Teman orang Indonesia..

Beberapa waktu yang lalu saya dan Inly saling komentar di post-nya Inly tentang rekan kerja yang kemudian merembet ke topik kumpulan pertemanan sebangsa senegara. Karena hal ini, saya jadi terpikir, siapa saja orang Indonesia yang pernah saya temui di Australia. Ternyata.., hanya 6 orang..hahaha.. Takjub sendiri, “irit” banget..

Saya bolak-balik Indonesia-Australia sejak hampir 10 tahun yang lalu. Sejauh ini cuma ada 6 orang Indonesia yang pernah saya jumpai di Australia. Dari semuanya itu tak satu pun yang benar-benar berteman dekat. Bukan karena hal buruk, tapi lebih karena alam semesta tak mendukung (baca: tak berjodoh aja gitu..). Nah.., karena sedikit, saya lumayan ingat tentang mereka. Saya mau cerita sedikit saja tentang mereka ini. Ini dia..(nama disamarkan..):

Yuli.. Dia adalah orang Indonesia pertama yang saya temui di Townsville. Suaminya orang Australia yang juga rekan sekantor M di Indonesia. Yuli dan suaminya awalnya teman sekantor juga waktu di Indonesia. Awalnya Yuli tampak normal saja. Tipe pendiam dan bersahaja. Saat pertama kali bertemu, dia dan suaminya baru kembali dari penugasan di Kolombia, sebuah negara di benua Amerika Selatan. Sementara saya dan M sedang persiapan pindah ke negara tersebut. Kami saling tukar nomer telepon. Waktu itu saya perhatikan Hp-nya jadul banget dan sudah usang. Tidak ada yang salah dengan hal itu, hanya jika melihat rumah dan mobil mereka yang menurut saya sangat mutakhir, sepertinya tidak sinkron. Tapi saya pikir, mungkin dia merasa nyaman dengan Hp jadulnya itu. Anehnya, setelah pertemuan pertama itu, SMS saya tak pernah dibalas. Beberapa bulan kemudian, tak sengaja kami bertemu lagi di sebuah toko, masih di Townsville. Kami bertegur sapa. Saya tanya soal SMS yang tak pernah dibalas, suaminya bilang mungkin nomer Hp-nya salah. Padahal nomernya benar. Setelah pertemuan di toko itu, saya coba hubungi dia lagi, tapi tak pernah ada tanggapan. Saya pikir ya sudah, tidak apa-apa.. Tak lama kemudian, ketika kami sudah berada di Kolombia, saya dengar dia dan suaminya pindah ke Bostwana, sebuah negara di benua Afrika.

Irma.. Saya sebetulnya bertemu dia di Barranquilla, Kolombia. Dia satu-satunya orang Indonesia yang saya temui di negara ini. Orangnya rame, ceria. Saya pikir senang sekali punya teman orang Indonesia di negeri antah berantah. Tapi ternyata waktu itu dia dan keluarganya justru sedang bersiap-siap pindah ke Australia. Suaminya memang orang Australia. Irma dan suaminya ini dulunya juga teman sekantor. Dan rupanya Irma berteman baik dengan Yuli yang saya ceritakan di atas itu. Dari sinilah “kejanggalan” Yuli mulai terjawab. Berdasarkan curhatannya Yuli ke Irma, suaminya Yuli itu ternyata control freak, sangat suka mengendalikan semuanya secara tidak wajar. Jadi gerak gerik Yuli benar-benar dibatasi. Salah satu “pembatasan” yang dibuat suaminya adalah, Yuli nyaris tak punya akses dan kewenangan atas keuangan keluarga. Hasilnya, dia tak bisa ke mana-mana, saldo di kartu ATM yang dia pegang hanya cukup untuk bayar taksi. Hp-nya selalu pakai SIM Card prabayar yang jumlah pulsanya ditentukan suaminya. Mungkin ini sebabnya Irma tak pernah balas/angkat telepon/SMS dari saya. Entah tak ada pulsa, atau takut sama suaminya. Nah, kembali ke cerita Irma.. Setelah penugasan di Kolombia selesai, saya dan M kembali ke Australia, tepatnya ke rumah mertua di Charters Towers.. Waktu itu Irma masih tinggal di Brisbane. Kami pun saling kontak dan janjian ketemuan di Brisbane. Tapi rupanya di saat yang sama, M sudah terima penugasan di Indonesia, sementara suami Irma sudah terima penugasan di Kolombia lagi..hahaha.. Jadinya batal ketemu karena masing-masing harus bersiap pindah lagi ke benua lain..

