Firasat..(2)

Screen Shot 2017-08-22 at 9.53.17 pm.png

Sambungan dari post sebelumnya..

Kelima.. Saat itu Mei 2014.. Saya dan M sedang dalam penerbangan dari Singapura ke London, Inggris. Saat pesawat berada di atas wilayah udara Ukraina, tiba-tiba saya merasa gelisah luar biasa. Saya takut pesawat yang saya tumpangi saat itu, Singapore Airlines, bakal terkena rudal nyasar. Seingat saya, konflik di Ukraina saat itu sudah ada tapi belum memanas. Tapi entah kenapa, saya merasa pesawat ini bakal terkena rudal nyasar. Selama berada di wilayah udara Ukraina itu, mata saya tak lepas memandangi layar monitor, memantau flight path yang terpampang di situ. Tak sabar rasanya ingin pesawat segera berlalu dari wilayah tersebut.  Saya tengok M yang ternyata sedang tertidur lelap. Saya ketakutan tapi tak tega membangunkan dia. Akhirnya saya diam saja sambil berusaha menenangkan diri dari serangan rasa panik yang tak jelas itu. Ketika kami akhirnya tiba di London, baru saya cerita ke M. Dia bilang: “You had panick attack. Maybe because you were exhausted. It’s okay, darling. There are long distance missiles (rudal=peluru kendali) but I don’t think they can reach commercial jet plane on a cruise altitude. It’s way too high above for those missiles..” Dan, saudara-saudara.., apa yang terjadi beberapa bulan kemudian..? Pesawat Malaysia Airlines tertembak rudal nyasar, di lokasi di mana saya merasa sangat panik itu.. Duhhh.., saya langsung lunglai dengar berita itu.. Lalu saya bilang ke M: “Too bad.. Apparently those missiles can fly higher than you think..”

Keenam.. Sekitar Maret 2017.. Beberapa bulan setelah tinggal di Townsville, saya mendapat kabar bahwa salah satu sahabat saya di Cianjur, kita sebut saja Lynn, tiba-tiba jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Lynn adalah salah satu teman SMP, jadi kami berteman sudah sekitar 30 tahun pada saat itu. Menurut kabar, ada masalah dengan ginjalnya. Begitu mendengar berita ini, ya ampun.., bisikan itu datang lagi.. Bisikan yang terakhir kali melintas di otak saya 22 tahun sebelumnya: “Moal lami deui..(tidak akan lami lagi..) Kali ini saya pastikan saya tidak cerita ke siapa pun  yang ada di lingkungan pertemanan kami, mengingat pengalaman buruk yang saya alami akibat salah penafsiran perkataan saya waktu zaman kuliah dulu. Saya hanya cerita ke M soal ini, sambil berharap kali ini firasat saya salah. Beberapa kali dirawat di rumah sakit, kondisi Lynn membaik. Saya pun merasa senang, bisikan itu berarti khayalan saja, saya pikir.. Kemudian tak ada hujan tak ada angin, beberapa hari sebelum Ramadhan di bulan Mei, sebuah notifikasi di grup WA teman Cianjur berbunyi: “Innalillahi wa ina ilaihi rojiun.. Teman-teman, Lynn sudah pergi untuk selamanya.. Tadi pagi..” Saya benar-benar terhenyak..

Ketujuh.. Masih di tahun 2017.. Waktu itu Juni, sedang bulan puasa. Adik saya mengabari bahwa pekerja yang biasa mengurus taman rumah saya di Cianjur, kita sebut saja Pak Asep, sudah lama tidak bisa bekerja karena sakit. Pak Asep ini sudah lama kerja lepasan di keluarga kami, mungkin sudah 10 tahun. Kami suka dengan cara dan hasil kerja dia, karakternya juga baik. Jadinya sudah seperti keluarga. Kemudian saya minta adik saya untuk mewakili menengok dia dan memberi bantuan untuk berobat. Mendengar berita tentang Pak Asep tersebut, saya langsung waswas, jangan-jangan saya akan mendengar “bisikan” itu lagi. Dan ternyata saya tidak mendengar bisikan itu.. Oh..leganya.. Tapi, anehnya pikiran saya terus saja berkutat tentang Cianjur, kampung halaman saya, masa kecil saya. Sekedar gambaran, saya cinta kampung halaman tapi saya bukan tipe orang yang gampang homesick (rindu kampung).  Saya mulai merasa, “sesuatu” akan terjadi, sesuatu yang terkait dengan kampung halaman saya. Dan akhirnya beberapa hari kemudian, ibu saya mengabari bahwa sepupu saya, Dina, meninggal hari itu karena kecelakaan, dia terjatuh ke kolam saat sedang membersihkan tanaman.. Saya terpukul.. Teh Dina bukan hanya sepupu, tapi sudah seperti kakak sendiri. Dia kira-kira 10 tahun lebih tua daripada saya. Waktu saya dan adik-adik masih balita, Teh Dina ikut tinggal bersama kami sampai dia lulus SMA. Yang paling bikin saya sedih, dia tak sempat mengenal Bear..

