Day 14: If you were only allowed to watch one movie for the rest of your life, what movie would that be and why..?

Judulnya panjang amat ya…

Jika kamu boleh menonton hanya satu film sepanjang hidupmu, film apakah itu dan mengapa..?

Saya bukan penggemar film. Jadi agak lama juga mengingat kira-kira film apa yang saya tidak akan bosan menontonnya sepanjang hidup saya.

Dan jawabannya: Gie

Gie adalah sebuah film Indonesia garapan sutradara Riri Riza. Film ini mengisahkan seorang tokoh Soe Hok Gie, mahasiswa Universitas Indonesia yang lebih dikenal sebagai demonstran dan pecinta alam.
Film ini diangkat dari buku Catatan Seorang Demonstran karya Gie sendiri, namun ditambahkan beberapa tokoh fiktif agar ceritanya lebih dramatis. Pada Festival Film Indonesia 2005, Gie memenangkan tiga penghargaan, masing-masing dalam kategori Film Terbaik, Aktor Terbaik (Nicholas Saputra), dan Penata Sinematografi Terbaik (Yudi Datau).(sumber: Wikipedia)
Di tulisan sebelumnya, saya membahas sedikit mengenai Gie ini, tentang satu kutipannya yang saya suka. Dan saya memilih film ini sebagai jawaban dari tema tulisan di hari ke-14 karena beberapa alasan berikut:
1. Saya selalu tertarik dengan pembahasan kondisi sosiopolitik Indonesia di era 60an dan 70an, terutama di masa perpindahan kekuasaan. Menurut saya, masa itu penuh dengan gejolak yang selalu berusaha ditutupi di kemudian hari.
2. Seingat saya, tidak banyak film Indonesia yang mengangkat tema sensitif ini. Membicarakan apa yang sebenarnya terjadi di era tersebut saja kadang masih dirasa “tabu”, apalagi mengangkatnya ke dalam sebuah film. Sekedar gambaran, di tahun 1982 ada sebuah film berjudul The Year of Living Dangerously yang dibintangi Mel Gibson dan diproduksi oleh sineas Australia dan Hollywood. Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama, dan berkisah tentang seorang jurnalis Australia yang ditugaskan meliput gonjang ganjing politik Indonesia di tahun 1965. Awalnya syuting film akan dilakukan di Jakarta sesuai cerita di novelnya. Tapi karena berbagai kendala dan “kendala”, akhirnya syuting dilakukan di Filipina dan Australia. Filmnya sendiri dilarang diputar di Indonesia sampai tahun 1999 ketika terjadi pergantian kekuasaan kembali di Indonesia.
3. Saya tidak tahu seberapa akurat unsur sejarah dan kisah nyata dalam film ini, tapi para pembuat film tersebut patut diacungi jempol atas keberanian mereka dalam menciptakan kembali tampilan sejarah dalam sinematografi. Menurut saya tampilan akhir sinematiknya belum mengena 100%, tampilan “zaman dulu”-nya itu ada tapi kurang berasa. Namun tetap saja film ini menarik untuk ditonton.
4. Alasan terakhir, tidak ada salahnya melihat Nicholas Saputra berseragam anak UI di tahun 60an kan..hehehe.
Nah jadi begitulah kira-kira.. Sekedar info, saya tak pernah menonton film lainnya yang dibintangi Nicholas Saputra selain film ini.

Gie_film_poster

Poster film Gie (www.wikipedia.com)


gie1

Soe Hok Gie yang asli

 

Advertisements

13 thoughts on “Day 14: If you were only allowed to watch one movie for the rest of your life, what movie would that be and why..?

  1. Dosen2 saya di jurusan politik seperti Eep Saefullah Fatah & Nur Iman Subono seringkali menceritakan pada 1965-an hingga sebelum reformasi, manusia seperti Gie jarang yang berani memunculkan diri. Membaca buku2 yg ‘beda’ di kala itu, bawa & bacanya ngumpet2. Saya amazing dengarnya, seperti ingin sehari saja berada di masa itu *berkhayal.

