Firasat.. (1)

Screen Shot 2017-08-22 at 9.53.17 pm.png

Saya tidak tahu persis istilah yang paling tepat untuk hal ini, tapi sejak lama saya punya  sesuatu yang mungkin terkait indera keenam. Saya sebut saja firasat atau hunch dalam bahasa Inggris, karena saya merasa itulah yang saya rasakan.  Firasat ini terkait dengan kematian seseorang. Bisa tentang kematian orang-orang terdekat atau orang yang pernah dekat, atau sekedar kenalan, atau orang yang tidak saya kenal sama sekali. Dan di tulisan ini, inilah pertama kalinya saya membicarakan hal tersebut secara terbuka. Saya enggan sebetulnya membahas hal ini karena pernah terkena masalah gara-gara membicarakan firasat ini. Nanti setelah setelah selesai membaca tulisan ini kalian akan tahu maksudnya.

Tapi baiklah.., dipikir-pikir mungkin bukan ide yang buruk jika saya tuliskan saja di sini. Siapa tahu bisa meringankan pikiran. Ya betul, meski jarang terjadi dan jarang mengingat-ingat, hal ini memang seperti bergulung-gulung di pikiran saya.

Pertama.. Saat itu saya berumur sekitar 13 tahun, masih SMP. Sepupu saya (laki-laki) menikah, dan pesta pernikahannya diadakan di sebuah gedung pertemuan di Cianjur. Semua keluarga diundang, termasuk keluarga saya. Kami sekeluarga datang ke pesta itu. Karena kami ini keluarga pengantin, jadi kami tidak mengisi buku tamu seperti tamu undangan umum lainnya. Kemudian saya perhatikan, tamu yang mengisi buku tamu mendapat suvenir cantik. Kata ibu saya, kalau mau suvenir, saya harus isi buku tamu. Dan itulah yang saya lakukan. Ketika antri di depan meja penerima tamu, di depan saya ada bapak-bapak, selintas saya perhatikan wajahnya, ternyata itu ayahnya sepupu saya alias bapaknya pengantin pria, kita sebut saja Om Aji. Dia ini sedang menuliskan namanya di buku tamu, saya jelas-jelas lihat dia tulis namanya “Aji”. Dengan polosnya saya pikir, Om Aji ingin dapat suvenir juga kah..? Terus saya berpikir lagi, katanya keluarga tidak perlu menulis di buku tamu, tapi Om Aji kenapa menulis di situ ya.. Anehnya, tidak terpikir oleh saya untuk menyapa si Om, padahal dia berdiri tepat membelakangi saya. Singkat cerita, saya dapat suvenirnya. Tak lama kemudian, kami sekeluarga pulang. Di rumah, Ayah dan Ibu membicarakan pesta tersebut, bicara yang umum saja. Saya tak tertarik dengan isi pembicaraan tersebut, sampai Ayah saya bilang begini: “… sayang Kang Aji (bapaknya pengantin pria) tak sempat melihat anaknya menikah..” Dengan polosnya saya langsung nyeletuk dong: “Om Aji ada koq, tadi aku lihat di meja tamu..” Ayah dan Ibu saya langsung bengong. Lalu mereka menjelaskan dan mengingatkan saya bahwa Om Aji sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Giliran saya yang bengong. Dan tiba-tiba saya ingat momen ketika si Om meninggal. Saya tahu dan ingat bahwa Om Aji sudah meninggal, tapi di pesta itu sampai pulang ke rumah, entah kenapa memori bahwa si Om sudah meninggal itu seolah-olah menghilang dari otak saya. Sampai sekarang saya tidak tahu siapa sebetulnya yang saya lihat di pesta itu.

Kedua.. Saat itu saya berumur 15 tahun, sudah SMA. Tante saya sakit parah,  dia mengidap diabetes yang sudah merambat ke mana-mana. Ayah dan saya menengok tante yang sedang dirawat di rumah sakit di Bandung. Saat itu tante tampak terbaring tak berdaya, dia harus merelakan beberapa jarinya diamputasi karena diabetes yang parah. Saya tidak tahu saat itu dia tidur atau sudah tak sadarkan diri. Kami hanya boleh melihat dari balik kaca jendela ruang perawatan. Ketika berada di ruang tersebut, sesuatu seperti berbisik di otak saya: “Moal lami deui..(tidak akan lama lagi..)”. Malam harinya di rumah, di dalam tidur saya bermimpi didatangi tante ini. Dia berkata: “Sing sholeh, sing bageur nya, Neng..(Jadi anak sholeh dan baik ya, Neng..)” Keesokan harinya, kami dikabari bahwa tante meninggal pagi itu..

