(057) Suntuk..

Memasuki tahun 2013 saya mendadak galau. Saya lagi pikir-pikir soal bekerja lagi atau tidak. Sejak kembali tinggal di Indonesia di tahun 2012, rencana utama saya dan M sebetulnya ingin punya anak. Tapi sampai saat itu belum terjadi. Mau melanjutkan ikhtiar melalui IVF juga mentok di kendala teknis (jarak, tempat, waktu).
Kemudian saya mulai dapat beberapa tawaran bekerja. Yang pertama dari mantan atasan di Sangatta, yang kedua dari seorang teman di Bandung, yang ketiga dari kenalannya seorang teman di Tangerang, yang keempat dari kenalannya teman di Balikpapan, yang kelima dari mantan atasan yang lainnya di Jakarta. Awalnya semua sangat menjanjikan. Setidaknya saya yakin bakal dapat salah satu dari empat tawaran itu. Tapi kemudian satu per satu tawaran kerja itu mundur karena berbagai hal. Umumnya karena proyek pekerjaan yang akan dituju jadi mundur jadwalnya.
Dari sisi saya sendiri, sebetulnya dilema juga jika benar-benar kembali “ngantor”. M waktu itu bekerja dengan jadwal 5 minggu kerja 2 minggu libur. Artinya selama 5 minggu berturut-turut dia ada di lokasi tambang, setelah itu libur selama 2 minggu, begitu seterusnya. Kami tinggal di kompleks perumahan karyawan di Sangatta. Jika saya bekerja di luar Sangatta, berarti kami harus tinggal terpisah. Belum lagi dengan jadwal kerja dia yang tidak biasa itu. Kalaupun saya bekerja di Sangatta, jadwal kerja kami tak akan pernah sama. Kalau saya bekerja lagi, kemungkinan besar jadwal kerjanya yang umum saja, 5 hari kerja 2 hari libur, atau 6 hari kerja 1 hari libur. Nah kalau sudah begini.., lalu apa kabarnya dengan program punya anak..? Duuuhh..
Dan entah kenapa.., di setiap tahapan kehidupan yang sedang dijalani, saya sering mendapat komentar tak enak hanya karena orang tersebut tidak sependapat dengan apa yang saya yakini baik untuk diri saya. Padahal seingat saya, saya tidak peduli apa pilihan hidup orang lain selama itu tidak menggangu hidup saya. Contohnya begini, dulu di umur 20-30an, waktu saya sedang jaya-jayanya berkarir, banyak orang di sekitar yang bilang: perempuan berkarir terus dan seperti lupa cari jodoh itu tidak baik, perempuan kalau tidak menikah dan punya anak itu tidak ada artinya, laki-laki akan takut mendekati perempuan yang terlalu tinggi karirnya, dll.., dll.. Nah.., ketika saya memutuskan untuk jadi “lady of leisure”, ibu rumah tangga yang tugasnya mengurus rumah tangga saja sambil sesekali “ngebolang”, ternyata tetap saja ada yang komentar tak enak seperti ini: tuh kan sudah sekolah tinggi-tinggi akhirnya di rumah saja, sayang sekali karir sudah bagus sekarang “hanya” jadi ibu rumah tangga, jadi perempuan itu kalau hanya mengandalkan gaji suami bakal susah jika ada apa-apa.., dll.., dll.. Lucunya.., banyak di antara mereka yang komentar dulu dan sekarang tersebut adalah orang yang sama. Jadi dulu waktu saya masih kerja, orang ini komentar negatif, ketika saya memutuskan berhenti bekerja, orang ini komentar negatif juga.. Bahkan ada satu orang yang bukan hanya berkomentar negatif, tapi juga melakukan apa yang dulu dia kritik terhadap saya: bekerja. Alasan kenapa dia jadinya bekerja, sementara dulu dia mengkritik saya yang bekerja: “Ya soalnya tuntutan hidup, Em.. Gaji suami tidak cukup ternyata..” Jadi seperti “menjilat ludah sendiri” kan..
Saya cerita ke M, rasanya saya selalu berada di grup sosial yang salah..hehehe.. M bilang, orang-orang yang berkomentar itu mungkin hanya iri karena saya selalu tampak bahagia terlepas dari apapun pilihan hidup saya.. Mmm.., masuk akal..
Tapi yang namanya perasaan suntuk itu masih ada.. Terus saya pikir-pikir.., harus melakukan sesuatu supaya tidak merembet ke arah mental breakdown alias suntuk bin galau tingkat dewa..
Akhirnya saya salurkan energi kegalauan ini ke olahraga. Harap dicatat, aslinya saya bukan orang yang suka berolahraga karena saya tidak suka keringatan. Tapi demi kewarasan otak dan kegembiraan jiwa saya lakukan juga. Masih ingat mensana in corpore sano, a healthy mind in a healthy body, di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat..? Olahraga yang saya lakukan adalah latihan cardio and strength (kekuatan jantung dan ketahanan otot) di gym, Zumba dan segala macam aerobic dance di rumah, berenang, dan jalan kaki. Semua ini saya lakukan sendiri secara bergantian, tanpa teman, tanpa pelatih. Kebetulan kompleks perumahan tempat kami tinggal punya gym/fitness centre sendiri. Jadwalnya setiap hari kecuali Minggu, dengan durasi 90 menit. Jadi saya anggap berolahraga ini seperti pergi “ngantor”. Hasilnya setelah 4 bulan.., suntuk berkurang banyak, berat badan berkurang sekitar 8 kg.. Saya pun tak punya banyak waktu lagi untuk memikirkan hal-hal tak penting. Lumayan positif..
Nah.., selain hal di atas.., kami juga punya beberapa rencana kegiatan sepanjang tahun 2013 tersebut.. Semuanya kebetulan di Australia. Nanti saya cerita di episode selanjutnya.. Yang jelas, saya baru ngeh, ternyata di 2013 tersebut lumayan padat jadwal kegiatan kami selama liburan di Australia tersebut.

