Cerita kelahiran..(02)

Sambungan dari post sebelumnya..

Saat itu Oktober 2015, C-section dijadwalkan hari Kamis jam 13:00 di RSIA Bunda, Menteng, Jakarta. Saya dan ibu saya berangkat dari Cianjur hari Selasa dan langsung check-in di hotel yang terletak di depan rumah sakit. Di saat yang sama, suami terbang dari Kalimantan menuju Jakarta dan langsung bergabung dengan kami di hotel. Di hari itu pula saya ditemani ibu saya mengurus administrasi melahirkan. Satu hal penting lainnya yang dilakukan di hari itu adalah menemui dokter anestesi untuk memeriksa kondisi punggung/tulang belakang saya dan memberikan penjelasan tentang tindakan pembiusan itu sendiri . Operasi Caesar adalah tindakan bedah dengan pembiusan regional yang dilakukan di punggung/tulang belakang. Dokter anestesi bilang bahwa pemeriksaan ini penting karena jika ada kelainan di tulang belakang kita, maka tindakan antisipasi dapat dilakukan/diketahui lebih awal. Untunglah bentuk tulang belakang saya normal. Besoknya hari Rabu, kami semua beristirahat di hotel.

Di hari Kamis saya sudah berada di RS sekitar jam 8 pagi dalam keadaan puasa sejak jam 7 pagi. Sekitar jam 9:30 saya diminta masuk ke ruang perawatan yang nantinya akan jadi ruang pemulihan pasca operasi. Di sini dilakukan beberapa tes dan observasi, saya lupa nama tesnya. Berikut ini fotonya.              Kemudian jam 12 siang saya diminta mengenakan baju RS, dan jam 12:30 dibawa ke ruang transisi. Di sini saya dipersiapkan untuk menjalani operasi, dipasangkan kateter, infus, dan entah tempelan apalagi di lengan saya. Suami juga diminta mengenakan baju ruang operasi. Di ruang transisi ini, dia sempat tanya apakah saya gugup. Saya tidak gugup, malah merasa gembira karena beban berat di perut saya akan segera berakhir. Suami malah sempat gelisah karena saya bilang begini: “Kalau saya tidak selamat dari proses ini, saya ingin hanya kamu yang merawat anak kita.” Saya tidak bermaksud menakuti-nakuti, hanya mengingatkan bahwa di atas segala rencana hebat manusia, masih ada suratan takdir dari Yang Maha Kuasa.

