Sekedar selingan: Merasa tua..

Hari ini tumben-tumbennya saya, yang orang Indonesia ini, menonton berita berbahasa Rusia di salah satu stasiun TV Australia. Beritanya tentang terpilihnya Emmanuel Macron sebagai Presiden Perancis. Saya sebetulnya sekedar “terdampar” di channel tersebut karena ketika mau pindah saluran, Bear merebut remote control dan menyimpannya di tempat kami biasa menyimpan benda tersebut..hahaha.. Dia pikir semua harus tersimpan pada tempatnya, termasuk remote control, meskipun barang tersebut sedang digunakan.
Ya begitulah.. Jadinya saya terpaku selama beberapa menit menonton berita tersebut yang sedang menyiarkan rencana inagurasi presiden baru itu. Saya antara mengerti dan menebak apa yang sedang diberitakan. Meskipun saya lulusan S1 Bahasa Rusia, tapi saya lulus itu nyaris 20 tahun yang lalu. Jadi sudah banyak yang lupa. Akhirnya saya cek Mbah Google, dan tebakanku ternyata benar.
Saya nyaris menganggap berita tentang presiden baru itu berita biasa, sampai saya membaca bagian ini: “…Emmanuel Macron takes over as France’s youngest ever president..” Jadi penasaran.. Presiden Perancis termuda..? Memangnya umur berapa dia..? Bagi saya, Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, itu sudah sangat muda untuk jadi pemimpin negara.. Dia berusia 43 tahun ketika dilantik jadi perdana menteri.
Dan saudara-saudara.., ternyata benar dia muda sekali (untuk ukuran seorang presiden)! Usianya saat ini 39 tahun..! Apa..?!? Ada presiden yang umurnya 3 tahun lebih muda daripada saya..?!? Seketika saya merasa tua.. Padahal mah memang sudah tua.. Terutama jika dibandingkan dengan generasi penggemar One Direction..hahaha..
Ada yang bilang merasa tua itu ketika melihat kerutan di wajah, uban di rambut, karena dipanggil ibu untuk kaum perempuan (dulu dipanggil Mba..), atau dipanggil Pak untuk kaum lelaki (dulu dipanggil Mas..), atau memang karena sudah berusia tua. Dulu saya suka Mariah Carey dan Celine Dion, mereka lebih tua daripada saya. Kemudian muncullah Britney Spears dan penyanyi seangkatannya.. Saya pikir.., ah “anak-anak kecil”.. Terus muncul Katy Perry dan Rihanna.. Saya pikir.., ah “anak kecil banget”.. Eh kemudian muncul Justin Bieber (yang emaknya seumuran saya) dan One Direction.. Ya ampun.., “bayi” semua mereka.. Tapi saya belum merasa tua karena saya pikir berkarir di dunia hiburan memang biasanya dimulai sejak berusia muda sekali.
Kemudian di lain hari tumben-tumbennya lagi saya sempat baca berita tentang siapa aktor yang akan memerankan James Bond setelah Daniel Craig. Dan semua kemungkinan kandidatnya seusia saya (umur 40an) atau lebih muda (usia 30-40). Saya mulai merasa..hmmm.., makin tampak berwajah abad 21 saja tampilan James Bond ini.. Saya bukan penggemar James Bond, tapi saya tahu persis semua aktor pemeran James Bond yang terdahulu semuanya berusia lebih tua dari saya.
Dan akhirnya.., hari ini.. Ada presiden berumur 39 tahun..! Tiga puluh sembilan tahun..! Jadi waktu dia kelas 1 SMP, saya sudah kelas 1 SMA dong.. Apaan sih..hahaha..
Ah sudahlah.. Saya mau main petak umpet saja sama Bear.. Dia selalu berhasil membuat saya merasa muda..hehehe..

Sekian ocehan tak penting hari ini.