Bersambung…
Episode sebelumnya: (056) Komentar tak terduga..

Advertisements

22 thoughts on “(057) Suntuk..

  1. Waahhh turun 8kg, kereenn. Soalnya turunnya dengan cara olahraga, jadinya berproses ya ga instan. Aku awal2 pindah juga sempat gamang Em. Membawa berjuta mimpi pengen kerja di sini dan di sana karena baru lulus kuliah juga waktu itu. Sempat keterima jadi guru matematika di sekolah Indonesia di bawah KBRI. Tapi setelah kupikir2 dan ada satu hal, akhirnya mengundurkan diri. Trus keterima kerja lagi di perusahaan asing, pas mau tanda tangan kontrak eh awalnya aku yg ngelamar parttime (karena waktu itu masih sekolah bahasa Belanda), mereka minta full time. Aku ga bisa. Akhirnya ga jadi. Trus setelahnya keterima lagi di tempat lain, mikir2 akhirnya aku mengundurkan diri. Sampai aku akhirnya bertanya2 sendiri sebenarnya aku maunya apa. Suami bilang, sebaiknya aku putuskan dulu maunya apa dan cari yg memang sesuai kata hati. Akhirnya sambil jalan waktu itu jadi sukarelawan di tempat kayak panti jompo gitu. Trus ga berapa lama ditawari jadi kerja parttime di sana. Sebenarnya ini bukan kerjaan yg kuingini, tapi aku sangat menikmati karena aku jadi belajar banyak hal yg baru yang melenceng jauh dari pengalamn kerjaku dan pendidikanku. Jadi akhirnya ini aku jadikan batu loncatan untuk ke selanjutnya, mudah2an bisa disambi sambil kuliah lagi.

    Liked by 2 people

    • Wah, Den.. Makasih banyak sudah berbagi cerita di sini.. Ternyata kamu mengalami juga masa-masa bimbang itu ya.. Berasa gimana gitu kan.. Pokoknya aku ngerti banget deh apa yang kamu tulis di sini.. Suamiku juga ngomong hal serupa, intinya sepanjang aku bahagia ya dia mendukung keputusanku.. Soalnya kata dia: happy wife happy life..hahaha.. Dan aku turut senang kalo kamu menikmati pekerjaan yg sekarang.. Semoga makin banyak membawa berkah ya.. Dan semoga cita-cita kuliah lagi segera terkabul.. Amiinn..