Kedelapan.. Lagi-lagi di tahun 2017 dan di bulan Juni, beberapa hari menjelang Idul Fitri. Saya dapat invite grup WA dari teman-teman SMA satu sekolah, jadi grupnya berisi murid satu angkatan, bukan hanya satu kelas. Saya terima invite grup ini. Di grup itu saya lihat ada teman sekelas waktu kelas 1, tapi kelas 2 dan 3 tidak sekelas karena beda jurusan. Saya masuk Bio, dia masuk Sos. Namanya Anna. Saya dan Anna dulu berteman dekat, terutama waktu sekelas itu, tapi kemudian hilang kontak sejak lulus SMA. Kemudian bertemu lagi di Instagram, dan satu kali saja kami saling menyapa di situ, dan tak pernah bertemu langsung sekalipun. Begitu melihat namanya ada di grup tersebut, tiba-tiba saya ingin sekali kirim pesan ke dia, tapi anehnya ada saja halangan yang bikin saya tidak jadi kirim pesan. Begitu terus berulang-ulang selama seminggu. Entah kenapa, tiba-tiba saja saya merasa harus menghubungi dia, dan perasaan itu kuat sekali. Perlu diingat, kami tak pernah bertemu lagi sejak lulus SMA, dan itu sekitar 25 tahun yang lalu. Saya sadar ini aneh tapi tidak tahu kenapa. Dan ketika akhirnya saya benar-benar punya kesempatan untuk mengetik pesan ke dia, saya keburu baca notifikasi di grup tersebut, yang mengabarkan bahwa suaminya Anna meninggal mendadak di hari itu karena kecelakaan, terjatuh saat membersihkan tangki air di rumahnya.. Saya bengong, tak tahu harus berkata apa.. Yang jelas, saya tidak jadi mengirimkan pesan ke Anna hari itu..

Delapan kejadian tersebut terbentang dalam masa hidup saya dari masa awal remaja hingga sekarang dengan jeda waktu yang berbeda-beda. Saya tidak tahu apakah saya akan mengalaminya lagi atau tidak. Yang jelas, seandainya saya bisa memilih, saya akan memilih untuk “tidak bisa merasakan” firasat seperti ini. Ada momen di mana saya benar-benar merasa gelisah karena merasakan firasat itu, dan itu sangat menyiksa pikiran. Tapi kelihatannya.., hanya waktu yang akan menjawab..

 

Advertisements

Firasat.. (1)

Screen Shot 2017-08-22 at 9.53.17 pm.png

Saya tidak tahu persis istilah yang paling tepat untuk hal ini, tapi sejak lama saya punya  sesuatu yang mungkin terkait indera keenam. Saya sebut saja firasat atau hunch dalam bahasa Inggris, karena saya merasa itulah yang saya rasakan.  Firasat ini terkait dengan kematian seseorang. Bisa tentang kematian orang-orang terdekat atau orang yang pernah dekat, atau sekedar kenalan, atau orang yang tidak saya kenal sama sekali. Dan di tulisan ini, inilah pertama kalinya saya membicarakan hal tersebut secara terbuka. Saya enggan sebetulnya membahas hal ini karena pernah terkena masalah gara-gara membicarakan firasat ini. Nanti setelah setelah selesai membaca tulisan ini kalian akan tahu maksudnya.

Tapi baiklah.., dipikir-pikir mungkin bukan ide yang buruk jika saya tuliskan saja di sini. Siapa tahu bisa meringankan pikiran. Ya betul, meski jarang terjadi dan jarang mengingat-ingat, hal ini memang seperti bergulung-gulung di pikiran saya.

