(043) Kembali ke titik awal..

Awal Februari 2012 kami kembali berada di Australia. Seminggu pertama dihabiskan dengan beristirahat di rumah orang tua M, sambil memantau kondisi kesehatan mereka. Kondisi sang ayah sudah jauh membaik dan dalam status berobat jalan. Sementara sang ibu beberapa kali rawat inap di bulan tersebut. Tampaknya beliau sempat kewalahan dengan semua pemeriksaan dan terapi yang harus dijalani. Untunglah semua berjalan dengan baik, sehingga beberapa minggu kemudian bisa dilanjutkan dengan rawat jalan saja.

Kemudian kami menyiapkan semua hal terkait rencana kami untuk tinggal di Australia. M kembali bergabung dengan perusahaan di mana dia bekerja sebelum kami pindah ke Kolombia. Hanya kali ini dia ditugaskan di proyek seputar Australia, bukan di Indonesia. Saya mulai mencari info tentang jenis visa Australia yang lebih tepat untuk kondisi saya saat itu. Dan tentu saja, kami berdua mulai “hunting” rumah sewaan untuk dijadikan tempat tinggal sementara sebelum punya rumah sendiri. Waktu itu rencananya kami akan tinggal di Townsville yang berjarak 130 km dari kota tempat tinggal orang tua M. Sedikit gambaran tentang rumah mertua, ini adalah rumah yang cukup tua, mungkin hampir seratus tahun, bergaya khas rumah panggung daerah Queensland. Material utamanya kayu, berbentuk rumah panggung, atau di sana biasa disebut high setting house, yang mengingatkan saya kepada bentuk rumah-rumah tradisional di Indonesia. Ada banyak tipe high setting ini, terutama dilihat dari ketinggian “kolong”-nya (lantai dasar). Mulai dari sekitar 0.5 m yang hanya cukup untuk dijadikan gudang kecil, sampai 2.7 m yang cukup untuk dijadikan garasi atau ruang keluarga tambahan. Saat ini tak banyak rumah seperti ini yang dibangun karena harga kayu yang semakin mahal. Umumnya rumah-rumah yang berusia jauh lebih muda dibangun seperti umumnya rumah yang kita kenal, yaitu berbahan baku utama batu bata. Berikut ini penampakan rumah antik tersebut.

DSC_0025DSC_0024

DSC_0029DSC_0020

Kembali ke topik awal, persiapan untuk tinggal di Australia berjalan lancar meski belum sepenuhnya terwujud. Setelah beberapa minggu tinggal di rumah orang tua M, kami mulai berkemas lagi untuk pindah ke Townsville. Waktu itu belum pasti mau tinggal di mana persisnya, hanya kami sudah menandai beberapa apartemen sewaan yang akan dilihat.
Namun demikian, seperti yang sering diungkapkan; manusia berencana dan Tuhan menentukan; M dikabari bahwa dia ditugaskan lagi ke Indonesia! Persisnya ke Kalimantan Selatan, dengan tipe penugasan jangka panjang. Saya hanya melongo mendengar kabar ini. Ada sedikit kebingungan di antara kami. Bagaimana ini? Bagaimana selanjutnya?

Dan akhirnya…, setelah mempertimbangkan segala hal dengan sebaik-baiknya, kami putuskan untuk menunda rencana tinggal di Australia, dan pindah lagi ke Indonesia. Kemudian beralihlah kegiatan persiapan kami, dari plan A ke plan Z, hehehe… Dari yang tadinya mau tinggal di Australia menjadi pindah ke Indonesia. Dan “serunya”, di saat-saat terakhir di Australia, lokasi penugasan berubah (lagi). Yang tadinya Kalimantan Selatan, menjadi Kalimantan Timur, persisnya ke suatu proyek pertambangan di Sangatta, tempat di mana saya dan M pertama kali bertemu! Aha! Ajaib kan..? Di tahap ini, saya hanya bisa tercengang tiada henti..(lebay..hehehe..) Perusahaan tempat M bekerja punya banyak lokasi proyek di Indonesia, tapi kami akan pindah ke lokasi di mana semua cerita tentang saya dan M bermula. Ah.., kebetulan yang romantis.., hehehe…

