Bear Pundung..

Pundung adalah satu kata dalam Bahasa Sunda yang artinya merajuk.

Jadi ceritanya si Bear ini dalam hal menunjukkan emosi sudah masuk ke tahap ini. Mungkin pernah dengar istilah atau julukan tentang tahapan emosi negatif anak usia 2-3 tahun, mulai dari sekedar upset/angry (kesal/marah), temper tantrum (mengamuk), terrible two (berulah tapi tak jelas apa maunya), atau being sulky (cemberut, bete, menolak semua yang ditawarkan). Mungkin kata sulky ini yang paling dekat ke pengertian pundung/merajuk. Kelihatannya ini bukan istilah/definisi ilmiah, tapi lebih ke arah untuk penjelasan situasi saja.

Nah si Bear sejak masuk usia 2 tahun makin rajin ngadat (tantrum dalam bahasa Sunda), yang seringkali diiringi pundung/merajuk. Gaya tantrumnya standar, awalnya menangis kemudian menjerit-jerit sambil meronta, setelah itu biasanya melemparkan diri (baca: tiarap/telungkup) di permukaan datar terdekat seperti karpet, kursi sofa, tempat tidur, lantai, atau sekedar permukaan tanah.

Awalnya saya selalu berusaha menenangkan dia begitu tangisan pecah, tapi ternyata strategi ini kurang efektif karena Bear kelihatannya merasa makin diakomodir tantrumnya, makin lama mengamuknya karena merasa di atas angin. Kemudian saya ganti strategi. Saya tidak tanggapi saja sekalian. Maksudnya begini, begitu dia berulah saya bilang “No” sampai 3 kali. Kalau masih berulah juga, ya sudah saya diam, biarpun dia menjerit-jerit sekalipun. Paling kalau sedang di rumah, begitu sampai ke tahap menjerit-jerit, saya bawa dia ke kamarnya, biar dia melepaskan energi marahnya dulu di situ. Paling banter dia lanjut melemparkan dirinya ke atas kasur. Biasanya tak sampai dua menit, dia diam, kemudian keluar kamar sambil senyum-senyum lagi. Terus saya tanya dia: “Sudah selesai marahnya, sayang..?” Dia paling cengengesan tak jelas..hehehe..

Nah belakangan ini dia meningkat ke tahap merajuk. Biasanya dia pakai cara ini jika kami sedang berada di tempat umum atau di luar ruangan. Heran.., tahu saja ini anak mana momen yang tepat untuk “menguji” mental orang tuanya..hehehe..

Ada beberapa kejadian merajuk sejauh ini..

Pertama.. Di bandara Ngurah Rai Denpasar, Bali. Perjalanan Denpasar ke Townsville. Saya berdua saja dengan Bear karena M harus pulang duluan. Waktu itu Bear marah karena dia masih ingin bermain-main di arena bermain, sementara kita harus segera naik pesawat. Dia menangis dan menjerit-jerit, kemudian tengkurap sambil sesenggukan di lantai bandara, di tengah arus orang yang bergegas menuju gate keberangkatan. Kami berdua sama-sama lelah, sudah tengah malam, dan saya tak punya waktu banyak untuk meladeni rajukannya. Risiko ketinggalan pesawat bukan hal yang enak didengar kan.. Akhirnya saya pangku saja dia. Itu benar-benar perjuangan yang melelahkan karena Bear itu beratnya sekitar 16 kg, ditambah 1 ransel, dan 1 tas selempang, anaknya meronta-ronta pula, harus jalan cepat sekitar 300m, berasa lama sekali itu jalan. Sesampai di kursi pesawat, saya dan Bear sama-sama harus ganti baju atas karena basah oleh keringat.

Kedua.. Dilarang pakai mesin pemotong rumput.. Saya lagi potong rumput, dan seperti biasa Bear ingin berpartisipasi. Saya minta dia menonton saja, tak perlu ikutan pegang mesin.. Ehh..marah besar dia, tantrum deh.. Merasa tak ditanggapi tantrumnya, akhirnya Bear merajuk dengan cara telungkup di tengah-tengah halaman yang rumputnya sedang saya potong pakai mesin.. Ada sekitar 10 menit mungkin dia unjuk rasa begini. Akhirnya bosan sendiri, kemudian lari-lari mengejar burung-burung liar. Dasar bocah..

Bear unjuk rasa di depan mesin potong rumput..

Ketiga.. Diminta memindahkan mainan ke teras.. Ini di kali berikutnya saya potong rumput. Kali ini dia tahu saya tak akan izinkan main-main dengan mesin potong rumput. Jadi dia bawa banyak mainan ke halaman rumput. Saya minta mainnya di teras dulu atau di permukaan beton, kan halamannya sedang dirapihkan. Yaelah marah lagi dong, tantrum lah sudah (plus mengantuk juga sebetulnya, disuruh tidur siang tak mau). Hasilnya, dia “tiarap” lagi di teras, sampai ketiduran di situ. Dia sama sekali tak terganggu dengan suara mesin yang lumayan kencang. Tapi akhirnya bangun juga karena angin kencang setelah sekitar 10 menit terlelap. Saya bawa dia ke kamarnya, marah lagi, tapi tak tak lama kemudian ya tidur..hehehe..

Bear unjuk rasa sampai ketiduran di teras belakang..