Pertama.. Saat itu saya berumur sekitar 13 tahun, masih SMP. Sepupu saya (laki-laki) menikah, dan pesta pernikahannya diadakan di sebuah gedung pertemuan di Cianjur. Semua keluarga diundang, termasuk keluarga saya. Kami sekeluarga datang ke pesta itu. Karena kami ini keluarga pengantin, jadi kami tidak mengisi buku tamu seperti tamu undangan umum lainnya. Kemudian saya perhatikan, tamu yang mengisi buku tamu mendapat suvenir cantik. Kata ibu saya, kalau mau suvenir, saya harus isi buku tamu. Dan itulah yang saya lakukan. Ketika antri di depan meja penerima tamu, di depan saya ada bapak-bapak, selintas saya perhatikan wajahnya, ternyata itu ayahnya sepupu saya alias bapaknya pengantin pria, kita sebut saja Om Aji. Dia ini sedang menuliskan namanya di buku tamu, saya jelas-jelas lihat dia tulis namanya “Aji”. Dengan polosnya saya pikir, Om Aji ingin dapat suvenir juga kah..? Terus saya berpikir lagi, katanya keluarga tidak perlu menulis di buku tamu, tapi Om Aji kenapa menulis di situ ya.. Anehnya, tidak terpikir oleh saya untuk menyapa si Om, padahal dia berdiri tepat membelakangi saya. Singkat cerita, saya dapat suvenirnya. Tak lama kemudian, kami sekeluarga pulang. Di rumah, Ayah dan Ibu membicarakan pesta tersebut, bicara yang umum saja. Saya tak tertarik dengan isi pembicaraan tersebut, sampai Ayah saya bilang begini: “… sayang Kang Aji (bapaknya pengantin pria) tak sempat melihat anaknya menikah..” Dengan polosnya saya langsung nyeletuk dong: “Om Aji ada koq, tadi aku lihat di meja tamu..” Ayah dan Ibu saya langsung bengong. Lalu mereka menjelaskan dan mengingatkan saya bahwa Om Aji sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Giliran saya yang bengong. Dan tiba-tiba saya ingat momen ketika si Om meninggal. Saya tahu dan ingat bahwa Om Aji sudah meninggal, tapi di pesta itu sampai pulang ke rumah, entah kenapa memori bahwa si Om sudah meninggal itu seolah-olah menghilang dari otak saya. Sampai sekarang saya tidak tahu siapa sebetulnya yang saya lihat di pesta itu.

Kedua.. Saat itu saya berumur 15 tahun, sudah SMA. Tante saya sakit parah,  dia mengidap diabetes yang sudah merambat ke mana-mana. Ayah dan saya menengok tante yang sedang dirawat di rumah sakit di Bandung. Saat itu tante tampak terbaring tak berdaya, dia harus merelakan beberapa jarinya diamputasi karena diabetes yang parah. Saya tidak tahu saat itu dia tidur atau sudah tak sadarkan diri. Kami hanya boleh melihat dari balik kaca jendela ruang perawatan. Ketika berada di ruang tersebut, sesuatu seperti berbisik di otak saya: “Moal lami deui..(tidak akan lama lagi..)”. Malam harinya di rumah, di dalam tidur saya bermimpi didatangi tante ini. Dia berkata: “Sing sholeh, sing bageur nya, Neng..(Jadi anak sholeh dan baik ya, Neng..)” Keesokan harinya, kami dikabari bahwa tante meninggal pagi itu..

Ketiga.. Saat itu saya berumur 19 tahun, sudah kuliah di Bandung. Ketika libur kuliah, seorang teman kuliah, sebut saja A, mengajak berlibur di rumahnya di Jakarta. Saya tentu saja senang. Saat itu ibunya teman ini sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Saya pun diajak teman untuk menjenguk ibunya. Di rumah sakit, begitu saya bertatap muka dengan ibunya itu, saya dapat bisikan itu lagi, bisikan yang saya dengar beberapa tahun sebelumnya: “Moal lami deui..(tidak akan lama lagi..)” Saya berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran itu tapi tidak bisa. Beberapa hari kemudian, ibunya A itu meninggal. Karena hal ini, A absen kuliah beberapa minggu. Saya dapat kabar ibunya meninggal dari teman kami yang lainnya, sebut saja si B. Dengan polosnya saya bilang ke B, bahwa saya bisa lihat ibunya kemungkinan tidak akan mampu bertahan lama. Ketika si A masuk kuliah lagi, tiba-tiba hampir semua teman kuliah yang perempuan termasuk si A dan B menjauhi saya. Mereka menjauhi saya selama hampir satu semester. Saya heran dan sedih, tapi saya tak berani bertanya-tanya. Sampai akhirnya ada satu teman perempuan yang tampaknya netral saja, kasih tahu saya bahwa omongan saya tentang ibunya A (yang saya bilang ke B), disampaikan ke A oleh B, dan ditafsirkan negatif oleh mereka berdua, sehingga mereka mengajak semua teman sekelas untuk menjauhi saya. Saya dapat pelajaran berharga di sini: hati-hati berkata-kata.