Saya kabari keluarga di Indonesia tentang hal ini. Tentu mereka senang, terutama ibu saya. Meski pada dasarnya, beliau tidak masalah saya mau tinggal di mana pun. Orang tua M juga tidak masalah kami pindah lagi karena tampaknya situasi terkait kesehatan mereka pun sudah jauh lebih aman terkendali meski keduanya masih berobat jalan. Selain itu, tipe penugasan kali ini adalah Fly In Fly Out (FIFO), bukan Residencial Status (RS). Tipe FIFO ini memungkinkan kami untuk punya libur panjang setiap dua bulan. Sementara tipe RS hanya ada satu kali libur panjang setiap enam bulan atau bahkan setiap satu tahun saja. Di luar urusan libur, tiap tipe tentu punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Di post yang lain akan dijelaskan lebih rinci tentang hal ini.
Dan pada akhirnya setelah tujuh minggu berada di Australia, menjalani kehidupan “normal”, kami kembali merapat ke bandara dan memulai perjalanan pindah benua yang kedua kalinya di tahun 2012 tersebut. Benar ‘kan pernyataan saya sebelumnya “Sumpah! Mau muntah rasanya kalau disuruh naik pesawat lagi..” terbukti hanya sumpah palsu..hahaha.. Dan berhubung saat di Australia tidak sempat pindah ke tempat sendiri, apa yang kami bawa dari Kolombia, itulah yang kami bawa pindah ke Indonesia: dua koper bagasi, dua koper kabin, dan dua tas ransel.
Perjalanan dimulai dari rumah orang tua M di Charters Towers dengan mengendarai mobil sewaan selama 1.5 jam menuju bandara di Townsville. Dari sini kami terbang ke Brisbane selama 2 jam, kemudian ke Singapura selama 8 jam. Di sini kami transit beberapa hari karena M harus mengurus dokumen visa di Kedutaan Indonesia di Singapura sebelum memasuki wilayah Indonesia. Kembali berada di bandara Changi dan Singapura setelah satu tahun tak pernah ke situ rasanya luar biasa sekali. Maklum, bandara di Amerika Selatan yang pernah saya datangi tidak ada yang seperti di Singapura.
Setelah dokumen selesai, dari Singapura kami terbang ke Balikpapan selama 2.5 jam, transit satu hari di sini. Seperti mimpi rasanya berada di Balikpapan lagi. Besoknya kami terbang ke Sangatta dengan pesawat mungil Twin Otter yang hanya memiliki 22 tempat duduk. Ini penerbangan selama 50 menit saja, pesawatnya sendiri adalah milik maskapai penerbangan charter Airfast Indonesia. Saya jadi ingat pertama kali naik pesawat ini saat pindah kerja dari Tangerang/Jakarta ke Sangatta, pindah ke perusahaan pertambangan di Sangatta. Dan ketika tiba di Sangatta, kami pun ditempatkan di kompleks perumahan yang sama seperti dulu ketika masih tinggal dan bekerja di Sangatta. Saya dan M hanya bisa saling berpandangan sambil tersenyum takjub. Perputaran nasib kami tampaknya cukup ajaib, setidaknya menurut saya..
17572572

Jadi intinya, perjalanan dari Australia ke Indonesia kali ini berasa kuat aroma nostalgianya. Ada sedikit momen sentimentil mengingat seperti apa kami berawal mula. Ditambah lagi, ini adalah pindah benua yang kedua kalinya dalam rentang waktu kurang dari dua bulan. Dan kami berdua sangat menikmati setiap detik dari petualangan ini..hehehe..

Demikianlah, kami kembali ke titik awal..