Novi.. Pertama kali ketemu Novi di rumahnya di Brisbane. Orangnya asik, tidak lebay tapi tidak boring juga. Suaminya orang Australia yang juga rekan kerja M sewaktu dia bekerja di Indonesia. Novi dan suaminya pertama kali bertemu saat mereka bekerja di perusahaan yang sama di Kalimantan (cinta lokasi lagi ceritanya, sama seperti dua cerita di atas..hehehe..). Saat saya pertama kali ketemu Novi itu, dia dan suaminya baru pindah dari Indonesia, dan rencananya mau menetap di Australia. Jadinya agak susah juga mau berteman jarak jauh begini. Nah.., beberapa tahun kemudian, ternyata mereka pindah lagi ke Indonesia, tepatnya ke Jakarta. Sementara saya masih di Kalimantan. Sempat bertemu beberapa kali di Jakarta. Tapi tak lama kemudian, saya dan M pindah ke Australia. Yah, berjauhan lagi deh..

Anna.. Saya pertama kali ketemu Anna ketika sudah mulai menetap di Townsville, Australia. Saya dan Bear sedang bermain di taman dekat rumah. Waktu itu kami masih tinggal di unit apartemen. Di salah satu playground, Bear tiba-tiba mendekat ke dua anak laki-laki yang sudah agak besar, mungkin umur 11-12 tahun, yang juga sedang bermain dengan ibunya. Si Bear sepertinya ingin ikutan bermain dengan mereka. Saya larang karena playground yang dimaksud bukan untuk anak balita (ada beberapa playground di taman itu). Kemudian saya permisi ke si ibu dan minta maaf jika sudah mengganggu. Si ibu ini dengan ramah menjawab: “Oh it’s okay.. You can play with us if you want to.. Excuse my curiosity but where are you from..?” Si ibu ini tampilannya Asia Tenggara banget, tebakan saya dari Filipina.. Saya jawab: “Oh..thank you.. By the way I’m from Indonesia.. Where are you from..?” Dia jawab..: “Ooohhh orang Indonesia ya.. Sama dong saya juga dari Indonesia.. Saya orang Banjar, Kalimantan..”.. Hahaha.., kali ini tebakan saya yang biasa, Filipina, salah. Biasanya benar loh.., kebanyakan orang Asia Tenggara yang saya temui di luar Indonesia itu orang Filipina. Dari situlah kami saling kenal. Rumahnya ternyata cuma 3 menit berkendara dari apartemen kami, masih satu RT istilahnya. Suaminya orang Australia yang sudah lama malang melintang bekerja di banyak perusahaan pertambangan di Indonesia dan Australia. Saat itu dia sudah pensiun. Anna dan suaminya pertemu kali bertemu juga di tempat kerja. Keluarga ini sudah sekitar 12 tahun tinggal di Australia, sempat lama tinggal di kota Darwin (Australia bagian utara), dan baru setahun saja tinggal di Townsville. Suaminya Anna bahkan sempat bekerja di Sangatta, kota tempat saya dan M tinggal sebelumnya, sehingga dia pun kenal beberapa temannya M di Sangatta..(dunia sempit..hehehe..) Saya dan Anna sempat beberapa kali ketemuan di taman, kemudian main juga ke rumahnya, M dan Bear juga ikut waktu itu. Tapi seperti biasa, jarak memisahkan.. Saya dan keluarga pindah ke rumah yang sekarang ditempati. Jaraknya lumayan jauh dari rumahnya Anna meski masih satu kota. Saya tidak menyetir, Anna belum berani menyetir jarak jauh juga. Kami sama-sama sibuk mengurus rumah tangga. Jadinya belum sempat bertemu lagi sejak pindahan itu. Sayang sekali.., padahal orangnya seru kayaknya buat berteman.

