Oh..Bear suka makan ini dan itu..?

Ini ceritanya tentang Bear yang selera makannya kadang memberikan saya kejutan. Maksudnya, sebagai orang tua kadang kita berpikir, anakku mungkin suka atau tidak suka makanan ini itu. Padahal kadang itu hanya ada di pikiran kita saja sebagai orang tua. Dengan kata lain, kalau tidak dicoba ditawarkan (beberapa kali kalau bisa), mana mungkin kita tahu anaknya mau memakan makanan tersebut atau tidak.

Bear saat ini berusia 22 bulan. Pola dan menu makannya sudah nyaris sama seperti orang dewasa, istilahnya sudah makan “table food”, memakan makanan yang disajikan untuk seluruh keluarga. Tentu ada beberapa pengecualian, seperti makanan pedas, berminyak, dan berbumbu pekat misalnya, atau makanan yang mengandung sodium (MSG), atau penguat rasa secara kimia (flavour enhancer). Intinya sebisa mungkin kami sekeluarga memakan masakan rumahan, sehingga semua prosesnya bisa lebih terkontrol.

Dan ini dia makanan atau bahan makanan yang saya kira Bear tidak suka tapi ternyata dimakan juga. Asumsinya berarti dia menganggap makanan itu sesuai selera lidahnya.

