(053) Orange..

Catatan: Foto-foto di bawah ini diambil secara alamiah. Artinya, tidak ada objek foto yang disuruh berpose, dan tidak ada pula pemotret yang secara sengaja menantikan kehadiran objek foto tersebut.

Perkenalkan.., makhluk besar di bawah ini, Orange.. Dia salah satu “tetangga” kami di Sangatta, Kalimantan Timur.. Si Orange ini seekor orangutan yang dilihat dari penampilannya, kemungkinan jantan remaja atau dewasa muda.
Hampir setiap hari si Orange datang ke area tempat M bekerja di lokasi pertambangan. Awalnya dia hanya melihat-lihat dari kejauhan, memperhatikan kegiatan manusia bengkel (para mekanik alat-alat berat pertambangan) yang sedang bekerja di Maintenance Workshop. Sejak awal kehadirannya, orang-orang bengkel sudah ngeh ada orangutan besar berkeliaran di sekitar lokasi kerja mereka. Beberapa mekanik sempat terpikir untuk menyuruh orangutan itu pergi menjauh, dan kalau bisa jangan datang lagi. Tapi sebagian besar mekanik lainnya (termasuk M, Pak Guru Mekanik) berpikir, biar saja si Orange berkeliaran di situ, ‘kan tidak saling mengganggu. Saya menamakan orangutan ini “Orange” karena cara M mengucapkan kata “orangutan” itu terdengar seperti Orange (atau setidaknya seperti itulah yang terdengar di telinga saya)
Dan begitulah.. Si Orange datang hampir tiap hari, menonton manusia kerja. Semakin sering dia datang, semakin dekat pula jarak antara tempat dia mengamati dengan lokasi bengkel. Seolah-olah ada kesepakatan tak tertulis di antara yang mengamati dan yang diamati, bahwa mereka “tak akan saling ganggu”, rasa saling percaya antara sesama makhluk hidup. Dan kata M, ketika sedang mengamati, si Orange tampak serius sekali. Salah satu rekan kerja M sempat bercanda begini: “Pak, besok kalau si orangutan itu datang lagi, kita suruh ikut training saja bersama karyawan baru. Siapa tahu bisa jadi mekanik handal..” Hahaha.. Ada-ada saja..
Dan suatu hari, si Orange semakin mendekat.. Saking dekatnya, sebetulnya bisa dikatakan, dia berada di bengkel, bukan lagi mengamati bengkel dari kejauhan. Berikut ini foto-fotonya, yang diambil oleh M.

IMG_4972

Si Orange berada di antara sebuah dump truck dan rongsokan barang-barang bengkel. Rupanya dia menemukan “cemilan” di situ, serumpun tanaman tebu. Dia mengamati kegiatan bengkel sambil mengunyah tebu.

 

IMG_4973

Masih mengunyah tebu, tiba-tiba si Orange menyadari bahwa orang bengkel sedang memotretnya. Lalu dia menunduk dan menutupi muka dengan tangannya. Mungkin dia grogi atau risih karena seketika jadi pusat perhatian..

 

IMG_4974

Semakin banyak orang bengkel yang memotretnya, semakin grogi si Orange ini.  Bayangan orang-orang bengkel yang sedang memotret terlihat di cermin di sebelah kanan. Si Orange merasa tidak nyaman, sehingga memutuskan bersembunyi di balik rumpun tebu yang lebih tinggi..

 

IMG_4975

Sambil bersembunyi, tak lupa mematahkan batang tebu lagi untuk dimakan..

 

IMG_4976

Setelah bersembunyi lumayan lama sambil ngemil tebu, ternyata orang-orang bengkel masih memperhatikannya. Ada yang memotret, mungkin mengambil video juga, bahkan katanya ada karyawan (yang mungkin ketakutan) melempari si Orange dengan kerikil agar dia menjauh dari bengkel.. Si Orange makin merasa grogi, jadi dia mencari tempat bersembunyi yang lebih “canggih”.. Dengan perlahan dia menjauh dari rumpun tebu, dan mendekat ke lembar metal warna kuning yang tersandar di sebelah kanan..

