(054) Rencana-rencana..

Sudut favorit di beranda rumah di Australia..

Salah satu sudut halaman rumah kami di Australia

Memandang keluar jendela di rumah Australia kami..

Setelah tinggal di Indonesia lagi di tahun 2012, saya dan M punya 3 rencana besar yaitu punya anak, punya rumah sendiri di Australia (biasanya tinggal di rumah mertua kalau sedang berada di sana), dan berlibur ke Amerika Serikat. Bagian berlibur ini sudah terlaksana dengan lancar. Waktu membuat rencana itu, kami maunya bagian punya anak dulu yang terjadi, tapi ternyata rejeki kami belum ke situ saat itu.
Saat itu bagian punya anak masih dalam proses, lebih tepatnya proses penasaran dan penyangkalan. Setelah menikah, sebetulnya kami berharap bisa segera punya anak. Tapi setelah satu tahun menunggu, saya tak kunjung hamil. Kemudian kami pindah ke Kolombia dan tinggal di negara ini selama hampir setahun. Seorang teman di sini merekomendasikan dokter kandungannya jika kami ingin melakukan program kehamilan yang lebih terpantau. Setelah beberapa sesi konsultasi, kami melakukan program inseminasi buatan. Hasilnya.., gatot alias gagal total.. Padahal menurut hasil pemeriksaan sebelumnya, saya dan M baik-baik saja, tidak ada masalah medis. Dokter kami waktu itu menyarankan ikut program IVF sebagai langkah selanjutnya. Kami maunya begitu tapi apa daya harus pindah lagi ke Australia.
Ketika kami “parkir” sebentar di Australia di awal 2012, sempat terpikir untuk meneruskan rencana punya anak tersebut di Australia. Tapi.., tak lama kemudian kami pindah lagi ke Indonesia. Seperti bisa diduga, tak lama setelah mendarat, disambut dengan pertanyaan klasik: sudah isi belum..?, sudah punya anak..?, kapan mau punya anak..?, kamu sengaja ya menunda punya anak..?, sudah coba cara ini itu..?, dsb..,dsb.. Orang-orang itu kelihatannya tidak perduli bahwa pertanyaan seperti ini bisa sangat menyakitkan hati bagi perempuan yang sedang berusaha punya anak. Tidak seperti kondisi medis lainnya, infertilitas mungkin hal yang paling rentan baper. Tapi siapa yang perduli..? Tetap saja banyak orang yang saya temui menanyakan hal itu.
Nah.., selama di Indonesia, saya dan M mulai mencari informasi lagi mengenai hal ini. Kami mempertimbangkan IVF kembali. Dan belum apa-apa.., kendala teknis sudah di depan mata. Ternyata (saat itu) tidak ada klinik fertilitas di wilayah Kalimantan Timur. Saya kira di Balikpapan ada tapi ternyata tidak. Pilihan yang paling memungkinkan cuma Bandung atau Jakarta. Saya pilih Bandung karena merasa lebih familiar dengan kota ini dan jaraknya cukup dekat dengan Cianjur. Saya datang ke Klinik Aster di RSHS Bandung sendiri saja, M tak bisa ikut karena jadwal kerja yang tidak memungkinkan untuk keluar mine site (kendala teknis nomer 2). Di konsultasi pertama, saya sudah pusing sendiri begitu melihat urutan proses IVF. Bagaimana kami harus menyelaraskan semua jadwal tersebut dengan jadwal cuti M..? Susah sekali.. Saat itu jadwal dia adalah 5 minggu kerja, 2 minggu libur, dengan jam kerja 12 jam per hari. Belum lagi dia di Kalimantan, saya di Cianjur. Izin meninggalkan lokasi di luar masa cuti juga bukan hal mudah, salah satu penyebabnya karena transportasi ke luar lokasi tambang itu terbatas dan lama. Satu hal lainnya yang menciutkan semangat: saat itu klinik tersebut menerapkan batasan usia bagi perempuan yang mau ikut program IVF, maksimal 38 tahun. Lhaa.., saya waktu itu sudah berumur 37 tahun..
Tapi saya ikuti juga konsultasi di klinik tersebut. Saya disarankan tes ini itu, yang ternyata harus dilakukan di laboratorium di lokasi yang berbeda (yang bikin saya bete juga). Jadwal M masih belum sinkron. Bahkan kelihatannya dia agak tertekan dengan beban kerja yang bertambah. Hasil tesku menunjukkan tidak ada masalah. Tapi setelah beberapa kali konsultasi, M masih saja belum bisa ikut konsultasi. Akhirnya saya angkat tangan.. Saya menyerah.. Saya berhenti datang ke klinik itu. Saya sempat kesal pada M. Tapi dipikir-pikir.., saat itu kondisinya memang tidak memungkinkan. Setiap kali M libur di rumah pun dia lebih sering lelahnya daripada segarnya. Akhirnya kami tunda dulu urusan beranak pinak ini, sambil berharap kami bisa punya anak secara alamiah.
Kemudian kami beralih ke realisasi rencana berikutnya yaitu punya rumah sendiri di Australia. Seru juga mengikuti semua prosesnya. Dibandingkan dengan hal serupa di Indonesia, di satu sisi lebih rumit, tapi di sisi lain lebih sederhana. Proses pembeliannya sendiri tentu saja melalui mortgage alias KPR alias nyicil..hehehe.. Bagaimana ya.., soalnya selama statusnya masih pegawai ya begini.. Namun demikian, tentu saja kami sangat bersyukur diberi rejeki untuk punya rumah sendiri. Sebetulnya kami deg-degan juga memutuskan untuk punya “hutang besar” tersebut. Saat itu usia kami tidak muda lagi, saya 37 tahun dan M 47 tahun. Jangka waktu cicilan standar itu 30 tahun. Jadi kelihatannya rumah itu akan lunas ketika kami sudah jompo..hahaha.. Duuuhh.., semoga dapat rejeki nomplok buat memperpendek masa cicilan.. Eh.., tapi dikasih rejeki lancar sampai cicilan lunas juga sangat bersyukur koq..
Proses pindahannya sendiri berlangsung simpel. Kami menyewa truk kontainer ukuran kecil. M yang menyetir sendiri truk tersebut. Proses angkut barang dari rumah mertua di Charters Towers dibantu oleh Rick, sahabatnya M. Sementara saya kebagian tugas menata semua barang dan perabotan di rumah baru kami di Townsville. Proses angkut barang berlangsung satu hari saja. Ketika pindahan ini, saya baru sadar, M punya baju banyak sekali! Lebih banyak daripada baju saya. Belum lagi sepatu.., ya ampun itu sepatu dan baju dari zaman kapan masih ada tersimpan.. Dia bilang sudah lama ingin menyumbangkan sebagian bajunya tapi belum sempat sortir. Akhirnya saya kebagian tugas menyortir baju dia. Hasil akhirnya, 30% bajunya beralih ke badan amal di kota ini.
Dalam proses pindahan ini, saya juga menemukan barang-barang milik M yang unik dan menarik. Ada dua benda yang saya anggap paling menarik.
Benda yang pertama, buku jurnal bayi (baby journal) milik M ketika dia masih bayi! Bayangkan.., jurnal itu sudah berumur 47 tahun dan masih tampak bagus. Ceritanya, buku jurnal itu hadiah dari tantenya M ke ibunya M ketika M lahir. Buku itu kemudian diisi catatan perkembangan M di masa bayi. Saya bisa baca tulisan ibu mertua saya seperti: “Today M started on solid food.. He seemed to like it..” Atau yang ini: “This week M is more confident in walking..” Terharu gak sih bacanya..
Benda yang kedua masih berupa catatan, kali ini raport-nya M waktu dia kelas 2 SD. Nilai raport-nya cukup bagus kelihatannya. Namun yang bikin saya senyum-senyum adalah catatan gurunya di raport tersebut: “M is such a soft spoken and shy but nice young boy. He likes playing soccer. He seems to get along well with other students..” Saya lupa kata-kata persisnya tapi kira-kira seperti itulah intinya. Membayangkan M sebagai anak kecil kelas 2 SD yang pemalu dan suka main bola berhasil membuat saya mesem-mesem sendiri..hehehe..
Akhirnya di penghujung tahun 2012 itu kami resmi punya rumah di Australia. Kami sangat bersyukur.. Satu persatu rencana besar kami terlaksana. Proyek pribadi selanjutnya masih akan tetap berlanjut..

