(01) Tahukah kamu..? Dulu itu..


Hai semuanya..

Perkenalkan.., seri terbaru dari blog saya: “Tahukah kamu..? Dulu itu..” Seri ini terinspirasi dari percakapan saya dengan adik saya yang beda usia 11 tahun. Awalnya hanya topik ringan tentang zaman dulu, lama-lama jadi terpikir, begitu banyak hal telah berubah..

Episode 01: Ketika saya seorang murid SD (1981-1987) di Cianjur, Jawa Barat.

Tahukah kamu..? Dulu itu…:

  1. Uang jajan saya berkisar Rp 50 s/d 500. Itu cukup untuk beli satu porsi makanan berat (porsi anak-anak tentunya) dan ongkos pulang pergi rumah/sekolah naik kendaraan umum, air minum (air putih dan teh) tidak perlu beli karena gratis dari penjual makanannya.
  2. Jajanan anak sekolah umumnya berupa gorengan (pisang goreng, cireng, comro, gehu, comhu, bala-bala, dll), olahan mie (mie goreng, bihun goreng), olahan nasi (nasi goreng, nasi uduk), olahan buah-buahan (rujak, manisan), dan kue-kue tradisional yang apapun bentuknya, bahannya pasti tidak jauh dari tepung beras, kelapa, dan gula merah. Ketika kemudian chiki balls muncul, itu menjadi jajanan “kekinian” di antara anak sekolah.
  3. Ibu saya selalu membawa kantong atau tas belanja sendiri ketika belanja ke mana pun, terutama ke pasar, karena kalau tidak, berarti kita harus beli kantong plastik yang dijual oleh anak-anak pasar. Harga kantong plastik kecil Rp 50, yang besar Rp 100. Itu mahal! Ingat.., uang jajan saya saja hanya berkisar Rp 50 s/d 500.
  4. Saya tak pernah melihat buah import dari negara empat musim (apel, anggur, pir, dll) di mana pun selain di rumah salah seorang tetangga yang bekerja sebagai kru kapal pesiar (atau mungkin kapal kargo, saya tidak ingat..) yang suka bawa oleh-oleh buah-buahan tersebut setiap kali selesai bertugas/melaut. 
  5. Gunung Galunggung di Tasikmalaya meletus di bulan Mei 1982, waktu itu saya masih kelas 1 SD di Cianjur. Jarak Tasikmalaya-Cianjur mungkin sekitar 300 km. Saya ingat hari itu disuruh ibu saya beli minyak goreng curah (belum ada Bimoli dan sejenisnya ya..) ke toko kelontong terdekat. Meski tidak hujan air, tapi saya harus bawa payung, mengenakan jaket, dan memakai sepatu karet karena hujan debu masih berlangsung. Belakangan diketahui bahwa aktivitas letusan ini ternyata berlangsung selama 9 bulan! Pantas saja ingatan hujan debu ini sangat membekas di otak saya. Dan baru-baru ini, saya juga baru ngeh bahwa letusan Galunggung ini sempat menimbulkan insiden pendaratan darurat yang terjadi pada pesawat jet komersial milik maskapai British Airways (BA) dalam perjalanannya dari Inggris ke Australia. Kala itu pesawat ini sedang terbang di atas Pulau Jawa ketika seluruh mesinnya (ada 4 mesin) satu persatu mati, yang belakangan diketahui karena debu Galunggung yang masuk terhisap ke dalam mesin. Pesawat itu akhirnya harus mendarat darurat di bandara terdekat yaitu Halim Perdana Kusumah (bandara Soekarno Hatta belum ada). Tidak ada korban jiwa tapi jika dilihat di acara dokumenter Air Crash Investigation, kejadian ini sangat menyeramkan. Momen ini sangat membekas di ingatan para kru dan penumpang pesawat tersebut sehingga ketika mereka semua kembali ke Inggris dibentuklah Galunggung Club untuk mengenang kejadian tersebut.