  1. Brokoli.. Dulu sebelum punya anak, sering banget saya dengar anak kecil tidak suka sayuran, terutama brokoli. Kemudian ketika Bear sempat rawat inap di RS di Townsville, salah satu menu makanannya adalah puree brokoli. Dan dia tidak suka, karena begitu sampai di lidahnya, si puree langsung disemburkan..hahaha.. Waktu itu Bear berumur 6 bulan. Seiring waktu, dia sering lihat saya dan M makan brokoli rebus sebagai bagian dari menu makan malam kami. Nah dia sudah ada di tahap “penasaran dengan isi piring orang lain” ketika jam makan. Suatu malam, dia menunjuk-nunjuk brokoli yang ada di piring saya. Saya kasih sedikit, setelah dipotong kecil-kecil dulu tentunya. Ehh.., ternyata si brokoli dimakan sampai habis, dan minta lagi.. Sejak saat itu, secara rutin saya kasih brokoli kukus/rebus di menu makanannya.
  2. Kornet, alias corned beef.. Yang dimaksud kornet di sini adalah kornet yang saya buat sendiri di rumah, bukan kornet kalengan seperti yang biasa ada di Indonesia. Proses pembuatan kornet pada dasarnya merupakan proses pengawetan protein hewani, dalam hal ini daging sapi. Jadi sekali buat biasanya saya memasak sekitar 2.5 kg daging sapi utuh. Setelah jadi, si kornet bisa tahan di kulkas selama 2 minggu. Saya coba kasih kornet ke Bear, untuk tahu apa gigi dan rahangnya sudah cukut kuat untuk mengunyah daging. Tentu saya iris tipis dulu kornetnya. Dan ternyata dia suka, dan sekarang malah jadi salah satu makanan favoritnya.
  3. Steak (daging sapi atau daging domba)..Β Suatu malam ketika kornet di piring Bear habis dia makan, dia masih ingin makan lagi, dan menunjuk-nunjuk makanan yang ada di piring saya. Menu saya dan M adalah steak daging domba saat itu. Saya ragu sebetulnya memberi Bear steak, karena daging steak teksturnya tidak semudah daging kornet ketika dikunyah. Steak hanya digoreng pan fried beberapa menit, sementara kornet direbus selma 1 s/d 2 jam. Tapi saya kasih juga, setelah dipotong kecil-kecil terlebih dahulu. Dan ternyata dia suka dan tidak ada masalah ketika mengunyah/mencernanya. Sehingga di lain hari saya coba kasih steak daging sapi, dan sukses juga.
  4. Smoothies buah-buahan dan puree apel hijau.. Smoothies yang biasanya saya buat terdiri dari aneka buah berry (strawberry, raspberry, blackberry, bluberry, atau gabungan dari semuanya) dicampur pisang dan 2 sendok makan santan kelapa (coconut milk) atau almond (almond milk), dan sedikit jus apel. Santan kelapa/almond ini sebagai pengganti susu/yoghurt karena saya punya intoleransi laktosa, sementara jus apel sebagai pemanis alami. Smoothies ini sebetulnya untuk saya, tapi lagi-lagi Bear penasaran dan ingin coba. Dan ternyata dia suka.. Sementara puree apel hijau saya buat awalnya karena kebetulan, kebetulan di supermarket si apel hijau sedang diskon 50%..hehehe.. Ketika apel tersebut saya cicipi di rumah, ternyata rasanya manis asam, bukan manis saja seperti apel lainnya yang biasa dibeli. Tapi tetap saya jadikan puree juga, saya pikir kalau Bear tidak suka ya sudah tak usah buat lagi. Eh..ternyata dia doyan.., padahal rasa asamnya itu lumayan terasa.
  5. Bawang daun, bawang bombay, tomat.. Saya membuat telur dadar, pasta, atau tumisan sayur itu biasanya memakai bahan 3 bumbu tersebut. Nah.., ketika disajikan ke Bear (misalnya si pasta), maka di piringnya itu dia akan cari dulu si irisan bawang dan tomat tersebut, terus dia makan. Setelah yakin duo bawang tomat habis, baru dia makan “tokoh utamanya” (pasta/telur/sayuran)..hahaha.. Seingat saya, anak kecil umumnya menyingkirkan irisan tomat bawangnya, dan hanya memakan si tokoh utama..
  6. Bubur gandum tawar.. Ini sebetulnya salah satu menu sarapan saya. Dan seperti biasa Bear penasaran ingin mencoba, dan ternyata dia suka. Bubur ini saya buat dari muesli (gandum giling kering yang dicampur buah kering seperti sultana misalnya) yang diseduh air panas. Orang lain biasanya menambahkan susu segar atau yoghurt dan potongan buah segar. Tapi saya hanya menambahkan air panas dan perasaan lemon. Sarapan Bear sendiri biasanya roti panggang diolesi sedikit margarin dan Vegemite atau selai buah-buahan (silahkan Google sendiri, apa itu Vegemite), atau sosis daging ayam. Oh ya, sosis yang biasa saya beli di sini, campuran tepungnya itu berupa tepung beras, bukan tepung terigu. Jadi kalau makan sosis ayam/sapi itu serasa makan nasi campur daging ayam/daging sapi..hehehe.. Dan sejak saat momen bubur gandum itu, bertambahlah daftar menu sarapan Bear..
  7. Roti tawar.. Bear suka sekali menjelajah dapur. Suatu hari dia temukan di mana roti tawar biasanya disimpan. Selanjutnya, ketika dia merasa lapar di luar jam makan rutin, dia akan buka lemari pantri (di mana roti itu disimpan), ambil si kantong roti, dan meminta saya atau ayahnya untuk membuka kantongnya sehingga dia bisa ambil selembar roti tawar. Dan beneran dia makan itu roti sampai habis..
  8. Pizza dan pasta.. Ini merupakan bagian dari pengenalan “finger food” (makanan yang bisa dijimpit jarinya). Pizza kadang beli jadi atau buat sendiri, dan Bear memakannya dalam bentuk potongan kecil. Sementara jenis pasta yang dipilih biasanya yang gampang diambil dengan jari, misalnya fusili (bentuk spiral) atau macaroni (bentuk pipa). Kadang dikasih juga yang bentuk spaghetti (bentuk mi panjang kurus itu loh..), tapi memang jadi berantakan meja makan..hahaha..
  9. Sayuran dedaunan hijau.. Ini “nasibnya” sama dengan nomer 5. Jadi jika dimasak tersendiri, Bear awalnya seperti bingung bagaimana cara memakannya, tapi ketika dicampurkan ke pasta atau nasi, maka dengan cekatan dia akan makan dulu si sayurannya.. Aneh kan.. Oh ya.., mungkin saking “doyannya” dengan sayuran hijau, kadang dia mencabuti rumput dan memakannya.. Halahhhh..ada-ada saja.. Dia pikir semua yang berdaun hijau itu bisa/biasa dimakan.. Mentang-mentang turunan orang Sunda..hehehe..
  10. Nasi liwet.. Nasi liwet yang biasa saya buat biasanya berbumbu tomat, bawang merah, sedikit garam, sedikit minyak zaitun/minyak kelapa murni, daun salam, batang serai. Yang disajikan ke Bear biasanya dalam bentuk bola-bola nasi ukuran kecil. Ini percobaan juga untuk mengetahui dia doyan nasi dalam bentuk tersendiri seperti itu.. Dan tentu saja dia doyan..hehehe..