PS: Silahkan pandangi foto di atas.. Itu Pak Presiden ya, bukan aktor calon pemeran James Bond berikutnya.. Ganteng ya..hehehe..

Sekedar Selingan: Kopdar..

keep-calm-and-yuk-kopdar.jpg

keepcalm-o-matic.co.uk

Catatan: Tulisan ini dalam dua bahasa, yang pertama Bahasa Sunda, kemudian terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Bagi yang mengerti kedua bahasa tersebut, pasti paham bahwa ada banyak kata dan/atau ungkapan dalam Bahasa Sunda yang sulit dicari padanannya dalam Bahasa Indonesia. Namun demikian, saya berusaha menerjemahkan tulisan ini ke dalam Bahasa Indonesia sedekat mungkin ke makna yang dimaksud dalam Bahasa Sunda.
==============================

BASA SUNDA

Urut kabogoh amprok di Path (chatting), caritana rek kopdar..

Asep :
“Kom.., ieu uing geus di lembur maneh, pas jalan gede.. Belah mana imah teh..?”

Kokom :
“Anu aya gapura.. Akang lebet kinten-kinten 25 meter aya bumi gedong 3 tingkat, warna kayas, mobilna seueur..”

Asep :
“Siap! Akang geus di hareupeunana. Ieu imah maneh teh, Kokom..?”

Kokom :
“Sanes, Akang! Ti dinya Akang mengkol ka kanan lebet gang kinten-kinten 10 meter, aya lapangan badminton. Tah gigireunana, Kang..”

Asep :
“Eta imah maneh?”

Kokom :
“Eta mah bumina tukang urut. Ti dinya mah Akang lempeng, pas ngalangkungan jambatan di dinya katingal aya kios alit, seratanana ISI ULANG PULSA..”

Asep :
“Oh.., jadi imah Kokom teh anu jualan pulsa eta?”

Kokom :
“Eta mah namina konter atuh, Kang.. Ti dinya mah kantun ka kanan dugi ka kuburan. Tah payuneun kuburan aya bangunan..”

Asep (mulai keuheul) :
“Jadi imah sia teh hareupeun kuburan, Sarkommmm..???”

Kokom :
“Aeh nya sanes atuh, Kang! Eta mah bumina kuncen.. Akang ulah lebet ka dinya tapi mengkol deui ka kenca, mapay galengan pasawahan, engke oge bakal katingali aya kandang munding..”

Asep (ambek) :
“Aaarggh..! Eta imah silaing..???”

Kokom :
“Abdi mah sanes munding atuh ih..! Ti dinya Akang lurus we teras dugi ka sisi leuweung..”

Asep (napsu) :
“Eta gogobrog sia..?!?”

Kokom :
“Memangna abdi teh monyet.. Si Akang mah sok aya-aya wae.. Torobos eta leuweung, Kang.. Papay jalan satapak dugi ka pendak sareng masjid alit, tah persis sabeulahna..”

Asep (ambek kacida) :
“Sakali deui sia ngomong eta lain imah maneh, dicacag siah mun panggih jeung uing! Ieu tuur geus asa coplok!”

Kokom :
“Hehehe.. Sabar atuh, Kang.. Ulah emosian janten jalmi mah bilih enggal sepuh. Leres eta pisan bumi abdi. Kumaha tos kapendak teu acan, Kang?”

Asep (rada bungah) :
“Akang geus aya hareupeunana yeuh! Gusti! meni asa ringsek kieu awak. Pokona tanggung jawab mencetan Akang nya? Hehehe..”

Kokom :
“Nya sok langsung kalebet we da aya Mamah abdi nuju nyalira..”

Asep :
“Ari Kokom di mana..??”

Kokom :
“Abdi mah nuju di ARAB..”😜😜😀
==========================================

BAHASA INDONESIA

Sepasang mantan sejoli bertemu di Path (chatting), ceritanya mau kopdar..

