“I missed you at tea..” Hal-hal unik tentang Australia..

logo_cuadrado_400x400

twitter.com

Terilhami tulisan Mariska beberapa waktu lalu tentang kebiasaan orang New Zealand, saya jadi ingin menulis versi Australia-nya.. Apa yang saya tuliskan berikut ini berdasarkan pengalaman pribadi, jadi secara umum mungkin sama dengan pengalaman orang lain, tapi secara spesifik mungkin juga berbeda. Selain itu, ada banyak aspek lainnya yang bisa mempengaruhi kebiasaan sehari-hari, misalnya aspek sosiogeografis. Lingkungan saya sehari-hari di sini adalah kelas pekerja di kota berukuran sedang, yang terletak di daerah beriklim tropis savanna. Tentu kebiasaannya akan sedikit berbeda dengan orang-orang Australia yang berprofesi sebagai petani/peternak di daerah yang beriklim subtropis, misalnya.

Jadi inilah dia.., beberapa hal unik tentang Australia atau orang Australia:

1.Sangat suka memendekkan kata/frasa sehingga membentuk kata baru.. Misalnya: brekky=breakfast, barbie=barbecue, cuppa=cup of tea, choccy=chocolate, biccy=biscuit, choccy biccy= chocolate biscuit, ambo=ambulance, servo=service station(pom bensin), undies=underwear, hanky=handkerchief, footy=football (rugby maksudnya, kalau football=sepakbola disebut soccer di sini), Macca’s=MacDonald, arvo=afternoon, s’arvo=this afternoon, Straya=Australia, Aussies=Australian (orang Australia), selfie=self photo taking, avo=avocado, tradie=trader (profesi orang berkeahlian pertukangan), postie=postman, lappy=laptop, garbo=garbage truck driver, prezzie=present (hadiah), Chrissie=Christmas, Brissie=Brisbane, Tassie=Tasmania, mozzie=mosquito, uni=university, bestie=bestfriend. Ini hanya contoh kecil. Orang Australia saking terobsesinya dengan singkatan, nama orang pun sering disingkat. Misalnya, nama “Richard Skiffington” dipanggil Skiffo (dari Skiffington). Bahkan, maskapai penerbangan utama mereka, Qantas, sebetulnya singkatan dari Queensland and Northern Territory Airline Service.

2. Bunyi ‘er’ di akhir kata diucapkan ‘a’.. Ini kaitannya dengan dialek alias logat. Jadi dalam Bahasa Inggris logat Australia, dinner diucapkan/terdengar seperti dinna, order=orda, better=betta, slimmer=slimma, runner=runna, cheaper=cheapa, water=wata, dll..

3. Penyebutan waktu makan yang unik.. Breakfast tentu saja brekky, morning tea=mengemil di antara sarapan dan makan siang, smoko=smoke break (waktu rehat untuk merokok atau makan makanan ringan), lunch tentu saja makan siang, afternoon tea=makan malam sehari-hari, dinner=makan malam yang bersifat lebih formal, misalnya makan di restoran, atau di acara-acara resmi. Penjelasan soal afternoon tea dan dinner ini saya dapatkan dari mertua, jadi “shahih” lah ya istilahnya..hehehe.. Afternoon tea biasa disebut ‘tea’ saja, yang mana sama sekali tidak berhubungan dengan tea=teh. Kalau yang ingin dibahas itu tea=teh, maka istilah cuppa=cup of tea yang lazim digunakan. Ada lagi yang disebut tucker=food alias makanan. Kadang orang sini suka bilang: So you had some tucker (baca=taka)? Ini maksudnya, kamu sudah makan? Zaman dulu waktu saya dan M masih dalam tahap PDKT (ehemm..ehemmm..hehehe), suatu malam saya dapat SMS dari dia yang isinya: “I missed you at tea..” Saya kira maksudnya kami sudah janjian untuk minum teh bareng dan kemudian saya lupa datang. Ternyata.., dia heran kenapa saya tidak muncul di saat jam makan malam di kantin karyawan, karena biasanya kami makan bareng..hahaha..

4. Lebih suka mengucapkan ‘no worries’, ‘no dramas’, atau ‘too easy’ yang artinya kira-kira sama dengan ‘no problem’, dalam konteks ketika diminta melakukan suatu tugas. No worries juga lebih lazim diucapkan (daripada you’re welcome) ketika membalas ucapan ‘thank you’.