Kayaknya masih ada lagi makanan yang bikin saya..: “Oh..ternyata kamu suka ini toh, Nak..” Yang saya ingat sekarang cuma 10 item tersebut. Ada yang punya pengalaman serupa..?

Advertisements

All About Your First Born..

img_2004

Dua jam sebelum si Bear brojol..

Post ini ceritanya ikut-ikutan Imelda, yang iseng menyalin dari Instagram-nya Sazqueen. Nah.., si Mba Sazqueen ini menulis 17 pertanyaan dengan tema β€œALL ABOUT YOUR FIRST BORN”. Jadi.., inilah dia.. Catatan ringkas terkait kelahiran Bear πŸ™‚

ALL ABOUT YOUR FIRST BORN
1. Epidural? Ya
2. Father in the room? Ya
3. Induced? Tidak
4. Normal? Bukan. Operasi Caesar
5. Due date? Akhir Oktober 2015
6. Birth date? Pertengahan Oktober 2015
7. Morning sickness? Ya, selama 2 minggu saja, di usia kehamilan bulan ketiga.
8. Cravings? Tidak.. Sama sekali tidak ngidam.. Aneh..
9. Kilos gained? 10 kg dari IVF pertama yang gagal, 15 kg dari IVF kedua yang sukses menghasilkan si Bear. Total: 25 kg. Sampai saat ini baru turun 13 kg.
10. Sex of the baby? Laki-laki
11. Place you gave birth? RSIA Bunda, Menteng, Jakarta
12. Hours in labour room? 30 menit.. Total rawat inap 2 malam..
13. Baby’s weight? 3.8 kg
14. Baby’s name? BBL, nama julukan: Bear
15. How old is your baby today? 19 bulan
16. Most memorable event during pregnancy? Ada 2 :
a) Berhubung kehamilan saya berawal dari program IVF di klinik Morula IVF Menteng-Jakarta, maka sepanjang kehamilan pun kontrol ke klinik tersebut, meski harus bolak balik Cianjur-Jakarta. Dari sekian banyak bolak balik itu, 3 kali saya berpapasan dengan iring-iringan RI 1 alias rombongan presiden. Jadi saya langsung berdoa semoga si Bear jadi presiden..hehehe.. Amiin..
b) Perempuan ketika sedang hamil umumnya mencari informasi seputar kehamilan. Saya juga tapi tak seheboh perempuan lainnya.., karena entah kenapa saya lebih tertarik dengan saham/pasar modal. Jadi sepanjang kehamilan itu, saya mendadak jadi trader dengan modal receh dan pengetahuan β€œlearning by doing”, alias terjun langsung saja. Hasilnya, begitu si Bear lahir, saya dapat keuntungan yang cukup untuk membayar biaya operasi Caesar..hehehe.. Alhamdulillah.. Rezeki anak sholehah..
17. Who’s the obgyn? – dr. Arie Polim, SpOG

Nah, segitu saja ringkasan ceritanya. Ada yang tertarik ikutan.., silahkan ditunggu post-nya..

Bear 18 bulan..