Tia.. Saya pertama kali bertemu Tia itu sebetulnya di Sangatta, Kalimantan Timur. Sama seperti saya dan M, Tia dan suaminya awalnya juga teman sekantor.. Tempat kerja memang arena perjodohan yang paling umum ya..hahaha.. Orangnya kalem, adem, tapi bisa kocak juga. Kebetulan kami sama-sama orang Sunda. Waktu pertama kali bertemu, Tia dan suaminya baru menikah. Yang unik dari pasangan ini, ketika menikah, mereka sama-sama sudah punya cucu.. Tia umurnya hanya beberapa tahun lebih tua dari saya, tapi kelihatannya dia pertama kali menikah itu di usia yang sangat muda. Cucunya Tia baru lahir waktu itu, sementara cucu suaminya sudah usia anak SD/SMP. Saya dan Tia lumayan sering jalan bareng waktu itu, tapi kemudian saya pindah ke Australia. Tia dan suaminya berencana pindah juga tapi saya dan M yang lebih dulu pindah jadinya. Awal tahun lalu akhirnya mereka berdua pindah juga ke Australia. Mereka tinggal di Cooktown yang jaraknya sekitar 650 km (8 jam berkendara) dari Townsville. Lumayan jauh kan.. Nah akhir tahun lalu, akhirnya kami ketemuan lagi di rumah saya di Townsville. Tia dan suaminya kebetulan sedang melakukan perjalanan darat ke Brisbane, jadi bisa mampir dulu. Entah kapan bisa ketemuan lagi..

Susan.. Belum lama ini ibu mertua saya cerita, katanya dia ketemu seorang wanita asal Indonesia di gereja dia di Charters Towers sana. Si orang Indonesia ini katanya takjub waktu ibu mertua menebak bahwa dia orang Indonesia, soalnya banyak orang menyangka dia itu orang Filipina. Ibu mertua bilang, dia punya menantu orang Indonesia (saya maksudnya), jadi sedikit banyak bisa membedakan orang Indonesia dengan orang Filipina..hahaha.. Ibu mertua dan orang Indonesia ini rupanya jadi berteman baik.. Saya sendiri lebih takjub lagi dong.., koq bisa ada orang Indonesia nyungsep di kota sekecil itu di Australia sini.. Dan suatu hari, ibu mertua mengajak si Susan main ke rumah saya di Townsville. Dia datang bersama dua anaknya yang berumur sekitar 9-10 tahun, dan rupanya dia sedang hamil, dan berencana untuk melahirkan di RS di Townsville. Hari itu pun dia sedang check-up di RS. Susan ini berasal dari Nusa Tenggara Barat, orangnya rame dan kocak, seru kayaknya buat berteman. Nah.., minggu lalu itu perkiraan lahir si bayi. Jadi mereka sekeluarga boyongan ke Townsville. Ketika Susan sudah mulai menginap di RS, dua anaknya dijaga oleh ibu mertuaku ini, sementara suaminya Susan mendampingi di RS. Ibu mertua menginap di rumah kami tentunya. Nah karena ini dan itu, akhirnya si dua anak ikut menginap di rumah saya.. Wahh, si Bear semangat banget punya teman main di rumah. Pokoknya itu anak bertiga tidak bisa diam, seru..!!! Besoknya Susan melahirkan bayi perempuan dengan selamat tak kurang suatu apapun. Dia dan suaminya sangat berterima kasih pada saya dan M karena sudah “ikut menjaga” anak-anaknya..hehehe.. Keluarga ini sudah balik lagi ke rumah mereka di Charters Towers, dan tentunya sudah lebih sibuk sekarang dengan kehadiran si bayi.. Jadinya agak susah lagi buat intens ketemuan kalau beda kota begini kan, meskipun hanya 1.5 jam berkendara..

