(040) Home…

Suasana Natal 2011 di Barranquilla lumayan meriah, tidak mengherankan sebetulnya berhubung ini adalah negara berpenduduk mayoritas Katolik, ditambah lagi dengan karakteristik orang Kolombia yang sangat suka perayaan/pesta. Seperti biasa, ada pawai, ada hiasan-hiasan. Yang unik adalah hiasan bertema Natal yang dipasang di tempat -tempat umum pasti bertema salju, seperti pohon cemara yang dihias serpihan salju palsu, atau snowman si orang-orangan salju. Bagi saya terlihat aneh karena Kolombia adalah negara tropis yang sebagian besar penduduknya mungkin belum pernah melihat salju secara langsung. Atau mungkin semua orang di negeri ini sudah sangat terpengaruh dengan kebiasaan orang di belahan bumi bagian utara di mana Natal jatuh di musim dingin yang tentu sebagian besar areanya bersalju. (Catatan: terpaksa pinjam foto di bawah ini dari website lain berhubung foto saya entah “nyempil” di mana, tapi TKP-nya sama koq..)

photo-3-3photo-1-3 img_1098 Jadi teringat istilah Christmas in June yang biasa diungkapkan oleh orang-orang yang tinggal di belahan bumi bagian utara (seperti Kanada dan Amerika Serikat) terhadap momen Natal yang jatuh di musim panas di belahan bumi bagian selatan (seperti di Australia dan Selandia Baru). Sementara musim panas di belahan bumi bagian utara di antaranya terjadi di bulan Juni.
Balik lagi ke Desember di Barranquilla, di awal bulan kami mendapat kabar dari keluarga di Australia bahwa ayahnya M terkena kanker prostat tahap awal. Meski tahap awal, ini cukup membuat gelisah M karena selain jadi lebih kuatir dengan kesehatan ayahnya, dia pun jadi kuatir dengan kesehatan dirinya juga karena kanker prostat ini ternyata bersifat turunan. Kakeknya M pun pernah mengalami sakit kanker ini. Setelah memastikan ayah M mendapat perawatan yang diperlukan, akhirnya kami bisa sedikit tenang, sambil terus memantau perkembangannya.
Di akhir bulan, kami mendapat kabar lagi dari keluarga di Australia, ibunya M didiagnosa menderita kanker payudara tahap pertengahan. Ini tentu sangat mengejutkan dan membuat kami prihatin. Waktu itu ayah mertua masih dalam perawatan dan untungnya mulai membaik kondisinya, berikutnya ibu mertua yang sakit. Hal ini membuat M lebih gelisah, apalagi karena posisi kami yang sedang berada di Kolombia, jauh dari mereka. Hampir setiap hari M telpon ke keluarga di Australia, memastikan kedua orang tuanya mendapat perawatan terbaik.
Kabar tentang ibu mertua membuat anaknya, M, mulai berpikiran untuk pindah lagi ke Australia secepatnya. Ibu mertua sih bilang dia baik-baik saja, kata beliau semua aman terkendali, para dokter sudah tahu cara menyembuhkan penyakitnya, dan bilang ke M bahwa dia tidak perlu sampai pindah kerja segala. Tapi yang namanya M, karena dia ini termasuk anak laki-laki yang sangat dekat dengan ibunya (tapi bukan tipe “anak mami” lho..), maka dia jadi lebih sering galau karena hal ini.
Di saat pergantian tahun 2011 ke 2012, setelah berpikir panjang lebar kiri kanan depan belakang atas bawah, akhirnya kami putuskan untuk berada lebih dekat ke orang tuanya , setidaknya untuk sementara waktu. Artinya, kami akan pindah lagi ke Australia dan M akan cari kerja di Australia atau negara tetangga sekitarnya yang dekat saja. Dilihat dari berbagai sisi, ini bukan keputusan yang mudah. Pertimbangan kami waktu itu adalah, jika sesuatu yang buruk terjadi dengan salah satu orang tua M, kami pasti akan segera merapat ke Australia. Tetapi…, apakah kami akan “merapat” hanya di saat sesuatu yang lebih buruk itu terjadi sementara saat itu kami tahu situasinya memang tidak bagus. Berdasarkan pertimbangan inilah keputusan tersebut diambil.
Saya sangat mengerti sepenuhnya bahwa kehidupan itu memang dinamis. Setahun sebelumnya kami berdua sibuk dengan kepindahan ke Kolombia dengan harapan kami akan betah di sana dan berencana untuk menetap setidaknya selama dua tahun. Ternyata kami betah, tetapi harus pergi lebih awal dari yang direncanakan. Dan hari itu di awal Januari, saya mulai membayangkan reaksi teman-teman di Barranquilla begitu saya sampaikan berita ini. Saya pikir.., sayang sekali saya harus pergi dari petualangan yang seru ini.. Dan M berkata, “I’m sorry that I have to ‘drag’ you all the way across the continent again especially when you feel settled down already..” Kemudian saya bilang, “Well, I guess we’ll just get back home early than planned. I’m okay with that. I think it’s better this way..”

Dan kami pun bertanya-tanya, kira-kira seperti apa episode kehidupan kami selanjutnya.. Yang jelas tak lama lagi update status “home” kami tidak lagi di benua Amerika Selatan..

Bersambung…

Advertisements

17 thoughts on “(040) Home…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s