Keterangan foto: dari atas ke bawah — usia 1 hari, 6 bulan, 12 bulan, 18 bulan

Saya senyum-senyum sendiri baca judulnya. Kesannya saya update tentang Bear setiap bulan. Padahal terakhir cerita itu di sini..hehehe.. Sudah lama ya.. Tapi baiklah, mari kita lihat bagaimana perkembangan si Bear dari bulan ke bulan. Ini yang saya ingat saja ya..:
a) Sejak lahir (sampai sekarang juga) tidur di ranjangnya sendiri (boks bayi) yang ditempatkan di kamarnya sendiri. Banyak yang mengira ini mungkin karena β€œbudaya bule”, tapi sebetulnya karena alasan praktikal saja awalnya. Kamar saya dan M di rumah Indonesia itu kecil. Kalau ditambahkan boks bayi tidak muat. Kami pun tidak ingin Bear tidur di ranjang kami karena kuatir terhimpit badan kami. Selain itu, memang demikianlah orang tua saya dan M dulu membesarkan kami dalam urusan tidur, yaitu anak-anak tidak tidur sekamar dengan orang tua. Kamar kami di rumah di Australia sebetulnya muat untuk ditempatkan boks bayi, tapi si Bear sudah terbiasa tidur di kamarnya sendirian. Dia jadi hilang fokus untuk tidur kalau melihat orang hilir mudik di dalam kamar sementara dia mau tidur. Jadinya dia tetap tidur di kamarnya sendiri juga
b) Umur 3 bulan sudah berkewarganegaraan ganda serta punya 2 paspor (Australia dan Indonesia)
c) Umur 4 bulanΒ menjelang 5 bulan terpaksa berhenti minum ASI dan beralih ke susu formula karena β€œgentong” ASI-nya benar-benar berhenti berproduksi biarpun segala cara sudah dicoba supaya tetap mengalir.
d) Umur 5 bulan bisa duduk sendiri dan mulai mencicipi makanan pendamping susu. Mulai pakai baju di atas umurnya, di umur 5 bulan ini dia mulai pakai baju untuk usia 1 tahun ukuran Indonesia.
e) Umur 6 bulan tumbuh 2 gigi pertama, mulai makan makanan bayi instan. Pergi ke Australia untuk pertama kalinya. Hari pertama di Australia Bear tampak kurang sehat, padahal waktu berangkat sehat-sehat saja. Hari ke-2 dan ke-3 dia harus dirawat di RS karena ternyata belakangan diketahui terkena virus kategori enterovirus. Dokter bilang mungkin karena ada kondisi yang kurang higienis, ditambah pula kelelahan karena perjalanan jauh. M pikir mungkin Bear kena virusnya sewaktu di ruang bayi yang bau apek di Bandara Denpasar (kami transit di Denpasar). Setelah 2 malam di RS, Bear diperbolehkan pulang. Selama di RS dia hanya diberi obat penurun panas dan pereda sakit karena memang hanya itu yang diperlukan. Kapan-kapan saya cerita lebih lengkap tentang Bear dirawat di RS ini.
f) Umur 7 bulan bisa merangkak, mencicipi makanan bayi buatan rumah.
g) Umur 8 bulan merangkaknya makin cepat dan mulai berusaha berdiri sambil berpegangan. Mulai menunjukkan preferensi dalam makanan, dia lebih suka makanan bayi buatan rumah daripada yang instan. Pertama kali kena batuk pilek gara-gara kelamaan main air dengan bapaknya di garasi saat angin sedang kencang dan dingin (dan emaknya Bear pun murka..hahaha..). Tapi syukurlah sampai detik ini Bear tak pernah batuk pilek lagi.
h) Umur 9 bulan disunat. Mulai suka mendorong-dorong furnitur dan mainan ukuran besar. Makin suka dengan makanan buatan rumah, kemudian β€œsayonara” secara permanen ke makanan instan.
i) Umur 11 bulan bisa jalan tapi masih sambil pegangan ke tangan orang, perabotan, atau dinding. Mulai suka taste test (menggigit, menjilat, memasukkan ke mulut) apapun yang ditemukan yang bikin dia penasaran. Mulai memakai baju untuk usia 18 bulan ukuran Indonesia.
j) Umur 12 bulan, genap berumur satu tahun, merayakan ulang tahun bersama keluarga saja. Lulus rangkaian imunisasi tahun pertama. Bear diimunisasi oleh Bidan Puskesmas yang bisa dipanggil ke rumah kalau kami sedang tidak sempat pergi ke Puskesmas. Bear tak pernah demam setelah imunisasi, menangis pun hanya sekitar 10 detik. Masih suka taste test, kali ini kelihatannya lebih seru karena Bear sudah punya 12 gigi. Sudah bisa mengucapkan β€œDadda” (Dad, sebutan ke Ayahnya), β€œBubu” (Ibu, sebutan ke saya, ibunya), β€œmam” (emam-Sunda = makan), dan β€œbaf” (bath-Inggris, ibak-Sunda = mandi)