Jam 13:00 saya dibawa ke ruang operasi. Di sana sudah ada beberapa petugas medis dengan fungsinya masing-masing. Mereka menyiapkan semuanya, termasuk pembiusan di tulang belakang. Menurut saya, proses pembiusan di tulang belakang ini rasanya sakit dan ngilu tapi tak lebih sakit dari jari yang terjepit pintu (jari saya pernah terjepit pintu.. Gila sakitnya!!!). Beberapa menit kemudian, dokter kandungan yang menangani saya sejak awal program IVF tiba di ruang operasi. Setelah tes ini dan itu, operasi dimulai. Pada saat operasi berlangsung, tubuh bagian bawah terasa diguncang pelan, ada 2 orang di depan kaki saya, 3 orang di belakang kepala saya (termasuk suami). Semua orang tersebut mengobrol ngalor ngidul dengan saya, di antaranya tentang beras Cianjur dan tebak-tebakan lagu yang terdengar dari radio yang menyala di ruang operasi tersebut. Obrolan berakhir ketika Bear akhirnya keluar dari perut saya dan dokter berseru ke suami: “It’s a boy!” Sebetulnya kami sudah tahu dari awal bahwa bayinya laki-laki, tapi dokterku itu ceritanya lucu-lucuan akting meniru adegan melahirkan di film-film Hollywood..hehehe.. Dokter kemudian menyerahkan Bear ke pangkuan saya untuk IMD (inisiasi menyusui dini). Saya ingat ketika disodorkan ke saya, Bear menangis pelan dengan suara seraknya dan kulitnya masih tampak gelap, geuneuk kalau kata orang Sunda mah. Hal pertama yang saya ucapkan ke dia adalah: “Bear, kumaha damang?” (Bear, apa kabar?). Tangisannya berhenti begitu dia berbaring di dada saya.
Operasi C-section itu sendiri berlangsung sekitar 20 menit. Setelah proses IMD, Bear dibawa ke ruang observasi bayi ditemani suami saya. Sementara saya sendiri masih di ruang operasi, “dirapikan” dulu sebelum kembali ke ruang transisi. Begitu berada di ruang transisi, saya mengantuk berat, tapi anehnya merasa segar juga. Setelah beberapa jam di ruang transisi, seluruh badan mulai terasa sakit, tapi semua perawat menyarankan saya untuk menggerakkan badan. Mereka bilang, semakin kita menunda menggerakkan badan, semakin kaku otot, sehingga akan makin terasa sakit saat nantinya digerakkan.
Dan meski sempat berlinang air mata menahan sakit, di tempat tidur di ruang transisi itu perlahan-lahan saya gerakan badan, mulai dari telapak tangan dan kaki, kemudian berbalik ke kiri dan ke kanan. Memang sakit, tapi lama kelamaan rasa sakit itu berkurang dan akhirnya terasa hanya di area perut. Begitu merasa mendingan, saya dipindahkan ke ruang perawatan. Saat itu sudah sekitar jam 8 malam. Saya merasa lelah dan sangat lapar tapi baru boleh minum air putih dan teh manis. Sejam kemudian, setelah yakin reaksi tubuh saya baik-baik saja, perawat memberikan bubur sumsum sebagai makanan “padat” awal setelah operasi. Saya bilang ke suami, mana bisa kenyang kalau cuma makan bubur sumsum, saya maunya nasi padang..hahaha.. Suami tertawa dan geleng-geleng kepala. Akhirnya saya tidur pulas dengan kateter dan infus masih tersambung, ditemani ibu saya yang tidur di kasur tambahan. Sementara suami bolak-balik antara kamar saya dan ruang observasi bayi sampai akhirnya dia balik ke hotel dan tidur di sana.
Besoknya hari Jumat, pagi-pagi sekali perawat memeriksa kondisi saya dan membawa Bear ke kamar saya untuk disusui. Kateter dilepas agar saya leluasa bergerak, lalu saya pun sekalian minta infus dilepas juga, toh sarapan sungguhan akan disajikan. Duh.., saya antusias banget menantikan sarapan ini.., lapaaaarrr… Ada 3 kali pemberian makanan berat dan 2 kali makanan ringan, dan saya suka semua makanannya..hehehe.., memang gembul pada dasarnya… Tak lama kemudan, dokter kandungan yang hari sebelumnya mengoperasi saya datang memeriksa. Dia bilang semuanya baik-baik saja. Sepanjang hari itu sampai malamnya, para perawat silih berganti datang memeriksa dan juga mengajari saya menyusui Bear. Salah satu hal yang para perawat itu lakukan adalah memastikan urusan buang air besar (BAB), buang air kecil (BAK), dan juga buang gas saya lakukan dengan lancar tanpa ada bantuan alat maupun orang. Katanya ketiga hal ini harus dipastikan lancar di masa awal pasca operasi sebagai indikasi bahwa masa pemulihan berjalan sebagaimana mestinya. Di hari pertama setelah operasi, bergerak itu sebetulnya masih lumayan sakit, tapi saya tegaskan ke diri sendiri bahwa rasa sakit itu hanya ilusi, karena semua baik-baik saja.
Besoknya Sabtu pagi, dokter kandungan kembali memeriksa saya, hasil pemeriksaan semuanya baik. Kemudian dia bilang bahwa saya sudah boleh pulang.. Yaaayyy..!!! Dokter kemudian meresepkan beberapa obat/vitamin serta rekomendasi perawatan setelah operasi. Kami langsung persiapkan semuanya untuk pulang. Suami menyelesaikan urusan administrasi. Kemudian kami diajari dulu oleh dokter anak dan para perawat mengenai cara penanganan/perawatan bayi baru lahir. Setelah urusan di RS selesai, kami balik ke hotel dan check-out. Tak lama kemudian kami pulang ke Cianjur dan sekitar malam Minggu itu tiba di rumah dengan selamat.
Besoknya Minggu pagi, saya mulai beraktivitas seperti biasa namun dimulai dengan kegiatan fisik yang ringan seperti berjalan kaki ke supermarket terdekat, belanja kebutuhan dapur, pulang ke rumah menyiapkan sarapan. Itulah salah satu rekomendasi medis pasca operasi Caesar ini: usahakan beraktivitas seperti biasa, hanya hindari dulu gerakan mengangkat beban selama beberapa minggu ke depan. Rasa sakit masih terasa di area perut tapi dalam kadar yang bisa ditolerir.
Seminggu kemudian saya kontrol ke dokter. Rasa sakit sudah jauh berkurang, nyaris tidak ada malah, bekas luka operasi sudah sembuh tapi belum kering total sehingga perban masih digunakan. Seminggu berikutnya saya kontrol lagi dan akhirnya luka bekas operasi benar-benar kering, perban dilepas, dan rasa sakit pun sudah tak ada lagi.
Demikianlah cerita melahirkan versi saya. Ternyata tak seburuk yang dibayangkan, sangat lancar malah. Saya sangat bersyukur semua berjalan dengan baik. Teman-teman perempuan menganggap proses persalinan yang saya alami “terlalu mulus” sehingga mereka iri.. Hahaha.. Ada-ada saja.. Tentu mereka hanya bercanda, semua orang turut berbahagia karena semua berjalan lancar.
Ada yang punya cerita melahirkan? Atau sedang menantikan kelahiran sang buah hati? Jangan ragu untuk berbagi cerita ya. Terima kasih sudah membaca cerita saya yang panjang ini..hehehe..