Dan demikianlah cerita kali ini. Pada akhirnya, jarak dan kesibukan yang memisahkan saya dan mereka.. Tinggal di kota berukuran kecil/sedang yang jarang ada orang Indonesia-nya juga bikin saya sangat jarang ketemu orang Indonesia di sini. Tapi tidak apa-apa, kami tetap berteman baik. Saya nyaman berteman, tapi nyaman juga “bersolo karir”..

Terima kasih sudah membaca post ini..

Advertisements

47 thoughts on “Teman orang Indonesia..

  1. Hahaha paling lucu pas ketemu anna. Ternyata org Indo juga. Btw blog nya padat akan cerita tapi enjoy pas dibaca.
    Kalo aku liatnya blog kakak kaya cewe gendut tapi seksi. Hahaha.
    Pas touch down di homepage nya kakak, aku gak bisa milih mau baca yang mana karena kalo mau baca postingan yg lain, aku harus menelusuri postingan terbaru kakak yang nongol di atasnya.
    Walau memang ada menu kategori, tapi mungkin akan lebih eye catching klo dikasih sesuatu yg bikin blog nya makin rapi.
    Aku saranin kakak kasih tag readmore di postingan kakak.
    Kalo kakak gak paham betul, aku feel free kok buat di kontak dan chat.
    Aku tunggu d blogku ya kak 🙂

    Like

  2. yang control freak itu pernah kujumpai yg sebaliknya Em, malah istri (wni) yg begitu, ketat banget klo ngomongin duit, aku baru tahu stl kita pernah liburan bareng, sampai uang cent an aja dihitung, elus dada ketemu teman model begini. Dulunya aku punya 4 teman dekat, trus aku sdh pindah kota, pdhl ga jauh sih, tp ya krn sdh punya 2 anak, teman2 Indonesiaku ini juga sibuk, jadinya sdh 2 tahunan tdk pernah ketemu lagi. Di kota tempat tinggalku skrg sering lihat wajah asia, aku ga mau negor duluan, feelingku selalu “sptnya orang Thailand atau Filipina 😆 .. ga berniat nyari teman Indonesia juga, klo jodoh ketemu ya bersyukur, ga ada tetap bisa menikmati hidup hehe 😀 .

    Like

    • Wah ada juga yang control freak model begitu ya.. Soal wajah Asia itu, aku juga sama, gak mau negor duluan pake bhs Indonesia, karena di kotaku ini mayoritas orang Asia Tenggara yg ada asalnya dari Filipina.. Dan ya begitulah, kalo ada teman orang Indonesia ya senang, kalo gak ada juga gak apa-apa..

      Like

  3. Mbak, masih satu RT nya beneran aku bayangin lho 😅 maklum familiar lah sama segala RT RW itu.

    Seruuu bacanya. Aku belum pernah merantau tapi aku mungkin bakal drama queen ala anak manja kalo disuruh merantau. Ibaratnya, di Jakarta aja berjibaku sendiri, curhat melulu ke orang tua yang hanya tinggal di Bekasi, 30-45 menit dari sini. Makanya kubilang Mbak Emmy hebattt 👍

    Like

    • Hahaha..makasih dibilang hebat.. Menurutku memang tidak semua orang cocok utk merantau, tapi bukan berarti orang tsb dianggap kurang bisa menjalani hidup. Tergantung karakter dan latar belakang sosial lainnya. Aku suka merantau dan beruntung sekali diberi kesempatan utk itu. Banyak orang lain yg tdk suka merantau eh malah harus merantau, atau sebaliknya, orangnya suka menjelajah tapi karena ini dan itu harus diam di satu tempat saja..
      Itu beneran kayak se-RT kalo di Indonesia, saking deketnya rumahku dgn rumah temanku itu.. Nyebut RT biar gampang aja ngebayanginnya buat pembaca di Indonesia..hehehe..