k) Umur 13 bulan pindah domisili, dari Indonesia ke Australia, kali ini tanpa drama masuk RS.., hanya saja harus adaptasi cuaca. Kami mulai tinggal di Australia di saat musim panas. Suhu siang hari saat itu sekitar 32-35’C, malam hari sekitar 27-30’C. Sementara tempat tinggal semula di Cianjur-Indonesia sedang musim hujan yang bikin adem, suhu siang hari sekitar 24-26’C saja. Meski ada AC dan kipas untuk antisipasi musim panas, tentu yang lebih nyaman adalah cuaca sejuk alami. Bear sempat susah makan, pertama karena adaptasi cuaca, kedua karena sempat kembali makan makanan instan berhubung saya cape sekali dengan urusan memasak. Tapi untungnya ini berlangsung sebentar saja. Kemudian saya pun mulai memperkenalkan makanan orang dewasa ke Bear, tanpa bumbu yang berasa tajam tentunya. Sejauh ini lancar. Selain itu, kami juga harus mendaftarkan Bear ke klinik terdekat (setara Puskesmas kalau di Indonesia) untuk imunisasi selanjutnya. Ternyata jadwal pemberian vaksin di Indonesia dan Australia itu sedikit berbeda. Imunisasi yang sudah didapat di Indonesia jadi tidak β€œmatching” dengan jadwal Australia. Akhirnya setelah konsultasi sana sini dengan para petugas medis terkait, si Bear harus diimunisasi dari awal lagi. Jadi dianggapnya seperti bayi baru lahir, diberi imunisasi jadwal tahun pertama dalam waktu 3 bulan, sehingga begitu menginjak usia 18 bulan, catatan imunisasi Bear akan sama dengan semua bayi 18 bulan lainnya di Australia. Apalagi ya.. Oh ya Bear sudah bisa berjalan sendiri meski kadang jatuh. Kemudian, dia mulai pakai baju untuk usia 18 bulan dan 24 bulan ukuran Australia (tergantung modelnya juga).
l) Umur 14 bulan Bear tampaknya mulai merasa betah dengan lingkungan barunya, dan sudah bisa berlari dengan baik juga. Dia mulai bisa makan sendiri. Sarapan dan cemilan biasanya dimakan sendiri tanpa disuapi, sementara makan siang dan makan malam tergantung jenis makanannya. Jika masih bisa dipungut dengan jarinya maka dia akan makan sendiri, jika tidak memungkinkan ya disuapi. Kemudian sehari-harinya dia jadi lebih suka main di luar, entah itu di teras, pekarangan, atau di taman umum dekat rumah.
m) Umur 15 bulan mulai suka menyimpan barang-barang, kadang di tempat biasa, kadang di tempat tak biasa. Misalnya remote control TV disimpan di atas meja TV (biasa), mainan disimpan di kotak mainan (biasa), bantalnya disimpan di ruang penyimpanan barang bekas (tidak biasa), HP-ku disimpan di lemari baju M (tidak biasa). Bear selalu tertarik dengan kegiatan menyikat gigi. Kalau saya atau bapaknya sedang sikat gigi, dia memperhatikan dengan seksama sambil tersenyum-senyum. Karena itu kami beri dia sikat gigi balita dan mulai Β belajar menyikat gigi sendiri.
n) Umur 16 bulan mulai punya kosa kata baru seperti β€œBa..ba..ba..” (bird), dan mulai menyerocos dengan intonasi seperti percakapan. Mulai tertarik dengan bongkar pasang mainan Lego, meskipun statusnya yang pasang saya dan yang bongkar dia. Mulai suka memanjat apapun yang bisa dipanjat. Misalnya naik ke kursi makan, kemudian ke meja makan untuk mengambil mainannya yang kebetulan ditaruh di situ, terus turun lagi ke kursi kemudian ke lantai. Atau pernah saya memergokinya bergelantungan di sandaran sofa, sedang berusaha meraih remote control AC yang tertempel di dinding.. Duh.., bikin jantung emak mau copot saja sih, Nak..
o) Umur 17 bulan sudah bisa lari dengan kencang, bahkan kadang dia berusaha melarikan diri dari samping saya atau bapaknya saking ingin bebasnya berlari. Gigi sudah ada 16 buah, berarti tinggal 4 lagi yang belum tumbuh. Masih berlanjut dengan kegiatan menyikat giginya sendiri, tapi jangan membayangkan dia menyikat gigi seperti orang dewasa ya.. Β  Bear lebih ke menggigit/mengunyah sikat gigi daripada menyikat gigi. Kami tentu saja setiap saat mengajarkan menyikat gigi yang benar. Tapi namanya anak bayi.., ya begitulah.. Namun setidaknya lumayan dia mau menyikat giginya sendiri.. Makin sering bermain dengan Lego-nya, Bear mulai tertarik merancang sendiri apa yang mau dipasang, sementara “jabatan” saya tidak berubah: “asisten Lego”, alias tukang pasang blok Lego berdasarkan hasil pemikiran sang perancang cilik..
p) Umur 18 bulan kurang lebih sama seperti umur 15-17 bulan. Pertama kali mengalami masuk angin gara-gara sewaktu bermain di taman tiba-tiba suhu udara berubah dari hangat ke dingin ditambah angin kencang. Hasilnya.., si Bear muntah..! Tapi dengan perawatan yang tepat, dia pulih keesokan harinya. Apalagi ya.. Oh ya.., waktu lahir BB/TB Bear adalah 3.8kg / 51cm, saat ini di usia 1.5 tahun menjadi 15.2kg / 86.5cm. Di Kartu Menuju Sehat (KMS) berat segini setara dengan berat anak usia di atas 2 tahun. Sementara di grafik persentil, BB/TB segini masuk ke 97 atau 98 persentil. Intinya kalau di atas kertas, orang pasti menyangka ini anak gemuk bahkan cenderung kegemukan. Tapi jika melihat langsung, si Bear tampak normal saja (menurut saya..hehehe). Tidak besar tapi tidak kecil juga. Kalau kata ibu mertua: solid body katanya alias padat berotot..hehehe.. Saat ini dia sudah mulai memakai baju untuk usia 2 dan 3 tahun ukuran Australia, meski masih sedikit longgar, tapi ini tergantung modelnya juga. Sementara baju ukuran sesuai usianya, 18 bulan, masih cukup tapi mulai nampak sempit.

