Sekedar selingan: Sudah disunat belum..?

Ini salah satu percakapan yang sering terjadi sebelum saya dan M menikah dan beberapa saat setelah menikah. Contoh percakapan di bawah ini saya pilih karena penyampaiannya yang paling “kepo”. Penanya adalah kolega (bukan sahabat, bukan keluarga dekat) di tempat kerja saya dulu di Bandung..

Penanya : Mbak Em.., suami sampeyan kan bule tuh.. Disunat dulu gakΒ sebelum nikah.., harus loh disunat!

Saya : Kenapa kamu mau tahu..?

Penanya : Eh..(tergagap..), gak kenapa-kenapa sih.. Wajib tuh, nanti dosa loh..

Saya : Dan kenapa saya harus kasih tahu kamu sudah atau belumnya..?

Penanya : Eh..(kembali tergagap..).. Ya.., gak kenapa juga sih..

Saya : Nah, karena kamu tidak bisa kasih saya alasan kenapa saya harus kasih tahu kamu untuk urusan ini, berarti kamu tak perlu bertanya soal itu lagi..(sambil pasang senyum yang paling manis..)

Penanya : Eh..iya deh, mbak..

(Catatan: sebetulnya kalau yang bertanya adalah orang dekat dan dengan cara yang lebih nyaman, pasti saya jawab begini: Dia sudah disunat waktu masih kecil, agama dia yang dulu juga mewajibkan sunat)

Advertisements

31 thoughts on “Sekedar selingan: Sudah disunat belum..?

  1. Saya menghindari pertanyaan pribadi macam ini ke orang yg tidak kenal dekat. Tapi kawan saya bercerita ttg pengalaman sunat calon suaminya tanpa saya minta bukan cerita detail hanya semacam bahwa calon suaminya baru sunat kemarin, sudah itu aja πŸ™‚

    Liked by 1 person

  2. Sampai saat ini pertanyaan itu masih kuhadapi. Herannya, yang suka pada nanya itu orang2 berpendidikan (tinggi) malahan. Ga punya tata krama banget. Antara otak pinter sama mulut ga singkron. Kepala KUA aja waktu memuallafkan suami ga nanya apa2. Kalo ada yang nanya aku suka bilang “kepentingannya sama hidupmu apa aku kok musti menjelaskan” — “ga ada” — “ya sudah, berarti ga ada yang perlu dijelaskan” —Kemudian hening πŸ˜€

    Liked by 1 person

    • Ya mungkin juga.., sebetulnya saya pun tidak keberatan kalo maksud dia mau rekomendasikan apa gitu.., tapi jangan dengan nada seolah-olah saya baru saja melakukan kejahatan.. Bahasa tulisan memang sulit dibandingkan dengan bahasa verbal dalam hal intonasi..

      Like

  3. Aku punya pengalaman sama mba, parahnya ini cewe (sepupuku) mulut ember, dia mojokin suamiku terus kalau ketemu, keluarga besarku campur2 terdiri dari berbagai agama dan suku, jadi saat ngumpul2 yang belum sunat selalu jadi inceran dia. nggak penting banget becandanya!
    Suamiku jadi kepikira sunat. setelah sunat dia bilang menyesal,sekarang kalau saat bersetubuh jadi tidak nikmat lagi, nggak sensitif seperti dulu katanya,aku nggak tega mba. huhuhu

    Like

    • Hai Wita.. Makasih udah mampir dan berbagi cerita.. Tak mudah memang kalo punya situasi berbeda dari orang kebanyakan.. Maaf.., kalo boleh saya tahu.., koq bisa sampai terintimidasi sedemikian rupa oleh sepupumu itu? Maksud saya, dia toh hanya sepupu, bukan orang tua atau adik/kakak kandung yg menurut saya level kekerabatannya pasti jauh lebih dekat dibandingkan dgn sepupu, sehingga bisa dibilang punya pengaruh lebih tinggi dalam “mencampuri” urusan pribadi kita..
      Salam-Emmy

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s