All About Your First Born..

img_2004

Dua jam sebelum si Bear brojol..

Post ini ceritanya ikut-ikutan Imelda, yang iseng menyalin dari Instagram-nya Sazqueen. Nah.., si Mba Sazqueen ini menulis 17 pertanyaan dengan tema β€œALL ABOUT YOUR FIRST BORN”. Jadi.., inilah dia.. Catatan ringkas terkait kelahiran Bear πŸ™‚

ALL ABOUT YOUR FIRST BORN
1. Epidural? Ya
2. Father in the room? Ya
3. Induced? Tidak
4. Normal? Bukan. Operasi Caesar
5. Due date? Akhir Oktober 2015
6. Birth date? Pertengahan Oktober 2015
7. Morning sickness? Ya, selama 2 minggu saja, di usia kehamilan bulan ketiga.
8. Cravings? Tidak.. Sama sekali tidak ngidam.. Aneh..
9. Kilos gained? 10 kg dari IVF pertama yang gagal, 15 kg dari IVF kedua yang sukses menghasilkan si Bear. Total: 25 kg. Sampai saat ini baru turun 13 kg.
10. Sex of the baby? Laki-laki
11. Place you gave birth? RSIA Bunda, Menteng, Jakarta
12. Hours in labour room? 30 menit.. Total rawat inap 2 malam..
13. Baby’s weight? 3.8 kg
14. Baby’s name? BBL, nama julukan: Bear
15. How old is your baby today? 19 bulan
16. Most memorable event during pregnancy? Ada 2 :
a) Berhubung kehamilan saya berawal dari program IVF di klinik Morula IVF Menteng-Jakarta, maka sepanjang kehamilan pun kontrol ke klinik tersebut, meski harus bolak balik Cianjur-Jakarta. Dari sekian banyak bolak balik itu, 3 kali saya berpapasan dengan iring-iringan RI 1 alias rombongan presiden. Jadi saya langsung berdoa semoga si Bear jadi presiden..hehehe.. Amiin..
b) Perempuan ketika sedang hamil umumnya mencari informasi seputar kehamilan. Saya juga tapi tak seheboh perempuan lainnya.., karena entah kenapa saya lebih tertarik dengan saham/pasar modal. Jadi sepanjang kehamilan itu, saya mendadak jadi trader dengan modal receh dan pengetahuan β€œlearning by doing”, alias terjun langsung saja. Hasilnya, begitu si Bear lahir, saya dapat keuntungan yang cukup untuk membayar biaya operasi Caesar..hehehe.. Alhamdulillah.. Rezeki anak sholehah..
17. Who’s the obgyn? – dr. Arie Polim, SpOG

Nah, segitu saja ringkasan ceritanya. Ada yang tertarik ikutan.., silahkan ditunggu post-nya..

Bear 18 bulan..