Keempat.. Ini tentang Ayah saya sendiri. Pernah saya tuliskan di post ini.. Saat itu di Jakarta, di suatu pagi di bulan Agustus 2008, saya terbangun dari mimpi yang tidak biasa. Di mimpi itu Ayah menjemput saya dari tempat kos, kemudian beliau membawa saya jalan-jalan. Di dunia nyata sebetulnya ini hal yang biasa beliau lakukan ketika saya masih kecil. Yang tidak biasa, di mimpi itu Ayah tampak sangat muda seperti berumur 20an.., kami berdua mengenakan baju putih atas bawah, dan meskipun di sini saya menyebutnya  “jalan-jalan”, sesungguhnya kami lebih seperti melayang-layang di udara. Selain itu, kami rasanya juga bercakap-cakap tapi tanpa suara, jadi seperti telepati. Setelah acara “jalan-jalan” itu, beliau mengantarkan saya kembali ke tempat kos, lalu kami saling tersenyum dan mengucapkan selamat berpisah, lagi-lagi lewat telepati. Kemudian saya terbangun dari mimpi itu. Saya merasa “sesuatu” akan terjadi. Kemudian saya bergegas dan pergi bekerja seperti biasa. Setelah satu jam berada di kantor, atasan saya datang ke ruangan saya, dan secara perlahan tapi jelas berkata: “Emmy, ibumu baru saja telpon. Beliau bilang kamu harus segera pulang ke Cianjur saat ini juga”
Saat itu juga saya tahu..: Ayah saya, pria penggila peta dunia itu, orang yang membuat saya tahu bahwa dunia itu luas sekali, telah berpulang ke haribaan-Nya. Sebelumnya beliau sakit stroke parah selama 5 tahun, namun berhasil sembuh perlahan-lahan. Tetapi kondisi beliau selama 3 bulan terakhir di hidupnya sering naik turun. Seminggu sebelum Ayah meninggal, saya bilang ke beliau bahwa minggu depannya saya akan pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya. Saya mau mulai melihat dunia yang biasanya beliau tunjukkan melalui peta. Waktu itu saya mau berlibur sendirian saja ke Vietnam. Beliau merespon dengan menggenggam tangan saya, kemudian tersenyum. Itu saja. Dan di hari ketika beliau meninggal, akhirnya saya mengerti arti mimpi itu.. Beliau mengucapkan selamat tinggal sekaligus selamat jalan.. Beliau pasti tersenyum lebar seandainya tahu sudah “ngebolang” ke mana saja saya sejak saat itu..

Bersambung..

 

Sekedar selingan: Merasa tua..