Bersambung…
Episode sebelumnya : (053) Orange..

Advertisements

32 thoughts on “(054) Rencana-rencana..

  1. Selamat buat pencapaiannya Mbak…
    semoga demikian juga untuk rencana dan doa-doa yang lain, segera akan menyusul.
    Walau tidak seunik buku jurnal Mas M, tapi saya juga paling senang lihat album masa kecil suami.

    Dan, iya, kami sekarang lagi mikir program punya anak, lagi diuber keluarga… pusing. Bagian ini, hanya bisa berserah sama Tuhan. Seperti halnya jodoh, kehadiran anak juga hanya semata karunia Tuhan 😦

    Like

    • Makasih..😀 Amin buat doanya..
      Oh iya saya juga suka lihat foto-foto masa kecil suami.. Lucu-lucu ya foto masa kecil mereka itu.. Soal anak, seperti.biasa selalu dianggap satu-satunya tujuan orang menikah ya bagi banyak orang.. Tapi semoga program punya anaknya sukses..👍🏼😃

      Like

  2. Mbak Em, rumahnya terlihat nyaman sekali itu.
    Selamat untuk segala pencapaiannya ya.
    Sweet banget, buku jurnal masa kecil masih tersimpan rapi. Berasa nemu harta karun ya waktu baca baca catatan2 masa kecil gitu 😀

    Like

  3. Foto yang paling atas kukirain katalog majalah mbak, gak taunya rumah beneran ya 😆
    Selamat buat pencapaian2 semuanya ya.. Dan sukses untuk pencapaian berikutnya! 🙂

    Like

  4. Selamat atas cicilan eh atas rumah Aussie-nya ya Mbak Em 😘 btw dulu udah sempet nulis ttg gmn cerita pra-hamil nya si Bear? Lupa2 inget aku. Penasaran jg pastinya, sbg sesama yg menanti

    Like

  5. Alhamdulillah, barakallah untuk semua rezekinya, mbak Emmy.

    OOT. Sedikit mirip, kalo mbak Emmy dan suami beda usia 10 tahun, aku dan suami beda usia 9 tahun. Saat nikah, aku 25 tahun, suami 34 tahun. Tepat saat sudah selesai S2 dan punya posisi di kantor. Rezeki datang di waktu yang tepat.

    Liked by 1 person

  6. wow jurnal 47 thn..saya aja foto bayi udah ga punya-.-‘ udah gitu ibu nyatetin tanggal lahir anak di belakang lemari, boro2 jurnal:D alhasil pas mau bikin akte masa kudu geser lemari dulu..buat memastikan keakuratan tanggal dan bulan lahir nyahh**hihi jd curhat*tp luar biasa yaa ibu Mr. M telaten nyatetin pada jamn itu.

    Liked by 1 person

  7. Pingback: (055) Mau yang warna-warni..? | Crossing Borders

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s