      Like

  4. Mungkin karna udah ada keluarga sendiri makanya prioritas nyari temen jadi berkurang ya mbak. Apalagi kaya mbak Emmy pasti lebih susah karna lumayan sering pindah-pindah.

    Aku sendiri orang Indonesia yg kukenal di kota tempat tinggalku ga ada 😂 (well, ada 1 tapi itu juga cuma kenal aja ga pernah ketemu bener-bener). Kebanyakan orang indonesia yang sekarang aku kenal adalah (sisa-sisa) kenalan dari waktu pas aku kuliah di sini mba Emmy wkwk. Selain itu ada temen dari Jakarta yang juga sempet ditempatin di pos KBRI Den Haag (sekarang udah pulang), dan satu temen dr Jakarta pindah ke Brussels.

    Like

    • Ya betul banget analisa kamu.. Udah punya keluarga sendiri dan sering pindah-pindah.. Gimana juga mau menjalin hubungan pertemanan yg dekat.. Oh ya kalo boleh tau, di Belanda kamu tinggal di kota apa? Aku th kalo dengar Belanda asumsinya pasti banyak orang Indonesia..hehehe..*sotoy..

      Like

  5. ihiyyyy ada akuuuu..
    Setelah sekian lama bolak balik Blenheim dan akhirnya disini, baru Oktober 2017 kenal sama org indonesia disini, sebelumnya hanya kenal 1 orang saja, tapi karena dia kerja dan cowo, jadi cuma kadang tanya2 soal kehidupan disini via whatsapp.. barulah habis oktober itu, kenal beberapa yang cewe, dan langsung aja end year, ada drama hahaha.. Iyan sampe ngomong gini, BARU AJA kenal gak nyampe 1/2 tahun udah banyak drama hahaha..

    Like

  6. Aku dulu sempet kenal bbrp orang Indonesia disini, tapi kebanyakan drama, jadi menghindar. Sempet deket sama dua orang Indonesia disini hampir dalam tahap BFF, tapi udah gitu ada aja deh yang dikeluhin sama mereka, akhirnya aku memisahkan diri dan memilih ga bergaul sama mereka biar hidupku ga negatif melulu, jadinya sekarang ga ada temen orang Indonesia (tapi bahagia)

    Like

    • Ah ya orang yg keseringan mengeluh lama-lama berasa “racun” emang buat kita yg dengerin, meski mungkin niat awal keluhan itu sekedar cerita.. Eh aku suka penasaran ya, kenapa sering dengar cerita drama di kumpulan orang Indonesia di luar Indonesia.. Memangnya kalo ngumpul gitu langsung saling silet apa..🤔*sekedarpenasaran

      Like

  7. Wahhh kalo kota yang aku tinggalin skrg lumayan kecil. Satu kota populasi 60 ribu jiwa. Dan so far org indo yang aku kenal cmn 1. Udah 3 taun gak nambah2. Tapi asik aja kok. Malah less drama. Hahhhha

    Like

  8. sekarang krn masih tinggal di istanbul yng WNİ nya banyak, temen indonesia sering bgt ketemu, ada yg deket cm beda kelurahan aja:D nah masalahnya kalau udah balik tinggal di kota kecil lg, bakalan ngalamin nasib sm kyk mama bear…suami udah ngajuin mutasi-,- kalo acc jd lah baybay metropolitan..dimana nyari makanan asia lbh dimudahkan. jarang juga org indonesia di hometown nya suami, nasipnya saya dikira org korea sm jepang mulu..hahha disini asia tenggara kurang populer,mereka hafalnya kalo ga korea ya jepang,blm pernahdikira orh filipina.