Keterangan foto: dari atas ke bawah — usia 1 hari, 6 bulan, 12 bulan, 18 bulan

Saya senyum-senyum sendiri baca judulnya. Kesannya saya update tentang Bear setiap bulan. Padahal terakhir cerita itu di sini..hehehe.. Sudah lama ya.. Tapi baiklah, mari kita lihat bagaimana perkembangan si Bear dari bulan ke bulan. Ini yang saya ingat saja ya..:
a) Sejak lahir (sampai sekarang juga) tidur di ranjangnya sendiri (boks bayi) yang ditempatkan di kamarnya sendiri. Banyak yang mengira ini mungkin karena β€œbudaya bule”, tapi sebetulnya karena alasan praktikal saja awalnya. Kamar saya dan M di rumah Indonesia itu kecil. Kalau ditambahkan boks bayi tidak muat. Kami pun tidak ingin Bear tidur di ranjang kami karena kuatir terhimpit badan kami. Selain itu, memang demikianlah orang tua saya dan M dulu membesarkan kami dalam urusan tidur, yaitu anak-anak tidak tidur sekamar dengan orang tua. Kamar kami di rumah di Australia sebetulnya muat untuk ditempatkan boks bayi, tapi si Bear sudah terbiasa tidur di kamarnya sendirian. Dia jadi hilang fokus untuk tidur kalau melihat orang hilir mudik di dalam kamar sementara dia mau tidur. Jadinya dia tetap tidur di kamarnya sendiri juga
b) Umur 3 bulan sudah berkewarganegaraan ganda serta punya 2 paspor (Australia dan Indonesia)
c) Umur 4 bulan menjelang 5 bulan terpaksa berhenti minum ASI dan beralih ke susu formula karena β€œgentong” ASI-nya benar-benar berhenti berproduksi biarpun segala cara sudah dicoba supaya tetap mengalir.
d) Umur 5 bulan bisa duduk sendiri dan mulai mencicipi makanan pendamping susu. Mulai pakai baju di atas umurnya, di umur 5 bulan ini dia mulai pakai baju untuk usia 1 tahun ukuran Indonesia.
e) Umur 6 bulan tumbuh 2 gigi pertama, mulai makan makanan bayi instan. Pergi ke Australia untuk pertama kalinya. Hari pertama di Australia Bear tampak kurang sehat, padahal waktu berangkat sehat-sehat saja. Hari ke-2 dan ke-3 dia harus dirawat di RS karena ternyata belakangan diketahui terkena virus kategori enterovirus. Dokter bilang mungkin karena ada kondisi yang kurang higienis, ditambah pula kelelahan karena perjalanan jauh. M pikir mungkin Bear kena virusnya sewaktu di ruang bayi yang bau apek di Bandara Denpasar (kami transit di Denpasar). Setelah 2 malam di RS, Bear diperbolehkan pulang. Selama di RS dia hanya diberi obat penurun panas dan pereda sakit karena memang hanya itu yang diperlukan. Kapan-kapan saya cerita lebih lengkap tentang Bear dirawat di RS ini.
f) Umur 7 bulan bisa merangkak, mencicipi makanan bayi buatan rumah.
g) Umur 8 bulan merangkaknya makin cepat dan mulai berusaha berdiri sambil berpegangan. Mulai menunjukkan preferensi dalam makanan, dia lebih suka makanan bayi buatan rumah daripada yang instan. Pertama kali kena batuk pilek gara-gara kelamaan main air dengan bapaknya di garasi saat angin sedang kencang dan dingin (dan emaknya Bear pun murka..hahaha..). Tapi syukurlah sampai detik ini Bear tak pernah batuk pilek lagi.
h) Umur 9 bulan disunat. Mulai suka mendorong-dorong furnitur dan mainan ukuran besar. Makin suka dengan makanan buatan rumah, kemudian β€œsayonara” secara permanen ke makanan instan.