Asep :
“Kom, ini saya sudah di kampungmu, pas di jalan besar.. Rumahmu sebelah mana..?”

Kokom :
“Yang ada gapura.. Akang masuk kira-kira 25 meter ada rumah tingkat 3 warna pink, mobilnya banyak..”

Asep :
“Siap! Akang sudah di depannya. Ini rumahmu, Kokom..?”

Kokom :
“Bukan, Akang! Dari situ Akang belok kanan masuk gang kira-kira 10 meter, ada lapangan badminton. Nah di sebelahnya, Kang..”

Asep :
“Itu rumahmu?”

Kokom :
“Itu sih rumahnya tukang pijat. Dari situ Akang lurus, setelah melewati jembatan di situ akan terlihat kios kecil bertuliskan ISI ULANG PULSA..”

Asep :
“Oh.., jadi rumah Kokom yang jualan pulsa itu?”

Kokom :
“Itu namanya konter, Kang.. Dari situ tinggal ke kanan ke arah kuburan. Nah.., di depan kuburan ada bangunan..

Asep (mulai jengkel) :
“Jadi rumahmu itu depan kuburan, Sarkoommmmm..???”

Kokom :
“Aiiihh bukan, Kang! Itu rumahnya kuncen.. Akang jangan masuk ke situ tapi belok lagi ke kiri, menyusuri pematang sawah, nanti bakal kelihatan ada kandang kerbau..”

Asep (marah) :
“Aaarggh..! Itu rumahmu..???”

Kokom :
“Saya bukan kerbau iihh..! Dari situ Akang lurus saja sampai ke tepi hutan..”

Asep (makin marah) :
“Hutan itu rumahmu..?!?”

Kokom :
“Memangnya saya ini monyet.. Si Akang ada-ada saja.. Terobos saja hutan itu, Kang.. Susuri jalan setapak sampai bertemu mesjid kecil, nah persis di sebelahnya..”

Asep (benar-benar marah) :
“Sekali lagi kamu bilang itu bukan rumahmu, aku cincang kamu kalau nanti bertemu! Ini lutut rasanya mau copot!”

Kokom :
“Hehehe.. Sabar, Kang.. Jangan mudah marah kalau jadi orang, nanti cepat tua. Betul sekali itu rumah saya. Bagaimana.., sudah ketemu belum, Kang?”

Asep (agak gembira) :
“Akang sudah ada di depannya, nih..! Gusti rasanya ringsek ini badan. Pokoknya tanggung jawab kamu pijit Akang ya..? Hehehe..”

Kokom :
“Ya langsung saja masuk ke dalam. Ada Mamah-ku lagi sendirian..”

Asep :
“Kalau Kokom di mana..??”

Kokom :
“Saya mah lagi di ARAB..”😜😜😀

Generasi Bahagia..

Beberapa waktu yang lalu saya dikirimi tulisan berikut secara anonim melalui grup WhatsApp. Sampai saat ini saya belum berhasil verifikasi siapa sebenarnya penulisnya. Tapi saya pikir, tidak ada salahnya berbagi bacaan ini di blog, karena ini menarik sekali. Saya merasa tulisan ini “saya banget” karena saya adalah generasi yang lahir di dekade 70an. Kalian yang lahir di dekade antara 1960 s/d 1980 mungkin akan merasakan hal yang sama. Dan kalian yang lahir setelah dekade 80an anggap saja ini cerita sejarah ya..😀

Note: artikel ini saya edit sedikit agar sesuai EYD (Ejaan yang Disempurnakan), yang dimaksud generasi dekade 1960-1980 di sini adalah orang-orang yang lahir antara tahun 1960 s/d 1989.