 

IMG_4977

Dan di sinilah akhirnya dia bersembunyi.. Orang-orang bengkel masih memperhatikannya, bisa terlihat dari detil foto di sebelah kiri. Tapi setidaknya, si Orange tampak lebih terlindungi dari pandangan orang-orang di tempat persembunyian ini.

Penampakan hewan liar seperti ini adalah hal biasa di area sekitar lokasi tambang. Mungkin orang yang tidak tahu akan mengira kami tinggal di hutan belantara yang biasa digambarkan di acara Flora dan Fauna atau National Geographic Channel. Tapi sebetulnya, dilihat dari letak geografisnya, Sangatta sendiri adalah kota pesisir, bukan daerah hutan lebat pedalaman. Namun tetap saja penampakan seperti ini (yang lebih identik dengan habitat hutan lebat pedalaman) sering terjadi. Saya sendiri sering menyaksikannya; melihat orangutan induk dan bayinya menyeberang jalan di kompleks perumahan karyawan di sini; ratusan monyet di daerah rawa bakau/mangrove; merak liar dan burung-burung liar lainnya di halaman belakang rumah, tupai di hampir semua pohon; kera bekantan di pekarangan orang lain; segerombolan rusa liar di sekitar lapangan golf; dll..
Para aktivis lingkungan hidup mungkin akan menilai ini sebagai hal negatif: manusia dan kehidupan hewan liar bersinggungan, dan seringnya manusia yang “menang”. Namun saya punya sudut pandang lain. Tentunya saya tidak setuju dengan perlakuan buruk terhadap hewan, hanya karena makhuk tersebut adalah hewan, atau bahkan jika hewan itu dianggap mengganggu. Saya tahu banyak kasus hewan liar ditangkap, kemudian dikurung, mungkin dengan maksud domestikasi atau dijadikan hewan peliharaan. Proses domestikasi ini sendiri banyak yang berakhir menyedihkan bagi hewan tersebut. Namun, di luar hal itu, rasanya kehidupan yang saling bersinggungan tersebut adalah sesuatu yang tak terhindarkan.
Maksudnya begini, dengan populasi Planet Bumi yang sudah mencapai 7.5 milyar penduduk, tentu perlu sumber daya yang maha besar untuk menggerakkan kehidupan sekian banyak orang tersebut. Berikut beberapa contohnya:
1. Minyak goreng
Umumnya orang suka gorengan ‘kan.. Salah satu bahan utama untuk membuat gorengan tentu saja minyak goreng. Minyak goreng di Indonesia mayoritas terbuat dari kelapa sawit. Dengan populasi Indonesia yang berjumlah sekitar 250 juta orang saat ini (urutan ke-4 di dunia, setelah India, China, dan Amerika Serikat), coba bayangkan seberapa banyak minyak goreng yang diperlukan untuk menggoreng makanan bagi 250 juta orang setiap harinya, seberapa luas lahan yang kemudian dijadikan perkebunan sawit. Belum lama di tahun 1961, kita perlu menyediakan minyak goreng hanya untuk 97 juta orang.
2. Energi listrik
Zaman sekarang tidak susah menemukan orang yang punya ponsel, laptop, atau keduanya. Dua benda ini perlu energi listrik dalam penggunaannya. Jika 10% saja penduduk Indonesia (sekitar 25 juta orang) adalah pengguna aktif dari kedua benda tersebut, bayangkan berapa banyak instalasi pembangkit listrik yang harus dibangun. Di Indonesia banyak instalasi pembangkit listrik ini berbahan bakar fosil seperti batu bara, gas alam, dan minyak bumi yang proses pengambilannya banyak berkaitan dengan tata kelola lingkungan hidup. Dan sekali lagi, di tahun 1961 ketika penduduk Indonesia masih 97 juta orang, tak banyak barang-barang yang perlu energi listrik.
3. Keluarga Berencana
Di dekade 80an-90an slogan “Dua Anak Cukup” lumayan menggema. Sekarang…? Siapa peduli..? Mohon hal ini tidak ditafsirkan negatif. Tingkat kesejahteraan dan kesehatan yang terus membaik menjadikan tingkat harapan hidup juga membaik. Bagi saya, ini artinya akan semakin banyak orang sehat sejahtera dan berumur panjang yang optimis bahwa punya anak lebih dari dua bukan ide yang buruk. Ini tentu pilihan pribadi. Namun perlu diingat pula, semakin banyak penduduk, semakin banyak pula rumah yang harus dibangun, semakin banyak pula lahan hijau beralih fungsi menjadi pemukiman. Oh ya.., sekedar informasi, kelihatannya slogan KB sempat berubah menjadi “Dua Anak Lebih Baik”, tapi kemudian diubah lagi ke “Dua Anak Cukup, Empat (Anak) Terlalu..”. Silahkan koreksi kalau informasi ini tidak tepat.

