(055) Mau yang warna-warni..?

Saya mungkin termasuk orang berusaha untuk menjalankan prinsip “finish what you started” (selesaikan apa yang sudah kamu mulai). Di antaranya menyelesaikan tulisan seri Flashback ini meski sempat vakum blogging dua kali, total selama 1.5 tahun, dan juga merapikan gigi.
Waktu kecil gigi saya awalnya baik-baik saja. Kemudian seiring waktu saya punya kebiasaan memaksakan diri menggigit makanan bertekstur keras tanpa dipotong-potong terlebih dahulu seperti apel, jambu batu, dan permen bertekstur keras. Saya menggigit makanan keras tersebut dengan gigi depan atas dan bawah. Penyebab lainnya mungkin kondisi awal gigi saya memang kurang stabil sehingga mudah bergerak atau berubah posisi. Waktu itu saya tidak merasa ada yang aneh dengan gigi saya, tapi orang tua kelihatannya memperhatikan hal ini, sehingga memutuskan agar saya pakai kawat gigi.
Saat itu saya berumur 10 tahun, masih SD, sekitar tahun 84-85. Di zaman itu belum ada dokter gigi spesialis ortodontis di Cianjur, jadi saya diantar Ayah pergi ke Bandung, tepatnya ke poliklinik gigi di Universitas Padjadjaran Bandung. Siapa sangka di kemudian hari saya malah kuliah di universitas tersebut. Saya lupa persisnya tapi poliklinik gigi ini kelihatannya berada di bawah naungan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran.
Masalah di gigi saya waktu itu adalah 2 gigi depan atas tidak rata, yang satu terlalu ke depan. Selain itu 4 gigi depan bawah berjejer seperti jalur zigzag, bukannya melengkung seperti kurva. Saya ingat semua proses kawat gigi tersebut. Ada 2 gigi samping atas yang dicabut untuk memberi ruang ke gigi depan yang akan digeser. Kemudian cetak rongga mulut, dilanjutkan dengan pengepasan, belajar cara pasang/lepas/perawatan, dst.., dst.. Sampai akhirnya si kawat gigi bisa nangkring dengan pas di geraham atas. Ini ceritanya saya pakai kawat gigi yang bisa dilepas sendiri seperti gambar di bawah ini, bukan yang permanen.

Redwood-City-Retainers-Services

sumber: Google

Saya memakai kawat gigi ini sekitar 6 bulan. Selama itu pula saya jadi pusat perhatian karena waktu itu tak ada orang lain di sekitar saya yang memakai kawat gigi. Bagaimana rasanya pakai kawat gigi..? Ya menderita.., terutama di satu bulan pertama, namanya juga “pemaksaan” gerakan. Dalam jangka waktu 6 bulan tersebut saya kontrol ke klinik di Bandung, awalnya 1 kali seminggu, kemudian 1 kali sebulan. Setelah 6 bulan selesai dengan gigi geraham atas, seharusnya lanjut dengan gigi geraham bawah. Tapi apa daya saat itu anggarannya tidak mencukupi. Hasil dari tahap pertama itu awalnya cukup memuaskan. Dua gigi depan tampak rata meski tidak 100% rata satu sama lain. Namun seiring waktu, dua gigi depan tersebut bergerak lagi ke posisi semula, meski tidak separah posisi awal sebelum pemakaian kawat gigi.
Singkat cerita, 25 tahun kemudian di tahun 2010, saya ingin pasang kawat gigi lagi terutama untuk gigi geraham bawah yang sama sekali belum diperbaiki. Tapi lagi-lagi ada kendala teknis. Saat itu saya tinggal di Sangatta, seingat saya belum ada dokter gigi spesialis ortodontis di sana. Kemudian waktu saya dan M sedang berlibur di Australia, akhirnya saya pasang partial denture di sebuah klinik gigi di Townsville, kira-kira seperti contoh gambar di bawah, ini untuk gigi geraham bawah.

