Firasat.. (1)

Screen Shot 2017-08-22 at 9.53.17 pm.png

Saya tidak tahu persis istilah yang paling tepat untuk hal ini, tapi sejak lama saya punya  sesuatu yang mungkin terkait indera keenam. Saya sebut saja firasat atau hunch dalam bahasa Inggris, karena saya merasa itulah yang saya rasakan.  Firasat ini terkait dengan kematian seseorang. Bisa tentang kematian orang-orang terdekat atau orang yang pernah dekat, atau sekedar kenalan, atau orang yang tidak saya kenal sama sekali. Dan di tulisan ini, inilah pertama kalinya saya membicarakan hal tersebut secara terbuka. Saya enggan sebetulnya membahas hal ini karena pernah terkena masalah gara-gara membicarakan firasat ini. Nanti setelah setelah selesai membaca tulisan ini kalian akan tahu maksudnya.

Tapi baiklah.., dipikir-pikir mungkin bukan ide yang buruk jika saya tuliskan saja di sini. Siapa tahu bisa meringankan pikiran. Ya betul, meski jarang terjadi dan jarang mengingat-ingat, hal ini memang seperti bergulung-gulung di pikiran saya.

Pertama.. Saat itu saya berumur sekitar 13 tahun, masih SMP. Sepupu saya (laki-laki) menikah, dan pesta pernikahannya diadakan di sebuah gedung pertemuan di Cianjur. Semua keluarga diundang, termasuk keluarga saya. Kami sekeluarga datang ke pesta itu. Karena kami ini keluarga pengantin, jadi kami tidak mengisi buku tamu seperti tamu undangan umum lainnya. Kemudian saya perhatikan, tamu yang mengisi buku tamu mendapat suvenir cantik. Kata ibu saya, kalau mau suvenir, saya harus isi buku tamu. Dan itulah yang saya lakukan. Ketika antri di depan meja penerima tamu, di depan saya ada bapak-bapak, selintas saya perhatikan wajahnya, ternyata itu ayahnya sepupu saya alias bapaknya pengantin pria, kita sebut saja Om Aji. Dia ini sedang menuliskan namanya di buku tamu, saya jelas-jelas lihat dia tulis namanya “Aji”. Dengan polosnya saya pikir, Om Aji ingin dapat suvenir juga kah..? Terus saya berpikir lagi, katanya keluarga tidak perlu menulis di buku tamu, tapi Om Aji kenapa menulis di situ ya.. Anehnya, tidak terpikir oleh saya untuk menyapa si Om, padahal dia berdiri tepat membelakangi saya. Singkat cerita, saya dapat suvenirnya. Tak lama kemudian, kami sekeluarga pulang. Di rumah, Ayah dan Ibu membicarakan pesta tersebut, bicara yang umum saja. Saya tak tertarik dengan isi pembicaraan tersebut, sampai Ayah saya bilang begini: “… sayang Kang Aji (bapaknya pengantin pria) tak sempat melihat anaknya menikah..” Dengan polosnya saya langsung nyeletuk dong: “Om Aji ada koq, tadi aku lihat di meja tamu..” Ayah dan Ibu saya langsung bengong. Lalu mereka menjelaskan dan mengingatkan saya bahwa Om Aji sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Giliran saya yang bengong. Dan tiba-tiba saya ingat momen ketika si Om meninggal. Saya tahu dan ingat bahwa Om Aji sudah meninggal, tapi di pesta itu sampai pulang ke rumah, entah kenapa memori bahwa si Om sudah meninggal itu seolah-olah menghilang dari otak saya. Sampai sekarang saya tidak tahu siapa sebetulnya yang saya lihat di pesta itu.

Kedua.. Saat itu saya berumur 15 tahun, sudah SMA. Tante saya sakit parah,  dia mengidap diabetes yang sudah merambat ke mana-mana. Ayah dan saya menengok tante yang sedang dirawat di rumah sakit di Bandung. Saat itu tante tampak terbaring tak berdaya, dia harus merelakan beberapa jarinya diamputasi karena diabetes yang parah. Saya tidak tahu saat itu dia tidur atau sudah tak sadarkan diri. Kami hanya boleh melihat dari balik kaca jendela ruang perawatan. Ketika berada di ruang tersebut, sesuatu seperti berbisik di otak saya: “Moal lami deui..(tidak akan lama lagi..)”. Malam harinya di rumah, di dalam tidur saya bermimpi didatangi tante ini. Dia berkata: “Sing sholeh, sing bageur nya, Neng..(Jadi anak sholeh dan baik ya, Neng..)” Keesokan harinya, kami dikabari bahwa tante meninggal pagi itu..

