Sekedar Selingan: Spanduk

Guyonan hari ini..

=========================================
Asep, tolong buatkan spanduk selamat datang untuk menyambut kedatangan David Beckham!”.
“Iya, Pak..”

“Harus selesai besok ya!”

“Ya, Pak.. Insya Allah besok selesai.”

Keesokan harinya..
“Sudah jadi spanduknya, Sep..?”

“Sudah, Pak.”

“Coba bentangkan, saya mau lihat..”

“Ini, Pak.” Asep membentangkan spanduk.

Selamat Datang

DAVID BECKAM

 
“Aduh.. David Beckham itu pake H, diganti ya!”

“Maaf, Pak.. Saya tidak tahu. Ya, saya akan ganti.”

Besoknya..
“Bagaimana, Sep..? Sudah kamu ganti?”

“Sudah, Pak.. Ini..” Asep membentangkan spanduknya.

Selamat datang

H. DAVID BECKAM

“Sep.., pasang huruf H itu setelah huruf K..”

“Aduh maaf, Pak.. Saya ganti lagi ya..”

“Jangan salah lagi!”

“Iya, Pak.”

“Besok pagi langsung kamu pasang saja!”

“Siap, Pak..”

Besoknya..

“Sudah kamu pasang, Sep..?”

“Alhamdulillah.. Sudah, Pak. Spanduknya di atas sana..”

Selamat datang

K.H. DAVID BECKAM 

😱😱😱

Day 15: What’s the best compliment you’ve ever received..?

Apa pujian terbaik yang pernah kamu terima..?

Sejauh ini ada dua..

Pertama
Ini sebetulnya sebuah pernyataan terima kasih dari seseorang yang membuat saya merasa tersanjung dan terharu.. Jadi begini ceritanya.. Setelah beberapa lama berumah tangga dengan M, suatu hari ibu mertua bilang begini: “Emmy, I notice that M has been happier since he’s being with you.. So, thank you for that..” Ehemmmm.., saya mendadak “meleleh” saat itu..hehehe..
Sebelumnya saya tahu M punya beberapa hubungan yang tidak berjodoh sebelum bertemu saya. Hanya baru di kemudian hari saya tahu ternyata urusan percintaan di masa lalunya itu banyak yang membuat M bersedih. Saya heran juga sebetulnya, kenapa dia itu bisa tahan banting menghadapai karakter saya yang kadang sulit dipahami (kata para mantan saya loh..hahaha..). Tapi mungkin begitulah jodoh ya..

Kedua
Saya punya blog di WP itu sudah hampir 3 tahun. Sebelumnya saya tidak pernah punya blog, bahkan mengenal yang namanya blog pun sewaktu buka akun WP ini. Seiring waktu, pembaca blog saya bertambah. Saya pun merasa bertambah teman. Setelah beberapa lama blogging, beberapa pembaca bilang bahwa tulisan saya bagus. Ada juga yang bilang bahwa saya punya keahlian menulis yang bagus, serta pujian sejenisnya. Dan saya merasa tersanjung..
Saya bukan tipe orang yang suka menulis. Saya tak pernah punya diari atau buku harian. Secara personal maupun profesional saya juga tak pernah menulis apapun untuk dibaca publik. Jadi ketika akhirnya saya menulis di blog, kemudian ada orang memuji tulisan saya, ini adalah sesuatu yang tak terduga, semacam kejutan yang menyenangkan..
Dan tanpa mengurangi rasa hormat terhadap para pembaca yang pernah memberikan pujian, saya mengerti bahwa ini kadang bersifat subjektif. Artinya si A suka tulisan saya, tapi si B mungkin tidak. Namun bagi saya, punya satu orang silent reader saja sudah senang, apalagi dipuji..hehehe..
Jadi, terima kasih kepada kalian yang pernah memuji saya. Terima kasih juga kepada semuanya yang sudah meluangkan waktu untuk mampir ke blog saya..

Yayyyy..! Akhirnya tamat juga tantangan menulis selama 15 hari ini..

Day 14: If you were only allowed to watch one movie for the rest of your life, what movie would that be and why..?

Judulnya panjang amat ya…

Jika kamu boleh menonton hanya satu film sepanjang hidupmu, film apakah itu dan mengapa..?

Saya bukan penggemar film. Jadi agak lama juga mengingat kira-kira film apa yang saya tidak akan bosan menontonnya sepanjang hidup saya.