i) Umur 11 bulan bisa jalan tapi masih sambil pegangan ke tangan orang, perabotan, atau dinding. Mulai suka taste test (menggigit, menjilat, memasukkan ke mulut) apapun yang ditemukan yang bikin dia penasaran. Mulai memakai baju untuk usia 18 bulan ukuran Indonesia.
j) Umur 12 bulan, genap berumur satu tahun, merayakan ulang tahun bersama keluarga saja. Lulus rangkaian imunisasi tahun pertama. Bear diimunisasi oleh Bidan Puskesmas yang bisa dipanggil ke rumah kalau kami sedang tidak sempat pergi ke Puskesmas. Bear tak pernah demam setelah imunisasi, menangis pun hanya sekitar 10 detik. Masih suka taste test, kali ini kelihatannya lebih seru karena Bear sudah punya 12 gigi. Sudah bisa mengucapkan β€œDadda” (Dad, sebutan ke Ayahnya), β€œBubu” (Ibu, sebutan ke saya, ibunya), β€œmam” (emam-Sunda = makan), dan β€œbaf” (bath-Inggris, ibak-Sunda = mandi)
k) Umur 13 bulan pindah domisili, dari Indonesia ke Australia, kali ini tanpa drama masuk RS.., hanya saja harus adaptasi cuaca. Kami mulai tinggal di Australia di saat musim panas. Suhu siang hari saat itu sekitar 32-35’C, malam hari sekitar 27-30’C. Sementara tempat tinggal semula di Cianjur-Indonesia sedang musim hujan yang bikin adem, suhu siang hari sekitar 24-26’C saja. Meski ada AC dan kipas untuk antisipasi musim panas, tentu yang lebih nyaman adalah cuaca sejuk alami. Bear sempat susah makan, pertama karena adaptasi cuaca, kedua karena sempat kembali makan makanan instan berhubung saya cape sekali dengan urusan memasak. Tapi untungnya ini berlangsung sebentar saja. Kemudian saya pun mulai memperkenalkan makanan orang dewasa ke Bear, tanpa bumbu yang berasa tajam tentunya. Sejauh ini lancar. Selain itu, kami juga harus mendaftarkan Bear ke klinik terdekat (setara Puskesmas kalau di Indonesia) untuk imunisasi selanjutnya. Ternyata jadwal pemberian vaksin di Indonesia dan Australia itu sedikit berbeda. Imunisasi yang sudah didapat di Indonesia jadi tidak β€œmatching” dengan jadwal Australia. Akhirnya setelah konsultasi sana sini dengan para petugas medis terkait, si Bear harus diimunisasi dari awal lagi. Jadi dianggapnya seperti bayi baru lahir, diberi imunisasi jadwal tahun pertama dalam waktu 3 bulan, sehingga begitu menginjak usia 18 bulan, catatan imunisasi Bear akan sama dengan semua bayi 18 bulan lainnya di Australia. Apalagi ya.. Oh ya Bear sudah bisa berjalan sendiri meski kadang jatuh. Kemudian, dia mulai pakai baju untuk usia 18 bulan dan 24 bulan ukuran Australia (tergantung modelnya juga).
l) Umur 14 bulan Bear tampaknya mulai merasa betah dengan lingkungan barunya, dan sudah bisa berlari dengan baik juga. Dia mulai bisa makan sendiri. Sarapan dan cemilan biasanya dimakan sendiri tanpa disuapi, sementara makan siang dan makan malam tergantung jenis makanannya. Jika masih bisa dipungut dengan jarinya maka dia akan makan sendiri, jika tidak memungkinkan ya disuapi. Kemudian sehari-harinya dia jadi lebih suka main di luar, entah itu di teras, pekarangan, atau di taman umum dekat rumah.