Hari ini tumben-tumbennya saya, yang orang Indonesia ini, menonton berita berbahasa Rusia di salah satu stasiun TV Australia. Beritanya tentang terpilihnya Emmanuel Macron sebagai Presiden Perancis. Saya sebetulnya sekedar “terdampar” di channel tersebut karena ketika mau pindah saluran, Bear merebut remote control dan menyimpannya di tempat kami biasa menyimpan benda tersebut..hahaha.. Dia pikir semua harus tersimpan pada tempatnya, termasuk remote control, meskipun barang tersebut sedang digunakan.
Ya begitulah.. Jadinya saya terpaku selama beberapa menit menonton berita tersebut yang sedang menyiarkan rencana inagurasi presiden baru itu. Saya antara mengerti dan menebak apa yang sedang diberitakan. Meskipun saya lulusan S1 Bahasa Rusia, tapi saya lulus itu nyaris 20 tahun yang lalu. Jadi sudah banyak yang lupa. Akhirnya saya cek Mbah Google, dan tebakanku ternyata benar.
Saya nyaris menganggap berita tentang presiden baru itu berita biasa, sampai saya membaca bagian ini: “…Emmanuel Macron takes over as France’s youngest ever president..” Jadi penasaran.. Presiden Perancis termuda..? Memangnya umur berapa dia..? Bagi saya, Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, itu sudah sangat muda untuk jadi pemimpin negara.. Dia berusia 43 tahun ketika dilantik jadi perdana menteri.
Dan saudara-saudara.., ternyata benar dia muda sekali (untuk ukuran seorang presiden)! Usianya saat ini 39 tahun..! Apa..?!? Ada presiden yang umurnya 3 tahun lebih muda daripada saya..?!? Seketika saya merasa tua.. Padahal mah memang sudah tua.. Terutama jika dibandingkan dengan generasi penggemar One Direction..hahaha..
Ada yang bilang merasa tua itu ketika melihat kerutan di wajah, uban di rambut, karena dipanggil ibu untuk kaum perempuan (dulu dipanggil Mba..), atau dipanggil Pak untuk kaum lelaki (dulu dipanggil Mas..), atau memang karena sudah berusia tua. Dulu saya suka Mariah Carey dan Celine Dion, mereka lebih tua daripada saya. Kemudian muncullah Britney Spears dan penyanyi seangkatannya.. Saya pikir.., ah “anak-anak kecil”.. Terus muncul Katy Perry dan Rihanna.. Saya pikir.., ah “anak kecil banget”.. Eh kemudian muncul Justin Bieber (yang emaknya seumuran saya) dan One Direction.. Ya ampun.., “bayi” semua mereka.. Tapi saya belum merasa tua karena saya pikir berkarir di dunia hiburan memang biasanya dimulai sejak berusia muda sekali.
Kemudian di lain hari tumben-tumbennya lagi saya sempat baca berita tentang siapa aktor yang akan memerankan James Bond setelah Daniel Craig. Dan semua kemungkinan kandidatnya seusia saya (umur 40an) atau lebih muda (usia 30-40). Saya mulai merasa..hmmm.., makin tampak berwajah abad 21 saja tampilan James Bond ini.. Saya bukan penggemar James Bond, tapi saya tahu persis semua aktor pemeran James Bond yang terdahulu semuanya berusia lebih tua dari saya.
Dan akhirnya.., hari ini.. Ada presiden berumur 39 tahun..! Tiga puluh sembilan tahun..! Jadi waktu dia kelas 1 SMP, saya sudah kelas 1 SMA dong.. Apaan sih..hahaha..
Ah sudahlah.. Saya mau main petak umpet saja sama Bear.. Dia selalu berhasil membuat saya merasa muda..hehehe..

Sekian ocehan tak penting hari ini.

PS: Silahkan pandangi foto di atas.. Itu Pak Presiden ya, bukan aktor calon pemeran James Bond berikutnya.. Ganteng ya..hehehe..

Sekedar Selingan: Kopdar..

keep-calm-and-yuk-kopdar.jpg

keepcalm-o-matic.co.uk

Catatan: Tulisan ini dalam dua bahasa, yang pertama Bahasa Sunda, kemudian terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Bagi yang mengerti kedua bahasa tersebut, pasti paham bahwa ada banyak kata dan/atau ungkapan dalam Bahasa Sunda yang sulit dicari padanannya dalam Bahasa Indonesia. Namun demikian, saya berusaha menerjemahkan tulisan ini ke dalam Bahasa Indonesia sedekat mungkin ke makna yang dimaksud dalam Bahasa Sunda.
==============================

BASA SUNDA

Urut kabogoh amprok di Path (chatting), caritana rek kopdar..

Asep :
“Kom.., ieu uing geus di lembur maneh, pas jalan gede.. Belah mana imah teh..?”

Kokom :
“Anu aya gapura.. Akang lebet kinten-kinten 25 meter aya bumi gedong 3 tingkat, warna kayas, mobilna seueur..”

Asep :
“Siap! Akang geus di hareupeunana. Ieu imah maneh teh, Kokom..?”

Kokom :
“Sanes, Akang! Ti dinya Akang mengkol ka kanan lebet gang kinten-kinten 10 meter, aya lapangan badminton. Tah gigireunana, Kang..”

Asep :
“Eta imah maneh?”

Kokom :
“Eta mah bumina tukang urut. Ti dinya mah Akang lempeng, pas ngalangkungan jambatan di dinya katingal aya kios alit, seratanana ISI ULANG PULSA..”

Asep :
“Oh.., jadi imah Kokom teh anu jualan pulsa eta?”

Kokom :
“Eta mah namina konter atuh, Kang.. Ti dinya mah kantun ka kanan dugi ka kuburan. Tah payuneun kuburan aya bangunan..”

Asep (mulai keuheul) :
“Jadi imah sia teh hareupeun kuburan, Sarkommmm..???”

