(057) Suntuk..

Memasuki tahun 2013 saya mendadak galau. Saya lagi pikir-pikir soal bekerja lagi atau tidak. Sejak kembali tinggal di Indonesia di tahun 2012, rencana utama saya dan M sebetulnya ingin punya anak. Tapi sampai saat itu belum terjadi. Mau melanjutkan ikhtiar melalui IVF juga mentok di kendala teknis (jarak, tempat, waktu).
Kemudian saya mulai dapat beberapa tawaran bekerja. Yang pertama dari mantan atasan di Sangatta, yang kedua dari seorang teman di Bandung, yang ketiga dari kenalannya seorang teman di Tangerang, yang keempat dari kenalannya teman di Balikpapan, yang kelima dari mantan atasan yang lainnya di Jakarta. Awalnya semua sangat menjanjikan. Setidaknya saya yakin bakal dapat salah satu dari empat tawaran itu. Tapi kemudian satu per satu tawaran kerja itu mundur karena berbagai hal. Umumnya karena proyek pekerjaan yang akan dituju jadi mundur jadwalnya.
Dari sisi saya sendiri, sebetulnya dilema juga jika benar-benar kembali “ngantor”. M waktu itu bekerja dengan jadwal 5 minggu kerja 2 minggu libur. Artinya selama 5 minggu berturut-turut dia ada di lokasi tambang, setelah itu libur selama 2 minggu, begitu seterusnya. Kami tinggal di kompleks perumahan karyawan di Sangatta. Jika saya bekerja di luar Sangatta, berarti kami harus tinggal terpisah. Belum lagi dengan jadwal kerja dia yang tidak biasa itu. Kalaupun saya bekerja di Sangatta, jadwal kerja kami tak akan pernah sama. Kalau saya bekerja lagi, kemungkinan besar jadwal kerjanya yang umum saja, 5 hari kerja 2 hari libur, atau 6 hari kerja 1 hari libur. Nah kalau sudah begini.., lalu apa kabarnya dengan program punya anak..? Duuuhh..
Dan entah kenapa.., di setiap tahapan kehidupan yang sedang dijalani, saya sering mendapat komentar tak enak hanya karena orang tersebut tidak sependapat dengan apa yang saya yakini baik untuk diri saya. Padahal seingat saya, saya tidak peduli apa pilihan hidup orang lain selama itu tidak menggangu hidup saya. Contohnya begini, dulu di umur 20-30an, waktu saya sedang jaya-jayanya berkarir, banyak orang di sekitar yang bilang: perempuan berkarir terus dan seperti lupa cari jodoh itu tidak baik, perempuan kalau tidak menikah dan punya anak itu tidak ada artinya, laki-laki akan takut mendekati perempuan yang terlalu tinggi karirnya, dll.., dll.. Nah.., ketika saya memutuskan untuk jadi “lady of leisure”, ibu rumah tangga yang tugasnya mengurus rumah tangga saja sambil sesekali “ngebolang”, ternyata tetap saja ada yang komentar tak enak seperti ini: tuh kan sudah sekolah tinggi-tinggi akhirnya di rumah saja, sayang sekali karir sudah bagus sekarang “hanya” jadi ibu rumah tangga, jadi perempuan itu kalau hanya mengandalkan gaji suami bakal susah jika ada apa-apa.., dll.., dll.. Lucunya.., banyak di antara mereka yang komentar dulu dan sekarang tersebut adalah orang yang sama. Jadi dulu waktu saya masih kerja, orang ini komentar negatif, ketika saya memutuskan berhenti bekerja, orang ini komentar negatif juga.. Bahkan ada satu orang yang bukan hanya berkomentar negatif, tapi juga melakukan apa yang dulu dia kritik terhadap saya: bekerja. Alasan kenapa dia jadinya bekerja, sementara dulu dia mengkritik saya yang bekerja: “Ya soalnya tuntutan hidup, Em.. Gaji suami tidak cukup ternyata..” Jadi seperti “menjilat ludah sendiri” kan..
Saya cerita ke M, rasanya saya selalu berada di grup sosial yang salah..hehehe.. M bilang, orang-orang yang berkomentar itu mungkin hanya iri karena saya selalu tampak bahagia terlepas dari apapun pilihan hidup saya.. Mmm.., masuk akal..
Tapi yang namanya perasaan suntuk itu masih ada.. Terus saya pikir-pikir.., harus melakukan sesuatu supaya tidak merembet ke arah mental breakdown alias suntuk bin galau tingkat dewa..
Akhirnya saya salurkan energi kegalauan ini ke olahraga. Harap dicatat, aslinya saya bukan orang yang suka berolahraga karena saya tidak suka keringatan. Tapi demi kewarasan otak dan kegembiraan jiwa saya lakukan juga. Masih ingat mensana in corpore sano, a healthy mind in a healthy body, di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat..? Olahraga yang saya lakukan adalah latihan cardio and strength (kekuatan jantung dan ketahanan otot) di gym, Zumba dan segala macam aerobic dance di rumah, berenang, dan jalan kaki. Semua ini saya lakukan sendiri secara bergantian, tanpa teman, tanpa pelatih. Kebetulan kompleks perumahan tempat kami tinggal punya gym/fitness centre sendiri. Jadwalnya setiap hari kecuali Minggu, dengan durasi 90 menit. Jadi saya anggap berolahraga ini seperti pergi “ngantor”. Hasilnya setelah 4 bulan.., suntuk berkurang banyak, berat badan berkurang sekitar 8 kg.. Saya pun tak punya banyak waktu lagi untuk memikirkan hal-hal tak penting. Lumayan positif..
Nah.., selain hal di atas.., kami juga punya beberapa rencana kegiatan sepanjang tahun 2013 tersebut.. Semuanya kebetulan di Australia. Nanti saya cerita di episode selanjutnya.. Yang jelas, saya baru ngeh, ternyata di 2013 tersebut lumayan padat jadwal kegiatan kami selama liburan di Australia tersebut.