====================================================================

Berdasarkan penelitian beberapa psikolog, GENERASI BAHAGIA itu adalah generasi kelahiran dekade 1960 – 1980…😉

Dan itu adalah kami… 👏😃😘
Kami adalah generasi terakhir yang masih bermain di halaman rumah yang luas. Kami berlari dan bersembunyi penuh canda-tawa dan persahabatan. Main petak umpet, boy-boyan, gobag sodor, lompat tali, masak-masakan, dokter-dokteran, sobyong, jamuran, putri putri melati tanpa peringatan dari ayah/ibu. Kami bisa memanfaatkan gelang karet, isi sawo, kulit jeruk, batere bekas, dan sogok telik untuk menjadi permainan yg mengasyikkan. Kami yang setiap kali melihat pesawat terbang langsung berteriak minta uang…😁😅
Kami generasi yang mengantri di wartel dari jam 5 pagi, berkirim surat memakai kertas surat sanrio atau flomo dan menanti surat balasan dengan penuh rasa rindu…#eaaa😅😘 Tiap sore kami menunggu cerita radio Brama Kumbara, berkirim salam lewat penyiar radio. Kamilah generasi yang SD-nya merasakan papan tulis berwarna hitam, masih pakai pensil dan rautan yang ada kaca di salah satu sisinya. Kamilah generasi yang SMP dan SMA-nya masih pakai papan tulis hitam dan kapur putih. Generasi yang meja sekolahnya penuh dengan coretan kejujuran kami melalui tulisan Tipe-X putih, generasi yang sering mencuri pandang teman sekolah yang kita taksir, kirim salam buat dia lewat temannya dan menyelipkan surat cinta di laci mejanya…#eheeem…👏😚😘
Kami adalah generasi yang merasakan awal mula teknologi gadget komunikasi seperti pager, komputer pentium jangkrik 486, dan betapa canggihnya Pentium 166Mhz. Kami generasi yang sangat bangga kalau memegang Disket kapasitas 1.44Mb dan paham sedikit perintah DOS dengan mengetik copy, del, md, dir/w/p. Kami adalah generasi yang memakai MIRC untuk chatting, dan searching memakai Yahoo. Generasi bahagia yang pertama mengenal Atari, Sega, Nintendo, Gimbot (Gamewatch maksudnya) yang belum berwarna…😅😘
Generasi kamilah yang merekam lagu dari siaran radio ke pita kaset tape, yang menulis lirik dengan cara play-pause-rewind, dan memanfaatkan pensil untuk menggulung pita kaset yg macet, kirim salam ke teman-teman lewat siaran radio RKPD.., saling sindir dan bla bla bla…, generasi penikmat awal walkman, dan mengenal apa itu laser disc, VHS. Kamilah generasi layar tancap ‘misbar’ yg merupakan cikal bakal bioskop Twenty One…👏😅
Kami tumbuh di antara para legenda cinta seperti Ebiet G Ade, Kla Project, Dewa 19, Padi, masih tak malu menyanyikan lagu Sheila on 7, dan selalu tanpa sadar ikut bersenandung ketika mendengar lagu : ‘mungkin aku bukan pujangga, yg pandai merangkai kata…’ 🎤🎧🎶
Kami generasi bersepatu Butterfly, Dogmart, Warrior dan rela nyeker berangkat sekolah tanpa sepatu kalau sedang hujan. Cupu tapi bukan madesu lhooo…hahaha 😁👏😂
Kami adalah generasi yang bebas, bebas bermotor tanpa helm. Yang punya sepeda, sepedanya disewain 200 rupiah/jam, bebas dari sakit leher karena kebanyakan melihat ponsel, bebas memanjat tembok stadion, bebas mandi di kali, di sungai, dll, bebas memanggil teman sekolah dengan nama bapaknya. Bebas bertanggung jawab…👏😘
Sebagai anak bangsa Indonesia, kami hafal Pancasila, lagu Indonesia Raya, Maju Tak Gentar, Teks Proklamasi, Sumpah Pemuda, nama-nama para Menteri Kabinet Pembangunan IV dan Dasadharma Pramuka dan nama-nama seluruh provinsi di Indonesia…😊😘👍
Kini di saat kalian sedang sibuk-sibuknya belajar dengan kurikulum yang jlimet, kami asik-asikan mengatur waktu untuk selalu bisa kumpul reunian dengan generasi kami…😉
Betapa bahagianya generasi kami…👏😆😘👍
Maaf, adik-adikku dan juga anak-anakku.. Kalian belajar yang keras ya untuk mendapatkan kebahagian dengan cara kalian sendiri…😉
Salam sayang dari kami…😘
~Generasi 60-80’ers~