partial-denture

Sumber: Google

Bagi saya partial denture ini berfungsi untuk menjaga posisi gigi yang ada agar tidak bergerak lagi. Saat itu ada satu rongga gusi tanpa gigi di geraham bawah karena giginya sudah tanggal. Berbeda dengan braces atau kawat gigi yang memerlukan konsultasi rutin lanjutan, partial denture ini tidak perlu, setidaknya tidak dengan kasus saya. Sejak saat itu saya pakailah partial denture tersebut sampai kami tinggal lagi di Indonesia tahun 2012. Saat itu saya perhatikan posisi gigi depan bawah masih sama (berantakannya). Sementara gigi depan atas berubah posisinya, yang satu menjadi lebih ke depan. Jadi saya putuskan untuk ke dokter gigi lagi untuk pasang kawat gigi.
Kali ini saya pergi ke dokter gigi spesialis ortodontis di Cianjur. Dokter ini belum ada sewaktu saya pasang kawat gigi pertama kali di tahun 80an. Prosesnya mirip saja dengan yang sebelumnya, foto rontgen rongga mulut juga dilakukan untuk memastikan posisi gigi geliginya. Selain itu tak ada gigi yang perlu dicabut. Kawat gigi yang dipasang sudah modern bentuknya. Awalnya geraham atas yang dipasangi kawat gigi, beberapa minggu kemudian geraham bawah. Satu bulan pertama pemakaiannya benar-benar tidak nyaman, terutama ketika makan. Alhasil, berat badan turun 2 kg. Namun lama kelamaan jadi terbiasa. Saya tak begitu ingat persisnya, tapi tipe kawat gigi selama 6 bulan pertama itu berbahan metal semua, termasuk bantalan dan pengikatnya yang menekan gigi. Setelah itu dokter memasang kawat gigi yang bahannya lebih ringan, mungkin bantalan dan/atau pengikatnya terbuat dari plastik atau silikon dengan warna yang bisa dipilih. Dokterku ini sempat tanya: “Mau ganti warna, Bu Emmy..?” Saya yang tidak ngeh dengan warna warni tersebut heran.., ganti warna apanya..? Setelah dijelaskan, saya tertawa geli dan bilang: “Waduh, Dok.. Buat saya yang warna netral saja.. Malu sama umur kalau pakai yang warna warni..hehehe..”
Saat itu umurku 37 tahun, dan kelihatannya saya adalah pasien tertua di klinik ortodontis tersebut untuk urusan kawat gigi.., yang lain saya lihat ABG semua, atau maksimal anak kuliahan.. Jadi terbayang betapa saya akan jadi perhatian publik lagi jika memakai kawat gigi warna warni seperti para ABG tersebut..hahaha..
Kawat gigi untuk orang dewasa memang tidak lazim, tetapi bukannya tidak bisa. Setahu saya, ada beberapa penyebab orang dewasa perlu pakai kawat gigi (lagi). Gigi dapat bergerak seiring bertambahnya usia, misalnya karena cedera, karena adanya kondisi khusus yang disebut tongue thrust, atau memang demikianlah si gigi tumbuhnya. Ada sebagian orang dewasa awalnya bergigi rapi tapi di kemudian hari jadi bengkok atau berdesakan. Mereka ini mungkin akan mengalami sakit rahang, kesulitan dalam membersihkan giginya, atau hanya sekedar senyum yang kurang elok.
Orang dewasa lainnya memakai kawat gigi karena giginya dari awal memang tidak rapi tetapi dulu sewaktu bertumbuh, orang tua mereka tidak punya anggaran untuk itu. Sementara ada juga yang memang baru punya kesempatan (waktu, biaya, klinik yang tepat) untuk memakai kawat gigi ini di saat sudah berusia dewasa.
Selain itu, meski di masa kanak-kanak pernah memakai kawat gigi seperti saya, tetapi jika tidak ditindaklanjuti sesuai rekomendasi dokter, maka posisi gigi dapat bergerak lagi. Biasanya setelah penggunaan kawat gigi permanen selesai, kita harus teruskan dengan pemakaian kawat gigi retainer secara rutin.
Meski kawat gigi bisa efektif di usia berapa pun, namun jika dipasang saat usia dewasa bisa memakan waktu lebih lama untuk melihat hasilnya. Saya sendiri memakai kawat gigi permanen ini sekitar satu tahun, kemudian dilepas. Setelah itu dilanjutkan dengan kawat gigi retainer untuk gigi atas, dan lingual braces (kawat gigi tersembunyi) serta partial denture untuk gigi bawah. Kawat gigi retainer sifatnya lepas pakai dan dipakai saat tidur malam saja. Lingual braces sifatnya permanen. Partial denture juga bersifat lepas pakai tapi dipakai di siang hari saja, kebalikan dari kawat gigi retainer. Rekomendasi dokterku adalah untuk terus memakai 3 item tersebut sesuai cara pakainya agar gigi yang sudah terposisikan dengan rapi tidak bergeser lagi, selain itu juga kontrol 6 bulan sekali. Jadi sampai sekarang pun di tahun 2017 ini saya masih pakai kawat gigi lanjutan tersebut. Sejauh ini total biaya untuk kawat gigi tersebut sekitar 17 juta rupiah, sudah termasuk biaya konsultasi/kontrol.