Bersambung…
Episode sebelumnya: (056) Komentar tak terduga..

(056) Komentar tak terduga..

Sebagai perempuan yang punya pasangan seorang WNA, sudah tak terhitung banyaknya komentar yang dilontarkan ke saya karena hal ini atau mengenai hal ini. Padahal di kehidupan sehari-hari saya jarang membahas tentang M. Tapi begitu orang tahu, pasti dikomentari. Saya yakin para pelaku pernikahan campuran lainnya juga banyak menerima komentar tersebut. Dari yang paling umum sampai yang paling spesifik, dari yang sopan sampai ke yang kurang ajar. Dari sekian banyak komentar yang saya pernah terima, ada satu yang tidak saya duga, tapi setelah dipikir-pikir, mungkin masuk akal juga.

Suatu hari menjelang akhir tahun 2012, saya menghadiri acara kantor M yang juga dihadiri oleh istri/suami dari para karyawan. Seperti biasa karena sudah kenal banyak karyawan dan pasangannya, saya mengobrol ngalor ngidul dengan banyak orang. Sampailah saya ke kumpulan ibu-ibu istri karyawan (semuanya orang Indonesia). Kami berbicara tentang hal-hal umum saja awalnya. Kemudian satu persatu mereka berpamitan karena acara sudah selesai. Tinggal satu orang yang masih mengobrol dengan saya. Dia ini usianya sudah agak senior, mungkin pertengahan 50an menjelang 60 tahun. Karakternya ramai dan suka bercerita. Kemudian si ibu tersebut bertanya-tanya soal M. Awalnya pertanyaan/komentar standar saja: Ketemu di mana..? Sudah berapa lama menikah..? Pak M itu satu divisi sama Pak A, ‘kan..? dst..dst..
Kemudian dia bilang begini: “Baguslah, Mba.. Suaminya bule.. Setidaknya kalau bercerai, lumayan dapat 30 jutaan per bulan..”
Selama beberapa detik saya tidak yakin bagaimana harus menanggapinya.. Akhirnya saya berkata: “Mm.., maksudnya, Bu..?”
Dia pun menjelaskan: “Saya punya tetangga, menikah sama bule, eh ternyata gak awet.. Cerai deh mereka.. Anaknya 2 orang ikut ibunya tinggal di Balikpapan.. Mantan suaminya balik ke negaranya Australia, tapi tiap bulan selalu mengirim uang buat anak-anaknya.. Tigapuluh juta sebulan lumayan banget loh, Mba.. Kalau kerja biasa mana ada yang kasih gaji segitu..”
Dan sambil tersenyum-senyum saya berkata: “Tapi kan tujuan saya menikah bukan untuk bercerai, Bu..”
Lalu si ibu memberikan klarifikasi: “Pastinya gak dong, Mba.. Semua rumah tangga pasti ingin langgeng dan bahagia.. Cuma menurutku jika mantan suami tetanggaku itu orang lokal, belum tentu bisa kasih segitu.. Atau malah sama sekali gak bertanggung jawab.. Banyak contohnya, Mba.. Aku kasihan kalau lihat perempuan yang harus banting tulang sendiri membiayai anak-anaknya, sementara si mantan suami pergi begitu saja, bahkan mungkin kawin lagi tanpa peduli anak-anaknya yang masih perlu biaya..”