  6. Kedua orang tua saya adalah guru. Sebagai anak pertama, entah kenapa saya selalu dikasih “bocoran” tentang keuangan keluarga. Jadi saya tahu, gaji ayah saya waktu itu sekitar Rp 100,000 dan gaji ibu saya sekitar Rp 75,000. Penghasilan mereka berdua cukup untuk menghidupi keluarga dengan 5 anak (seringnya kurang sih, tapi kami semua tetap bisa hidup..)
  7. Ketika saya kelas 3 SD di tahun 1984, orang tua saya memutuskan untuk beli rumah dengan sistem Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Saat itu sistem ini dianggap cara yang “aneh” untuk memiliki rumah. Kompleks perumahan tempat orang tua saya tinggal itu adalah kompleks ke-3 di kota Cianjur yang dipasarkan dengan cara KPR (kalau sekarang sudah tak terhitung jumlahnya..) Orang tua saya bahkan dianggap “gegabah” karena berani berutang ke bank, dengan gaji guru yang tak seberapa itu, untuk jangka waktu begitu lama. Rumah kami yang berukuran luas tanah 120 m2 dan luas bangunan 54 m2 saat itu harga jualnya adalah Rp 4,000,000 (ya.., saya ikutan baca dokumennya, mungkin hanya saya anak SD yang berminat baca akta jual beli properti..)
  8. Pernah nonton serial si Bolang (bocah petualang) di salah satu TV swasta? Itulah apa yang  disebut ‘bermain’ ketika saya masih anak-anak: menjelajahi alam sekitar. Kadang anak-anak perempuan bermain boneka kertas juga di rumah, tapi buat saya itu kegiatan yang membosankan.
  9. Stasiun TV hanya ada TVRI, acara yang saya tonton adalah Si Unyil, Dunia dalam Berita, Flora & Fauna, dan Donald Duck/Mickey Mouse dalam bahasa aslinya (tidak ada subtitle ataupun voice over/dubbing).
  10. Yang punya telepon rumah itu hanya orang kaya di kota besar dan/atau kantor-kantor tertentu. Kalau di dekat rumah ada telepon umum (telepon koin) itu anugerah banget. Bagi orang yang suka menelpon menggunakan telepon umum ini, uang koin bisa jadi lebih “berharga” daripada emas. Handphone sudah ada tapi benda tersebut ukurannya jauh lebih besar dari sandal wedges yang paling tebal, dan hanya bisa dilihat di film-film laga produksi Hong Kong. Biasanya film ini saya tonton di rumah tetangga yang punya pemutar kaset VHS-Betamax (ini orang kaya juga yang biasanya punya). Dan saya pun menyebut telepon besar itu telepon, bukan handphone.
  11. Sepatu merk Bata adalah sepatu paling “keren”, setidaknya menurut saya saat itu.
  12. Siapa pun yang punya video games Tetris, pasti temannya bertambah banyak.
  13. Keluarga saya sempat lama mengalami masa-masa nyala listrik hanya seminggu sekali di hari Minggu, itu pun dengan menggunakan aki/batere. Bukan karena kami tidak mampu bayar pasang instalasi dan tagihannya, tapi semata-mata karena listrik PLN belum masuk ke wilayah tempat tinggal kami.
  14. Seingat saya, Supermi adalah mi instan yang pertama nge-hits, tetapi belum dianggap makanan wajib anak kos. Catatan: Supermi muncul pertama kali di tahun 1976. Saya mencobanya ketika kelas 1 SD di tahun 1981, dan ternyata saya tidak suka.
  15. Dan akhirnya saya ingat momen ketika akan lulus SD. Semua murid kelas 6 harus mengikuti Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas). Kemudian hasil dari Ebtanas itu disebut Nilai Ebtanas Murni (NEM). Ini sudah ada kata singkatan Ebtanas, disingkat lagi ke kata NEM. Saya tidak paham ‘murni’ di sini maksudnya apa. NEM ini yang menentukan apakah kita akan diterima di SMP favorit atau SMP biasa saja. Saya tidak tahu seperti apa ujian sekolah anak SD zaman sekarang, tapi kelihatannya lebih ribet ya..