Di satu sisi saya salut pada para penggiat/aktivis lingkungan, karena saya tahu ada banyak pihak yang hanya memikirkan kepentingannya dan tidak peduli dengan lingkungan. Sementara di sisi lain, terlepas dari katakanlah kesuksesan menjaga lingkungan hidup, ada hal lain yang tak terhindarkan, yaitu kompetisi hidup. Akan selalu ada yang datang dan pergi, punah dan bertahan, menang dan kalah. Dan melihat apa yang terjadi selama 100 tahun terakhir peradaban manusia, entahlah.., saya merasa antara sedih dan miris mengungkapkan hal ini, tapi kelihatannya bisa ditebak siapa yang akan lebih sering menang dalam kompetisi kehidupan tersebut. Saya berpikir seperti ini juga bukan sebagai pembenaran karena dulu sempat bekerja di industri pertambangan. Saya hanya berusaha melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang.
Baiklah, kembali ke cerita si Orange.. Setelah kejadian di foto-foto tersebut, Orange secara diam-diam berlalu meninggalkan bengkel. Dan dia tak pernah datang lagi. Mungkin dia takut, atau pada dasarnya memang pemalu. Mungkin dia pergi ke lokasi lain. Entahlah.. Tak ada yang tahu..

Bersambung…

Episode sebelumnya: 052 – Rekan Sejawat

Advertisements

19 thoughts on “(053) Orange..

  1. Aku kok sedih ya bacanya. Orange mgkn emg pemalu. Tp basically aku menganggap wajahnya orangutan itu melas, sih. Mengundang rasa iba. Btw aku dl tinggal di pelosok Riau. Jd klo jemuran belakang rumah diacak-acak celeng dan bahkan GAJAH!! itu bisa dan biasa terjadi, hahaha. Cm klo di lapangan golfnya sih isinya klo Maghrib bukan hewan… tapi tuyul, hahaha.

    Like

    • Iya aku nulis ini juga jadi sedih sendiri..:-( Astaga.., jemuran diacak-acak gajah!!! Sesuatu banget ya..hahaha.. Kalo di Oz sini, jemuranku aman tapi kulitku gak aman kalo ada di luar rumah agak lama tanpa ngolesin anti nyamuk, nyamuk queensland lebih ganas daripada nyamuk Indonesia, belum serangga lainnya kayak sandflies (gatalnya lebih edannn daripada nyamuknya sendiri)

      Like

  2. Pingback: (054) Rencana-rencana.. | Crossing Borders

  3. Ah, ini sudah beberapa tahun mba? Sekarang agak susah kalo si Orange nemunya. Bekantan masih lumayan sering. Oh ya, bukan di lingkungan KPC ada telfon khusus kalo si Orange muncul yah mba? untuk di selamatkan karna termasuk mau punah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s