5. Kata-kata basa-basi andalan.. “G’Day..” (bentuk singkat dari ucapan ‘I wish you have a good day = semoga hari Anda menyenangkan, setara dengan ‘how are you’). Selain itu ada ‘how are you going..?’, yang maknanya setara ‘how are you?’ juga, tapi secara harfiah artinya ‘kamu perginya bagaimana..?’ Jadi jika ada yang bertanya seperti ini di Australia, jangan dijawab ‘by bus (naik bis)’ ya..hahaha.. Jawab saja: “I’m good, thanks..”

6. Mengenakan alas kaki adalah pilihan pribadi.. Dengan kata lain.., suka nyeker..hahaha.. Mobil boleh mewah (merk asal Eropa misalnya) tapi hobi nyeker tetap jalan.. Tidak aneh melihat orang-orang muda atau tua tak beralas kaki di ruang publik, seperti di mal, klinik, taman, dll. Dulu pertama kali lihat M dengan santainya nyeker pergi ke kantor pos, kemudian ke kantor asuransi, saya “speechless”..hahaha.. Tapi sekarang, kadang saya dan Bear pun tak pakai alas kaki kalau pergi ke taman dekat rumah.. Oh ya, Bear sehari-hari bermain di halaman rumah juga nyeker..

7. Kopi harus panas dan bir harus dingin.. Bagaimana pun cuacanya, kopi harus disajikan panas, dan bir harus disajikan dingin (kalau ini memang harus dingin kayaknya).. Jangan aneh jika melihat di siang hari bolong di tengah musim panas yang bersuhu nyaris 40’C, orang Australia tetap minum kopi yang diseduh air panas, atau di musim dingin malam hari dengan suhu 5’C bisa saja minum bir yang baru keluar dari kulkas.

8. Sumpah serapah.. Ini kebiasaan yang saya tidak suka.. Yang paling umum tentu saja kata ‘fuck’.. Di Australia kata sumpah serapah tidak selalu identik dengan konteks negatif seperti kemarahan atau menyumpahi orang. Ini sudah seperti hal biasa yang mengalir dalam percakapan sehari-hari, terutama dalam konteks informal. M pun tidak luput dari hal ini. Saya tentu protes, terutama jika dia mengucapkannya dalam pembicaraan kami. Saya sempat kesal pada M soal ini. Saking kesalnya, saya memberi ‘ultimatum’, jika dia tak bisa berhenti menggunakan kata sumpah serapah, atau setidaknya mengurangi, maka saya akan beli perhiasan mahal setiap kali dia bersumpah serapah (pakai duitnya dia dong..hahaha). Dia pikir saya bercanda. Di kali berikutnya dia ber F-word lagi, langsung saya beli anting berlian yang harganya cukup bikin sumpah serapahnya berkurang drastis..hahaha..

9. Naik taksi duduk di kursi depan.. Ini biasanya berlaku jika kita naik taksi sendirian, tak punya teman seperjalanan selain si supir taksi itu sendiri. Jadi akan sangat dihargai jika naik taksi sendirian, kita duduknya di sebelah supir taksi, kemudian berbasa basi sedikit. Hal ini didasarkan pada azas kesetaraan yang dianut bangsa Australia. Maklum.., meski berbeda-beda tampilan luar, mayoritas orang Australia ini kalau bukan migran, ya keturunan migran, kecuali kelompok penduduk asli yang biasa disebut orang aborigin atau indigenous people, yang mana jumlahnya tak banyak, alias minoritas.

10. Orang Australia umumnya berkarakter santai dan tidak rewel, namun mereka juga sangat tepat waktu. Artinya, kalau memang harus antri, sepreman-premannya orang di sini, mereka akan tetap antri dengan manis. Atau suami sendiri, M, dia tidak rewel mau makan apa buat sarapan atau makan siang misalnya, tapi kalau urusan tepat waktu, untuk jadwal penerbangan contohnya, dia “tak kenal kompromi”: penerbangan domestik minimal 2 jam sebelum keberangkatan, dan penerbangan internasional minimal 3 jam. Minimal loh.. Seringnya, kita sudah di bandara 3 jam sebelum berangkat untuk domestik, dan 4 jam sebelum berangkat untuk internasional. “Just in case..” kata dia.. Hadeuuuhh..