Ketiga.. Saat itu saya berumur 19 tahun, sudah kuliah di Bandung. Ketika libur kuliah, seorang teman kuliah, sebut saja A, mengajak berlibur di rumahnya di Jakarta. Saya tentu saja senang. Saat itu ibunya teman ini sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Saya pun diajak teman untuk menjenguk ibunya. Di rumah sakit, begitu saya bertatap muka dengan ibunya itu, saya dapat bisikan itu lagi, bisikan yang saya dengar beberapa tahun sebelumnya: “Moal lami deui..(tidak akan lama lagi..)” Saya berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran itu tapi tidak bisa. Beberapa hari kemudian, ibunya A itu meninggal. Karena hal ini, A absen kuliah beberapa minggu. Saya dapat kabar ibunya meninggal dari teman kami yang lainnya, sebut saja si B. Dengan polosnya saya bilang ke B, bahwa saya bisa lihat ibunya kemungkinan tidak akan mampu bertahan lama. Ketika si A masuk kuliah lagi, tiba-tiba hampir semua teman kuliah yang perempuan termasuk si A dan B menjauhi saya. Mereka menjauhi saya selama hampir satu semester. Saya heran dan sedih, tapi saya tak berani bertanya-tanya. Sampai akhirnya ada satu teman perempuan yang tampaknya netral saja, kasih tahu saya bahwa omongan saya tentang ibunya A (yang saya bilang ke B), disampaikan ke A oleh B, dan ditafsirkan negatif oleh mereka berdua, sehingga mereka mengajak semua teman sekelas untuk menjauhi saya. Saya dapat pelajaran berharga di sini: hati-hati berkata-kata.

Keempat.. Ini tentang Ayah saya sendiri. Pernah saya tuliskan di post ini.. Saat itu di Jakarta, di suatu pagi di bulan Agustus 2008, saya terbangun dari mimpi yang tidak biasa. Di mimpi itu Ayah menjemput saya dari tempat kos, kemudian beliau membawa saya jalan-jalan. Di dunia nyata sebetulnya ini hal yang biasa beliau lakukan ketika saya masih kecil. Yang tidak biasa, di mimpi itu Ayah tampak sangat muda seperti berumur 20an.., kami berdua mengenakan baju putih atas bawah, dan meskipun di sini saya menyebutnya  “jalan-jalan”, sesungguhnya kami lebih seperti melayang-layang di udara. Selain itu, kami rasanya juga bercakap-cakap tapi tanpa suara, jadi seperti telepati. Setelah acara “jalan-jalan” itu, beliau mengantarkan saya kembali ke tempat kos, lalu kami saling tersenyum dan mengucapkan selamat berpisah, lagi-lagi lewat telepati. Kemudian saya terbangun dari mimpi itu. Saya merasa “sesuatu” akan terjadi. Kemudian saya bergegas dan pergi bekerja seperti biasa. Setelah satu jam berada di kantor, atasan saya datang ke ruangan saya, dan secara perlahan tapi jelas berkata: “Emmy, ibumu baru saja telpon. Beliau bilang kamu harus segera pulang ke Cianjur saat ini juga”
Saat itu juga saya tahu..: Ayah saya, pria penggila peta dunia itu, orang yang membuat saya tahu bahwa dunia itu luas sekali, telah berpulang ke haribaan-Nya. Sebelumnya beliau sakit stroke parah selama 5 tahun, namun berhasil sembuh perlahan-lahan. Tetapi kondisi beliau selama 3 bulan terakhir di hidupnya sering naik turun. Seminggu sebelum Ayah meninggal, saya bilang ke beliau bahwa minggu depannya saya akan pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya. Saya mau mulai melihat dunia yang biasanya beliau tunjukkan melalui peta. Waktu itu saya mau berlibur sendirian saja ke Vietnam. Beliau merespon dengan menggenggam tangan saya, kemudian tersenyum. Itu saja. Dan di hari ketika beliau meninggal, akhirnya saya mengerti arti mimpi itu.. Beliau mengucapkan selamat tinggal sekaligus selamat jalan.. Beliau pasti tersenyum lebar seandainya tahu sudah “ngebolang” ke mana saja saya sejak saat itu..

Bersambung..

 

Advertisements

Aklimatisasi..

acclimatization

Sejak tinggal di Townsville, Australia Desember tahun lalu, saya mulai merasakan iklim yang sesungguhnya di daerah ini. Sejak tahun 2009 sebetulnya saya sering berada di kota ini, tetapi hanya untuk berlibur. Dalam setahun saya dan M berada di  Townsville tiga kali. Dan setiap kali itu berlangsung sekitar dua minggu. Kadang saat liburan itu di Townsville sedang musim panas, musim gugur, musim dingin, atau musim semi. Menurut saya sebetulnya rancu juga memakai penyebutan iklim di Townsville seperti penyebutan di daerah empat musim (sub tropis), tapi begitulah orang-orang di sini menyebutnya.