IMG_9130

Selamat datang (lagi..) ke Sangatta, Kalimantan Timur…

Bersambung…

Advertisements

114 thoughts on “(043) Kembali ke titik awal..

  1. Ya ampunnnn bisa gitu ya. Balik lagi ke tempat awal. Pasti reaksiku sama. Senyum2 dan saling tatap :)))

    And I’ve been to Sangatta mba. Singgah nginep tempat tante semalam saja. Ahhh kota kecil yg menyenangkan. Aku teringat film Dawson’s Creek…ketemu di sebuah pusat belanja *bukan mall bukan pasar, lupa namanya apa* eh saling menyapa lah itu orang2. Saling kenal nampaknya satu kota itu. :))

    Jalan2 juga tuh liat pertambangan malam2 dari atas bukit. :))))

    Liked by 1 person

    • Wah saling cengar cengir cengengesan geli gimanaaaa gitu kita..😝
      Eh kapan dirimu ke Sangatta..? Jangan-jangan aku kenal tantemu itu.. Iya emang ini kota kecil banget lingkup sosialnya.., jadi berasa kenal semua orang.. Lihat pertambangan atau pelabuhannya di malam hari itu memang asiiikk banget view-nya..

      Like

      • Sekitar tahun 2004 mungkin itu mba. Aku abis perkemahan di daerah Balikpapan, trus naik travel sendirian ke Sangatta. Gileee nekat tuh kalo dipikir2. Masih inget banget jalannya naik turun naik turun ga berkesudahan..hihihi…

        Suaminya tanteku Pendeta dan sedang ditempatkan di sana mba..

        Like

      • Wah emang nekat itu Jo..! Aku juga lumayan sering naik travel itu, terutama dulu waktu masih ngantor.. Bussseettt..itu jalan kagak ada lurus dan ratanya.. Sampe sekarang masih loh kayak gitu..
        Aku gak punya kenalan pendeta di Sangatta, tapi kalo dirunut-runut, pasti deh aku punya banyak teman di sana yg kenal tantemu dan suaminya itu.. Maklum kota kecil bangettss..hehehe..

        Like

    • Hahaha..makasih udah dibilang seru.. Iya rumah mertuaku itu emang bisa dibilang antik karena jaman sekarang udah jarang banget yg ngebangun rumah model gitu di sana.., terutama karena harga kayu yg udah makin mahal aja.. Rumah jaman sekarang sih di sana biasa aja kayak di kita, pake batu bata..

      Like

    • Kalo di sana terutama di daerah pedesaan, itu rumah ukuran standar.. Dan boleh percaya boleh tidak, mertuaku (usia 75 dan 70) bersihin sendiri.. Pas dua-duanya lagi sakit sempat dibersihin sama domestic helper panggilan, seminggu sekali.., ini inisiatif suamiku.. Itu pun bapak/ibu mertua agak protes katanya mereka juga masih kuat koq bersihin.. Astaga..! Jadi malu sendiri gak sih, apalagi kalo inget budaya pembantu di negara kita..hehehe

      Liked by 1 person

    • Ssssttt..jangan diganggu ah yang lagi terkenang-kenang..hahaha..
      Rumah panggungnya ini emang mirip rumah panggung tradisional di beberapa daerah di Indonesia.. Entah siapa yg mengilhami siapa.. Yang di Australia ada juga yg bawahnya kosong melompong gitu..

      Like

    • Iya romantis gimana gitu..😍 Rumah panggung itu emang keren dan antik banget! Jadi ingat waktu kecil pernah tinggal di rumah panggung juga.. Ah nostalgia lagi deh 😀
      Btw, makasih banyak udah setia baca serialku😀 Jadi malu nih agak males update belakangan ini..