Sepulang dari acara tersebut, saya jadi terpikir terus perkataan si ibu. Bukannya apa-apa.. Hanya merasa bahwa meski awalnya terkesan “vulgar”, namun omongannya mengingatkan saya akan kenyataan lain. Ada beberapa keluarga dan teman perempuan yang menjanda, kemudian harus banting tulang sendiri menafkahi anak-anak mereka yang masih di bawah umur karena mantan suami (yang mana adalah ayah dari anak-anak tersebut) tidak mau atau tidak bisa memberikan tunjangan untuk anak-anaknya. Ada yang berhasil bangkit dari kesulitan ekonomi, ada juga yang masih terpuruk. Saya jadi bertanya-tanya, di Indonesia adakah undang-undang atau peraturan untuk melindungi hak anak dalam kondisi tersebut? Saya yakin ada, yang perlu dicek lagi mungkin penerapannya.
Yang saya tahu di Australia, anak-anak di bawah umur secara finansial merupakan tanggung jawab kedua orang tuanya, terlepas dari kondisi hubungan orang tua tersebut. Pengaturan yang umumnya dilakukan jika orang tua berpisah, anak-anak yang masih di bawah umur ikut sang ibu, kemudian sang ayah memberikan tunjangan bulanan untuk anak-anak, yang diberikan melalui sang ibu (mantan pasangan sang ayah), besarnya sesuai kesepakatan semua pihak terkait. Hal ini ada peraturan/undang-undangnya sehingga kuat secara hukum. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada pelanggaran ya.. Mungkin karena payung hukum dan penegakan hukumnya jelas dan kuat, maka pelanggaran bisa diminimalisir.
Nah, kembali ke komentar si ibu tadi, yang kebetulan memang punya anak perempuan berusia dewasa.. Saya berusaha memahami sudut pandang dia. Sebagai seorang ibu yang punya anak perempuan, pasti dia ingin yang terbaik untuk anak perempuannya, bahkan jika yang dianggap terbaik itu harus diambil dari suatu kondisi terburuk. Begitulah kira-kira empati saya terhadap pernyataan dia itu.
Biasanya setelah menghadiri acara semacam itu, di sepanjang perjalanan pulang saya dan M saling cerita tentang obrolan kami dengan orang-orang. Tapi kali itu, spesifik untuk hal ini saya pikir ceritanya lain waktu saja. Waktu itu saya tidak yakin kira-kira tanggapan dia akan bagaimana. Beberapa waktu kemudian, ketika situasi dan kondisi dirasa tepat, akhirnya saya cerita juga soal komentar ini. Tanggapan M positif saja, maksudnya dia paham mengapa si ibu sampai berpikiran seperti itu..
Nah, kalian yang punya pasangan WNA, pernah dapat komentar tak terduga juga..? Atau sengaja tidak sengaja pernah mengomentari orang lain dengan pernyataan tak terduga semacam ini..?