Kalau dilihat dari tulisan ini mungkin terkesan semunya berjalan mulus. Padahal sebetulnya dan sesungguhnya, seperti umumnya membesarkan anak di mana pun, tentu ada manis pahitnya, ada naik turunnya. Atau seperti yang Tika pernah bilang di blognya: everyone has its own battle.. Tapi yang namanya hidup ya dijalani saja..

Dan begitulah cerita saya tentang Bear kali ini..

Cerita kelahiran..(02)

Sambungan dari post sebelumnya..

Saat itu Oktober 2015, C-section dijadwalkan hari Kamis jam 13:00 di RSIA Bunda, Menteng, Jakarta. Saya dan ibu saya berangkat dari Cianjur hari Selasa dan langsung check-in di hotel yang terletak di depan rumah sakit. Di saat yang sama, suami terbang dari Kalimantan menuju Jakarta dan langsung bergabung dengan kami di hotel. Di hari itu pula saya ditemani ibu saya mengurus administrasi melahirkan. Satu hal penting lainnya yang dilakukan di hari itu adalah menemui dokter anestesi untuk memeriksa kondisi punggung/tulang belakang saya dan memberikan penjelasan tentang tindakan pembiusan itu sendiri . Operasi Caesar adalah tindakan bedah dengan pembiusan regional yang dilakukan di punggung/tulang belakang. Dokter anestesi bilang bahwa pemeriksaan ini penting karena jika ada kelainan di tulang belakang kita, maka tindakan antisipasi dapat dilakukan/diketahui lebih awal. Untunglah bentuk tulang belakang saya normal. Besoknya hari Rabu, kami semua beristirahat di hotel.