      Liked by 1 person

      • Amiiiinnn. Terima kasih doanya 😊
        iya, soalnya kan dulu mikirnya : ini sudah kuliah tinggi harus dapat kerja bagus nih di Belanda. Mana sebelum pindah kan aku sudah jadi dosen di tempat kuliah, melepaskan beasiswa s3 pula. Jadinya kayak semacam pengen membuktikan gitu (entah ke siapa) kalo aku pindah ke Belanda bisa dapat kerja bagus. Tapi lama2 aku mikir, apa iya aku mau kayak jaman2 muda yg ambisius banget sampai lupa yg namanya esensi kerja itu apa. Kayak robot yg duitnya dapat tapi perasaan semacam hampa gitu. Makanya akhirnya masuk tahun ke dua di sini, bisa menurunkan ego dan mengikuti kata hati. Menjalani apa yg aku senangi dan menikmati ritme hiduo. Toh pendidikan diperlukan bukan hanya untuk sekedar cari kerjaan, sebagai bekal hidup juga kan akan bermanfaat sampai kapanpun itu.

        Like

      • Iya bener banget, Den.. Aku juga pernah ada di masa itu.. Ego tinggi.., selalu haus akan validasi sosial.., selalu ingin membuktikan ke khalayak ramai.. Untungnya sekarang aku sudah lebih tenang dengan apa yang dimiliki, tanpa perlu terlalu banyak validasi sosial.. Istilahnya menjalani kehidupan yg low profile aja gitu.. Dan bener banget juga soal latar belakang pendidikan itu.. Ya memang idealnya di mata masyarakat pendidikan dan pekerjaan itu harus sesuai.. Tapi dunia kan tidak akan jungkir balik juga kalau kita menemukan kebahagiaan dan ketenangan jiwa di bidang lain..

        Like

  2. Aduh Em… yang komentarnya balik2 terus ga ada yg positive itu emang ya… ngeselin. Padahal ikutan andil dlm hidup juga nggak, cuma mulutnya aja yang bawel. Aku nih… kadang suntuk. Berasa kayak duit masuk, kerja sih juga biasa aja bukannya ga happy tapi nggak ikut passion dan hati. Ikutin passion aku lagi cari mana yang bisa balance sama lifestyle (salah satu passionku, masak2, nggak mendukung kehidupan sehari2 sih, dulu pernah dicoba) — kok malah aku jadi curcol di sini yah hehehehe

    Like

    • Gak apa-apa curhat, Mar.. Itulah gunanya kolom komentar..hehehe.. Gitu deh namanya kehidupan ya.., pasti ada momen galaunya biar kata “tinggal di luar negeri”. Keinginan kadang gak sejalan dengan kebutuhan.. Aku sering dikomentari juga karena sekarang tinggal di luar Indonesia: dikiranya semua indah dan gampang melulu ..hahaha.. Ada aja omongan..

      Like

  3. sebagian besar mslh seseorg yg bisq sampai jd mslh psikis sbtlnya adlh krn memikirkan mslh org lain….wah jd perempuan hrs pintar dan sekolah yg tinggi biar anak2nya jg pintar, bkn soal materi terus..

    Like

  4. Wahh Em aku juga lagi suntuk nih kan udah berenti kerja karena mau siap2 buat nikahan, pindahan, dsb.. kemarin berenti karena ada tawaran kerja freelance, tapi pas udah dijalanin ternyata nggak terlalu makan waktu banyak, jadi aku yg kebiasa sibuk sekarang banyak waktu luang dan jadi suka suntuk. Kata mamaku, latihan nanti kalau udah pindah ikut suami ahahaha.. masalahnya aku belum tau disana bisa langsung dapet kerja/nggak, full/part time, atau gimana. Tapi hikmah nya dari kejadian ini, aku jadi bisa spend time sama mamahku sebelum aku tinggal hehehe .. semua ada hikmah nya yaa kayak kamu juga hikmah jadi sehat dan turun berat badan! 😀 (maaf jd curhat hihihihi)

    Liked by 1 person

    • Makasih udah berbagi cerita di sini, Christa.. Gak apa-apa curhat, biar plong hati..😄 Dan begitulah tiap orang punya masa suntuknya masing-masing.. Semoga kamu udah gak suntuk lagi ya sekarang.. Mamamu senang dong bisa menghabiskan lebih banyak waktu sama kamu, apalagi kamunya mau tinggal jauh.. Tapi nanti pun jauh di mata dekat di hati ya..😉 Semangat, Christa.. Semoga sukses dengan segala rencananya..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s