Dan demikianlah momen nostalgia kali ini. Ada yang punya cerita nostalgia juga? Silahkan berbagi cerita di sini. Terima kasih sudah membaca tulisan saya. Sampai jumpa di episode selanjutnya.

 

Advertisements

64 thoughts on “(01) Tahukah kamu..? Dulu itu..

  1. Emmy, aku senyum2 bernostalgia baca tulisanmu πŸ˜… meskipun waktu tahun masuk SD, aku baru lahir. Tetapi beberapa aku mengalami yang kamu sebutkan diatas, termasuk TVRI hitam putih dan kami nontonnya ditetangga karena ga punya TV waktu itu. Kalau minggu nontonnya aneka ria safari kalo nggak selekta pop dan ria jenaka. Wafer superman sudah ada belum waktu kamu SD? Karena pas aku SD, kalo bawa bekal wafer superman berasa keren se SD dan jajannya krip krip atau anak emas hahaha jadi ikutan nostalgia. Uang jajanku pas SD Rp 100 tapi sudah bisa beli bakso semangkok.

    Liked by 1 person

    • Hahaha..aku masuk SD kamu baru lahir..😝 terpampang nyata sudah di dunia maya ini bahwa aku tuh angkatan “veteran”😝 Ya betul TV hitam putih beserta semua acara yg kamu sebut itu.. Jajanan wafer Superman dll ada pas aku mau lulus SD deh kayaknya..

      Like

  2. Huaah jadi keinget masa2 kecil dulu. Pake komputer masih pake sistem dos. Trus hobi minjem film silat puluhan seri. pas masuk sekolah dipraktekan berantemnya. Pernah nyokap dipanggil ke sekolah krn ada temen kelas jatoh dari perosotan pas mau gw kasih tenaga dalam πŸ˜‚ iya gw tomboy. Hihihi

    Like

  3. duh kenangan masa lalu, yang indah kalo di ingat2 lagi ya mbak Em, apalagi dgn kecangihan teknologi selarang ini. btw saya jadi mikir juga yg masalah listrik waktu itu di tempat mbak Em aja belum masuk apa kabar di tempat saya yg letaknya di Indonesia timur? boro2 punya tv listrik aja belom punya kali ya,hihihi

    Like

  4. Ya ampun Em aku inget banget gunung Galunggung meletus masih kelas 4 SD. Itu debunya sampe ke Jakarta loh, mobilku tiap pagi tertutup debu lumayan tebel.

    Ha…ha…TVRI mulai siaran tiap hari kerja jam 16.30 sore, hari Sabtu & Minggu dari pagi.

    Kita satu generasi ya, masih ngeh dan bisa inget yang kamu cerita diatas.

    Like

    • Iya kita emang satu generasi deh.. Letusan Galunggung itu emang dahsyat, aku lupa tadi gak tulis insiden pesawat British Airways yg harus mendarat darurat di Halim karena mesinnya mati terkena abu volkanik Galunggung. Oh ya TVRI gak 24 jam kayak sekarang ya, sore ke malam aja trus TV hitam putih pula yg kami punyaπŸ˜„

      Like

  5. Jadi ternyata dulu itu kantong plastik beli ya, sekarang mau digalakkan lagi, tapi biayanya hanya 200-500 rupiah saja. Kalo Saya ingat TV yang kami punya pertama Saya tahun 1988 saat Saya 3 thn sudah berwarna tapi tidak ada remote nya. Jadi kalo ganti channel mesti maju ke depan.

    Like

  6. Betapa murahnya harga-harga di masa lalu. Oke saya belum lahir saat itu, jadi belum sempat menyaksikan televisi yang cuma TVRI dan itu pun hitam putih, zaman saya kecil untungnya hidup sudah mulai berwarna :hehe. Soal uang jajan dulu saya sudah bilangan ribuan meski belum sampai sepuluh ribu. Tapi yang masih sama sih soal telepon, memang di masa dulu itu kalau punya telepon dan pemutar video itu anggapannya sudah kaya banget :haha.

    Like

    • Ah beruntungnya kamu sudah bisa melihat dunia TV yg lebih berwarna sejak awal kehidupan.. Sebetulnya harga itu sama aja, bukan murah. Nilai ekonominya tetap, tapi nilai mata uangnya yg menurun. Itu sebabnya, investasi yg dianggap bagus itu yg berupa properti dan logam mulia, karena harga keduanya mengikuti nilai ekonomi yg sedang berlaku..

      Like

  7. Uang jajanku kelas satu 15perak, paling banyak rp.25,- naik kelas 2-3 jadi rp.50,- sampai kelas 6 sd uang jajan rp.100 itu dah banyak banget hehehehe. Tp skolahku ga ada jajanan berat, paling pecel. Ibu selalu bawa keranjang plastik tempat sayur (disebutnya anting) setiap kali kepasar sudah beberapa tahun ini ibu bawa keranjang lagi ke pasar.