      Like

  2. mbak, kalau airfast itu pake ditimbang dulu ngga berat badannya? hehe,, disini kalo mau naik pesawat kecil itu ditimbang dulu beratnya X_X

    oh ya barang pindahannya minimalis ya mbak, ga kebayang saatnya aku pindah2an nanti barangnya bakal sebanyak apa

    Like

    • Oh ya ditimbang.. Pesawat kecil kayak Twin Otter itu emang lumayan sensitif sama berat.. Bikin minder aja kalo pas lagi punya berat badan besar..😝😝😝
      Soal barang pindahan yg minimalis, suami emang sangat disiplin soal ini, dia paling anti kalo harus ribet di bandara gara-gara kelebihan berat barang.. Apalagi kalo penerbangan internasional.. Dan aku jadi kebawa disiplin..😄

      Like

  3. “Dimulai dari 0, ya,” kata mbak-mbak di pom bensin.
    😀

    Seru amat mbak ceritanya… Walaupun perjalanan panjang, capek, dan repot ngurus ini-itu setidaknya ada kesenangan kecil juga ya hihi ^^

    Like

  4. Wow, balik lagi ke titik awal kalian bertemu….. kayak full circle ya…. Dirimu sekarang dimanakah lokasinya? masih di Kaltim? Hidup memang kadang aneh….kita sering ngga tahu akan dibawa kemana…. Ehm, kalau ini talking to myself too 🙂

    Like

  5. Ya gitu deh Fel.. Muter-muter kayak infinity line hahaha.. Sekarang masih bolak balik Indonesia-Australia.. Wah pastinya dirimu juga hidupnya penuh kejutan ya.. Semoga lebih banyak kejutan yg menyenangkannya..

    Like

  6. Mb Em kok aku baru baca sih postingan yang ini?ketinggalan banget deh,hehe, ini juga mampir ke blognya mb Em karena mbatin kok gak ada updatean terbaru yah darimu eh ternyata bener nih aku kelewat postingan yang ini,hehe
    sekarang mau comment : itu rumah orang tuanya M mirim sama bbrp rumah adat di indonesia ya, bagus dan gede banget rumahnya 🙂
    pindah (lagi) ke tempat yang banyak kenangan jadi bernostalgia, ih aku jadi ingat jogja nih tempat pertama kali bertemu dengan suami 😀

    Liked by 1 person

    • Hahaha..😄tak cuma dirimu yg ketinggalan.. Aku sendiri emang lagi sibuk banget di dunia nyata, jadi makin jarang punya waktu untuk menulis.
      Rumah mertuaku itu memang antik dan mirip rumah panggung di Indonesia, entah siapa yg mengilhami siapa. Kalo di Australia, itu khas negara bagian Queensland, setahuku di negara bagian lainnya tidak seperti itu..
      Loh jadi kalian pertama ketemu di jogja toh? Kirain di Ternate..

      Like

      • ketemu pertama di jogja, karena aku dulu kuliah di jogja,kalau di ternate sih gak mungkin,jarang ada bulenya disana,hehe
        ternyata mb Em lagi sibuk, ya sudah kalau begitu tetap semangat mb.ditunggu kelanjutan postingan berikutnya,soalnya q penasaran macam ceria film aja 😀

        Liked by 1 person

  7. Teteh, salam kenal.Ini hampir seminggu baca dulu semua flashback baru komen hehe.
    Saya pernah 3 tahunan kerja di Balikpapan, sempet juga tuh main ke Sangatta, sempet camping camping juga..makanya bisa ngerasaiin gimana susahnya Teteh musti naik mobil ke Samarinda PP hehe

    Enjoy Sangatta ya Teh..keep update

    Like

    • Hai salam kenal juga.. Makasih banyak udah mampir dan baca-baca.. Jadi malu nih lagi jarang update.. Tapi ceritanya masih bersambung banyak loh..😄 Dan oohhh senangnya nemu pembaca yg pernah ngerasain trayek Balikpapan – Samarinda – Sangatta.. Berasa ada temen senasib meski sekarang dirimu gak lagi di situ ya.. Enjoy Sangatta? Tentu dong..hahaha..😄 Salam..