m) Umur 15 bulan mulai suka menyimpan barang-barang, kadang di tempat biasa, kadang di tempat tak biasa. Misalnya remote control TV disimpan di atas meja TV (biasa), mainan disimpan di kotak mainan (biasa), bantalnya disimpan di ruang penyimpanan barang bekas (tidak biasa), HP-ku disimpan di lemari baju M (tidak biasa). Bear selalu tertarik dengan kegiatan menyikat gigi. Kalau saya atau bapaknya sedang sikat gigi, dia memperhatikan dengan seksama sambil tersenyum-senyum. Karena itu kami beri dia sikat gigi balita dan mulai  belajar menyikat gigi sendiri.
n) Umur 16 bulan mulai punya kosa kata baru seperti β€œBa..ba..ba..” (bird), dan mulai menyerocos dengan intonasi seperti percakapan. Mulai tertarik dengan bongkar pasang mainan Lego, meskipun statusnya yang pasang saya dan yang bongkar dia. Mulai suka memanjat apapun yang bisa dipanjat. Misalnya naik ke kursi makan, kemudian ke meja makan untuk mengambil mainannya yang kebetulan ditaruh di situ, terus turun lagi ke kursi kemudian ke lantai. Atau pernah saya memergokinya bergelantungan di sandaran sofa, sedang berusaha meraih remote control AC yang tertempel di dinding.. Duh.., bikin jantung emak mau copot saja sih, Nak.. 
o) Umur 17 bulan sudah bisa lari dengan kencang, bahkan kadang dia berusaha melarikan diri dari samping saya atau bapaknya saking ingin bebasnya berlari. Gigi sudah ada 16 buah, berarti tinggal 4 lagi yang belum tumbuh. Masih berlanjut dengan kegiatan menyikat giginya sendiri, tapi jangan membayangkan dia menyikat gigi seperti orang dewasa ya..   Bear lebih ke menggigit/mengunyah sikat gigi daripada menyikat gigi. Kami tentu saja setiap saat mengajarkan menyikat gigi yang benar. Tapi namanya anak bayi.., ya begitulah.. Namun setidaknya lumayan dia mau menyikat giginya sendiri.. Makin sering bermain dengan Lego-nya, Bear mulai tertarik merancang sendiri apa yang mau dipasang, sementara “jabatan” saya tidak berubah: “asisten Lego”, alias tukang pasang blok Lego berdasarkan hasil pemikiran sang perancang cilik..
p) Umur 18 bulan kurang lebih sama seperti umur 15-17 bulan. Pertama kali mengalami masuk angin gara-gara sewaktu bermain di taman tiba-tiba suhu udara berubah dari hangat ke dingin ditambah angin kencang. Hasilnya.., si Bear muntah..! Tapi dengan perawatan yang tepat, dia pulih keesokan harinya. Apalagi ya.. Oh ya.., waktu lahir BB/TB Bear adalah 3.8kg / 51cm, saat ini di usia 1.5 tahun menjadi 15.2kg / 86.5cm. Di Kartu Menuju Sehat (KMS) berat segini setara dengan berat anak usia di atas 2 tahun. Sementara di grafik persentil, BB/TB segini masuk ke 97 atau 98 persentil. Intinya kalau di atas kertas, orang pasti menyangka ini anak gemuk bahkan cenderung kegemukan. Tapi jika melihat langsung, si Bear tampak normal saja (menurut saya..hehehe). Tidak besar tapi tidak kecil juga. Kalau kata ibu mertua: solid body katanya alias padat berotot..hehehe.. Saat ini dia sudah mulai memakai baju untuk usia 2 dan 3 tahun ukuran Australia, meski masih sedikit longgar, tapi ini tergantung modelnya juga. Sementara baju ukuran sesuai usianya, 18 bulan, masih cukup tapi mulai nampak sempit.