    Liked by 1 person

  2. Film Gie salah satu film Indonesia yang buat aku terkesan dan juga kepo tentang kondisi sosio politik di kurun waktu 60-70an Mba. Iya banyak yang sepertinya tabu di bicarakan yah, tapi kemarin aku juga lagi suka browsing perjalanan “Putra Sang Fajar” setelah beliau lengser atau dilengserkan itu, klo sekarang banyak blog yang berani menulis sesuai opini penulis dan saksi sejarah. Tapi asli masih bikin penasaran seakan berada di daerah abu-abu sejarah negara kita di masa kurun waktu 60-70 itu. Satu lagi dari film Gie OST filmnya sangat berkesan buat aku dan jadi suka nyanyi2in bersenandung :). Lagu Dona Dona by Joan Baez dinyanyikan lagi dengan apik oleh Sita jadi bikin buka-buka youtube cari penyanyi asli dan makna lagunya. Tak Pernah Berhenti Berjuang…ahh OSt paling keren kece gaya gahar aktivis kampus, jaman kuliah di Yogya ngeliat cowo model Eros ginihh yang nyeni dan unik bikin semanget kuliah..ehehe nah loh jadi baper. Suka banget Mba Emmy bahas film Gie yang aku suka juga dan sekarang mau kepoin lebih banyak tentang The Year of Living Dangerously 🙂

    Like

    • Wow..makasih banyak udah berbagi cerita yg sangat menarik di sini..👍🏼😃 Aku baru tau malah tentang Putra Sang Fajar itu.. Eh itu judul buku atau istilah aja ya..? Waktu kuliah dulu aku malah ilfil sama cowok tipe aktivis karena banyak dari mereka yg aku lihat “aktivis tapi….”. Mereka jadinya terkesan munafik gitu.. Tapi gak tau lah ya.. Bisa saja akunya salah sangka.. Tapi film The Year of Living Dangerously itu lumayan menarik loh.., hanya tips dari saya, perlu open minded dengan alur ceritanya ya..

      Liked by 1 person

      • Hehehe..itu mau nulis nama tokoh tapi nanti takutnya vulgar “Putra Sang Fajar” ya sejarah kurun waktu 60-70 kyk melihat dari sisi mata uang yang berbeda ya mba. Klo lgi kuliah liat aktivis kyk berani gtu sampe busa bikin demo besar dan perubahan..aku termasuk angkatan dekat2 mau masuk kuliah jaman demo mahasiswa tahun 98 walo masih sma dink 😄..eh klo dah masuk dunia kerja dah dapet jabatan palagi di pemerintahan jadi laen lagi critanyah yah…hahaha..

        Like

      • Oh istilah toh😄
        Katanya (katanya loh..), salah satu cara meredam aktivis itu dengan beasiswa LN dan/atau jabatan..😉
        Mei 1998 aku udah lulus S1 tapi lagi nunggu wisuda.. Pas lagi bikin skripsi di tahun 1997, aku ngalamin harga yg tiba-tiba naik dalam semalam. Hari ini Indomie masih 250 rupiah, besoknya udah 1250 rupiah, dan sejak saat itu sang Indomie tak pernah turun lagi harganya..

        Like

      • Hahahaha..iyah Indomie oh Indomie..tetep bikin nangih itu walo udah janji diet idup sehat dll😄..lah kita jadi ngomongin Indomie mba..boleh kali kapan2 di bahas sm tukisan Mba Emmy soal indomie 😊😉

        Like

  3. Ayah dulu pernah cerita tentang sosok Sho Hok Gie, begitu nonton film Gie aku langsung inget cerita ayah dulu bahkan nonton filmnya untuk pertama kali pun berdua bersama ayah. Kemudian aku menyuruh suami nonton Gie, setelah dia nonton film Janji Joni dan menurut dia Janji Joni adalah film terbaik Indonesia yang pernah dia liat saat itu, langsung deh aku sodorin film Gie, karena yang maen sama sama Nicholas. Ehhmmmm aku penggemar Nicholas garis keras hihihi.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s