Advertisements

67 thoughts on “Cerita kelahiran..(02)

  1. baca cerita sambil deg-deg an juga apalagi pas baca pesan mbak Em ke Mr. M sebelum msk ruang operasi, aduuh aku jadi meloow. Alhamdulillah dilancarkan semuanya ya mbak, semoga saya juga cepat menyusul #eaaak 😛

    Like

    • Yah begitulah namanya proses medis yg lumayan serius jadi harus ada semacam wasiat gitu (atau cuma aku aja yg begini ya..) Alhamdulillah banget pas hamil dan melahirkan ini lancar semua.. Semoga keinginanmu segera dikabulkan ya.. Amin😃

      Like

  2. Ikut deg deg nih bacanya. Setujuuu….rasa sakit hanyalah ilusi. *nanti kalo saya hamil dan melahirkan, mau sugesti seperti ini juga ah 🙂 *
    Mbak Em keren, pasca sc, udah aktivitas sendiri semuanya 😀

    Like

  3. “Its a boy!” Hahaha ada-ada aja acting dokternya ya mba. Umurku juga dah rawan kehamilan/melahirkan mba aku dah siap kalo musti c-section juga nih apalagi kalo pake kacamata minus tinggi tidak disarankan melahirkan normal (katanya. Hahahaha ini padahal aku blum nikah).. teman saya juga seusia mba emmy program IVF baru dua hari lalu melahirkan, itu kayak…bikin saya optimis umur +30 insha allah baik2 saja, insha allah dikasih rejeki anak. Ceritanya seru mba 🙂