Bersambung…
Episode sebelumnya: (055) Mau yang warna-warni..? 

 

(055) Mau yang warna-warni..?

Saya mungkin termasuk orang berusaha untuk menjalankan prinsip “finish what you started” (selesaikan apa yang sudah kamu mulai). Di antaranya menyelesaikan tulisan seri Flashback ini meski sempat vakum blogging dua kali, total selama 1.5 tahun, dan juga merapikan gigi.
Waktu kecil gigi saya awalnya baik-baik saja. Kemudian seiring waktu saya punya kebiasaan memaksakan diri menggigit makanan bertekstur keras tanpa dipotong-potong terlebih dahulu seperti apel, jambu batu, dan permen bertekstur keras. Saya menggigit makanan keras tersebut dengan gigi depan atas dan bawah. Penyebab lainnya mungkin kondisi awal gigi saya memang kurang stabil sehingga mudah bergerak atau berubah posisi. Waktu itu saya tidak merasa ada yang aneh dengan gigi saya, tapi orang tua kelihatannya memperhatikan hal ini, sehingga memutuskan agar saya pakai kawat gigi.
Saat itu saya berumur 10 tahun, masih SD, sekitar tahun 84-85. Di zaman itu belum ada dokter gigi spesialis ortodontis di Cianjur, jadi saya diantar Ayah pergi ke Bandung, tepatnya ke poliklinik gigi di Universitas Padjadjaran Bandung. Siapa sangka di kemudian hari saya malah kuliah di universitas tersebut. Saya lupa persisnya tapi poliklinik gigi ini kelihatannya berada di bawah naungan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran.
Masalah di gigi saya waktu itu adalah 2 gigi depan atas tidak rata, yang satu terlalu ke depan. Selain itu 4 gigi depan bawah berjejer seperti jalur zigzag, bukannya melengkung seperti kurva. Saya ingat semua proses kawat gigi tersebut. Ada 2 gigi samping atas yang dicabut untuk memberi ruang ke gigi depan yang akan digeser. Kemudian cetak rongga mulut, dilanjutkan dengan pengepasan, belajar cara pasang/lepas/perawatan, dst.., dst.. Sampai akhirnya si kawat gigi bisa nangkring dengan pas di geraham atas. Ini ceritanya saya pakai kawat gigi yang bisa dilepas sendiri seperti gambar di bawah ini, bukan yang permanen.

Redwood-City-Retainers-Services

sumber: Google

Saya memakai kawat gigi ini sekitar 6 bulan. Selama itu pula saya jadi pusat perhatian karena waktu itu tak ada orang lain di sekitar saya yang memakai kawat gigi. Bagaimana rasanya pakai kawat gigi..? Ya menderita.., terutama di satu bulan pertama, namanya juga “pemaksaan” gerakan. Dalam jangka waktu 6 bulan tersebut saya kontrol ke klinik di Bandung, awalnya 1 kali seminggu, kemudian 1 kali sebulan. Setelah 6 bulan selesai dengan gigi geraham atas, seharusnya lanjut dengan gigi geraham bawah. Tapi apa daya saat itu anggarannya tidak mencukupi. Hasil dari tahap pertama itu awalnya cukup memuaskan. Dua gigi depan tampak rata meski tidak 100% rata satu sama lain. Namun seiring waktu, dua gigi depan tersebut bergerak lagi ke posisi semula, meski tidak separah posisi awal sebelum pemakaian kawat gigi.
Singkat cerita, 25 tahun kemudian di tahun 2010, saya ingin pasang kawat gigi lagi terutama untuk gigi geraham bawah yang sama sekali belum diperbaiki. Tapi lagi-lagi ada kendala teknis. Saat itu saya tinggal di Sangatta, seingat saya belum ada dokter gigi spesialis ortodontis di sana. Kemudian waktu saya dan M sedang berlibur di Australia, akhirnya saya pasang partial denture di sebuah klinik gigi di Townsville, kira-kira seperti contoh gambar di bawah, ini untuk gigi geraham bawah.

