(042) Pindah lagi…

Di Januari 2012 saya dan M mulai mengumumkan ke semua pihak terkait tentang keputusan kami untuk meninggalkan Kolombia lebih awal. Bulan Februari 2012, yang tadinya adalah jadwal cuti tahunan kami yang pertama, akan jadi jadwal pulang kampung..
Di kantornya M, sang bos tentu tak terlalu gembira mendengar berita ini. Merekrut orang, apalagi dari negara lain, tidak mudah urusannya. Namun dia juga turut prihatin dengan situasi di keluarga M, dan pada akhirnya bisa mengerti meski dengan berat hati. Di lingkungan teman-teman saya, Tess malah tahu duluan dari suaminya. Dia langsung heboh dan bertanya-tanya alasan sebetulnya kami pindah. Rupanya dia sempat mengira bahwa saya tidak betah tinggal di Kolombia, sehingga membujuk M untuk pulang kampung.. Oalaahhhh…, kalau saya mah betah saja tinggal di mana pun juga..
Dan mulailah ritual pindah dimulai. Seperti biasa, ada farewell lunch dengan teman-teman ekspats. Saya dapat suvenir perpisahan berupa kotak aksesoris dari sebuah galeri seni ternama di kota Barranquilla ini, namanya Bojanini (dibaca: Bohanini), diambil dari nama sang seniman, Ana Cristina Bojanini. Berikut penampakannya, semua gambar persembahan dari Bojanini.

Unknown-3 copyUnknown-6Unknown-5 copy

Sayangnya, foto-foto saat farewell lunch ini entah di mana..:-( Dan sedihnya, hanya ada Tess, Katherine, dan Selena di acara makan siang itu. Yang lain masih belum balik dari liburannya masing-masing. Kelas aerobik Rumba pun berhenti dulu di musim liburan tersebut karena banyak pesertanya yang bepergian. Saya hanya bisa berpamitan ke teman-teman di studio itu melalui Facebook.
Di saat yang sama, kami pun memberitahu keluarga di Australia dan Indonesia. Orang tua M senang kami akan pindah lagi ke Australia, meski sang ibu agak merasa tidak enak hati karena faktor utama kepindahan kami adalah karena kondisi beliau dan ayah mertua. Ibu saya juga senang mendengar hal ini karena waktu itu sudah ada rencana pergi haji. Beliau ingin semua anaknya kalau bisa hadir saat keberangkatan haji tersebut, yang ternyata terwujud di 2013.
Dan bagian yang paling menyebalkan dari pindahan, setidaknya bagi saya, tentu saja mengepak barang. Sebetulnya kami tidak punya banyak barang karena sejak berangkat dari Australia pun sudah menegaskan ke diri sendiri untuk membawa barang secukupnya saja. Selama setahun di Kolombia kami juga mendisiplinkan diri untuk tidak membeli barang-barang yang akan merepotkan jika dibawa pulang kampung. Tapi tetap saja packing itu tidak mudah.. Untunglah M sudah lebih terlatih dalam hal ini. Urusan packing kelar dalam waktu satu hari saja! Jika saya yang melakukannya, mungkin tahun depannya lagi baru beres..hahaha.. Hasil packing ini sebagai berikut: 1 koper bagasi, 2 koper kabin, dan 2 tas ransel berangkat bersama kami, dan 1 koper terbesar dikirim via kargo. Koper terbesar ini satu-satunya “extra baggage” kami setelah satu tahun tinggal di Kolombia. Ini dia penampakan saat packing..

Emmy's iPhone 4G 290 copyEmmy's iPhone 4G 289

Setelah pengumuman ke semua pihak terkait, kemudian kami mengurus administrasi “printilan” rumah seperti sambungan telpon dan internet yang terdaftar atas nama kami. Dan tentunya saya memberitahu Martha, sang asisten domestik, tentang kepindahan kami. Dia sedih karena selain hilang salah satu sumber penghasilan, juga karena sudah merasa cocok bekerja di tempat kami, meski hanya 2 kali seminggu. Di hari terakhir bekerja, saya beri dia semacam uang pesangon senilai pendapatannya selama sebulan dan semua persediaan bahan makanan kami. Dan tampaknya dia cukup senang.