11. Hierarki di tempat kerja dan di mana pun secara umum nyaris tak ada.. Kalau di tempat kerja maksudnya begini, di Indonesia pasti janggal dan dianggap tidak sopan jika memanggil pimpinan atau orang yang dianggap senior di tempat kerja dengan nama depannya saja tanpa ada awalan ‘Pak’ atau ‘Bu’, atau sebutan lazim lainnya. Sementara di sini dianggap wajar, malah kalau kita panggil dengan sebutan Mr. Smith, orangnya akan bilang, “Just call me John..” (misalnya untuk orang yang bernama John Smith). Ini kejadian di M, dia dengan santainya panggil ‘big boss of the big boss’ di kantornya pakai nama depan saja. Atau oleh ponakannya, M dipanggil M tanpa ada embel-embel ‘uncle’dalam sapaan sehari-hari. Tapi kalau sang ponakan memperkenalkan M ke orang lain, dia akan bilang bahwa: “This is M, my uncle..” Saya pun dipanggil ‘Emmy’ saja tanpa ada embel-embel ‘auntie’ oleh ponakan suami. Tapi kalau anak ke orang tua tetap panggil Mum and Dad ya. Dulu waktu saya masih kerja di Kalimantan, atasan saya orang Australia, lingkungan kerja juga banyak melibatkan ekspats asal Australia. Jabatan atasan saya itu General Manager, dan mayoritas orang kantor panggil dia dengan nama depannya saja. Di Australia sistem hierarki tidak menentukan level kesopanan atau rasa hormat kita terhadap orang lain.

12. Orang Australia sangat suka melancong.. Tapi umumnya melancong atau traveling ke luar Australia, karena bepergian/berwisata di dalam wilayah Australia itu sangat mahal. Mahal karena biaya hidup memang mahal, dan juga karena jarak antar kota/wilayah itu sangat berjauhan, jadi belum apa-apa sudah habis di ongkos. Sementara kalau bepergian ke wilayah Asia Tenggara misalnya, sepanjang bisa dapat tiket promo dari maskapai berbiaya murah atau maskapai asal Asia, seseorang berprofesi pegawai biasa bisa dengan nyaman berlibur di Bali atau Bangkok selama beberapa minggu. Jadi jangan heran, orang Townsville mungkin akan lebih sering ke Bali (4.5 jam flight) daripada ke Perth (8 jam flight, belum termasuk waktu transit jika ada).

13. Banyak hal besar.. Maksudnya, Australia ini kan pulau maha besar, negara juga, benua juga, dan entah kenapa ukuran besar ini ‘menular’ ke hal lain, misalnya ukuran pohon mangga yang di Indonesia tahu sendiri seperti apa, di sini pohon mangga lebih mirip pohon monster saking tinggi dan besarnya. Ukuran sayuran dan buah-buahan juga cenderung XL dibandingkan ukuran di Indonesia. Saya pernah beli apel hijau yang ukurannya nyaris sebesar batok kelapa. Ukuran beberapa jenis hewan juga lumayan fantastis: semut sebesar kecoa, atau buaya dengan panjang nyaris 6 meter. Soal properti, tidak aneh di sini orang punya rumah yang berdiri di atas tanah seluas 2000 m2 misalnya, 2000 ya, bukan 200. Atau ipar saya dan keluarganya mengelola tanah peternakan yang cukup luas untuk menggembalakan 40 ribu ekor sapi sekaligus. Dan jangan kaget kalau saya bilang, ada petani yang tanah pertaniannya seluas negara Belgia..

14. Sangat suka minum teh, kopi, dan alkohol.. Tidak dalam waktu yang bersamaan tentunya. Saya pernah berada di beberapa tempat yang menganggap salah satu dari ketiga minuman itu dianggap tidak lazim. Tapi di Australia, banyak orang yang suka semua jenis minuman tersebut. Teh dan kopi umumnya dijual di supermarket, sementara alkohol dijual di toko khusus dengan izin khusus, dan dijual dengan aturan yang super ketat.

