. Minggu depannya hari Rabu, tepat 4 hari kerja dari hari wawancara, paspor saya sudah di tangan dengan visa B1/B2 berlaku sampai Agustus 2016. Yaaayyyyyy….!!!

Ini dia penampakkan kedutaan dari luar dan visa saya

OLYMPUS DIGITAL CAMERA IMG_9085 IMG_9099

Dan ketika saya dan M akhirnya benar-benar berkunjung ke Amerika Serikat di pertengahan 2012, seperti sudah diduga, petugas imigrasi di bandara Los Angeles terheran-heran dengan visa saya, kenapa seorang Indonesia yang bersuamikan orang Australia bisa dapat visa Amerika Serikat di Kolombia..? Hehehe..ceritanya panjang, Pak..

Dan begitulah kisah visa US saya..

Bersambung..

Advertisements

88 thoughts on “(034) Ketika si paspor hijau bertemu R – B1/B2..

  1. Cantik ya visanya…. 5 tahun lagi. Ckckckc…. Ini multiple entry kan mbak Em. Saya kira apa tadi kok pake b1/b2 soalnya di Medan, b1 itu anj*n* dan b2 itu b*b*. Hehehe…. Kirain mbak secara tak sengaja mengonsumsi ini mbak. Hehehe…. 🙂

    Like

    • Ya, multiple entry buat 5 tahun, dan setiap kunjungan diberikan maksimum 6 bulan masa tinggal.. Saya rasa tak perlu disamarkan jika maksudnya anjing dan babi.. Saya mengerti tiap agama/tradisi/kebudayaan punya aturan dan/atau ciri khas masing-masing.. Visa R tipe B1/B2 itu tipe visa kunjungan biasa, bisa digunakan utk kunjungan wisata atau kunjungan bisnis..

      Liked by 1 person

    • WN Australia hanya perlu mengajukan ijin masuk US melalui website Imigrasi US, istilahnya ESTA (Electronic System for Travel Authorization), hasilnya tinggal dicetak, tak ada wawancara dan segala macam printilannya.. Kalo ke wilayah US biarpun kasarnya cuma transit sedetik tetap harus mengajukan visa..😬

      Like

      • Gak keinginan ganti sampul si hijau mbak? 🙂

        Tapi gitu gitu sebenarnya eksotisme Indonesia sendiri masih belum habis dijelajahi mbak. Masih banyak yang belum dieksplorasi. Tetap bangga jadi pemilik si hijau deh.

        Like

      • Setiap kali mengajukan visa, terutama yg ribet kayak UK, pengen rasanya ganti paspor.. Apalagi suami kerjanya nomaden.. Stres tiap kali terutama kalo harus ngurus sendiri..
        Saya selalu bangga jadi WNI, saya hanya berharap paspornya lebih banyak kemudahan.. Bagi saya, ganti paspor tak ada hubungannya dengan perasaan kita terhadap negara asal, karena apapun paspornya.., tidak mengubah fakta bahwa kampung halaman saya adalah Indonesia..

        Like

      • Wah UK lebih ribet ya mbak buat ngurus visa? Boleh bagi pengalaman ya mbak Em. #pasangmukamemelasmataberkacakacamacamdifilmkartun#

        Seumur umur visa Taiwan maupun China selalu diurus sama biro. Jadi tinggal terima bersih. Kemarin ada pengalaman ngurus visa mama buat jalan jalan ke China itu pun cuma ngurus in dokumen aja. Begitu lengkap langsung apply dan approved. Jadi gak perlu proses wawancara.

        Belum pernah Nyobain yang mesti ngurus sendiri sampai proses wawancaranya…. Kalo mesti pun, semoga sukses.

        Kalo M mau ke UK kan kembali ke negara Persemakmurannya. Welcome banget pastinya… Kabarnya Jepang udah mulai memudahkan si hijau buat melanglang ke negaranya. Semoga ke depannya makin banyak yang memudahkan bahkan menyediakan visa on arrival.

        Like

      • UK Visa itu prosesnya mirip US cuma tak ada wawancara tapi ada proses biometrik (scan sidik jari dan retina mata kalo gak salah), bagian yang nyebelinnya adalah dokumen pendukung tuh wajib ada, udah gitu visanya dikasih multiple entry yg cuma berlaku 6 bulan.. Siapa coba yg mau bolak balik ke UK dari Indonesia dalam waktu 6 bulan, udah gitu prosesnya antara 2 s/d 3 minggu dan paspor harus diambil di kedutaan, biayanya lebih mahal daripada visa US pula.. Rempong kan..?
        Kalo si M tinggal melenggang aja ke semua negara persemakmuran.. Duh..!
        Visa Jepang bisa VoA utk e-passport saja sementara ini..
        Yah semoga aja ke depannya lebih leluasa si hijau ini..

        Like

      • Waduh…. Sama aja kalo SMAN biometrik, yang mengajukan mesti ke sana. Sama aja dengan wawancara namanya. Cuma mesin menanyakan data biometrik. Lebih enak ditanya sama manusia ketimbang mesin.