Di hari Kamis saya sudah berada di RS sekitar jam 8 pagi dalam keadaan puasa sejak jam 7 pagi. Sekitar jam 9:30 saya diminta masuk ke ruang perawatan yang nantinya akan jadi ruang pemulihan pasca operasi. Di sini dilakukan beberapa tes dan observasi, saya lupa nama tesnya. Berikut ini fotonya. Β Β Β  Β Β  Β Β Β Β Β  Kemudian jam 12 siang saya diminta mengenakan baju RS, dan jam 12:30 dibawa ke ruang transisi. Di sini saya dipersiapkan untuk menjalani operasi, dipasangkan kateter, infus, dan entah tempelan apalagi di lengan saya. Suami juga diminta mengenakan baju ruang operasi. Di ruang transisi ini, dia sempat tanya apakah saya gugup. Saya tidak gugup, malah merasa gembira karena beban berat di perut saya akan segera berakhir. Suami malah sempat gelisah karena saya bilang begini: “Kalau saya tidak selamat dari proses ini, saya ingin hanya kamu yang merawat anak kita.” Saya tidak bermaksud menakuti-nakuti, hanya mengingatkan bahwa di atas segala rencana hebat manusia, masih ada suratan takdir dari Yang Maha Kuasa.

Jam 13:00 saya dibawa ke ruang operasi. Di sana sudah ada beberapa petugas medis dengan fungsinya masing-masing. Mereka menyiapkan semuanya, termasuk pembiusan di tulang belakang. Menurut saya, proses pembiusan di tulang belakang ini rasanya sakit dan ngilu tapi tak lebih sakit dari jari yang terjepit pintu (jari saya pernah terjepit pintu.. Gila sakitnya!!!). Beberapa menit kemudian, dokter kandungan yang menangani saya sejak awal program IVF tiba di ruang operasi. Setelah tes ini dan itu, operasi dimulai. Pada saat operasi berlangsung, tubuh bagian bawah terasa diguncang pelan, ada 2 orang di depan kaki saya, 3 orang di belakang kepala saya (termasuk suami). Semua orang tersebut mengobrol ngalor ngidul dengan saya, di antaranya tentang beras Cianjur dan tebak-tebakan lagu yang terdengar dari radio yang menyala di ruang operasi tersebut. Obrolan berakhir ketika Bear akhirnya keluar dari perut saya dan dokter berseru ke suami: “It’s a boy!” Sebetulnya kami sudah tahu dari awal bahwa bayinya laki-laki, tapi dokterku itu ceritanya lucu-lucuan akting meniru adegan melahirkan di film-film Hollywood..hehehe.. Dokter kemudian menyerahkan Bear ke pangkuan saya untuk IMD (inisiasi menyusui dini). Saya ingat ketika disodorkan ke saya, Bear menangis pelan dengan suara seraknya dan kulitnya masih tampak gelap, geuneuk kalau kata orang Sunda mah. Hal pertama yang saya ucapkan ke dia adalah: β€œBear, kumaha damang?” (Bear, apa kabar?). Tangisannya berhenti begitu dia berbaring di dada saya.
Operasi C-section itu sendiri berlangsung sekitar 20 menit. Setelah proses IMD, Bear dibawa ke ruang observasi bayi ditemani suami saya. Sementara saya sendiri masih di ruang operasi, “dirapikan” dulu sebelum kembali ke ruang transisi. Begitu berada di ruang transisi, saya mengantuk berat, tapi anehnya merasa segar juga. Setelah beberapa jam di ruang transisi, seluruh badan mulai terasa sakit, tapi semua perawat menyarankan saya untuk menggerakkan badan. Mereka bilang, semakin kita menunda menggerakkan badan, semakin kaku otot, sehingga akan makin terasa sakit saat nantinya digerakkan.
Dan meski sempat berlinang air mata menahan sakit, di tempat tidur di ruang transisi itu perlahan-lahan saya gerakan badan, mulai dari telapak tangan dan kaki, kemudian berbalik ke kiri dan ke kanan. Memang sakit, tapi lama kelamaan rasa sakit itu berkurang dan akhirnya terasa hanya di area perut. Begitu merasa mendingan, saya dipindahkan ke ruang perawatan. Saat itu sudah sekitar jam 8 malam. Saya merasa lelah dan sangat lapar tapi baru boleh minum air putih dan teh manis. Sejam kemudian, setelah yakin reaksi tubuh saya baik-baik saja, perawat memberikan bubur sumsum sebagai makanan β€œpadat” awal setelah operasi. Saya bilang ke suami, mana bisa kenyang kalau cuma makan bubur sumsum, saya maunya nasi padang..hahaha.. Suami tertawa dan geleng-geleng kepala. Akhirnya saya tidur pulas dengan kateter dan infus masih tersambung, ditemani ibu saya yang tidur di kasur tambahan. Sementara suami bolak-balik antara kamar saya dan ruang observasi bayi sampai akhirnya dia balik ke hotel dan tidur di sana.