15. Australia adalah ‘gudang aturan super ketat’.. Mulai dari aturan yang lazim sampai yang (dianggap) tidak lazim terutama bagi orang luar Australia. Di negara bagian Queensland tempat saya tinggal, membunyikan klakson kendaraan itu ada Perda-nya. Yang jelas, klakson boleh dinyalakan hanya pada saat kondisi gawat darurat. Jika melanggar, siap-siap saja kena denda. Memancing pun tak boleh sembarangan tempat, waktu, jenis ikan, ukuran ikan, dan lain sebagainya. Pernah saya dan M pergi memancing di sungai. Kemudian saya dapat ikan lumayan besar, tapi menurut buku panduan ukuran ikan (ya betul ada ketentuan ukuran ikan yang boleh diambil), ikan itu kurang 1 cm panjangnya dan harus dilepaskan lagi ke sungai. Saya protes dong ke M, saya bilang, memangnya bakal ada orang yang kurang kerjaan banget sampai perlu memeriksa ikan hasil tangkapan saya. Ketika selesai mengomel begitu.., lewatlah perahu patroli polisi perairan . Dan sambil cengar-cengir M bilang, nah itu dia “orang kurang kerjaan” yang akan periksa setiap tangkapan ikan secara acak. Mungkin perahu kita kena periksa, mungkin juga tidak. OMG..!

16. Dilarang mabuk di tempat umum.. Ini termasuk di tempat-tempat yang umumnya orang datang untuk minum alkohol, seperti di pub, klub malam, dan sejenisnya. Jika ada tempat bisnis yang membiarkan pengunjungnya mabuk, kemungkinan akan kenda denda, mungkin izin usahanya dicabut juga. Jadi minum alkohol boleh, tapi kalau mau mabuk di rumah sendiri saja..

17. Merokok juga hanya diperbolehkan di tempat pribadi.. Jangan harap menemukan area merokok di tempat umum. Merokok di taman umum pun, biarpun ‘outdoor’ tidak diperbolehkan.

18. Tidak ada ‘friend’, yang ada ‘mate’.. Orang Australia menyebut ‘mate’ ke hampir semua orang.. Artinya kurang lebih sama dengan friend, dude, bro dalam bahasa Inggris, atau bung, mas, mba dalam bahasa Indonesia.., tetapi penggunaannya lebih universal.. Bahkan antar ayah dan anak laki-laki pun kadang mereka saling sebut ‘mate’.. So, how are you going, mate..?

Dan begitulah.. Sementara sekian dulu.. Nanti kalau ada yang teringat lagi, saya akan tuliskan sebagai Part 2 saja.. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk baca tulisan saya yang (ternyata) panjang ini..hehehe..

Advertisements

Aklimatisasi..

acclimatization

Sejak tinggal di Townsville, Australia Desember tahun lalu, saya mulai merasakan iklim yang sesungguhnya di daerah ini. Sejak tahun 2009 sebetulnya saya sering berada di kota ini, tetapi hanya untuk berlibur. Dalam setahun saya dan M berada di  Townsville tiga kali. Dan setiap kali itu berlangsung sekitar dua minggu. Kadang saat liburan itu di Townsville sedang musim panas, musim gugur, musim dingin, atau musim semi. Menurut saya sebetulnya rancu juga memakai penyebutan iklim di Townsville seperti penyebutan di daerah empat musim (sub tropis), tapi begitulah orang-orang di sini menyebutnya.

Menurut klasifikasi iklim Köppen di Wikipedia, Townsville itu beriklim savanna tropis (tropis padang rumput) yang berdasarkan pengamatan saya artinya hujan sangat jarang (hampir setahun saya di sini, selama itu hujan tak lebih dari 10 kali dengan jarak waktu yang berjauhan), langit sering tampak biru cerah sekali, sinar matahari sangat menyilaukan, rentan terhadap badai tropis, angin kencang sering terjadi, musim dingin tak bersalju dan tak sedingin wilayah selatan Australia, musim panas tak sepanas daerah gurun di pedalaman Australia, dan kelembapan sangat rendah.

Kedengarannya tak terlalu buruk kan.. Begitu pula pemikiran saya ketika mulai tinggal di sini. Saya pikir, kalau panas tinggal ngadem pasang AC, kalau dingin tinggal pakai jaket, beres..