    Like

    • Makasih, Ru.. Amiiiinnn.. Saya turut mendoakan semoga keinginanmu segera terkabul ya..😃 Kalo mata minus tinggi mau umur berapapun memang harus c-section kayaknya. Tetanggaku umurnya 20an tapi karena mata minus tinggi ya c-section juga, udah 2x pula.. Dulu waktu masih program IVF, di kliniknya itu saya salah satu pasien tertua (mayoritas umur 30an) hahaha..berasa senior deh.. Tapi yg namanya rezeki emang gak kemana kalo udah jodoh..😊

      Like

  4. Nyeeesss begitu di bagian “Bear kumaha damang?” sama Bear berhenti nangis waktu ditaruh di dada. Kara juga berhenti nangis waktu ditaruh ke dadaku, huuu.. jadi ke GR an dan mikir ‘mereka nyaman di deket ibunya’ :’) *brebes mili* sehat terus ya Baby Bear :*

    Like

    • Hehehe..makasih, Tasha..😊 Saya tanya kumaha damang karena anakku pasti kaget lihat “dunia baru”, termasuk lihat ibunya utk pertama kali, biasanya kan denger suara doang.. Dan yg jelas, bayi baru lahir pasti lebih nyaman berada di tempat hangat alami (dada ibunya salah satunya)..

      Like

  5. Ahhh kalau membaca cerita persalinan membuat saya teringat pengalaman saya sendiri.
    Tapi bener loh mba, dari baca ceritanya, persalinan mba itu mudah dan lancar apalagi c-section. Hebat mba!!! *thumbs*
    Sehat terus untuk Bear ya mba 🙂

    Like

  6. saya ngebanyangin, kalo c-section itu malah ga boleh banyak gerak dulu, takut luka terbuka kembali. entah dpt drmn ide itu. ternyata saya salah ya.
    semoga baby bear sehat terus ya.

    Like

    • Amin.., makasih doanya, Emine..😊 Mungkin ada kesalahpahaman dalam menafsirkan “hati-hati” setelah operasi cesar. Yang harus dihindari adalah gerakan yg melibatkan kerja otot perut, contohnya angkat beban, sit-up, push-up, dan sejenisnya.. Kalo kegiatan rutin kita biasa saja (bukan atlet misalnya) ya beraktivitas seperti biasa saja..

      Like

    • Jangankan kamu, aku aja gemes lihat tangannya😝 Aku tanya apa kabar karena anakku pasti kaget lihat “dunia baru”, termasuk lihat ibunya utk pertama kali, biasanya kan denger suara doang.. Terus aku “berwasiat” ke suami karena seperti yg kita tahu, manusia boleh berencana tapi Tuhan yg menentukan..🙂

      Like

    • Yah begitulah, Feb..😊 Aku mah mana ketemu jodohnya belakangan, eh punya anak pun lama bin rempong pula😁 Tapi ya sudah, namanya juga jalan hidup..
      Itu nama panggilan di dunia maya, tapi awalnya dari dunia nyata, gara-gara banyak kado kelahiran dia yg ada motif berulangnya, malah ada baju yg tulisannya “I’m your Bear”😄 Jadinya di dunia nyata kami ikut-ikutan manggil dia Bear..😄

      Like

    • Tidak perlu merasa ngeri, yg penting optimis tapi juga tetap sigap dan ikhlas seandainya sesuatu terjadi. Berapa hari di RS setelah operasi cesar itu tergantung rekomendasi medis per pasien, kalo semua dinyatakan sehat/baik tentu sebaiknya pulang saja karena RS itu kan “rumah utk orang sakit” bukan utk orang sehat.

      Like

  7. Pertama kali diceritain temen yang operasi C-section yang paling agak menakutkan katanya pembiusan melalui tulang belakang…Ahhh rasanya takut mendengar cerita tentang proses persalinan, ternyata baca proses persalinan Mba Emmy lancar yah sampe sempet tebak2an lagu :-D. Rasa bahagia melihat Bear hadir mengakhiri semua perjuangan ya Mba.