      Like

  8. Hai mba emmy, salam kenal ya. Kebetulan bru mulai kemarin sya ketemu sm blog ini & hri ini udh tuntas sya baca 😁…..ngomong2 mslh Sangatta, kebetulan suami sya kerja di sangatta,mba. Tp aslinya sih kami dari Samarinda. Tiap weekend pasti PP samarinda-sangatta, jd udh hapal banget itu jalur jalan nya yg “mulus lancar jaya” itu 😂 ….sampe sekarang masih di sangatta,mba?

    Liked by 1 person

    • Hai Ika.. Salam kenal juga.. Makasih udah mampir ke blog saya.. Wah ternyata penikmat jalur Sangatta-Samarinda juga ya😄 Suami saya masih kerja di Sangatta, saya biasanya bolak-balik Sangatta ke Jawa Barat, nengok ortu. Pertama kali lewat darat (biasanya naik pesawat) Sangatta-Samarinda waktu awal 2009 naik travel. Saya benar-benar kaget dengan kondisi jalan, terutama jalur Sangatta-Bontang..😁 Tapi sejak itu saya malah makin sering ke Samarinda atau Balikpapan via darat, karena naik pesawat ongkosnya sekitar 6x lipat dari ongkos travel😄 Tapi kalo lagi ada urusan penting sih saya naik pesawat juga terutama utk jalur Sangatta-Balikpapan..

      Like

    • Hai, Oktavia.. Salam kenal juga, terima kasih sudah mampir ke blog saya.. Bagi saya, tinggal di mana pun pasti ada enak dan gak enaknya.. Hanya, semakin sering kita berpindah tempat, semakin kaya pengalaman hidup yg didapat.. Ini adalah sesuatu yg sulit tergantikan oleh hal duniawi lainnya..😀

      Liked by 1 person

    • Gak apa-apa ketinggalan, yg penting sempet mampir.. Wah Sangatta tambah rame, aya mall plus KFC di lebetna. Sakedap deui aya Starbucks jigana😝 Jalan nya kitu tea lah😁 Buaya masih resep ka jalmi. Berapa bulan lalu ada orang yg diserang/ditelan buaya..

      Liked by 1 person

      • Soal buaya itu, mungkin karena makin lama makin banyak manusia di Sangatta, jadi kemungkinan bersinggungan dengan buaya atau kehidupan alam liar lainnya semakin tinggi. Berapa waktu lalu saya juga denger ada pemburu buaya tradisional yg disewa oleh orang tua yg anaknya (5 tahun) diseret dan ditelan buaya. Setelah berburu sekian lama, membunuh 6 buaya utk dilihat isi perutnya, baru di buaya yg ke-7 mereka menemukan jasad si anak tsb..

        Like

  9. haloo mba em salam kenal yaa 😀
    wah rumah camerku di aussie juga modelnya mirip2 kaya gitu. umurnya juga udah di atas 100 tahun dan lucunya klo mereka pindahan itu rumah yang dibawa means bener2 rumah diangkat, ditaro di dalem mobil angkut segede bagong dan dipindahin ke lokasi lain… aku baru denger ada pindahan macam itu soalnya di indo kan rata2 rumah dari semen ama bata, gimanya ngangkutny udah nyatu ama pondasi hahahaha

    Like

    • Halo Sya.. Salam kenal juga.. Makasih banyak udah mampir dan follow blog saya.. Soal pindah rumah, saya juga pernah lihat di jalan (di daerah Queensland) ada truk mengangkut bagian-bagian rumah. Kata suamiku, itu lagi pindah rumah, nanti setelah nyampe lokasi, potongan rumah itu disambungkan sehingga membentuk rumah yg dimau.. Hahaha..saya sampe bengong dan akhirnya ngakak abis..

      Liked by 1 person

  10. Pingback: Eventually “out”… | Crossing Borders

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s