Kalau dilihat dari tulisan ini mungkin terkesan semunya berjalan mulus. Padahal sebetulnya dan sesungguhnya, seperti umumnya membesarkan anak di mana pun, tentu ada manis pahitnya, ada naik turunnya. Atau seperti yang Tika pernah bilang di blognya: everyone has its own battle.. Tapi yang namanya hidup ya dijalani saja..

Dan begitulah cerita saya tentang Bear kali ini..

Cerita kelahiran..(02)

Sambungan dari post sebelumnya..

Saat itu Oktober 2015, C-section dijadwalkan hari Kamis jam 13:00 di RSIA Bunda, Menteng, Jakarta. Saya dan ibu saya berangkat dari Cianjur hari Selasa dan langsung check-in di hotel yang terletak di depan rumah sakit. Di saat yang sama, suami terbang dari Kalimantan menuju Jakarta dan langsung bergabung dengan kami di hotel. Di hari itu pula saya ditemani ibu saya mengurus administrasi melahirkan. Satu hal penting lainnya yang dilakukan di hari itu adalah menemui dokter anestesi untuk memeriksa kondisi punggung/tulang belakang saya dan memberikan penjelasan tentang tindakan pembiusan itu sendiri . Operasi Caesar adalah tindakan bedah dengan pembiusan regional yang dilakukan di punggung/tulang belakang. Dokter anestesi bilang bahwa pemeriksaan ini penting karena jika ada kelainan di tulang belakang kita, maka tindakan antisipasi dapat dilakukan/diketahui lebih awal. Untunglah bentuk tulang belakang saya normal. Besoknya hari Rabu, kami semua beristirahat di hotel.