partial-denture

Sumber: Google

Bagi saya partial denture ini berfungsi untuk menjaga posisi gigi yang ada agar tidak bergerak lagi. Saat itu ada satu rongga gusi tanpa gigi di geraham bawah karena giginya sudah tanggal. Berbeda dengan braces atau kawat gigi yang memerlukan konsultasi rutin lanjutan, partial denture ini tidak perlu, setidaknya tidak dengan kasus saya. Sejak saat itu saya pakailah partial denture tersebut sampai kami tinggal lagi di Indonesia tahun 2012. Saat itu saya perhatikan posisi gigi depan bawah masih sama (berantakannya). Sementara gigi depan atas berubah posisinya, yang satu menjadi lebih ke depan. Jadi saya putuskan untuk ke dokter gigi lagi untuk pasang kawat gigi.
Kali ini saya pergi ke dokter gigi spesialis ortodontis di Cianjur. Dokter ini belum ada sewaktu saya pasang kawat gigi pertama kali di tahun 80an. Prosesnya mirip saja dengan yang sebelumnya, foto rontgen rongga mulut juga dilakukan untuk memastikan posisi gigi geliginya. Selain itu tak ada gigi yang perlu dicabut. Kawat gigi yang dipasang sudah modern bentuknya. Awalnya geraham atas yang dipasangi kawat gigi, beberapa minggu kemudian geraham bawah. Satu bulan pertama pemakaiannya benar-benar tidak nyaman, terutama ketika makan. Alhasil, berat badan turun 2 kg. Namun lama kelamaan jadi terbiasa. Saya tak begitu ingat persisnya, tapi tipe kawat gigi selama 6 bulan pertama itu berbahan metal semua, termasuk bantalan dan pengikatnya yang menekan gigi. Setelah itu dokter memasang kawat gigi yang bahannya lebih ringan, mungkin bantalan dan/atau pengikatnya terbuat dari plastik atau silikon dengan warna yang bisa dipilih. Dokterku ini sempat tanya: “Mau ganti warna, Bu Emmy..?” Saya yang tidak ngeh dengan warna warni tersebut heran.., ganti warna apanya..? Setelah dijelaskan, saya tertawa geli dan bilang: “Waduh, Dok.. Buat saya yang warna netral saja.. Malu sama umur kalau pakai yang warna warni..hehehe..”
Saat itu umurku 37 tahun, dan kelihatannya saya adalah pasien tertua di klinik ortodontis tersebut untuk urusan kawat gigi.., yang lain saya lihat ABG semua, atau maksimal anak kuliahan.. Jadi terbayang betapa saya akan jadi perhatian publik lagi jika memakai kawat gigi warna warni seperti para ABG tersebut..hahaha..
Kawat gigi untuk orang dewasa memang tidak lazim, tetapi bukannya tidak bisa. Setahu saya, ada beberapa penyebab orang dewasa perlu pakai kawat gigi (lagi). Gigi dapat bergerak seiring bertambahnya usia, misalnya karena cedera, karena adanya kondisi khusus yang disebut tongue thrust, atau memang demikianlah si gigi tumbuhnya. Ada sebagian orang dewasa awalnya bergigi rapi tapi di kemudian hari jadi bengkok atau berdesakan. Mereka ini mungkin akan mengalami sakit rahang, kesulitan dalam membersihkan giginya, atau hanya sekedar senyum yang kurang elok.
Orang dewasa lainnya memakai kawat gigi karena giginya dari awal memang tidak rapi tetapi dulu sewaktu bertumbuh, orang tua mereka tidak punya anggaran untuk itu. Sementara ada juga yang memang baru punya kesempatan (waktu, biaya, klinik yang tepat) untuk memakai kawat gigi ini di saat sudah berusia dewasa.
Selain itu, meski di masa kanak-kanak pernah memakai kawat gigi seperti saya, tetapi jika tidak ditindaklanjuti sesuai rekomendasi dokter, maka posisi gigi dapat bergerak lagi. Biasanya setelah penggunaan kawat gigi permanen selesai, kita harus teruskan dengan pemakaian kawat gigi retainer secara rutin.
Meski kawat gigi bisa efektif di usia berapa pun, namun jika dipasang saat usia dewasa bisa memakan waktu lebih lama untuk melihat hasilnya. Saya sendiri memakai kawat gigi permanen ini sekitar satu tahun, kemudian dilepas. Setelah itu dilanjutkan dengan kawat gigi retainer untuk gigi atas, dan lingual braces (kawat gigi tersembunyi) serta partial denture untuk gigi bawah. Kawat gigi retainer sifatnya lepas pakai dan dipakai saat tidur malam saja. Lingual braces sifatnya permanen. Partial denture juga bersifat lepas pakai tapi dipakai di siang hari saja, kebalikan dari kawat gigi retainer. Rekomendasi dokterku adalah untuk terus memakai 3 item tersebut sesuai cara pakainya agar gigi yang sudah terposisikan dengan rapi tidak bergeser lagi, selain itu juga kontrol 6 bulan sekali. Jadi sampai sekarang pun di tahun 2017 ini saya masih pakai kawat gigi lanjutan tersebut. Sejauh ini total biaya untuk kawat gigi tersebut sekitar 17 juta rupiah, sudah termasuk biaya konsultasi/kontrol.