Keempat.. Naik bus kurang lama.. Jadi pernah suatu waktu saya ajak Bear keliling kota naik bus kota. Sekedar iseng jalan-jalan dari mal ke mal. Lumayan lama perjalanan bus ini, sekitar 2 jam pulang pergi. Bear tampaknya sangat menikmati “petualangan” kecilnya tersebut. Nah di kali berikutnya kami naik bus kota lagi tapi kali ini sekedar perjalanan singkat dari tempat Day Care ke rumah karena hari mulai hujan dan gelap pula, sudah sekitar jam 18:30. Selain itu kami berdua sedang flu juga. Saya nyaris putus asa menunggu bus yang entah kenapa telat datangnya, si Bear mulai berulah tak sabar. Nyaris panggil taksi, tapi akhirnya datang juga itu bus. Berhubung jarak dekat, perjalanan kali ini cuma 2 menit. Begitu tiba di halte bus depan komplek rumah, Bear meronta-ronta tak mau turun. Saya harus pangku dia keluar dari bus. Drama belum berakhir, Bear tak mau pergi dari halte bus. Dia telungkup di kursi halte sambil teriak-teriak.. “Naaahhhh..!! Naaaahhh!!..Baaaaasss..!!. Baaaassss…!! Baaacckkkk…!!! (“No..No.. Bus.. Bus.., come back.., maksudnya).

Bear unjuk rasa di halte bus…

Dan dia beneran merajuk di kursi halte itu selama 15 menit, tiarap begitu saja di kursi dalam keheningan.. Oh dear… Masa iya saya tinggalkan saja ini bocah di halte bus.. Ya sudahlah, hujan makin lebat, biarpun sangat lelah, saya pangku dia dan berjalan secepat mungkin ke rumah yang jaraknya sekitar 400 meter dari halte.. Langsung pegal-pegal badan karena seiring waktu Bear tidak tambah ringan ternyata, plus ditambah efek meronta-ronta. Sampai rumah, dia langsung minta susu, menonton kartun kesukaannya, dan lupa begitu saja sama si bus tadi.. Yaelah..

Dan demikianlah cerita Bear kali ini.. Tak sabar menantikan “uji kesabaran” selanjutnya persembahan dari Bear..hahaha..

Terima kasih sudah membaca post ini..

Advertisements

47 thoughts on “Bear Pundung..

  1. mbak Emm, aku mau komen oot dulu : rumput rumahnya bagus bener. hijaauuu.

    bear lucu ya, sampe goler goler di halaman gitu. ini kalo diceritain berasa lucu, kalau pas kejadian berasa gemes gak sih mbak ngadepin anak tantrum ? hehehe.

    Liked by 1 person

  2. haahaha.. anak2 memang ada aja tingkahnya ya..
    waktu saya ngajar dlu karena saya dapatnya di kelas Kindy yang notabene berisi anak dari umur 18bulan sampai 3 tahun tiap hari ketemu aja sama anak yg tantrum, saya juga pake strategi yang sama..
    di biarkan aja anknya sampai tenang sendiri 😀

    Liked by 1 person

  3. Ya ampuuuunn Beaarrrr lucuuu bgt itu aksi tiarapnya di mana-mana. Tp ya di situ si kita diuji mentalnya hahaha.. Pas kejadian beuuuhh… Pas udah difoto dan diceritakan baru kerasa lucunya..

    Liked by 1 person

  4. Kalau anakku dulu berbaring dilantai spt Bear sambil jedotin kepalanya lantai, makin dilarang makin dibuat, yasud dibiarkan saja, sampai emosinya keluar semua. Klo dijalanan aku bopong anakku, taruh badannya lurus dipundakku, klo dipangku ga tahan aku, si bocah meronta-ronta dan bbrp kali ngegigit haha. Sdh lewat masa2 tsb, usia 3 tahun makin sedap lagi ceritanya ujian kesabarannya 😀 .

    Liked by 1 person

    • Astaga jedotin kepala..??? Gak sakit/luka kah itu..? Aku kalo bopong malah gak kuat, lebih kuat gendong sambil dipeluk erat-erat biar gak melorot.. Oh ya si Bear suka gigit juga tapi pas lagi becanda, bukan lagi marah.. Iya nih ntar umur 3 tahun ganti lagi tantangannya.. Hmmm..

      Liked by 1 person

  5. Hahaha ..lucu liatnya. Tp yg mak2 ngalamin anaknya begini pasti mesem2. Aku biasa kl bocil sdh ngambek mogok jalan bilang konsekuensi mogok jalan ya akan ditinggal (pas jln kaki). Kasus yg lain cuma bilang “ok selamat mogok” –dan berusaha bersenang2 dg hal lain.Pokoknya jgn kebawa kesel. Biasanya langsung reda beberapa saat.. bocil rata2 cuma ngetes ketangguhan kita 😑whos the boss gitu

    Liked by 1 person

    • Hahaha😝”untung gak kembar 3”
      Kalo lagi rungsing begini emang “untung gak kembar tiga”, tapi kalo lagi manis suka mikir.., hmmm..seandainya embryo yg 2 lagi jadi bayi pasti asyik nih..
      Aamiin makasih doanya, Rahma.. Semoga kamu sekeluarga sehat selalu ya..

      Like

  6. Duh jadi ingat salah satu si kembar ada yg pernah ngadat di trotoar waktu umur 2 tahunan, sampe ada orang yg lewat ikut ngebujuk anakku yg lg nangis, ga berhasil bujuk eh dia ngeluarin uang 50 cent, eh si cahaya langsung diem nangisnya trus mau jalan lg menuju rumah. Hahaha.
    Banyak sabar ya bu 🙂

    Liked by 1 person

  7. Pingback: Di-Like Blogger Asing, Is This Spammer? – let's make it extraordinary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s