Dan tibalah hari keberangkatan sekitar awal Februari 2012. Di tahap ini saya merasa, satu tahun itu cepat sekali berlalu. Rasanya baru sehari sebelumnya kami tiba di Kolombia. Rute kepulangan kami saat itu melalui rute Amerika Selatan lagi, sama seperti rute kedatangan. Ketika berada di Bandara Bogota, kami baru sadar, kartu ATM bank Kolombia kami ternyata masih ada uangnya kira-kira senilai USD 900. Kami tidak yakin kartu tersebut bisa digunakan di luar Kolombia. Jadi, daripada ribet berurusan lagi dengan kantornya M untuk hal ini, kami habiskan saja di Duty Free Shops.. Horeeeee…shopping euy..!!! Sebetulnya ini ide saya sih..hehehe.. Tapi M setuju saja, daripada menyesal nanti setelah benar-benar keluar dari wilayah Kolombia.
Jadi beli apa saja..? Beli ciri khasnya Kolombia dong.., kopi dan emerald alias zamrud.. M beli 2 kg kopi Juan Valdez. Saya sampai melongo, 2 kilo gitu loh..! Dan saya beli anting emas putih berhiaskan batu emerald. Kali ini giliran M yang protes bercanda, karena harga anting jauh lebih mahal daripada harga kopi (ya iyalah…) Dan saya pun langsung keluarkan kata-kata sakti: perhiasan itu investasi loh..! Seperti biasa, “mantra” ini ampuh..! Hehehe…

Semua penerbangan berjalan lancar. Ada dua pengalaman unik dalam perjalanan kali ini. Pertama, penerbangan dari Bogota ke Santiago dilakukan di siang hari yang cerah sehingga Pegunungan Andes, rangkaian pegunungan tinggi terpanjang di dunia, dapat terlihat dari jendela pesawat. Ada perasaan ngeri sekaligus takjub. Ngeri karena pernah terjadi beberapa kecelakaan pesawat jatuh di pegunungan ini, takjub karena melihat salju abadinya. Kedua, penerbangan selama hampir 13 jam dari Santiago ke Auckland berangkat menjelang tengah malam (Kamis jam 23:30 waktu itu), melalui 16 jam perbedaan zona waktu. Waktu di Auckland 16 jam lebih awal daripada di Santiago. Karena hal ini, semua orang yang berada di dalam penerbangan tersebut seolah-olah tidak mengalami hari Jumat. Saat itu sudah hari Sabtu jam 4 pagi ketika pesawat mendarat di Auckland, New Zealand. Seandainya Auckland itu berada di zona waktu yang sama dengan Santiago, maka kami harusnya tiba di Auckland pada hari Jumat sekitar jam 12 siang. Dan berikut ini penampakan Pegunungan Andes dari balik jendela pesawat..

Emmy's iPhone 4G 358Emmy's iPhone 4G 357

Dan demikianlah perjalanan lintas samudra kami yang kedua, dengan rute penerbangan melewati 7 bandara yang tersebar di 4 negara sebagai berikut:
Barranquilla, Kolombia —> Bogota, Kolombia —> Santiago, Chile —> Auckland, New Zealand —> Sydney, Australia —> Brisbane, Australia —> Townsville, Australia
Menggunakan 4 airlines: Avianca (Kolombia), LAN (Chile), Qantas (Australia), JetStar (Australia); dan total durasi perjalanan sekitar 36 jam saja! Lumayan cepat dibandingkan perjalanan lintas benua/samudera di zaman Christopher Columbus di tahun 1492.. Ya iyalah..hehehe.. Bisa berbulan-bulan itu..

Emmy's iPhone 4G 367

Gracias por volar con nosotros.. Thank you for flying with us..

Emmy's iPhone 4G 366

chakrigajula.com

Ketika akhirnya tiba di rumah orang tua M di Australia, kami benar-benar jet lag to the max!! Sumpah..!!! Mau muntah rasanya kalau disuruh naik pesawat lagi..! Tapi tentu saja itu “sumpah palsu”! Kenyataannya, kami naik pesawat lagi beberapa bulan berikutnya..hehehe..

G’Day, mate..! Welcome back to Australia..

Bersambung…

Advertisements

75 thoughts on “(042) Pindah lagi…

  1. Bojanininya cakep dan artistik. Memang pantas buat kotak buat kenang-kenangan.

    Bujugbuneng… Itu penerbangan mengelilingi separuh bumi ya… Ngeri…

    Met memasuki babak baru dalam kehidupan…

    Like

  2. Luar biasa em, aku nggak kebayang dari Kolombia naik pesawat ke Ostrali pasti sampe mau muntah kaya katamu. Wong naik pesawat dari CPH ke Singapore yang direct 11 jam aja udah pantat panas terus ga betah.