CD_retainer_640

Contoh lingual braces. Sumber: Google

Saya perhatikan di Indonesia, orang dewasa, terutama perempuan, yang memakai kawat gigi itu tampaknya hal biasa. Tapi di Australia saya belum pernah melihat orang dewasa yang memakai kawat gigi, kecuali kalau mereka pakai kawat gigi tersembunyi ya.. Pernah sewaktu di bandara Brisbane sekitar akhir tahun 2012, saya sedang membeli sesuatu di toko, tiba-tiba sales person toko tersebut (wanita) tanya soal kawat gigi saya. Kami jadi membahas kawat gigi. Rupanya si ibu ingin sekali pakai kawat gigi karena giginya tidak rapi (menurut dia), tapi malu. Katanya, masa sudah ibu-ibu pakai kawat gigi. Tapi kemudian setelah melihat saya pakai kawat gigi (dan tampak nyaman saja), dia terpikir kenapa tidak pakai kawat gigi.
Pakai kawat gigi terutama yang dipasang di sisi luar memang bisa bikin tidak pede saat tersenyum. Tapi saya tak ambil pusing soal itu. Kalau ingin tersenyum lebar ya senyum saja. Makanya di hampir semua foto, kawat gigi saya selalu terlihat karena saya cenderung tersenyum lebar kalau di foto (kecuali untuk pasfoto tentunya). Justru kalau saya mingkem, mulut saya malah jadi tampak aneh, seperti kembung tak jelas. Lihat saja dua foto di bawah ini, yang satu tutup mulut, yang satu senyum lebar. Tapi namanya orang ‘kan beda-beda, ada yang lebih PD tersenyum kecil saja supaya kawat giginya tak terlihat, ada juga yang “senyum mah senyum aja”, seperti saya..hehehe..

Dan demikianlah cerita tentang kawat gigi saya (yang tidak warna-warni itu..hehehe)

Bersambung…
Episode sebelumnya: (054) Rencana-rencana..

(054) Rencana-rencana..

Sudut favorit di beranda rumah di Australia..

Salah satu sudut halaman rumah kami di Australia

Memandang keluar jendela di rumah Australia kami..