Yang tidak saya perhitungkan efeknya adalah jarangnya hujan dan tingkat kelembapan yang sangat rendah. Terbiasa tinggal di daerah yang banyak hujan, saya sering lupa menyiram taman/tanaman. Di tempat tinggal kami yang sebelumnya, ada sistem irigasi taman otomatis yang dikelola pihak management kompleks tapi di tempat kami itu sering tidak berfungsi, sehingga harus ditambah dengan penyiraman manual. Nah.., bagian “manual” ini yang sering saya lupa. M itu jadwal kerjanya seminggu di lokasi tambang, seminggu libur di rumah. Ketika dia ada di rumah, tanaman/rumput “happy” banget kayaknya..hahaha.. Ketika berada di lokasi tambang, M harus selalu mengingatkan saya tentang menyiram tanaman. Yang bikin saya tambah ogah-ogahan soal pengairan ini, satu-satunya saat yang tepat untuk menyiram tanaman secara manual ini ketika Bear tidur siang.. Lahh.., masa iya tumbuhan itu disiram pas tengah hari bolong, yang ada airnya bukan diserap akar, tapi malah keburu menguap. Idealnya pagi atau sore, tapi jam segitu Bear sedang melek. Dan dia suka ingin ikutan main air, kalau tidak diizinkan, dia menjerit-jerit di tralis jendela. Main air sesekali tidak masalah, tapi kalau setiap kali menyiram tanaman Bear ikut main air juga, hmm..tidak bagus.

Soal kelembapan udara yang rendah, ini sebetulnya “ironis” karena sewaktu masih tinggal di Indonesia, dan juga ketika tinggal di Kolombia (yang iklimnya sama persis dengan Indonesia), saya sering mengeluh tentang betapa lembapnya cuaca. Berdiri sebentar di luar rumah di siang hari langsung keringat mengucur dan kulit terasa lengket. Ngelekeb kalau kata orang Sunda mah.. Saya tidak tahu persis bagaimana kondisinya di wilayah Australia lainnya, tapi di Townsville ini kelembapan udara sering rendah sekali, bisa sampai di bawah 30%. Sebagai gambaran, tingkat kelembapan udara yang bikin kulit kita mudah berkeringat dan terasa lengket itu berkisar 60%-100%. Sementara kelembapan di bawah 60% itu rasanya seperti udara kering di ruangan ber-AC. Masalahnya di Townsville ini tingkat kelembapan rendah tidak mengenal musim. Selalu ada dari waktu ke waktu sepanjang tahun. Dan akan lebih terasa menyiksa ketika dibarengi dengan berhembusnya angin yang menerpa kulit kita.

Jadi sebetulnya apa keluhan saya tentang kelembapan rendah ini? Saya tidak tahu apa ini kulit saya saja yang sensitif atau memang orang lain juga mengalaminya. Ketika udara terasa kering karena kelembapan rendah, maka kulit terasa kering, tenggorokan terasa kering. Semakin rendah kelembapan, semakin kering rasanya. Kulit akan tampak keriput dan kasar, kemudian pecah-pecah, terutama di bagian telapak tangan, telapak kaki, bibir/mulut, tiba-tiba sariawan di rongga mulut, tekstur rambut terasa seperti sapu ijuk, kulit kepala terasa perih, kulit muka terasa perih juga terutama ketika angin berhembus ke muka. Oh ya.., pipi, hidung, dan garis bibir saya juga jadi kemerahan seperti ditampar. Pernah telapak kaki saya berdarah saking parahnya kulit di area tersebut pecah-pecah.

Itu baru efek yang kasat mata. Nah ada juga efek yang tidak kasat mata, yang hanya bisa dirasakan oleh saya sendiri. Saya terus-terusan merasa lelah, padahal kegiatan fisik saya biasa saja. Saya memang mengurus rumah seringnya sendiri saja karena jadwal kerja M yang satu minggu kerja satu minggu libur itu, tapi tetap seharusnya tak merasa selelah itu.

Kelembapan rendah ini kadang bisa “menipu” juga. Maksudnya, jika ini terjadi saat musim panas, otomatis saya akan sering minum air karena merasa panas, jadi kondisi tubuh lebih terbantu. Nah.., di musim dingin suhu udaranya sendiri sudah lumayan dingin, apalagi kalau ditambah mendung misalnya. Saya pasti cenderung tidak haus, padahal sebetulnya tubuh ini “haus”. Jadi tidak aneh, saya bangun di pagi hari dengan “oleh-oleh” sariawan, sakit tenggorokan, dan bibir pecah-pecah (yang identik dengan suhu panas), padahal suhu udara malam harinya hanya sekitar 15’C.

