Day 2: Write a (few) six-word memoars..

Dua kenangan dalam 6 kata.., dan sedikit deskripsi..

Yang pertama..
Stasiun kereta Cianjur akhir dekade 70an..
(Di masa itu keluarga saya tinggal di sebuah rumah yang lokasinya sangat dekat dengan stasiun kereta. Saya yang waktu itu berumur sekitar 4 tahun dan adik saya yang berumur 2 tahun setiap hari bermain di balik pagar halaman stasiun kereta. Dari situ kami bisa melihat stasiun kereta yang megah (menurut ukuran anak balita seperti kami), serta melihat kereta datang dan pergi dengan takjubnya seolah-olah itu benda terkeren yang pernah diciptakan manusia. Seiring waktu, berpuluh-puluh tahun kemudian, makin banyak stasiun kereta yang pernah saya datangi yang tersebar di kota lain, negara lain, benua lain. Dan setiap kali saya berada di stasiun kereta, entah itu Stasiun Gambir di Jakarta, Ramses Station di Kairo, St. Pancras International Station di London, Grand Central Station di New York City, Metro San Javier Station di Medellin, atau Sydney Central Station di Sydney, untuk beberapa saat saya kembali menjadi anak kecil itu, yang selalu takjub melihat kereta dan stasiunnya. Untuk sesaat saya kembali ke masa kecil, masa di mana saya tak punya rasa kekhawatiran apapun.. Ketika kehidupan orang dewasa menyesakkan nafas, ingin rasanya saya kembali ke masa itu..)

Yang kedua..
Pria penggila peta itu sudah pulang..
(Suatu pagi di bulan Agustus 2008, saya terbangun dari mimpi yang tidak biasa. Di mimpi itu ayah saya menjemput saya dari rumah kontrakan, kemudian beliau membawa saya jalan-jalan. Di dunia nyata sebetulnya ini hal yang biasa beliau lakukan ketika saya masih kecil. Yang tidak biasa, di mimpi itu ayah saya tampak sangat muda seperti berumur 20an.., kami berdua mengenakan baju putih atas bawah, dan meskipun di sini saya menyebutnya  “jalan-jalan”, sesungguhnya kami lebih seperti melayang-layang di udara. Selain itu, kami rasanya juga bercakap-cakap tapi tanpa suara, jadi seperti telepati. Setelah acara “jalan-jalan” itu, beliau mengantarkan saya kembali ke rumah kontrakan, lalu kami saling tersenyum dan mengucapkan selamat berpisah, lagi-lagi lewat telepati. Kemudian saya terbangun dari mimpi itu. Saya merasa “sesuatu” akan terjadi. Kemudian saya bergegas dan pergi bekerja seperti biasa. Saat itu saya bekerja di Jakarta. Setelah satu jam berada di kantor, atasan saya datang ke ruangan saya, dan secara perlahan tapi jelas berkata: “Emmy, ibumu baru saja telpon. Beliau bilang kamu harus segera pulang ke Cianjur saat ini juga”
Saat itu juga saya tahu..: ayah saya, pria penggila peta dunia itu, orang yang membuat saya tahu bahwa dunia itu luas sekali, telah berpulang ke haribaan-Nya. Sebelumnya beliau sakit stroke parah selama 5 tahun, namun berhasil sembuh perlahan-lahan. Tetapi kondisi beliau selama 3 bulan terakhir di hidupnya sering naik turun. Seminggu sebelum ayah meninggal, saya bilang ke beliau bahwa minggu depannya saya akan pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya. Saya mau mulai melihat dunia yang biasanya beliau tunjukkan melalui peta. Waktu itu saya mau berlibur sendirian saja ke Vietnam. Beliau merespon dengan menggenggam tangan saya, kemudian tersenyum. Itu saja. Dan di hari ketika beliau meninggal, akhirnya saya mengerti arti mimpi itu.. Beliau mengucapkan selamat tinggal sekaligus selamat jalan.. Beliau pasti tersenyum lebar seandainya tahu sudah “ngebolang” ke mana saja saya sejak saat itu..)

Advertisements

14 thoughts on “Day 2: Write a (few) six-word memoars..

  1. Pingback: Day 13: List your favorites: song, quote, food, vacation spot, photo.. | Crossing Borders

  2. Pingback: Firasat.. (1) | Crossing Borders

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s