Kokom :
“Aeh nya sanes atuh, Kang! Eta mah bumina kuncen.. Akang ulah lebet ka dinya tapi mengkol deui ka kenca, mapay galengan pasawahan, engke oge bakal katingali aya kandang munding..”

Asep (ambek) :
“Aaarggh..! Eta imah silaing..???”

Kokom :
“Abdi mah sanes munding atuh ih..! Ti dinya Akang lurus we teras dugi ka sisi leuweung..”

Asep (napsu) :
“Eta gogobrog sia..?!?”

Kokom :
“Memangna abdi teh monyet.. Si Akang mah sok aya-aya wae.. Torobos eta leuweung, Kang.. Papay jalan satapak dugi ka pendak sareng masjid alit, tah persis sabeulahna..”

Asep (ambek kacida) :
“Sakali deui sia ngomong eta lain imah maneh, dicacag siah mun panggih jeung uing! Ieu tuur geus asa coplok!”

Kokom :
“Hehehe.. Sabar atuh, Kang.. Ulah emosian janten jalmi mah bilih enggal sepuh. Leres eta pisan bumi abdi. Kumaha tos kapendak teu acan, Kang?”

Asep (rada bungah) :
“Akang geus aya hareupeunana yeuh! Gusti! meni asa ringsek kieu awak. Pokona tanggung jawab mencetan Akang nya? Hehehe..”

Kokom :
“Nya sok langsung kalebet we da aya Mamah abdi nuju nyalira..”

Asep :
“Ari Kokom di mana..??”

Kokom :
“Abdi mah nuju di ARAB..”😜😜😀
==========================================

BAHASA INDONESIA

Sepasang mantan sejoli bertemu di Path (chatting), ceritanya mau kopdar..

Asep :
“Kom, ini saya sudah di kampungmu, pas di jalan besar.. Rumahmu sebelah mana..?”

Kokom :
“Yang ada gapura.. Akang masuk kira-kira 25 meter ada rumah tingkat 3 warna pink, mobilnya banyak..”

Asep :
“Siap! Akang sudah di depannya. Ini rumahmu, Kokom..?”

Kokom :
“Bukan, Akang! Dari situ Akang belok kanan masuk gang kira-kira 10 meter, ada lapangan badminton. Nah di sebelahnya, Kang..”

Asep :
“Itu rumahmu?”

Kokom :
“Itu sih rumahnya tukang pijat. Dari situ Akang lurus, setelah melewati jembatan di situ akan terlihat kios kecil bertuliskan ISI ULANG PULSA..”

Asep :
“Oh.., jadi rumah Kokom yang jualan pulsa itu?”

Kokom :
“Itu namanya konter, Kang.. Dari situ tinggal ke kanan ke arah kuburan. Nah.., di depan kuburan ada bangunan..

Asep (mulai jengkel) :
“Jadi rumahmu itu depan kuburan, Sarkoommmmm..???”

Kokom :
“Aiiihh bukan, Kang! Itu rumahnya kuncen.. Akang jangan masuk ke situ tapi belok lagi ke kiri, menyusuri pematang sawah, nanti bakal kelihatan ada kandang kerbau..”

Asep (marah) :
“Aaarggh..! Itu rumahmu..???”

Kokom :
“Saya bukan kerbau iihh..! Dari situ Akang lurus saja sampai ke tepi hutan..”

Asep (makin marah) :
“Hutan itu rumahmu..?!?”

Kokom :
“Memangnya saya ini monyet.. Si Akang ada-ada saja.. Terobos saja hutan itu, Kang.. Susuri jalan setapak sampai bertemu mesjid kecil, nah persis di sebelahnya..”

Asep (benar-benar marah) :
“Sekali lagi kamu bilang itu bukan rumahmu, aku cincang kamu kalau nanti bertemu! Ini lutut rasanya mau copot!”

Kokom :
“Hehehe.. Sabar, Kang.. Jangan mudah marah kalau jadi orang, nanti cepat tua. Betul sekali itu rumah saya. Bagaimana.., sudah ketemu belum, Kang?”

Asep (agak gembira) :
“Akang sudah ada di depannya, nih..! Gusti rasanya ringsek ini badan. Pokoknya tanggung jawab kamu pijit Akang ya..? Hehehe..”

Kokom :
“Ya langsung saja masuk ke dalam. Ada Mamah-ku lagi sendirian..”

Asep :
“Kalau Kokom di mana..??”

Kokom :
“Saya mah lagi di ARAB..”😜😜😀