Dan jawabannya: Gie

Gie adalah sebuah film Indonesia garapan sutradara Riri Riza. Film ini mengisahkan seorang tokoh Soe Hok Gie, mahasiswa Universitas Indonesia yang lebih dikenal sebagai demonstran dan pecinta alam.
Film ini diangkat dari buku Catatan Seorang Demonstran karya Gie sendiri, namun ditambahkan beberapa tokoh fiktif agar ceritanya lebih dramatis. Pada Festival Film Indonesia 2005, Gie memenangkan tiga penghargaan, masing-masing dalam kategori Film Terbaik, Aktor Terbaik (Nicholas Saputra), dan Penata Sinematografi Terbaik (Yudi Datau).(sumber: Wikipedia)
Di tulisan sebelumnya, saya membahas sedikit mengenai Gie ini, tentang satu kutipannya yang saya suka. Dan saya memilih film ini sebagai jawaban dari tema tulisan di hari ke-14 karena beberapa alasan berikut:
1. Saya selalu tertarik dengan pembahasan kondisi sosiopolitik Indonesia di era 60an dan 70an, terutama di masa perpindahan kekuasaan. Menurut saya, masa itu penuh dengan gejolak yang selalu berusaha ditutupi di kemudian hari.
2. Seingat saya, tidak banyak film Indonesia yang mengangkat tema sensitif ini. Membicarakan apa yang sebenarnya terjadi di era tersebut saja kadang masih dirasa “tabu”, apalagi mengangkatnya ke dalam sebuah film. Sekedar gambaran, di tahun 1982 ada sebuah film berjudul The Year of Living Dangerously yang dibintangi Mel Gibson dan diproduksi oleh sineas Australia dan Hollywood. Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama, dan berkisah tentang seorang jurnalis Australia yang ditugaskan meliput gonjang ganjing politik Indonesia di tahun 1965. Awalnya syuting film akan dilakukan di Jakarta sesuai cerita di novelnya. Tapi karena berbagai kendala dan “kendala”, akhirnya syuting dilakukan di Filipina dan Australia. Filmnya sendiri dilarang diputar di Indonesia sampai tahun 1999 ketika terjadi pergantian kekuasaan kembali di Indonesia.
3. Saya tidak tahu seberapa akurat unsur sejarah dan kisah nyata dalam film ini, tapi para pembuat film tersebut patut diacungi jempol atas keberanian mereka dalam menciptakan kembali tampilan sejarah dalam sinematografi. Menurut saya tampilan akhir sinematiknya belum mengena 100%, tampilan “zaman dulu”-nya itu ada tapi kurang berasa. Namun tetap saja film ini menarik untuk ditonton.
4. Alasan terakhir, tidak ada salahnya melihat Nicholas Saputra berseragam anak UI di tahun 60an kan..hehehe.
Nah jadi begitulah kira-kira.. Sekedar info, saya tak pernah menonton film lainnya yang dibintangi Nicholas Saputra selain film ini.

Gie_film_poster

Poster film Gie (www.wikipedia.com)


gie1

Soe Hok Gie yang asli

 

Day 13: List your favorites: song, quote, food, vacation spot, photo..

Sebutkan favoritmu: lagu, kutipan, makanan, tempat liburan, foto..

Jika pengertian “favorit” di sini adalah “yang paling disukai”, sebetulnya saya tidak punya favorit apapun dari apapun. Paling banter saya punya preferensi, lebih suka yang ini daripada yang itu. Ini pun tergantung situasi, kondisi, dan kebutuhan. Tapi baiklah, mari kita anggap saja hal yang saya sukai di bawah ini sebagai “favorit”:
1. Lagu
Sepanjang Zaman – Netta KD 
Ini lagu yang menjadi salah satu soundtrack dari film Lupus di dekade 90an. Lupus adalah tokoh fiksi dalam serial novel berjudul sama karangan Hilman Hariwijaya. Novel Lupus pertama diterbitkan pada tahun 1986 berjudul Lupus I: Tangkaplah Daku Kau Kujitak. Walaupun judulnya adalah plesetan dari film Kejarlah Daku Kau Kutangkap, ceritanya tak berhubungan (Wikipedia). Serial Lupus-nya sendiri saya tak begitu suka. Lagu-lagu yang mengisi filmnya banyak yang bagus. Salah satunya Sepanjang Zaman ini, yang bercerita tentang perjalanan sebuah persahabatan dari masa kecil yang bahagia menuju masa dewasa yang penuh dinamika. Liriknya sederhana tapi mendalam. Melodinya lembut tapi tidak mendayu-dayu. Sang penyanyi, Netta KD, membawakannya dengan pas tanpa perlu improvisasi nada yang kadang bisa mengaburkan melodi aslinya. Intinya, menurut saya semuanya pas.

2. Kutipan
Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan – Soe Hok Gie.
Soe Hok Gie adalah seorang aktivis di tahun 60an yang menentang kebijakan pemerintahan Soekarno dan Soeharto di masa itu. Saya pertama kali mengenal sosok ini melalui filmnya yang berjudul Gie di tahun 2005. Di film ini Soe Hok Gie diperankan oleh Nicholas Saputra.

 

3. Makanan
Semua makanan yang rasanya tidak terlalu manis dan asin. Tapi sebetulnya tidak ada makanan favorit sih. Bagi saya, makanan itu enak atau sangat enak.

4. Tempat liburan
Tempat liburan apapun yang didominasi asrinya hijau dedaunan.

5. Foto
Foto saya ketika masih bayi bersama Ayah saya. Cerita tentang kepergian beliau ditulis juga di post yang ini.
Foto ini statusnya sudah jadi “barang berharga” karena tak banyak foto yang tersisa dari masa kecil. Ini mungkin karena seringnya keluarga berpindah-pindah tempat tinggal di masa itu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

saya dan Ayah

Demikianlah daftar favorit saya…