(052) Rekan “sejawat”

540550920-vision-project-hope-emotion-internationalism

Catatan: Setelah vakum sekian lama, inilah episode lanjutan dari kategori/seri Flashback di blog saya. Sekadar mengingatkan, seri ini adalah rangkuman kisah sepanjang 2007 s/d 2014. Selama periode tersebut, perubahan dalam kehidupan saya sangat signifikan, sehingga saya pikir ini perlu diabadikankan dalam bentuk tulisan.

Setelah kembali dari liburan di Amerika Serikat di bulan Juni 2012, saya dan M kembali ke dunia nyata di Sangatta, Kalimantan Timur. Di sini kami tinggal di kompleks perumahan karyawan. Karena itu saya mulai mengenal lebih banyak rekan-rekan kerja M dan istri/suaminya.
Seperti umumnya kehidupan di perumahan, ada banyak tetangga, ada pertemuan warga, ada gosip, ada keluhan umum, dan lain sebagainya. Sejak saya dan M menikah, baru kali itulah kami tinggal di suatu lingkungan perumahan secara lebih permanen.
Saya juga mulai kenal istri para ekspats lainnya. Mereka ini ada yang orang asing, tapi kebanyakan orang Indonesia seperti saya. Saat itu saya baru sadar bahwa sebelumnya saya tidak pernah bergaul dengan sesama istri ekspats atau istri orang asing di Indonesia. Dan dari sinilah saya mengalami kejutan tak terduga. Bukan sesuatu yang parah, tapi cukup unik (buat saya).
Dari sekian banyak istri para ekspats yang saya temui di kompleks ini, saya amati ada beberapa tipe. Nah.., sebelum saya jelaskan tipe-tipenya, mohon diingat bahwa ini bukan generalisasi. Tolong jangan jadikan ini sebagai acuan untuk menilai kepribadian seseorang ya.. Kalau ada pembaca blog ini yang kebetulan istri ekspats yang tinggal di Indonesia, jangan terlalu diambil hati, ini cuma pendapat dan pengamatan pribadi.
Baiklah, mari kita mulai..
1.  Tipe “Irit Bahan”
Irit bahan di sini maksudnya pakaiannya. Tak peduli jenis acara yang dihadiri, biasanya baju bawahan posisinya “mendekat ke langit”, sementara baju atasan posisinya “mendekat ke bumi”. Kalau orang yang memakainya tampak percaya diri, mungkin masih kelihatan bagus. Herannya, misalnya nih.., sudah tahu sedang mengenakan baju irit bahan, tapi roknya (yang sangat pendek itu) masih saja ditarik-tarik ke bawah supaya lebih menutupi paha.. Atau ketika duduk di sofa, tasnya selalu ditaruh di atas paha. Intinya sangat jelas kalau mereka kadang risih sendiri. Lha…, bagaimana toh, Bu.. Saya tidak bicara soal moral ya.. Banyak di antara mereka yang bertipe irit bahan ini secara pribadi orangnya baik. Mungkin mereka hanya perlu belajar lebih banyak tentang berpakaian yang sesuai situasi, kondisi, dan kepantasannya. Saya tulis tipe ini lebih dulu karena memang mereka ini yang langsung kelihatan begitu saya masuk ke lingkungan tersebut.
2. Tipe “Beli-beli”
Jadi setiap kali kita bertemu, selalu saja membahas barang yang baru dibeli. Saya tahu setiap orang dalam kehidupan sehari-harinya pasti ada beli barang-barang, mulai dari yang remeh temeh macam belanjaan dapur sampai yang bersifat besar/penting seperti beli properti atau kendaraan. Tapi masa iya harus dibahas setiap kali bertemu lengkap dengan segala macam detilnya (terutama harga), meskipun bertemunya hanya sebulan sekali misalnya. Kalau merasa jenuh dengan topik pembicaraan ini, biasanya saya ganti topik pembicaraan (tanpa mereka sadari..hehehe..), atau saya berpindah grup pembicaraan saja..
3. Tipe “Gadis Kota”
Bawaannya mudah mengeluh tentang kehidupan di daerah pedalaman, serta menganggap clubbing (ngedugem) dan malling (ngemal) adalah 2 cara utama untuk menghibur diri. Kelihatannya tipe ini lebih cocok tinggal di kota-kota besar. Berarti mereka sebetulnya hanya “salah tempat” merantau.
4. Tipe “Istri Boss”
Suatu hari saya mendengar kisah “luar biasa” tentang salah seorang istri ekspat lainnya.  Ceritanya si ibu ini sedang dalam perjalanan pulang menuju kompleks perumahan. Dia menyetir mobil pribadi. Ketika tiba di gerbang pos keamanan, dia tidak diizinkan masuk karena tidak membawa kartu ID penghuni. Rupanya si ibu lagi terburu-buru, si petugas keamanan bersikeras tidak memberi izin. Marahlah si ibu dan bilang: “Pak Satpam.. Jangan macam-macam.. Tahu gak siapa suami saya!! Mr. XXX, manajer Dept. A loh..!!!” Rupanya itu bukan pertama kali si ibu berperilaku demikian. Dan ternyata, ada beberapa istri ekspats lainnya yang mirip-mirip tabiatnya.
5. Tipe “Tak Terdeteksi”
Suatu hari di acara Family Gathering di kantornya M. Seperti biasa saya mengobrol ngalor ngidul dengan banyak orang, baik itu karyawan maupun istri/suami dari karyawan yang kebetulan saya sudah kenal. Kemudian M panggil saya untuk foto bareng, setelah itu saya balik lagi mengobrol dengan orang-orang tadi. Nah.., beberapa ibu-ibu (istri karyawan orang Indonesia, bukan istri ekspats) tiba-tiba tanya..: :Mba Em.., sudah kenal banyak bule di perusahaan ini ya.. Koq barusan akrab banget foto-foto sama bule yang itu (sambil menunjuk M).. Emang suamimu gak bakalan marah tuh..?”
Lhaaaa.., maksudnyaaaaa..???
Usut punya usut, ternyata selama ini banyak ibu-ibu kompleks mengira suami saya itu orang Indonesia. Padahal saya sering bilang suamiku itu namanya Pak M (saya tidak bilang Mr. M memang..), kerjanya di Dept. B. Padahalnya lagi nih.., saya dan ibu-ibu yang salah sangka itu sering jalan bareng, belanja bareng ke pasar..
Akhirnya salah satu di antara mereka bilang: “Ohh..itu suamimu toh.. Hahaha.. Maaf ya.. Habis Mba-nya kelihatan biasa aja sih..”
Iya deh.., iya.., saya tahu.., saya mah memang cupu dan un-fashionable.., tidak seperti nyonyah-nyonyah itu..hahaha..