Setelah tinggal di Indonesia lagi di tahun 2012, saya dan M punya 3 rencana besar yaitu punya anak, punya rumah sendiri di Australia (biasanya tinggal di rumah mertua kalau sedang berada di sana), dan berlibur ke Amerika Serikat. Bagian berlibur ini sudah terlaksana dengan lancar. Waktu membuat rencana itu, kami maunya bagian punya anak dulu yang terjadi, tapi ternyata rejeki kami belum ke situ saat itu.
Saat itu bagian punya anak masih dalam proses, lebih tepatnya proses penasaran dan penyangkalan. Setelah menikah, sebetulnya kami berharap bisa segera punya anak. Tapi setelah satu tahun menunggu, saya tak kunjung hamil. Kemudian kami pindah ke Kolombia dan tinggal di negara ini selama hampir setahun. Seorang teman di sini merekomendasikan dokter kandungannya jika kami ingin melakukan program kehamilan yang lebih terpantau. Setelah beberapa sesi konsultasi, kami melakukan program inseminasi buatan. Hasilnya.., gatot alias gagal total.. Padahal menurut hasil pemeriksaan sebelumnya, saya dan M baik-baik saja, tidak ada masalah medis. Dokter kami waktu itu menyarankan ikut program IVF sebagai langkah selanjutnya. Kami maunya begitu tapi apa daya harus pindah lagi ke Australia.
Ketika kami “parkir” sebentar di Australia di awal 2012, sempat terpikir untuk meneruskan rencana punya anak tersebut di Australia. Tapi.., tak lama kemudian kami pindah lagi ke Indonesia. Seperti bisa diduga, tak lama setelah mendarat, disambut dengan pertanyaan klasik: sudah isi belum..?, sudah punya anak..?, kapan mau punya anak..?, kamu sengaja ya menunda punya anak..?, sudah coba cara ini itu..?, dsb..,dsb.. Orang-orang itu kelihatannya tidak perduli bahwa pertanyaan seperti ini bisa sangat menyakitkan hati bagi perempuan yang sedang berusaha punya anak. Tidak seperti kondisi medis lainnya, infertilitas mungkin hal yang paling rentan baper. Tapi siapa yang perduli..? Tetap saja banyak orang yang saya temui menanyakan hal itu.
Nah.., selama di Indonesia, saya dan M mulai mencari informasi lagi mengenai hal ini. Kami mempertimbangkan IVF kembali. Dan belum apa-apa.., kendala teknis sudah di depan mata. Ternyata (saat itu) tidak ada klinik fertilitas di wilayah Kalimantan Timur. Saya kira di Balikpapan ada tapi ternyata tidak. Pilihan yang paling memungkinkan cuma Bandung atau Jakarta. Saya pilih Bandung karena merasa lebih familiar dengan kota ini dan jaraknya cukup dekat dengan Cianjur. Saya datang ke Klinik Aster di RSHS Bandung sendiri saja, M tak bisa ikut karena jadwal kerja yang tidak memungkinkan untuk keluar mine site (kendala teknis nomer 2). Di konsultasi pertama, saya sudah pusing sendiri begitu melihat urutan proses IVF. Bagaimana kami harus menyelaraskan semua jadwal tersebut dengan jadwal cuti M..? Susah sekali.. Saat itu jadwal dia adalah 5 minggu kerja, 2 minggu libur, dengan jam kerja 12 jam per hari. Belum lagi dia di Kalimantan, saya di Cianjur. Izin meninggalkan lokasi di luar masa cuti juga bukan hal mudah, salah satu penyebabnya karena transportasi ke luar lokasi tambang itu terbatas dan lama. Satu hal lainnya yang menciutkan semangat: saat itu klinik tersebut menerapkan batasan usia bagi perempuan yang mau ikut program IVF, maksimal 38 tahun. Lhaa.., saya waktu itu sudah berumur 37 tahun..