Di hari Kamis saya sudah berada di RS sekitar jam 8 pagi dalam keadaan puasa sejak jam 7 pagi. Sekitar jam 9:30 saya diminta masuk ke ruang perawatan yang nantinya akan jadi ruang pemulihan pasca operasi. Di sini dilakukan beberapa tes dan observasi, saya lupa nama tesnya. Berikut ini fotonya. Β Β Β  Β Β  Β Β Β Β Β  Kemudian jam 12 siang saya diminta mengenakan baju RS, dan jam 12:30 dibawa ke ruang transisi. Di sini saya dipersiapkan untuk menjalani operasi, dipasangkan kateter, infus, dan entah tempelan apalagi di lengan saya. Suami juga diminta mengenakan baju ruang operasi. Di ruang transisi ini, dia sempat tanya apakah saya gugup. Saya tidak gugup, malah merasa gembira karena beban berat di perut saya akan segera berakhir. Suami malah sempat gelisah karena saya bilang begini: “Kalau saya tidak selamat dari proses ini, saya ingin hanya kamu yang merawat anak kita.” Saya tidak bermaksud menakuti-nakuti, hanya mengingatkan bahwa di atas segala rencana hebat manusia, masih ada suratan takdir dari Yang Maha Kuasa.

Jam 13:00 saya dibawa ke ruang operasi. Di sana sudah ada beberapa petugas medis dengan fungsinya masing-masing. Mereka menyiapkan semuanya, termasuk pembiusan di tulang belakang. Menurut saya, proses pembiusan di tulang belakang ini rasanya sakit dan ngilu tapi tak lebih sakit dari jari yang terjepit pintu (jari saya pernah terjepit pintu.. Gila sakitnya!!!). Beberapa menit kemudian, dokter kandungan yang menangani saya sejak awal program IVF tiba di ruang operasi. Setelah tes ini dan itu, operasi dimulai. Pada saat operasi berlangsung, tubuh bagian bawah terasa diguncang pelan, ada 2 orang di depan kaki saya, 3 orang di belakang kepala saya (termasuk suami). Semua orang tersebut mengobrol ngalor ngidul dengan saya, di antaranya tentang beras Cianjur dan tebak-tebakan lagu yang terdengar dari radio yang menyala di ruang operasi tersebut. Obrolan berakhir ketika Bear akhirnya keluar dari perut saya dan dokter berseru ke suami: “It’s a boy!” Sebetulnya kami sudah tahu dari awal bahwa bayinya laki-laki, tapi dokterku itu ceritanya lucu-lucuan akting meniru adegan melahirkan di film-film Hollywood..hehehe.. Dokter kemudian menyerahkan Bear ke pangkuan saya untuk IMD (inisiasi menyusui dini). Saya ingat ketika disodorkan ke saya, Bear menangis pelan dengan suara seraknya dan kulitnya masih tampak gelap, geuneuk kalau kata orang Sunda mah. Hal pertama yang saya ucapkan ke dia adalah: β€œBear, kumaha damang?” (Bear, apa kabar?). Tangisannya berhenti begitu dia berbaring di dada saya.
Operasi C-section itu sendiri berlangsung sekitar 20 menit. Setelah proses IMD, Bear dibawa ke ruang observasi bayi ditemani suami saya. Sementara saya sendiri masih di ruang operasi, “dirapikan” dulu sebelum kembali ke ruang transisi. Begitu berada di ruang transisi, saya mengantuk berat, tapi anehnya merasa segar juga. Setelah beberapa jam di ruang transisi, seluruh badan mulai terasa sakit, tapi semua perawat menyarankan saya untuk menggerakkan badan. Mereka bilang, semakin kita menunda menggerakkan badan, semakin kaku otot, sehingga akan makin terasa sakit saat nantinya digerakkan.
Dan meski sempat berlinang air mata menahan sakit, di tempat tidur di ruang transisi itu perlahan-lahan saya gerakan badan, mulai dari telapak tangan dan kaki, kemudian berbalik ke kiri dan ke kanan. Memang sakit, tapi lama kelamaan rasa sakit itu berkurang dan akhirnya terasa hanya di area perut. Begitu merasa mendingan, saya dipindahkan ke ruang perawatan. Saat itu sudah sekitar jam 8 malam. Saya merasa lelah dan sangat lapar tapi baru boleh minum air putih dan teh manis. Sejam kemudian, setelah yakin reaksi tubuh saya baik-baik saja, perawat memberikan bubur sumsum sebagai makanan β€œpadat” awal setelah operasi. Saya bilang ke suami, mana bisa kenyang kalau cuma makan bubur sumsum, saya maunya nasi padang..hahaha.. Suami tertawa dan geleng-geleng kepala. Akhirnya saya tidur pulas dengan kateter dan infus masih tersambung, ditemani ibu saya yang tidur di kasur tambahan. Sementara suami bolak-balik antara kamar saya dan ruang observasi bayi sampai akhirnya dia balik ke hotel dan tidur di sana.