Dan begitulah hasil pengamatan abal-abal saya tentang rekan “sejawat” ini.

Bersambung…

Tiga episode sebelumnya: 051, 050, 049

 

Advertisements

34 thoughts on “(052) Rekan “sejawat”

      • Mereka yang mengistimewakan diri mereka sendiri. Contoh : kita ngobrol, ada topik yang menyangkut ke suami. Masing2 sudah ‘bersuara’, nanti mereka bilang : “kalo bule (suaminya) mah gak bisa begitu, sibuk biztrip (business trip maksudnya) melulu.”

        Itu baru satu dari sekian contoh yang terlihat membedakan. Saya menyebutnya ‘keluhan bermakna’. Apa yang istri WNA itu keluhkan ada makna kebanggaan di balik keluhan itu.

        Liked by 1 person

      • Oh gitu toh..😀 Semacam pamer terselubung ya.. Kayak misalnya posting foto dengan tulisan “enak banget sarapanku pagi ini”, tapi di belakang foto makanan itu tergambreng jelas tas Prada edisi terkini..😉

        Liked by 1 person

  1. Mbak Em, aku suka nih postingannya. Mau ngulik postingan lain tentang ini hihihi. Aku banyak pengalaman sama istri bule, dan memang sih.. ada yang heboh sendiri dan nunjukin: nih loh suami gw bule. Ada yang nyante2 aja.

    Liked by 1 person

      • kl dsini sukanya:bandingin: kalau mertua saya sih ya…bla..bla…hahah nasip di perantauan deket keluarga suami, jd suka pd kepo pengen tau kehidupan keluarga turki nya—ya kulturnya kan gitu itu

        Like

      • Oh ya pernah juga ketemu sama tipe ini, tapi bukan di Indonesia. Tipe ini terutama yang mertuanya nyebelin (kata menantunya)..hehehe.. Aku mah dengerin aja, kalo ditanya ya jawab, kalo gak ditanya ya gak cerita.

        Like

      • mungkin kalo di turki tipe pamer mertua hahah..sering tuh kalo di grup, ada yg minta solusi gmn jalin harmonis hubungan sm mertua, ko ya yang pada koment: kalau mertua saya tuh ya..bla..bla…, kasian yang nanya:D

        Like

  2. Pingback: (053) Orange.. | Crossing Borders

  3. Jeli banget pengamatannya Emmy, tapi lucu, hihihi…cuma sempat tinggal 2 bulan di Indo setelah nikah, jadi pengalaman bergaul dengan rekan “sejawat” masih minim. Disini juga ada tipe-tipe istri ekspat yang mirip-mirip dengan deskripsi tipe 2 dan 4, tapi berhubung saya masuk kategori biasa-biasa aja, jadi ya gak pernah bergaul dekat dan gak bakalan diakui juga, hahaha…Ngebayangin “terjebak” dalam pembicaraan di antara mereka aja udah males duluan, hihihi…

    Liked by 1 person

    • Hehehe..makasih, Pungky😄 Yah begitulah namanya orang.. Berbeda tapi sama, sama tapi berbeda.. Kehidupan selalu “diramaikan” dengan kehadiran tipe tertentu.. Aku juga cenderung sendirian aja terkait urusan “rekan sejawat” ini.. Paling ada 1 atau 2 orang yg bisa dikategorikan teman, tapi dengan yg beda tipe aku berusaha jaga hubungan baik aja biarpun beda pola pikir, netral aja gitu..

      Like

  4. Hahaha, terima kasih telah membuat malam minggu saya ceria setelah membaca postingan ini.
    Ternyataaaa……. kirain klo istri ekspat bakal lebih ‘manusiawi’ daripada istri bule di negara bule yang kadang banyak ajaibnya. Upsss berati itu diriku kah??? Hahaha mungkin akupun bisa dianggap ajaib oleh istri bule yang lainnya, karena sangat biasa dan cenderung lari tunggang langgang menghindar mereka. Hihihi da aku mah apa atuh biasa pisaannnn….. Tapii semakin kesini ga kaget kaget amat dan mencoba belajar bersikap biasa jika ada yang aneh, namanya juga orang pasti bermacam macam tingkah laku dan kebiasaan 🙂

    Liked by 1 person

    • Tah kitu intina mah.. Jalmi tea atuh rupi-rupi geningan..😀 Ceritamu gak kalah seru ternyata😝
      Buatku mah yg penting jaga hubungan baik.. Gak klop berteman bukan berarti jadi bermusuhan kan, ya sekedar saling tau aja..

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s