    Like

  8. Tahukah kamu kalo thn 1983 aku sd kelas 1 sd hehe dan sampai SMP ga pernah py uang jajan. SMA yg sdh thn 1993 baru py uang jajan itu jg hy sebesar 100 perak rupiah. Di jaman yg blom ada buah2 sprt apel, pear dan anggur adlh sesuatu yg biasa drmh kami dulu krn aku py keluarga yg tinggal di singapur dr thn 40-an dan se org abang dan sepupu2 ku adlh pelaut yg kalo sandar di belawan pasti bw buah2 itu dan coklat. Kalo mengenai TVRI, selain unyil dan album minggu di hr minggu, aku suka nonton film akhir pekan dan paling benci dgn acara siaran khusus zamannya pak harto. Dulu emak ku selalu belanja ke pasar dgn bw keranjang naek bemo dan kalo aku sedang ikut beliau di pangku krn ongkos muahal huahaha oia pas SMP klas 3 utk pertama x nya dpt tamu bulanan ku belilah softex yg bungkusnya depannya ada foto cewek. Warung blkg rmh membungkusnya dgn koran krn masih tabu dan malu utk hal2 sprt itu..ah jaman berubah ya. Tp aku sering kangen dgn jaman itu(:

    Liked by 1 person

    • Wah makasih banyak buat ceritanya.., lengkap dan sangat menarik, ada kesamaan dan ada pula perbedaannya dengan versiku. Dan yg jelas, saya juga sebel sama siaran khususnya zaman Pak Harto😁 Paling juga pengumuman naik harga BBM..

      Liked by 1 person

      • oia kelupaan aku masuk SD pas umurku 7thn krn pas di daftar masuk sd tanganku gak bisa memegang daun telingaku dgn sempurna hehe ingat sistem itu? masa itu kalo makan ayam hy 3-4x setahun sj. kalo laporan khusus kalo gak krn pengumuman kenaikan bbm pasti penjelasan kunjungan ke LN pak harto. jumpa persnya di dlm pswt dgn pemandangan ibu tien yg terkantuk-kantuk kondean haha.. thx ya sdh bernostalgia. aku sampai skrg sering bgt membayangknnya krn sekitaran rmh ortu sdh berubah semua. teman2 masa kecil maen petak umpet entah kemana semua

        Liked by 1 person

      • Astaga bener banget jumpa pers di pesawat dan ibu Tien terkantuk-kantuk kondean😝 Soal makan ayam itu (dan daging sapi juga) bener jarang banget, makanya berasa istimewa deh kalo ada sajian itu.. Eh saya gak ngalamin yg masuk SD pegang daun telinga itu loh..πŸ˜„ lucu juga kalo dibayangin..

        Like

      • Oh gak ngalamin sistem pegang daun telinga ya? Aku sih krn sblm SD gak TK maka pas umurku 6thn di daftarkan ibuku msuk sd gak lolos krn ya itu td pas di tes sentuh daun telinga dari sisi kepala tanganku blom nympk sehingga thn brikutnya br boleh masuk sd yah tua deh haha..

        Like

      • Hihihi sdh kuduga, krn temen se umur ku yg notabene tetangga, dia tanpa di tes pegang daun telinga krn mmg setahun sebelumnya dia TK yah aku gak TK ikut2 daftar sd jelas gak diterima hahaha. Kenangan itu sgt membekas sekali dibenakku dan sempat marah2 dgn ibuku sepulang dr daftar itu knp aku gak TK. Kalo ingat itu masih suka merasa bersalah deh sama ibu.

        Like

  9. Baca postingan ini aku jadi senyum-senyum sendiri lho, karena hampir semuanya aku juga ngerasain πŸ™‚ Berarti kayaknya kita gak beda jauh generasinya, Mbak πŸ™‚ Thank you for the sweet reminder ya :*

    Like

  10. Ah, nama-nama gorengan yang hanya muncul kalo plesiran ke daerah jawa barat. Bala-bala. Wuih sepertinya jarang anak SD yang suka baca akta jual beli properti. πŸ˜€
    Aku juga dulu membolang, eha ponakan yang di Sangatta sampai sekarang suka membolang. πŸ˜€