Kondisi terparah yang pernah saya alami, sebelum tidur saya harus mengoleskan enam krim/pelembab yang berbeda ke kulit saya. Pertama, pelembap kulit area kelopak mata. Kedua, pelembap kulit wajah berbasis serum vitamin E dalam minyak tumbuhan seperti minyak almond atau minyak kelapa murni (VCO). Ketiga, body butter, ini pelembab bertekstur berat, pakai pelembap bertekstur ringan seperti lotion sudah tidak mempan, biasanya saya pakai dari The BodyShop. Keempat, pelembap bibir untuk kondisi kulit pecah-pecah, biasanya saya pakai dari The Paw Paw Ointment. Kelima, balsam Tiger, ini bukan pelembap tapi ketika cuaca malam hari sangat dingin, punggung diolesi balsam ini bikin tidur jadi nyenyak. Dan yang terakhir, keenam, cracked heel cream, ini krim untuk kulit tumit yang pecah-pecah, biasanya saya pakai Eulactol dari Scholl (Scholl yang merek sendal itu loh, mereka jual produk perawatan kesehatan kulit kaki juga). Enam jenis oles-olesan ini biasanya terjadi ketika tingkat kelembapan udara di bawah 30%. Ketika tinggal Indonesia dan Kolombia, paling banter saya pakai pelembap untuk kulit area mata dan wajah saja. Itu pun kalau ingat.

Lalu bagaimana saya tahu kelembapan sedang rendah atau sedang tinggi, atau sedang biasa saja? Cara pertama tentu lihat kondisi fisik. Ketika kelembapan udara rendah, tubuh kita terasa kering dan cenderung “mengerut”. Itu sebabnya jika lama berada di dalam perjalanan pesawat atau di ruangan ber-AC lainnya, cincin kadang terasa melonggar. Padahal bukan cincinnya yang membesar, tapi jari kita yang mengerut. Ketika kelembapan udara tinggi, maka tubuh cenderung lebih mudah berkeringat, entah itu sedang mendung, terik siang, atau bahkan malam hari sekalipun. Selain cara pengamatan fisik, tentu dengan melihat perkiraan cuaca. Zaman sekarang perkiraan cuaca saja ada aplikasinya. Tinggal unduh aplikasi cuaca paling umum seperti Yahoo Weather, di situ kita bisa lihat secara lebih akurat, berapa tingkat kelembapan udara, selain informasi umum lainnya mengenai suhu/cuaca.

Kalau dipikir-pikir, untuk kesehatan dan kecantikan kulit, menurut saya kelembapan tinggi itu lebih baik. Kulit terasa lebih halus dan lembut tanpa perlu banyak oles ini itu, karena secara tidak langsung “dilembapkan” oleh alam (keringat). Di sini saya baru ngeh, kenapa produk pelembab kulit awalnya berasal dari daerah 4 musim.. Berkah terselubung semacam ini yang sering saya sepelekan..hehehe.. Bagusnya kelembapan rendah apa ya.., mungkin karena jadi jarang berkeringat, tubuh juga cenderung susah untuk beraroma bau keringat, irit parfum kali ya jadinya..hehehe..

Saya tanya M apa dia atau orang Townsville pada umumnya mengalami hal yang sama. Dia bilang tidak. Kelihatannya ini memang tubuh saya saja yang sedang beraklimatisasi, menyesuaikan diri dengan iklim yang baru. Dan ini kemunginan berlangsung lama terutama karena saya beraklimatisasi di usia yang sudah dewasa. Saya perhatikan Bear tidak mengalami efek separah saya. Paling-paling pipinya tiba-tiba memerah karena terpaan angin dingin. Telapak kaki dia baik-baik saja, padahal dia itu seringnya nyeker kalau bermain di luar rumah, sendal cuma pajangan teras saja jadinya.

Dan begitulah cerita saya tentang aklimatisasi. Ada yang pernah mengalami hal serupa..? Ada dong.., biar kita menderita bersama ya..hahaha..

Selamat hari Senin.. Semoga hari kalian menyenangkan..

Update status

fypemt

beliefnet.com

Tak terasa sudah Agustus saja tahun 2017 ini. Di Townsville saat ini menjelang musim semi. Tumbuhan mulai memamerkan kuncup bunga. Musim dingin tahun ini tak sedingin perkiraan cuaca. Terakhir saya buat tulisan di WP itu bulan Mei. Di situ saya merasa optimis bakal lebih rajin menulis. Kenyataannya..hahaha.., menghilang selama 3 bulan. Tidak sepenuhnya menghilang, kadang masih sempat jalan-jalan ke blog lain, baca-baca, kasih likes, kasih komentar..