Tapi saya ikuti juga konsultasi di klinik tersebut. Saya disarankan tes ini itu, yang ternyata harus dilakukan di laboratorium di lokasi yang berbeda (yang bikin saya bete juga). Jadwal M masih belum sinkron. Bahkan kelihatannya dia agak tertekan dengan beban kerja yang bertambah. Hasil tesku menunjukkan tidak ada masalah. Tapi setelah beberapa kali konsultasi, M masih saja belum bisa ikut konsultasi. Akhirnya saya angkat tangan.. Saya menyerah.. Saya berhenti datang ke klinik itu. Saya sempat kesal pada M. Tapi dipikir-pikir.., saat itu kondisinya memang tidak memungkinkan. Setiap kali M libur di rumah pun dia lebih sering lelahnya daripada segarnya. Akhirnya kami tunda dulu urusan beranak pinak ini, sambil berharap kami bisa punya anak secara alamiah.
Kemudian kami beralih ke realisasi rencana berikutnya yaitu punya rumah sendiri di Australia. Seru juga mengikuti semua prosesnya. Dibandingkan dengan hal serupa di Indonesia, di satu sisi lebih rumit, tapi di sisi lain lebih sederhana. Proses pembeliannya sendiri tentu saja melalui mortgage alias KPR alias nyicil..hehehe.. Bagaimana ya.., soalnya selama statusnya masih pegawai ya begini.. Namun demikian, tentu saja kami sangat bersyukur diberi rejeki untuk punya rumah sendiri. Sebetulnya kami deg-degan juga memutuskan untuk punya “hutang besar” tersebut. Saat itu usia kami tidak muda lagi, saya 37 tahun dan M 47 tahun. Jangka waktu cicilan standar itu 30 tahun. Jadi kelihatannya rumah itu akan lunas ketika kami sudah jompo..hahaha.. Duuuhh.., semoga dapat rejeki nomplok buat memperpendek masa cicilan.. Eh.., tapi dikasih rejeki lancar sampai cicilan lunas juga sangat bersyukur koq..
Proses pindahannya sendiri berlangsung simpel. Kami menyewa truk kontainer ukuran kecil. M yang menyetir sendiri truk tersebut. Proses angkut barang dari rumah mertua di Charters Towers dibantu oleh Rick, sahabatnya M. Sementara saya kebagian tugas menata semua barang dan perabotan di rumah baru kami di Townsville. Proses angkut barang berlangsung satu hari saja. Ketika pindahan ini, saya baru sadar, M punya baju banyak sekali! Lebih banyak daripada baju saya. Belum lagi sepatu.., ya ampun itu sepatu dan baju dari zaman kapan masih ada tersimpan.. Dia bilang sudah lama ingin menyumbangkan sebagian bajunya tapi belum sempat sortir. Akhirnya saya kebagian tugas menyortir baju dia. Hasil akhirnya, 30% bajunya beralih ke badan amal di kota ini.
Dalam proses pindahan ini, saya juga menemukan barang-barang milik M yang unik dan menarik. Ada dua benda yang saya anggap paling menarik.
Benda yang pertama, buku jurnal bayi (baby journal) milik M ketika dia masih bayi! Bayangkan.., jurnal itu sudah berumur 47 tahun dan masih tampak bagus. Ceritanya, buku jurnal itu hadiah dari tantenya M ke ibunya M ketika M lahir. Buku itu kemudian diisi catatan perkembangan M di masa bayi. Saya bisa baca tulisan ibu mertua saya seperti: “Today M started on solid food.. He seemed to like it..” Atau yang ini: “This week M is more confident in walking..” Terharu gak sih bacanya..
Benda yang kedua masih berupa catatan, kali ini raport-nya M waktu dia kelas 2 SD. Nilai raport-nya cukup bagus kelihatannya. Namun yang bikin saya senyum-senyum adalah catatan gurunya di raport tersebut: “M is such a soft spoken and shy but nice young boy. He likes playing soccer. He seems to get along well with other students..” Saya lupa kata-kata persisnya tapi kira-kira seperti itulah intinya. Membayangkan M sebagai anak kecil kelas 2 SD yang pemalu dan suka main bola berhasil membuat saya mesem-mesem sendiri..hehehe..
Akhirnya di penghujung tahun 2012 itu kami resmi punya rumah di Australia. Kami sangat bersyukur.. Satu persatu rencana besar kami terlaksana. Proyek pribadi selanjutnya masih akan tetap berlanjut..

Bersambung…
Episode sebelumnya : (053) Orange..