        Kalo ngambil juga mesti di kedutaan, wah, itu sih memang nambah ribet mbak. Kebayang kalo yang apply itu pekerja yang tinggal di Medan atau Papua dan mesti ke Jakarta di mana kedutaan biasanya hanya ada di sana, belum lagi mesti langsung balik karena urusan kerja… Dalam beberapa minggu mesti balik ngambil lagi…. Bisa mbak, bisa ngebayangin rempong banget ngurus visa UK. Terus multiple entry cuma 6 bulan? (Sekali visit, maksimal tinggal di sana berapa lama mbak Em?) Biar puas sebulan sekali mesti ke UK ini mbak. Hahahaha…. Bangkrut bangkrut deh… Pasti airfarenya mahal bin expensive! Belum lagi asuransi perjalanan yang mesti dibeli kan? Kalo gak, apa mungkin kedutaan sana mau Ngaluran visa kita? Sayangnya UK gak masuk ke Schengen. Pantaslah makin ribet nah Jaya Visa UK dibandingkan negara lain.

        Berarti punya hubby WN Australia juga tidak menjamin ya pasangannya terbebas dari keribetan mengurus visa negara persemakmuran, Malaysia (masuk gak ya ke persemakmuran?) hihihi…

        Like

      • setuju. I’m looking forward dimana Indonesia boleh dual.

        Untuk alasan praktikal aku pengen sekali ganti paspor yang lebih gampang dibawa kemana2, tapi alasan sentimental masih susah melepas paspor ijo

        Liked by 1 person

      • Hehehe..sama dong kita.. Tos ah.. Semoga saja dual citizenship segera kejadian buat siapapun dan berlaku selamanya.., bukan hanya untuk anak-anak dari pernikahan campuran yg cuma sampe umur mereka 18 atau 21 ya..lupa..

        Like

      • Temanku malah ikutan rombongan presiden (waktu itu masih SBY – dia wartawan The Jakarta Post juga kaya aku), ke US, visanya di approve paling terakhir, pas udah mau berangkat. Why? Namanya Abdul.

        Like

      • Nama yang berbau kearab-araban (bukan maksud diskriminasi SARA ya), biasanya pun akan direject Visanya. Alasannya terorisme. Dapat informasi dari WN US sewaktu chat… Apalagi semenjak kejadian 11 September. Semakin lah diperketat issue visa bagi yang memiliki nama seperti Abdul, Muhammad/Mohammed.

        Tapi ya tetap aja mesti deg deg an nunggu diapprove atau gak. Sayang kalo direject, udah biaya hangus, segala perjuangan menjadi sia sia… Kalo sukses kan, ke depannya ngurus visa ke negara lain lebih dipercaya. Wong visa US aja udah tembus… 🙂

        Like

      • Oh ya bener itu, aku juga pernah dikasih tahu, kalo screening masuk US utk WNI pria dengan tipe nama tertentu ada kemungkinan lebih spesifik (misalnya disuruh masuk ruangan dulu, bukan hanya nangkring antri di konter imigrasi)

        Like

      • Jadi ingat parodi iklan yang sang aktor tidak dikenali karena foto di paspor beda dengan aslinya. Pasang kumis palsu, masih belum. Pasang jambang palsu, masih belum. Pasang topi, masih belum. Setelah memang senjata, baru mirip dan diizinkan lewat. Hahahaha….

        Sebaliknya pengalaman di foto Paspor dan wajah orangnya beda pernah ngalamin lo Mbak. Jadi ketika difoto bagaimana pun, mukanya nampak beda sama yang asli. Jadi ketika di imigrasi, suka bermasalah. Wah punya muka begini yang paling gak enak. Tiap di imigrasi, pasti mesti nambah waktu menjelaskan alasannya. Mesti memperlihatkan foto foto terdahulu… Sampai ada yang bisa dimirip miripin. Untungnya si teman dah biasa… Jadi udah prepare kalo mau berdiri di hadapan petugas imigrasi negara mana pun….

        Liked by 1 person

      • Beruntung ya Abdul ini masih bisa approve. Kalo gak, kita juga boleh komplain kok. Apalagi kalo perusahaan langsung telepon ke kedutaan. Biasanya akan diricek ulang… (Ingat sama pengalaman mbak Felicity)

        Liked by 1 person

  2. asyikkk dapat 5 tahun tapi memang betul ya kalo apply visa2an di sini juga nggak seribet apa yang didengar di Indonesia. Btw aku dr sini ke Australia aja deket banget tapi muales les les suruh urus visa… pdhl tinggal kumpulin surat dan bayar *gak rela bayar hahahaha* Dulu pernah dapet tp udh expired dan mau buat lagi udah keburu males. Sementara teman2 lain banyak visa on arrival dan yang paling ngeselin kalo temen Malaysia udh nyolot pamer dia tinggal klik online aja hahahaha. Kapan ya paspor kita mudah dapat visa?