Besoknya hari Jumat, pagi-pagi sekali perawat memeriksa kondisi saya dan membawa Bear ke kamar saya untuk disusui. Kateter dilepas agar saya leluasa bergerak, lalu saya pun sekalian minta infus dilepas juga, toh sarapan sungguhan akan disajikan. Duh.., saya antusias banget menantikan sarapan ini.., lapaaaarrr… Ada 3 kali pemberian makanan berat dan 2 kali makanan ringan, dan saya suka semua makanannya..hehehe.., memang gembul pada dasarnya… Tak lama kemudan, dokter kandungan yang hari sebelumnya mengoperasi saya datang memeriksa. Dia bilang semuanya baik-baik saja. Sepanjang hari itu sampai malamnya, para perawat silih berganti datang memeriksa dan juga mengajari saya menyusui Bear. Salah satu hal yang para perawat itu lakukan adalah memastikan urusan buang air besar (BAB), buang air kecil (BAK), dan juga buang gas saya lakukan dengan lancar tanpa ada bantuan alat maupun orang. Katanya ketiga hal ini harus dipastikan lancar di masa awal pasca operasi sebagai indikasi bahwa masa pemulihan berjalan sebagaimana mestinya. Di hari pertama setelah operasi, bergerak itu sebetulnya masih lumayan sakit, tapi saya tegaskan ke diri sendiri bahwa rasa sakit itu hanya ilusi, karena semua baik-baik saja.
Besoknya Sabtu pagi, dokter kandungan kembali memeriksa saya, hasil pemeriksaan semuanya baik. Kemudian dia bilang bahwa saya sudah boleh pulang.. Yaaayyy..!!! Dokter kemudian meresepkan beberapa obat/vitamin serta rekomendasi perawatan setelah operasi. Kami langsung persiapkan semuanya untuk pulang. Suami menyelesaikan urusan administrasi. Kemudian kami diajari dulu oleh dokter anak dan para perawat mengenai cara penanganan/perawatan bayi baru lahir. Setelah urusan di RS selesai, kami balik ke hotel dan check-out. Tak lama kemudian kami pulang ke Cianjur dan sekitar malam Minggu itu tiba di rumah dengan selamat.
Besoknya Minggu pagi, saya mulai beraktivitas seperti biasa namun dimulai dengan kegiatan fisik yang ringan seperti berjalan kaki ke supermarket terdekat, belanja kebutuhan dapur, pulang ke rumah menyiapkan sarapan. Itulah salah satu rekomendasi medis pasca operasi Caesar ini: usahakan beraktivitas seperti biasa, hanya hindari dulu gerakan mengangkat beban selama beberapa minggu ke depan. Rasa sakit masih terasa di area perut tapi dalam kadar yang bisa ditolerir.
Seminggu kemudian saya kontrol ke dokter. Rasa sakit sudah jauh berkurang, nyaris tidak ada malah, bekas luka operasi sudah sembuh tapi belum kering total sehingga perban masih digunakan. Seminggu berikutnya saya kontrol lagi dan akhirnya luka bekas operasi benar-benar kering, perban dilepas, dan rasa sakit pun sudah tak ada lagi.
Demikianlah cerita melahirkan versi saya. Ternyata tak seburuk yang dibayangkan, sangat lancar malah. Saya sangat bersyukur semua berjalan dengan baik. Teman-teman perempuan menganggap proses persalinan yang saya alami β€œterlalu mulus” sehingga mereka iri.. Hahaha.. Ada-ada saja.. Tentu mereka hanya bercanda, semua orang turut berbahagia karena semua berjalan lancar.
Ada yang punya cerita melahirkan? Atau sedang menantikan kelahiran sang buah hati? Jangan ragu untuk berbagi cerita ya. Terima kasih sudah membaca cerita saya yang panjang ini..hehehe..