    Like

    • Saya sempat heran ketika merantau ke luar wilayah Jawa Barat: kenapa bala-bala disebut bakwan ya..? Dan ya, saya ini tampaknya anak SD yg aneh, karena selain suka baca akta jual beli properti, saya juga baca majalah Femina, Intisari, koran Pikiran Rakyat, dan peta di saat anak seusia saya baca majalah Bobo..😐 Dan saat ini, saya pun masih ngebolang (bareng suamiπŸ˜„)

      Like

      • Seru emang ngebolang. Btw, mba sudah pernah dengar ote-ote selama di KalTim? sebutan untuk bala-bala atau bakwan. πŸ˜€
        Sama herannya ketika aku pertama ke Bandung. Kaget dengar kata bala-bala. Kirain semacam bolo-bolo. πŸ˜€ πŸ˜€

        Like

  11. Itu no.13 sama banget yang pernah diceritain sama kakak&Ibu aku, katanya dulu waktu PLN blm masuk kalo mau pake listrik harus pake aki dan itu kudu di isi dulu. beda sama anak jaman sekarang mati lampu sejam aja udah riweuhnya ga karuan hehehe . bala2, cireng waktu aku SD juga masih ada kok yang jual cuma lebih bervariasi lagi sih jajananya ada mpek2, batagor, somay. dll

    Like

  12. Dulu 5000 pergi ke pasar sudah dapet ayam setengah, sayur, ikan, bumbu dapur dan masih ada kembaliannya. Sekarang naek becak bayar 5000 dipelototin abangnya πŸ˜€

    Like

  13. sy generasi 80an jg. listrik baru ada thn 97. nonton tv di tetangga, hitam putih, pake aki. itu jg paling hr minggu ato pas acara kethoprak dr tvri yogya. sd ga punya uang saku, kecuali habis lebaran hehe. tiap hari bawa bekal minum air putih yg dikasih gula merah.

    Like

      • iya, telat banget. maklum, pelosok, pegunungan pula. sma kelas 2 br ada listrik. hiburan utama ya sandiwar radio. khatam deh tutur tinular dkk nya.
        iya mbak, pake gula merah. soalnya mau bawa minuman manis, tp gula pasir mahal. hehe

        Like

  14. mba eeeem, baca ini langsung de javu…
    dirimu masuk SD, aku pun belum lahir euy, tapi masih merasakan tv hitam putih dan hanya tvri, itu pun kemudian ga ada tv lagi. heheehehe

    eh meletus gunung itu, sempet ada banjir lumpur ga ya? dulu mama pernah cerita waktu sekolah di kota (Yogya), kostannya pernah kebanjiran lumpur gitu, aku ga faham tepatnya, lumpur atau larva dingin.

    Like

    • Nah resmi sudah seisi dunia maya ini tau kalo saya tuh angkatan “veteran”😝 Saya udah kelas 1 SD aja kamu malah belum ada.. Gak tau pasti itu banjir abu vulkanik Galunggung atau bukan, tapi abu Galunggung itu emang menyebar lumayan jauh. Mungkin yg di jogja itu abu vulkanik yg tersiram hujan sehingga jadi banjir lumpur.. Makasih udah berbagi cerita juga yaπŸ˜ƒ

      Liked by 1 person

  15. Wah, banyak hal yang baru saya ketahui.. Nice post kak πŸ™‚ (maklum baru lahir tahun 90an)
    Oh iyaaa kak, masalah tas kresek, apa di daerah lain di Indonesia juga seperti itu? Yang saya tahu di Maluku juga seperti itu pas tahun 80an (ibu saya yang cerita)

    Like

    • Hehehe makasih, Aida.. Wah thn 90 saya udah SMA kelas 1πŸ˜„ Eh saya baru tau malah kalo di Maluku dulu kresek juga harus beli.., jadi mungkin saja di tahun 80an itu di semua tempat kresek memang harus beli..

      Like

  16. Mbak salam kenal ya. Seru bw ke sini. Saya thn 1983 udah kelas 1 SD mbak. Pas galunggung meletus alhamdulilah di kalimantan krn ikut bapak dinas di sana. Angkatan kita seru ya mbak nostalgianya he3

    Like

    • Hai, Imelda.. Salam kenal juga.. Makasih udah mampir.. Iya angkatan yg masa kecilnya tahun 80an mah seru..πŸ˜€ Wah tahun 80an di Kalimantan macam apa dulu? Saya yg mulai tahun 2007 wara wiri Kalimantan aja berasa sepi itu pulau..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s