(056) Komentar tak terduga..

Sebagai perempuan yang punya pasangan seorang WNA, sudah tak terhitung banyaknya komentar yang dilontarkan ke saya karena hal ini atau mengenai hal ini. Padahal di kehidupan sehari-hari saya jarang membahas tentang M. Tapi begitu orang tahu, pasti dikomentari. Saya yakin para pelaku pernikahan campuran lainnya juga banyak menerima komentar tersebut. Dari yang paling umum sampai yang paling spesifik, dari yang sopan sampai ke yang kurang ajar. Dari sekian banyak komentar yang saya pernah terima, ada satu yang tidak saya duga, tapi setelah dipikir-pikir, mungkin masuk akal juga.

Suatu hari menjelang akhir tahun 2012, saya menghadiri acara kantor M yang juga dihadiri oleh istri/suami dari para karyawan. Seperti biasa karena sudah kenal banyak karyawan dan pasangannya, saya mengobrol ngalor ngidul dengan banyak orang. Sampailah saya ke kumpulan ibu-ibu istri karyawan (semuanya orang Indonesia). Kami berbicara tentang hal-hal umum saja awalnya. Kemudian satu persatu mereka berpamitan karena acara sudah selesai. Tinggal satu orang yang masih mengobrol dengan saya. Dia ini usianya sudah agak senior, mungkin pertengahan 50an menjelang 60 tahun. Karakternya ramai dan suka bercerita. Kemudian si ibu tersebut bertanya-tanya soal M. Awalnya pertanyaan/komentar standar saja: Ketemu di mana..? Sudah berapa lama menikah..? Pak M itu satu divisi sama Pak A, ‘kan..? dst..dst..
Kemudian dia bilang begini: “Baguslah, Mba.. Suaminya bule.. Setidaknya kalau bercerai, lumayan dapat 30 jutaan per bulan..”
Selama beberapa detik saya tidak yakin bagaimana harus menanggapinya.. Akhirnya saya berkata: “Mm.., maksudnya, Bu..?”
Dia pun menjelaskan: “Saya punya tetangga, menikah sama bule, eh ternyata gak awet.. Cerai deh mereka.. Anaknya 2 orang ikut ibunya tinggal di Balikpapan.. Mantan suaminya balik ke negaranya Australia, tapi tiap bulan selalu mengirim uang buat anak-anaknya.. Tigapuluh juta sebulan lumayan banget loh, Mba.. Kalau kerja biasa mana ada yang kasih gaji segitu..”
Dan sambil tersenyum-senyum saya berkata: “Tapi kan tujuan saya menikah bukan untuk bercerai, Bu..”
Lalu si ibu memberikan klarifikasi: “Pastinya gak dong, Mba.. Semua rumah tangga pasti ingin langgeng dan bahagia.. Cuma menurutku jika mantan suami tetanggaku itu orang lokal, belum tentu bisa kasih segitu.. Atau malah sama sekali gak bertanggung jawab.. Banyak contohnya, Mba.. Aku kasihan kalau lihat perempuan yang harus banting tulang sendiri membiayai anak-anaknya, sementara si mantan suami pergi begitu saja, bahkan mungkin kawin lagi tanpa peduli anak-anaknya yang masih perlu biaya..”
Sepulang dari acara tersebut, saya jadi terpikir terus perkataan si ibu. Bukannya apa-apa.. Hanya merasa bahwa meski awalnya terkesan “vulgar”, namun omongannya mengingatkan saya akan kenyataan lain. Ada beberapa keluarga dan teman perempuan yang menjanda, kemudian harus banting tulang sendiri menafkahi anak-anak mereka yang masih di bawah umur karena mantan suami (yang mana adalah ayah dari anak-anak tersebut) tidak mau atau tidak bisa memberikan tunjangan untuk anak-anaknya. Ada yang berhasil bangkit dari kesulitan ekonomi, ada juga yang masih terpuruk. Saya jadi bertanya-tanya, di Indonesia adakah undang-undang atau peraturan untuk melindungi hak anak dalam kondisi tersebut? Saya yakin ada, yang perlu dicek lagi mungkin penerapannya.
Yang saya tahu di Australia, anak-anak di bawah umur secara finansial merupakan tanggung jawab kedua orang tuanya, terlepas dari kondisi hubungan orang tua tersebut. Pengaturan yang umumnya dilakukan jika orang tua berpisah, anak-anak yang masih di bawah umur ikut sang ibu, kemudian sang ayah memberikan tunjangan bulanan untuk anak-anak, yang diberikan melalui sang ibu (mantan pasangan sang ayah), besarnya sesuai kesepakatan semua pihak terkait. Hal ini ada peraturan/undang-undangnya sehingga kuat secara hukum. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada pelanggaran ya.. Mungkin karena payung hukum dan penegakan hukumnya jelas dan kuat, maka pelanggaran bisa diminimalisir.
Nah, kembali ke komentar si ibu tadi, yang kebetulan memang punya anak perempuan berusia dewasa.. Saya berusaha memahami sudut pandang dia. Sebagai seorang ibu yang punya anak perempuan, pasti dia ingin yang terbaik untuk anak perempuannya, bahkan jika yang dianggap terbaik itu harus diambil dari suatu kondisi terburuk. Begitulah kira-kira empati saya terhadap pernyataan dia itu.
Biasanya setelah menghadiri acara semacam itu, di sepanjang perjalanan pulang saya dan M saling cerita tentang obrolan kami dengan orang-orang. Tapi kali itu, spesifik untuk hal ini saya pikir ceritanya lain waktu saja. Waktu itu saya tidak yakin kira-kira tanggapan dia akan bagaimana. Beberapa waktu kemudian, ketika situasi dan kondisi dirasa tepat, akhirnya saya cerita juga soal komentar ini. Tanggapan M positif saja, maksudnya dia paham mengapa si ibu sampai berpikiran seperti itu..
Nah, kalian yang punya pasangan WNA, pernah dapat komentar tak terduga juga..? Atau sengaja tidak sengaja pernah mengomentari orang lain dengan pernyataan tak terduga semacam ini..?