Sekedar selingan: Hitam dan putih

Beberapa waktu yang lalu seorang teman bertandang ke rumah untuk suatu keperluan. Dia seorang mahmud abas (mamah muda anak baru satu) berusia pertengahan 20an dan bekerja di sebuah instansi pemerintah. Dia punya seorang anak laki-laki berusia dua tahun. Setelah ngalor ngidul membicarakan urusan tersebut sampai kelar, akhirnya topik pembicaraan beralih ke urusan anak karena kebetulan di saat yang sama saya harus mengganti popok anakku si Bear. Kita sebut saja wanita ini Lala.

Lala: Kak Em.., gak terasa ya.. Bear sudah gede aja.. Duh montoknya.., gemes deh..😘

Saya: Ya.., perasaan baru kemarin saya melahirkan dia.. Apa kabarnya anakmu? Sehat ‘kan..🙂

Lala: Alhamdulillaah sehat, Kak.. Tapi sayangnya anakku “hitam”🙁.. Kalau Bear ‘kan “putih”, bule, lucu menggemaskan..

Selama sepersekian detik saya terhenyak😟 mendengar jawabannya, kemudian..

Saya: Oh kalau kamu merasa tidak cocok dengan warnanya, coba dikembalikan saja..😐

Lala: Eh..maksudnya, Kak..?😯

Saya: Iya dikembalikan saja ke Penciptanya, siapa tau anakmu bisa ditukar dengan warna yang lebih cocok di hati..😐

Lala: Iiihh.., Kak Em koq begitu sih..?😬

Saya: Kamu berbicara tentang anakmu seolah-olah dia itu kucing peliharaan yang kamu beli dari toko online.. Tak suka warnanya.., tak suka ininya, tak suka itunya.., sayang ininya begini itunya begitu.. Kalau sang Maha Pencipta memutuskan mengambil kembali anakmu karena komplain dangkal barusan.., bagaimana tuh..?🙂

Lala: Sa..saya..tadi..tidak bermaksud begitu.., Kak Em..😭

Saya: Ya.., kamu bermaksud apa yang kamu katakan.. Sekarang berdoa saja semoga anakmu bisa memaklumi ibunya ini..😐

Lala: 😞😔

Dan pembicaraan pun berakhir, suasana jadi canggung, Lala jadi salah tingkah, berusaha meyakinkan saya (atau mungkin meyakinkan dirinya sendiri) bahwa dia tidak bermaksud buruk dengan kata-katanya tadi mengenai anaknya.

Wahai para orang tua, hindarilah membanding-bandingkan anak seperti ini. Mereka adalah amanah *pesan moral dari saya yang susah, rempong, dan mahal banget untuk punya anak*.

Oh ya.., ngomong-ngomong kalau anak Anda “hitam”, mungkin dia terlalu lama berguling-guling di aspal. Kalau anak Anda “putih”, mungkin dia terlalu lama berguling-guling di tepung terigu. Tak perlu banyak mengeluh, jika mengalami situasi tersebut, keluarkan anak Anda dari aspal dan/atau tepung terigu, kemudian mandikan..*tombol sarkasme baru saja menyala*

Dan yang terakhir.., selamat tahun Kabisat..😃 29 Februari 2016. Baru di tahun 2020 kita akan punya tanggal 29 Februari lagi.