Lalu apa saja update status dari saya..? Yang jelas saya tidak hamil..hehehe.., maunya sih iya.. Saya dan keluarga pindah tempat tinggal, masih di Townsville cuma beda kode pos. Semula kami tinggal di kompleks unit. Yang disebut unit di sini adalah semacam apartemen tapi berjejer ke samping, bukan ke atas. Kalaupun berjejer ke atas, biasanya tidak tinggi seperti gedung apartemen pada umumnya. Biasanya yang namanya unit ini ada halamannya meski kecil. Menurut saya, ini seperti perpaduan antara rumah dengan apartemen. Ini contohnya:

main-2

Foto di atas itu tempat tinggal kami yang sebelumnya. Unit kami yang ada mobil parkir. Tinggal di unit ini mulai terasa tak leluasa dengan adanya Bear yang makin aktif, sehingga kami putuskan pindah tempat tinggal ke tipe hunian rumah.  Yang disebut rumah (house) di sini biasanya bangunan tempat tinggal yang tembok bangunannya sama sekali tidak berdempetan dengan tembok bangunan tetangga. Jadi pembatas properti kita dengan properti tetangga itu pagar. Ini dia penampakan si rumah baru.

main-2

Yang mengikuti akun Instagram saya mungkin sudah melihat rumah baru kami itu. Sejak ada Bear, kami memang bermaksud membeli rumah (alih KPR kalau bisa) dan menjual si unit tersebut, tapi rencana awalnya nanti kalau saya sudah “sah” jadi penduduk Australia (dapat Permanent Residence maksudnya). Penduduk loh ya.., bukan warga negara.. Definisinya beda jauh soalnya. Tapi ternyata, setelah dirasa-rasa dan dipertimbangkan, akhirnya beberapa bulan yang lalu akhirnya kami pindah ke rumah baru itu. Pindahan itu bikin “muntah” ternyata.., berbenahnya itu loh.., sesuatu banget..!! Apalagi saya seringnya berdua saja di rumah dengan Bear karena M seminggu di rumah seminggu di lokasi tambang. Untuk barang besar seperti furnitur memang pakai jasa angkut, tapi printilannya itu banyak sekali. Si unit sudah banyak yang lihat-lihat tapi belum ada yang beli, minggu lalu kami putuskan untuk disewakan saja sambil tunggu pembeli. Duhh.., saya sebetulnya waswas kami punya dua KPR dalam waktu yang bersamaan, sementara penghasilan keluarga cuma satu sumber. Semoga si unit cepat terjual deh.. Amin..

Ketika kami sedang sibuk-sibuknya pindahan, ibu saya di Cianjur-Indonesia mendadak harus dirawat di rumah sakit karena anemia gravis yang parah. Kadar Hb turun sampai 3.6, sehingga beliau harus segera transfusi darah, sementara saat itu stok darah di Cianjur dan sekitarnya habis. Teorinya, kadar Hb di bawah 4 akan menyebabkan fungsi organ tubuh melambat kemudian berhenti. OMG..!!! Di kasus ibu saya, beliau benar-benar lemah, tak bisa bergerak. Lidahnya pun kelu, tak bisa bicara sama sekali meskipun beliau sadar sepanjang waktu.. Ya ampuuunnn.. Saat itu kira-kira seminggu setelah Idul Fitri, jadi memang stok darah cenderung sedikit. Akhirnya selama 2 hari 2 malam saya dan adik-adik pengumuman di semua grup WA yang kita punya (kalau dijumlahkan mungkin total ada 20 grup WA), minta tolong dengan sangat kepada siapapun yang bisa untuk menjadi donor darah. Alhamdulillah.., donor bermunculan dan stok darah yang diperlukan terpenuhi. Tapi deg-degannya itu lohhh.. Lagi suasana tegang begitu, entah kenapa si Bear malam-malam muntah pula di tempat tidurnya.. Hadeeuuuhhh.. Biasanya saya tidak panik menghadapi situasi seperti itu, tapi kali itu saya benar-benar kalut. Untung M sedang di rumah. Setelah dilihat-lihat, Bear rupanya hanya masuk angin, kemudian terlalu cape siangnya karena berlarian kesana kemari, saking senangnya ada bapaknya di rumah.. Aiihhhh.., ada-ada saja kejadian..