Ketiga.. Saat itu saya berumur 19 tahun, sudah kuliah di Bandung. Ketika libur kuliah, seorang teman kuliah, sebut saja A, mengajak berlibur di rumahnya di Jakarta. Saya tentu saja senang. Saat itu ibunya teman ini sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Saya pun diajak teman untuk menjenguk ibunya. Di rumah sakit, begitu saya bertatap muka dengan ibunya itu, saya dapat bisikan itu lagi, bisikan yang saya dengar beberapa tahun sebelumnya: “Moal lami deui..(tidak akan lama lagi..)” Saya berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran itu tapi tidak bisa. Beberapa hari kemudian, ibunya A itu meninggal. Karena hal ini, A absen kuliah beberapa minggu. Saya dapat kabar ibunya meninggal dari teman kami yang lainnya, sebut saja si B. Dengan polosnya saya bilang ke B, bahwa saya bisa lihat ibunya kemungkinan tidak akan mampu bertahan lama. Ketika si A masuk kuliah lagi, tiba-tiba hampir semua teman kuliah yang perempuan termasuk si A dan B menjauhi saya. Mereka menjauhi saya selama hampir satu semester. Saya heran dan sedih, tapi saya tak berani bertanya-tanya. Sampai akhirnya ada satu teman perempuan yang tampaknya netral saja, kasih tahu saya bahwa omongan saya tentang ibunya A (yang saya bilang ke B), disampaikan ke A oleh B, dan ditafsirkan negatif oleh mereka berdua, sehingga mereka mengajak semua teman sekelas untuk menjauhi saya. Saya dapat pelajaran berharga di sini: hati-hati berkata-kata.

Keempat.. Ini tentang Ayah saya sendiri. Pernah saya tuliskan di post ini.. Saat itu di Jakarta, di suatu pagi di bulan Agustus 2008, saya terbangun dari mimpi yang tidak biasa. Di mimpi itu Ayah menjemput saya dari tempat kos, kemudian beliau membawa saya jalan-jalan. Di dunia nyata sebetulnya ini hal yang biasa beliau lakukan ketika saya masih kecil. Yang tidak biasa, di mimpi itu Ayah tampak sangat muda seperti berumur 20an.., kami berdua mengenakan baju putih atas bawah, dan meskipun di sini saya menyebutnya  “jalan-jalan”, sesungguhnya kami lebih seperti melayang-layang di udara. Selain itu, kami rasanya juga bercakap-cakap tapi tanpa suara, jadi seperti telepati. Setelah acara “jalan-jalan” itu, beliau mengantarkan saya kembali ke tempat kos, lalu kami saling tersenyum dan mengucapkan selamat berpisah, lagi-lagi lewat telepati. Kemudian saya terbangun dari mimpi itu. Saya merasa “sesuatu” akan terjadi. Kemudian saya bergegas dan pergi bekerja seperti biasa. Setelah satu jam berada di kantor, atasan saya datang ke ruangan saya, dan secara perlahan tapi jelas berkata: “Emmy, ibumu baru saja telpon. Beliau bilang kamu harus segera pulang ke Cianjur saat ini juga”
Saat itu juga saya tahu..: Ayah saya, pria penggila peta dunia itu, orang yang membuat saya tahu bahwa dunia itu luas sekali, telah berpulang ke haribaan-Nya. Sebelumnya beliau sakit stroke parah selama 5 tahun, namun berhasil sembuh perlahan-lahan. Tetapi kondisi beliau selama 3 bulan terakhir di hidupnya sering naik turun. Seminggu sebelum Ayah meninggal, saya bilang ke beliau bahwa minggu depannya saya akan pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya. Saya mau mulai melihat dunia yang biasanya beliau tunjukkan melalui peta. Waktu itu saya mau berlibur sendirian saja ke Vietnam. Beliau merespon dengan menggenggam tangan saya, kemudian tersenyum. Itu saja. Dan di hari ketika beliau meninggal, akhirnya saya mengerti arti mimpi itu.. Beliau mengucapkan selamat tinggal sekaligus selamat jalan.. Beliau pasti tersenyum lebar seandainya tahu sudah “ngebolang” ke mana saja saya sejak saat itu..

Bersambung..

 

Advertisements

13 thoughts on “Firasat.. (1)

  1. Pingback: Firasat..(2) | Crossing Borders

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s