    Liked by 1 person

  3. hiks…nasib si hijau ya mbak.. saya masih rada norak ni, kalau pas nemu visa USA di berkas permohonan, suka diliat-liat dipegang-pegang gitu sambil ngayal mudah-mudahan suatu saat bisa dapet juga visanya dan berkunjung kesana (dibayarin negara, mungkin?) hehehehe…..

    btw, pernah kepikiran untuk ganti paspor ngga sih mbak mengingat banyaknya kemudahan keimigrasian kalau ngikut jadi australian?

    Liked by 1 person

  4. Saya ga heran sih mbak kalo mengajukan visa ke Ameriki (sengaja diplesetin 😛 ) agak sulit krn keluarga saya sendiri juga mengalaminya haha.. Pengajuan visa untuk 1 keluarga eh yang dapet hanya papa-mama saja.
    Denger2 pengajuan visa Australia untuk WN Indonesia sekarang juga agak dipersulit mbak ga tau kenapa.

    Like

    • Utk visa US aku juga sering dengernya gitu, susah, padahal menurutku ada yg lebih nyebelin: visa UK! Kalo visa Australia sih selama ini aku gampang aja dapetnya, kecuali yg aku dapat di Chile waktu masih tinggal di Kolombia.., ntar itu ada post khusus ya..hehehe..

      Like

      • Ya visa UK udah pernah di April 2014 barusan..
        UK Visa itu prosesnya mirip US cuma tak ada wawancara tapi ada proses biometrik (scan sidik jari dan retina mata kalo gak salah), bagian yang nyebelinnya adalah dokumen pendukung tuh wajib ada, udah gitu visanya dikasih multiple entry yg cuma berlaku 6 bulan, maximum stay 6 bulan juga kalo gak salah.. Siapa coba yg mau bolak balik ke UK dari Indonesia dalam waktu 6 bulan, udah gitu prosesnya lama antara 2 s/d 4 minggu dan paspor harus diambil di kedutaan, biayanya lebih mahal daripada visa US pula.. Rempong kan..?
        Pokoknya ntar deh bakalan ada post khusus tentang UK visa lengkap dengan omelanku..hehehe..

        Like

      • Bener banget. Visa UK menyebalkan. Aku males banget ngurusnya. Disuruh list semua trip selama 10 tahun terakhir. Lah aku bolak balik travel karena kerjaan mana cukup itu kolom di formulir? Edan.

        Liked by 1 person

      • Hahaha..iya aku sebel banget tuh pas disuruh nulisin semua trip.., padahal baru wara wiri 7 tahun aja waktu itu dan gak sesering dirimu lah.. tetep aja aku manyun.. Pas abis beres visa, kebetulan UK Embassy yg di Indonesia ngadain survey (via email) utk perbaikan kinerja mereka.. Langsung dong keluar uneg-uneg semua..hahaha..

        Like

    • Denger denger sih setelah kasus terorisme belakangan ini. Jadi pihak Australia kan sempat juga melarang WN nya buat berkunjung ke Indonesia. Terus ada lagi kasus manusia kapal dari Indonesia yang terdampar di Australia.

      Pada waktunya, pengetatan itu pasti akan dilonggarkan kembali… 🙂

      Like

      • Trus yg kasus penyadapan pas pemerintahan SBY itu gimana, kan Oz yg punya salah? Ga fair dong kalo kita susah kesana tapi mereka gampang kesini *sebel* hahaha.. #PecintaKeadilanGarisKeras

        Kita lihat aja apa kebijakan Jokowi nanti, soalnya baca berita skrg uda ada bbrp negara yg VOA ke Indonesia tp kita masih belum VOA ke negaranya, cthnya Oz ini.

        Liked by 1 person

      • Waduh neng masih jauh lebih banyak negara lain yg bisa VoA ke Indonesia daripada sebaliknya.., seingatku hanya sekitar 10% dari jumlah negara yg ada saat ini yg mengijinkan WNI masuk pake VoA.. Sedih ye..
        Iya neh si Oz ini harusnya udah boleh dong VoA.. Tapi dibanding visa UK dan US, Visa Australia yang paling gampang menurutku..

        Like

      • Lhaaa pan aku jawabnya begitu mbak, makanya aku bilang ga adil hehe. Masuk Indonesia dengan bebas tp kita agak susah kalo mau berkunjung ke negara lain, krn kebanyakan masih pake visa manual, bukan VOA.
        Iya nih visa Oz ya mbak? Tiap orang beda pengalaman kali ya

        Liked by 1 person

      • Iya maksudnya penegasan secara statistik.. Maaf ya kalo pemilihan katanya jadi seolah-olah salah paham..hehehe.. Eh beneran loh visa Australia tuh buatku paling “ramah” deh dibanding US dan UK.. Semoga selalu begitu ye…

        Like

      • Iya mbak ga apa2 hehe. Amiiinn amin semoga mudah selalu biar mbak Emmy dan pasangan jadi gampang bolak-balik Oz-Indo hehehe.
        Baru inget AirAsia ada tiket murah untuk thn depan, untung aku belum beli.. Baru inget belum urus visa 😆

        Like

  5. Pingback: (048) Belok kiri atau belok kanan…? | Crossing Borders

  6. Pingback: (050) Delapan momen unik selama liburan di Amrik.. Part 1 | Crossing Borders

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s