Cerita kelahiran..(01)


Tak terasa sudah empat bulan yang lalu saya melahirkan Bear. Sampai saat ini pengalaman itu kadang masih terasa tak nyata. Mungkin ini karena saya pertama kali menjadi ibu di usia 40an, usia ketika para wanita umumnya selesai beranak pinak. Ketika mendekati usia akhir 30an dan belum punya anak juga, sempat terpikir mungkin saya memang tidak akan pernah hamil dan melahirkan. Untunglah keinginan untuk punya anak itu akhirnya terkabul setahun yang lalu.
Nah, kembali ke cerita melahirkan.. Saya tumbuh di lingkungan yang memberi kesan bahwa melahirkan itu adalah sesuatu yang menakutkan dan menyakitkan secara fisik dan mental, serta bernuansa dramatis. Kesan ini makin diperkuat ketika saya beranjak dewasa. Ketika teman-teman seangkatan mulai berkeluarga di usia 20an, makin sering saya mendengar cerita melahirkan yang tak kalah “seram”. Dan ini “diperkuat” dengan ungkapan: melahirkan itu bagaikan bertaruh nyawa.. Deg..! Jantung saya mau copot rasanya setiap kali mendengar istilah atau anggapan ini diucapkan, atau setiap kali seorang teman lagi-lagi berbagi cerita kelahiran anaknya atau anak orang lain. Belum lagi ketika cerita melahirkan yang “horor” ini ternyata tidak selalu berakhir bahagia. Duh..:-( Mau tutup telinga atau permisi undur diri, tapi rasanya kurang sopan ya.. Begitulah yang ada di pikiran saya saat itu. Ya sudah.., saya tetap diam di tempat dan mendengarkan, sehingga makin banyaklah perbendaharaan cerita melahirkan tersebut di otak saya.
Saya pun berusaha mencari tahu lebih banyak hal tentang melahirkan ini. Salah satunya adalah dengan membaca data terkait. Dan menurut statistik yang terakhir saya baca dari website Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (www.pkbi.or.id), angka kematian ibu melahirkan ternyata meningkat dari tahun ke tahun. Nah loh..!
Tapi kemudian, saya berpikir, kalau melahirkan itu menakutkan (dalam segelintir kasus kadang mematikan), mengapa mayoritas wanita, setidaknya para wanita yang saya kenal, tetap memutuskan punya anak? Mungkin karena “imbalannya” setimpal ya.., mendapatkan anak yang didambakan. Mungkin itu salah satu alasannya. Entahlah..
Lalu bagaimana dengan saya? Seingat saya, saya selalu ingin punya anak, dan selalu membayangkan akan punya dua anak dengan mudah dan cepat, semudah dan secepat orang kebanyakan. Tapi kenyataan tidak sejalan dengan keinginan, sama seperti beberapa hal lainnya dalam kehidupan ini.
Singkat cerita.., saya akhirnya berhasil hamil setelah 5 tahun menikah, melalui serangkaian usaha untuk hamil, yang berujung dengan program IVF yang melelahkan fisik, mental, dan dompet. Kemudian mungkin alam semesta ini akhirnya berbelas kasihan pada saya dengan memberikan masa kehamilan yang relatif mudah. Masa kehamilan saya jalani dengan lancar bagaikan berkendara di jalan bebas hambatan. Tidak ada episode “ngidam”, episode mual muntah berlangsung hanya 3 minggu. Secara umum saya sehat, bahkan flu pun tidak ada. Hanya ada 2 “insiden” dengan perut/lambung saya. Dua-duanya karena kondisi hormonal kehamilan yang membuat lambung saya yang dulu banget sempat bermasalah menjadi sensitif lagi.
Pertama, dalam masa mual muntah di usia kehamilan 2 bulan, kondisi hormonal sempat mengakibatkan kadar asam lambung naik drastis sehingga selama tiga hari muntahnya mengandung sedikit bercak darah yang berasal dari dalam kerongkongan yang terluka akibat gerakan memuntahkan. Dokter memberi saya obat lambung yang aman bagi wanita hamil, tak lama kemudian masalah teratasi. Kedua, di usia kehamilan 8 bulan, saya makan sepotong kue bersantan yang ternyata santannya sudah basi. Lambung saya bereaksi cukup heboh; mual, muntah, dan pening berat semalaman sampai paginya. Saya pun diberi obat lambung/sakit perut yang aman untuk wanita hamil. Dalam kondisi normal, lambung saya pastinya bereaksi juga tapi tidak akan seheboh dua kejadian di atas.
Selama hamil saya beraktivitas seperti biasa sampai usia kehamilan 8 bulan karena saat itu badan saya sudah terlalu berat. Berat badan naik 30 kg (ya betul, 30, bukan 13, apalagi 3..). Berat badan saya naik begitu banyak karena terapi hormon yang dijalankan saat program IVF juga menyebabkan berat badan naik, itu salah satu efek samping yang dialami, mungkin orang lain berbeda reaksinya. Sekarang berat tambahan 30 kg itu sudah turun 16 kg. Sementara itu selama di dalam kandungan, bayiku Bear juga sehat, tidak pernah ada masalah apapun.
Kemudian, sehari-hari di rumah saya tinggal sendiri saja, suami pulang dari Kalimantan sebulan sekali. Saya tidak punya pekerja rumah tangga karena lebih suka mengerjakan sendiri semua tugas di rumah. Semua orang (kecuali keluarga dekat yang tahu sifat dan kebiasaan saya) khawatir begitu tahu saya di rumah seringnya sendirian. Padahal saya baik-baik saja, saya tidak merasa kesepian, ketakutan, atau kelelahan. Bahkan saya berhasil melaksanakan ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh. Waktu itu di usia kehamilan 5 bulan, saya berkata pada diri sendiri seperti ini: “Saya akan berpuasa, Β semoga kuat. Tapi jika tidak kuat, saya akan langsung melipir saja ke dapur dan tidak akan memaksakan diri”. Tapi di usia kehamilan 8 bulan saya minta adik saya tinggal bersama saya demi keselamatan diri karena dengan berat ekstra 30 kg itu saya sudah semakin sesak bernafas, ditambah lagi cuaca yang semakin panas di musim kemarau saat itu.
Dan tibalah saat melahirkan. Sejak awal, dokter tidak merekomendasikan melahirkan normal karena usia saya yang di atas 35 tahun itu masuk kategori resiko tinggi. Ditambah lagi ini adalah kelahiran pertama dan hasil IVF pula yang dalam kasus saya dianggap akan lebih aman jika melalui proses operasi. Saya maunya melahirkan cara normal karena katanya melahirkan via operasi itu masa pemulihannya lama dan bisa lumayan menyiksa, sementara melahirkan normal hanya terasa sakit saat melahirkan. Tapi sampai minggu-minggu terakhir masa kehamilan, rekomendasi dokter tidak berubah: C-section. Ya sudah, kami ikuti saja rekomendasi medis tersebut. Dan berdasarkan pemeriksaan di usia kehamilan 8 bulan, akhirnya diputuskan bahwa tindakan C-section akan dilakukan dua minggu berikutnya.

Bersambung ke post berikutnya..