    Like

  3. Aduh Emmy, ini yang sekarang aku alami. Aku sudah sering pindah2 karena sejak umur 15. emang hidupku nomaden. Tapi baru kali ini yang musti pindah lintas benua. Riweh, ribet, ruwet hahaha. 36 Jam? Wow, piye itu rasanya. Aku yang akan direct Jkt-Amsterdam 16 jam aja ngebayangin sudah puyeng rasanya. Ya tapi bagaimana lagi. Demi apa saudara saudaraaaa… Demikian hihihi *kriikkkriikk

    Like

    • 😝 Kemarin aku bilang ke Eva di post ini: demi cinta, samudra Pasifik pun aku seberangi..*makan tuh cinta..😝*
      Aku malah sejak lahir udah nomaden meski masih skala Jawa Barat.. Perjalanan lintas samudera/benua selama 36 jam itu pokoknya cetar membahana deh.. Sesuatu banget…*Syahrini style*😝
      Semoga perjalananmu lancar ya, jeng.. Amin…

      Liked by 1 person

  4. setuju sama christa.. 1 koper, 2 handcarry. dan 2 tas ransel itu sama kyk aku pindah rumah ke3 di singapore. hahaha.. cuman sendirian loh padahall.. sampe ga ngerti kenapa bs sebanyak itu. haha..

    Like

  5. Pingback: (043) Kembali ke titik awal.. | Crossing Borders

  6. Perjalanannya pasti melelahkan… Membayangkannya aja udah pusing duluan, hehehe… 30 an jam tapi hanya berada dalam sebuah (seperti) lorong saja…
    Rasanya mendingan naik bis 30 – 40 jam deh… 🙂

    *Perasaan udah baca ini dan udah komen deh…

    Like

    • Aku gak tau yang disebut parah itu gimana patokannya, cuma kalo diperhatikan dari udara, wilayah yg dialihfungsikan itu umumnya daerah pesisir. Daerah pedalaman masih hutan belantara.. Soal sedih atau tidak, tergantung sudut pandang mana yg dipake. Yang jelas, makin banyak manusia, makin banyak sumber daya yg diperlukan. Contoh kecil: tahun 1985 penduduk Indonesia 160 juta orang, sekarang 2015 sekitar 240 juta. Perlu banyak banget tambahan bahan bakar, listrik, makanan, perumahan dll supaya tambahan 80 juta orang ini bisa hidup dengan layak. Program perencanaan keluarga (KB), selama 10 tahun terakhir kayaknya gagal total. Aku perhatikan lebih banyak keluarga yg beranak lebih dari dua belakangan ini. Yg punya HP aja di 1985 gak ada, sekarang tiap orang dewasa punya HP yg harus dicharge pake listrik, proses bikin listrik pake minyak bumi dan batubara. Alih fungsi hutan di area paru-paru dunia macam Kalimantan itu memang menyedihkan, tapi menurutku tak terhindarkan selama manusia bertambah.., bahkan dengan segala macam teknologi ramah lingkungan sekalipun.. Yg bisa dilakukan mungkin memperlambat proses alih fungsi hutan tersebut dengan ilmu terapan ramah lingkungan tadi..

      Like

      • Bener juga sih… penduduk kita bertambah amat sangat banyak… istilahnya terjadi ledakan penduduk…

        Hanya saja, melihat penampakan alam kaya itu aku sedih, apalagi kalau akibat izin yang begitu gampangnya… Demi eksploitasi yang sebesar2nya saat ini…

        Like

      • Nah itu dia permasalahannya.. Negara yg sangat ketat dalam aturan lingkungan hidup aja masih ada alih fungsi hutan jadi pemukiman atau pertanian.., meski jumlahnya tidak secepat dan sebanyak negara yg tidak ketat.. Belum lagi masalah ego manusia.., “yg penting gue terima suap biar makmur, kasih izin aja semua tanpa ada studi kelayakan.., peduli amat urusan lingkungan dan masa depan bangsa.. 60 tahun lagi gue udah mati ini..” Nah mau gimana coba kalo mentalitas orang udah kayak gini.. Memanfaatkan kekayaan alam dan isinya bukanlah suatu dosa sepanjang dilakukan dengan cara bijak dan halal.. *sekedar berpendapat, tidak bermaksud khotbah*

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s