    Liked by 1 person

    • Oh ya rasanya aneh tapi nyata melihat Bear disodorkan ke saya ketika dia baru dikeluarkan dari perutku..😄 Pembiusan di tulang punggung itu sakit dan ngilu, tapi tidak lebih sakit dari jari yg terjepit pintu (jariku pernah terjepit pintu, sakitnya mantapppsss gila!) Yg penting, dokter anestesi tepat mengarahkan jarum ke area yg harus dibius, dan mengarahkan pasien agar tenang dan posisi tubuhnya benar ketika jarum disuntikkan, sehingga tidak perlu koreksi/bius ulang.
      Dan inilah inti dari post ini (selain berbagi cerita), untuk menginspirasi bahwa jika kita tenang, kekhawatiran kita juga jauh berkurang..

      Liked by 1 person

    • Maksudnya pesan saya ke suami kan..? Entahlah ya waktu itu spontan aja, dan cara saya bilang ke dia juga biasa aja gak pake melodrama segala.. Ha? Kamu hamilnya sampe 40 minggu? Kalo saya sampe selama itu, bisa-bisa si Bear pas lahir beratnya 4 kilo lebih kali.. Ini kurang dari 38 minggu aja udah 3.8 kilo..

      Like

      • Ya itulah inti dari melahirkan, yang penting ibu dan anak selamat. Eh ngomong-ngomong kenapa iri dengan kehamilan orang lain yg mulus, memangnya dulu kamu ada kendala? Pernah cerita di blog?

        Like

      • Pernah di post lama. Tahun 2012 aku nikah 22 Januari, Maret hamil pertama, april keguguran. Resigned + mengistirahatkan rahim 3 bln. Sept hamil kedua. Ternyata hamil 9 bln full mual muntah, bahan abis operas pun muntah terakhir. Hikmahnya ASI ku berlimpah dan jadi ibu donor ASI. Selalu ada matahari setelah badai 🙂

        Like

      • Oh pernah keguguran toh, turut prihatin meski udah lewat.. Itu mual muntah 9 bulan penuh gimana rasanya😧apa gak turun tuh berat badan.. Saya mual muntah 3 minggu aja BB sempet turut 4 kg.. Tapi begitulah hidup kali ya, di satu sisi kita diuji, di sisi lainnya kita dimudahkan..😊 Makasih banyak udah berbagi cerita di sini.. Kapan-kapan saya mau main ke blogmu dan baca cerita pengalaman keibuan lainnya..

        Like

      • Sama-sama mba. Iya jalan hidup tidak diketahui oleh siapapun ya. Bersyukur mba dan suami bisa menjalani semua proses panjang ini dengan sabar, dan Bear bisa lahir dengan sehat tanpa kekurangan apapun. Aku kadang suka ngeri dengar cerita teman yang mau atau sudah lahiran. Engga kebayang tar gimana proses melahirkan bayi sendiri. Secara takut lihat darah dan jarum suntik. Hahaha

        Like

      • Wah sama dong, takut jarum dan darah.. Padahal prosedur IVF itu banyak yang melibatkan tes darah yg diambil memakai jarum suntik, saya biasanya nengok ke arah lain ketika pengambilan darah sedang dilakukan.. Harapan saya, dengan tulisan ini, para wanita yg belum pernah melahirkan bisa sedikit tenang, atau setidaknya mengilhami diri sendiri supaya tenang, karena ketenangan pikiran membuat semuanya lebih mudah..😊

        Liked by 1 person

      • Iya mba, takut sekali, kepalanya langsung celeng gitu kalau lihat begituan, haha.. Salut lo sama mba, berani mengalahkan ketakutannya sendiri. Thanks for your sharing ya mba. Wish the best!

        Liked by 1 person

  8. Pingback: Melahirkan Lewat Duedate (Part 2) – Emine Shares

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s