Setelah 5 hari di RS, ibu saya mulai stabil. Hari ke-7 beliau diizinkan pulang oleh dokter. Seminggu di rumah, beliau check up, eh..ternyata saat itu kadar Hb-nya turun lagi ke angka 8, mestinya antara 12-16 untuk wanita. Akibatnya, tentu saja beliau harus dirawat di RS lagi, meski kondisinya tak segawat yang pertama. Selain itu, stok darah juga jauh lebih banyak. Yang kedua kali ini beliau dirawat selama 5 hari. Kondisi beliau sejak saat itu membaik, tetapi tidak lagi sebugar seperti sebelumnya. Dokter juga menyarankan untuk mengurangi aktivitas fisik.

Kejadian ibu saya dua kali dirawat dalam waktu yang berdekatan ini berbarengan dengan proses kepindahan kami dari unit ke rumah. Sepanjang waktu itu saya benar-benar cape fisik dan pikiran. Saya galau apakah harus pulang ke Indonesia saat itu juga atau bagaimana. Saya galau karena status visa saya (Bridging Visa A: ini visa untuk menunggu persetujuan Partner Visa yang sedang diproses), untuk keluar/masuk Australia hanya membolehkan saya ke luar Australia, tapi untuk masuk kembali, saya harus mengajukan visa baru di Indonesia. Bisa saja saya mengajukan Bridging Visa B sebelum berangkat ke Indonesia, yang membolehkan saya keluar dan masuk Australia kembali, tapi itu perlu proses juga. Suamiku M juga tanya apa saya perlu pulang segera. Saya bilang, lihat situasi dan kondisi. Untungnya, ibu saya bisa stabil lagi, meski tetap dalam pengawasan ketat.

Namun demikian, saya tetap mengajukan Bridging Visa B. Toh sudah hampir setahun saya tinggal di Australia, jadi perlu mudik dulu. Pengajuan BVB ini, entah kenapa ada sedikit drama juga. Sesuai baca-baca sana sini, saya kirim dokumen ke kantor imigrasi di Sydney, ditunggu-tunggu selama dua minggu, tak ada kabar berita, seharusnya dalam seminggu sudah ada kabar. Diemail dua kali, tidak dibalas. Ditelpon koq ya antriannya lama banget, setelah 30 menit masih on hold..! Saya bertekad di hari berikutnya mau kirim email keluhan saja di email yang ketiga. Ehhh.., sebelum si email dikirim, Departemen Imigrasi sudah kirim email duluan, intinya iya..iya..kamu dapat visanya..hahaha.. Pas saya buka lampiran pdf visa saya, koq yang kirim ternyata kantor imigrasi di Brisbane, padahal dokumen dikirim via pos ke kantor imigrasi di Sydney. Mungkin lama karena itu.. Ah sudahlah, yang visanya sudah ada..

Duh.., tiga bulan itu ya buat saya, Mei-Juni-Juli.., bikin galau bin pening saja.. Memasuki Agustus ini situasi sedikit aman terkendali.. Semoga semuanya semakin membaik.. Amin..

Salam musim semi dari Townsville, Australia..

Sekedar Selingan: Spanduk

Guyonan hari ini..

=========================================
Asep, tolong buatkan spanduk selamat datang untuk menyambut kedatangan David Beckham!”.
“Iya, Pak..”

“Harus selesai besok ya!”

“Ya, Pak.. Insya Allah besok selesai.”

Keesokan harinya..
“Sudah jadi spanduknya, Sep..?”

“Sudah, Pak.”

“Coba bentangkan, saya mau lihat..”

“Ini, Pak.” Asep membentangkan spanduk.

Selamat Datang

DAVID BECKAM

 
“Aduh.. David Beckham itu pake H, diganti ya!”

“Maaf, Pak.. Saya tidak tahu. Ya, saya akan ganti.”

Besoknya..
“Bagaimana, Sep..? Sudah kamu ganti?”

“Sudah, Pak.. Ini..” Asep membentangkan spanduknya.

Selamat datang

H. DAVID BECKAM

“Sep.., pasang huruf H itu setelah huruf K..”

“Aduh maaf, Pak.. Saya ganti lagi ya..”

“Jangan salah lagi!”

“Iya, Pak.”

“Besok pagi langsung kamu pasang saja!”

“Siap, Pak..”

Besoknya..

“Sudah kamu pasang, Sep..?”

“Alhamdulillah.. Sudah, Pak. Spanduknya di atas sana..”

Selamat datang

K.H. DAVID BECKAM 

😱😱😱