    Like

  9. Itu biasa terjadi ya kalau sudah berumah tangga ya sibuk dengan keluarga masing-masing. Tapi mungkin di rantau lebih terasa. Dulu di luar jarang disangka orang Filipin, lebih sering dikira orang Jepang. Bahkan ditegur orang Jepang disangka sekampung..😂 Tapi saya punya kenalan dengan kasus mba yg pertama. Nikah dg org asing. Tdk punya anak.Teman org Indonesia perempuan tdk punya krn merasa tdk PD (strata ekonomi di Indonesia bawah). Hanya tinggal di apartemen dan kegiatan rutin spt merangkai bunga. Kdg saya juga bingung ini normal nggak ya? Tapi karena ybs tdk ada keluhan ya mungkin dia nyaman dg kondisi itu. Cuma matanya suka melamun begitu…

    Like

    • Wah kalo disangka orang Jepang sama orang Jepang berarti memang kamu mirip orang Jepang..😄 Punya keluarga sendiri memang bikin hubungan pertemanan tak seperti dulu waktu masih lajang.. Wajar lah ya.., yg penting hubungan pertemanan tetap baik..
      Soal teman yg nomer 1 itu, setelah diingat-ingat, dia memang tampak seperti tertekan begitu ekspresi mukanya.., gak rileks.. Tapi aku dulu gak berani banyak tanya ke dia, gak enak soalnya belum kenal dekat..

      Like

    • Ya begitulah, Ge.. Semakin umur bertambah, dinamika hubungan pertemanan juga berubah.. Akhirnya seleksi alamiah aja, dari sekian banyak orang yg kita kenal, hanya beberapa yg terap tersambung..

      Like

    • Emang nyeremin sih.., padahal aku pun dapat cerita dari orang kedua, gimana yg ngalamin sendiri coba😬 Temanku yg udah punya cucu itu, anak pertamanya perempuan yg secara usia lazimnya memang lebih duluan nikah daripada anak laki-laki.. Cucu pertama itu didapat dari si anak perempuan ini emang..

      Like

  10. Percayalah, semakin banyak orang Indonesianya, semakin banyak drama ga jelas. Den Haag itu disetiap pojokan selalu aja dengar orang Indonesia (dan orang Jawa) ngobrol. Walaupun aku sekarang tinggal di desa pinggiran Den Haag, tapi karena rumah dekat sama toko oriental terbesar di Belanda, kalau belanja di sana ya ketemunya orang Indonesia lagi 😅 di desa tempat tinggalku ini (dan di Den Haag) aku ga punya teman orang Indonesia. Makanya kapan itu pas ada yg komen di salah satu postinganku kalau dia tinggal sama2 desa denganku, kaget loh ternyata ada ya orang Indonesia yg satu desa haha. Teman2 yg aku kenal baik malah tinggalnya jauh. Mau ketemu aja musti berbulan2 dulu dan pas ada acara. Naik kendaraan umum minimal 1.5 jam an. Aku baru punya yg akhirnya kuanggap teman2 ya setelah 2 tahun di sini. Sebelum itu ya senang2 aja keluyuran sendiri. Eh ada sih teman keluyuran dulu, satu orang. Rumahnya malah 2.5 jam naik kereta dari rumahku.

    Liked by 1 person

    • Wah makasih banyak udah berbagi cerita yg begitu lengkap, Den..😀 Aku tuh kalo denger nama kota besar di Belanda, asumsinya “pasti banyak orang Indonesia-nya..” Ternyata lumayan akurat ya tebakanku..
      Dan soal ketemu teman ini, semakin kita bertambah usia memang makin susah ya, karena jarak dan kesibukan umumnya.. Tapi setidaknya transportasi umum di daerahmu kedengarannya lumayan bisa diandalkan ya, gak kayak di tempatku, agak susah karena penduduknya jarang.., jadi orang di sini umumnya nyetir sendiri ke mana-mana..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s