Bersambung…
Episode sebelumnya: (055) Mau yang warna-warni..? 

 

Advertisements

22 thoughts on “(056) Komentar tak terduga..

  1. Kemarin, baru kemarin malam. Saya ketemuan dengan teman yang bawa temannya lagi, saya nggak kenal. Orang ini (sebut aja si A) juga nikah dengan bule… terus saya ditanyain kok ga buat prenup, ntar amit2 cerai gimana, anaknya ga bisa dibawa ke Indonesia dsb… ya maksudnya baik sih, cuma aku jawab aja Em, kalo aku emang ngga ada rencana pulang ke Indonesia. Kalaupun punya anak, nggak mau membesarkan anakku di Indonesia.

    Like

      • Nah gitu kan orang kadang suka tak terduga aja ngomongnya.., meskipun mungkin maksudnya baik.. Soal pilihan “gak bakal menetap di Indonesia” dengan alasan yg kamu tulis itu, aku ngerti banget, Mar.., kenapa kamu berpikiran begitu.. Meski sekali lagi, pasti ada orang yg pro dan kontra..hehehe..

        Like

      • Iya, balik ke pilihan masing2 Mbak. Aku kalo balik Jakarta, mikirnya terkungkung… ke mana2 di dalam mobil. M aku sampe bilang aku gede di Jakarta tp keluar rumah buat main sepeda aja nggak (dulu jaman takut diculik hahahaha) jd sama aja gede di gedung… rumah, tempat les, sekolah, mol deh. Aku maunya anakku ntar minimal bisa ngapa2in sesuka hati nggak takut keluar rumah sendiri, kayak maminya dulu. Ya begitulah kira2 kalo dipanjangin alasannya.

        Liked by 1 person

      • Bener banget, Mar.. Zaman sekarang hidup di kota macam Jakarta malah jadi kayak hidup dalam gelembung sendiri.. Aku juga untuk membesarkan anak lebih memilih di Oz, meski tentu ada konsekuensinya juga.. Tapi ya namanya juga hidup kan ya.. Tiap pilihan pasti ada konsekuensinya.. Selama kita siap mental, pasti kita bakal baik-baik aja.. Sukses selalu ya, Mar, dengan kehidupan di NZ-nya..

        Liked by 1 person

  2. Pingback: (057) Suntuk.. | Crossing Borders

  3. Kalau masalah komentar2 aneh aku sering terima. Tapi yang sampai saat ini aku sering bingung itu kalo ada yang nanya aku setiap bulan dikasih uang berapa sama suami, trus ditanya gaji suami berapa, trus dibilang kenapa musti susah2 kerja atau yg paling menjengkelkan kalau ditanya pendidikan terakhirku trus aku jawab lalu dikomen : kenapa kok kuliah tinggi amat, toh di sini ijazahnya susah ga akan kepake. Duh rasanya… sampai bingung komentar. Di sini banyak lho yg terang2an bilang di kasih uang berapa sama suami, suaminya gajinya berapa sebulan (diluar entah itu bener atau nggak ya). Aku ga pernah ikut kumpulan2 di sini, tapi adaaa aja yg nanya gitu sama aku klo pas ketemu. Sampai ditanya sudah traveling ke mana saja, mobil suami mereknya apa dll. Heran saya

    Liked by 1 person

    • Sekali lagi, makasih banyak udah berbagi cerita lagi.. Dan astagaaaa..!!! Itu komentar-komentar “luar biasa” banget ya..hahaha.. Gak ngerti apa pentingnya membahas “urusan dapur” orang lain atau mengumumkan “urusan dapur” sendiri sih.. Tapi aku pernah ditanya berapa gaji suami, aku jawab: tidak etis bertanya hal seperti itu. Trus orang yg nanya bilang bahwa saudaranya dia ada yg nikah sama bule, trus cuek aja bilang soal gaji.. Ya ampuuunnn.. Pantesan..

      Like

  4. Mbak Em, aku pernah dapat komen plus pertanyaan kepo, dan yang nanya pun teman perempuan lho “gimana rasanya urusan ranjang sama suami bule, trus itunya seberapa gede?” Kagetnya aku ya ampunnnnnnnnn, ini aku musti jawab gimana mbak Em😂😂aku cuma senyum-senyum aja, sambil tak jawab rahasia dapur ah, trus mengalihkan obrolan…..padahal bagiku sangatlah tabu untuk membicarakan urusan sex dengan suami ke orang lain, beneran deh amit2 nggak pernah……sangat amat amat privasi sekali😷
    Adapulak yang nanya “berapa Euro kirimanmu per bulan?” (Waktu sempat LDR sesudah menikah) aduh mbak Em, langsung kuajak makan rujak plus Bakso biar nggak nanya-nanya lagi😂😂#LOL

    Like

    • Makasih udah berbagi cerita di sini..
      Astaga..!! Mulut orang-orang itu ya.. Bikin tepok jidat.. Kalo aku jadi kamu dan dapat pertanyaan seperti itu, biasanya aku bilang baik-baik bahwa itu ranah pribadi.. Biasanya orang yang nanya jadi malu sendiri..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s