CD_retainer_640

Contoh lingual braces. Sumber: Google

Saya perhatikan di Indonesia, orang dewasa, terutama perempuan, yang memakai kawat gigi itu tampaknya hal biasa. Tapi di Australia saya belum pernah melihat orang dewasa yang memakai kawat gigi, kecuali kalau mereka pakai kawat gigi tersembunyi ya.. Pernah sewaktu di bandara Brisbane sekitar akhir tahun 2012, saya sedang membeli sesuatu di toko, tiba-tiba sales person toko tersebut (wanita) tanya soal kawat gigi saya. Kami jadi membahas kawat gigi. Rupanya si ibu ingin sekali pakai kawat gigi karena giginya tidak rapi (menurut dia), tapi malu. Katanya, masa sudah ibu-ibu pakai kawat gigi. Tapi kemudian setelah melihat saya pakai kawat gigi (dan tampak nyaman saja), dia terpikir kenapa tidak pakai kawat gigi.
Pakai kawat gigi terutama yang dipasang di sisi luar memang bisa bikin tidak pede saat tersenyum. Tapi saya tak ambil pusing soal itu. Kalau ingin tersenyum lebar ya senyum saja. Makanya di hampir semua foto, kawat gigi saya selalu terlihat karena saya cenderung tersenyum lebar kalau di foto (kecuali untuk pasfoto tentunya). Justru kalau saya mingkem, mulut saya malah jadi tampak aneh, seperti kembung tak jelas. Lihat saja dua foto di bawah ini, yang satu tutup mulut, yang satu senyum lebar. Tapi namanya orang ‘kan beda-beda, ada yang lebih PD tersenyum kecil saja supaya kawat giginya tak terlihat, ada juga yang “senyum mah senyum aja”, seperti saya..hehehe..

Dan demikianlah cerita tentang kawat gigi saya (yang tidak warna-warni itu..hehehe)

Bersambung…
Episode sebelumnya: (054) Rencana-rencana..

Advertisements

7 thoughts on “(055) Mau yang warna-warni..?

  1. Pingback: (056) Komentar tak terduga.. | Crossing Borders

  2. namanya Rumah Sakit Gigi dan Mulut Unpad mbak, tapi orang sini biasa sebut RSGM Unpad/Sekeloa. Sekeloa itu nama daerahnya. dekat dari tempatku. Aku domisili di Bandung juga daerah Dipati Ukur.

    Salam kenal mb Emy, pembaca lama tapi baru komen ini. tergugah dengan prinsipnya “Finish what you started” karena aku juga berencana menyelesaikan cerita traveling yang belom lanjut. hihihi

    Liked by 1 person

    • Hai, Indah.. Salam kenal juga.. Makasih banyak udah jadi pembaca setia blogku😊 Makasih juga udah kasih info lebih detil tentang RSGM itu.. Baru tau ternyata itu rumah sakit ya statusnya, bukan sekedar poliklinik..
      Ayo coba dilanjutkan cerita traveling-nya.. Siapa tau jadi penggugah semangat buat jalan-jalan terus..😃

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s