Besoknya hari Jumat, pagi-pagi sekali perawat memeriksa kondisi saya dan membawa Bear ke kamar saya untuk disusui. Kateter dilepas agar saya leluasa bergerak, lalu saya pun sekalian minta infus dilepas juga, toh sarapan sungguhan akan disajikan. Duh.., saya antusias banget menantikan sarapan ini.., lapaaaarrr… Ada 3 kali pemberian makanan berat dan 2 kali makanan ringan, dan saya suka semua makanannya..hehehe.., memang gembul pada dasarnya… Tak lama kemudan, dokter kandungan yang hari sebelumnya mengoperasi saya datang memeriksa. Dia bilang semuanya baik-baik saja. Sepanjang hari itu sampai malamnya, para perawat silih berganti datang memeriksa dan juga mengajari saya menyusui Bear. Salah satu hal yang para perawat itu lakukan adalah memastikan urusan buang air besar (BAB), buang air kecil (BAK), dan juga buang gas saya lakukan dengan lancar tanpa ada bantuan alat maupun orang. Katanya ketiga hal ini harus dipastikan lancar di masa awal pasca operasi sebagai indikasi bahwa masa pemulihan berjalan sebagaimana mestinya. Di hari pertama setelah operasi, bergerak itu sebetulnya masih lumayan sakit, tapi saya tegaskan ke diri sendiri bahwa rasa sakit itu hanya ilusi, karena semua baik-baik saja.
Besoknya Sabtu pagi, dokter kandungan kembali memeriksa saya, hasil pemeriksaan semuanya baik. Kemudian dia bilang bahwa saya sudah boleh pulang.. Yaaayyy..!!! Dokter kemudian meresepkan beberapa obat/vitamin serta rekomendasi perawatan setelah operasi. Kami langsung persiapkan semuanya untuk pulang. Suami menyelesaikan urusan administrasi. Kemudian kami diajari dulu oleh dokter anak dan para perawat mengenai cara penanganan/perawatan bayi baru lahir. Setelah urusan di RS selesai, kami balik ke hotel dan check-out. Tak lama kemudian kami pulang ke Cianjur dan sekitar malam Minggu itu tiba di rumah dengan selamat.
Besoknya Minggu pagi, saya mulai beraktivitas seperti biasa namun dimulai dengan kegiatan fisik yang ringan seperti berjalan kaki ke supermarket terdekat, belanja kebutuhan dapur, pulang ke rumah menyiapkan sarapan. Itulah salah satu rekomendasi medis pasca operasi Caesar ini: usahakan beraktivitas seperti biasa, hanya hindari dulu gerakan mengangkat beban selama beberapa minggu ke depan. Rasa sakit masih terasa di area perut tapi dalam kadar yang bisa ditolerir.
Seminggu kemudian saya kontrol ke dokter. Rasa sakit sudah jauh berkurang, nyaris tidak ada malah, bekas luka operasi sudah sembuh tapi belum kering total sehingga perban masih digunakan. Seminggu berikutnya saya kontrol lagi dan akhirnya luka bekas operasi benar-benar kering, perban dilepas, dan rasa sakit pun sudah tak ada lagi.
Demikianlah cerita melahirkan versi saya. Ternyata tak seburuk yang dibayangkan, sangat lancar malah. Saya sangat bersyukur semua berjalan dengan baik. Teman-teman perempuan menganggap proses persalinan yang saya alami β€œterlalu mulus” sehingga mereka iri.. Hahaha.. Ada-ada saja.. Tentu mereka hanya bercanda, semua orang turut berbahagia karena semua berjalan lancar.
Ada yang punya cerita melahirkan? Atau sedang menantikan kelahiran sang buah hati? Jangan ragu untuk berbagi cerita ya. Terima kasih sudah membaca cerita saya yang panjang ini..hehehe..