Menurut klasifikasi iklim Köppen di Wikipedia, Townsville itu beriklim savanna tropis (tropis padang rumput) yang berdasarkan pengamatan saya artinya hujan sangat jarang (hampir setahun saya di sini, selama itu hujan tak lebih dari 10 kali dengan jarak waktu yang berjauhan), langit sering tampak biru cerah sekali, sinar matahari sangat menyilaukan, rentan terhadap badai tropis, angin kencang sering terjadi, musim dingin tak bersalju dan tak sedingin wilayah selatan Australia, musim panas tak sepanas daerah gurun di pedalaman Australia, dan kelembapan sangat rendah.

Kedengarannya tak terlalu buruk kan.. Begitu pula pemikiran saya ketika mulai tinggal di sini. Saya pikir, kalau panas tinggal ngadem pasang AC, kalau dingin tinggal pakai jaket, beres..

Yang tidak saya perhitungkan efeknya adalah jarangnya hujan dan tingkat kelembapan yang sangat rendah. Terbiasa tinggal di daerah yang banyak hujan, saya sering lupa menyiram taman/tanaman. Di tempat tinggal kami yang sebelumnya, ada sistem irigasi taman otomatis yang dikelola pihak management kompleks tapi di tempat kami itu sering tidak berfungsi, sehingga harus ditambah dengan penyiraman manual. Nah.., bagian “manual” ini yang sering saya lupa. M itu jadwal kerjanya seminggu di lokasi tambang, seminggu libur di rumah. Ketika dia ada di rumah, tanaman/rumput “happy” banget kayaknya..hahaha.. Ketika berada di lokasi tambang, M harus selalu mengingatkan saya tentang menyiram tanaman. Yang bikin saya tambah ogah-ogahan soal pengairan ini, satu-satunya saat yang tepat untuk menyiram tanaman secara manual ini ketika Bear tidur siang.. Lahh.., masa iya tumbuhan itu disiram pas tengah hari bolong, yang ada airnya bukan diserap akar, tapi malah keburu menguap. Idealnya pagi atau sore, tapi jam segitu Bear sedang melek. Dan dia suka ingin ikutan main air, kalau tidak diizinkan, dia menjerit-jerit di tralis jendela. Main air sesekali tidak masalah, tapi kalau setiap kali menyiram tanaman Bear ikut main air juga, hmm..tidak bagus.

Soal kelembapan udara yang rendah, ini sebetulnya “ironis” karena sewaktu masih tinggal di Indonesia, dan juga ketika tinggal di Kolombia (yang iklimnya sama persis dengan Indonesia), saya sering mengeluh tentang betapa lembapnya cuaca. Berdiri sebentar di luar rumah di siang hari langsung keringat mengucur dan kulit terasa lengket. Ngelekeb kalau kata orang Sunda mah.. Saya tidak tahu persis bagaimana kondisinya di wilayah Australia lainnya, tapi di Townsville ini kelembapan udara sering rendah sekali, bisa sampai di bawah 30%. Sebagai gambaran, tingkat kelembapan udara yang bikin kulit kita mudah berkeringat dan terasa lengket itu berkisar 60%-100%. Sementara kelembapan di bawah 60% itu rasanya seperti udara kering di ruangan ber-AC. Masalahnya di Townsville ini tingkat kelembapan rendah tidak mengenal musim. Selalu ada dari waktu ke waktu sepanjang tahun. Dan akan lebih terasa menyiksa ketika dibarengi dengan berhembusnya angin yang menerpa kulit kita.

Jadi sebetulnya apa keluhan saya tentang kelembapan rendah ini? Saya tidak tahu apa ini kulit saya saja yang sensitif atau memang orang lain juga mengalaminya. Ketika udara terasa kering karena kelembapan rendah, maka kulit terasa kering, tenggorokan terasa kering. Semakin rendah kelembapan, semakin kering rasanya. Kulit akan tampak keriput dan kasar, kemudian pecah-pecah, terutama di bagian telapak tangan, telapak kaki, bibir/mulut, tiba-tiba sariawan di rongga mulut, tekstur rambut terasa seperti sapu ijuk, kulit kepala terasa perih, kulit muka terasa perih juga terutama ketika angin berhembus ke muka. Oh ya.., pipi, hidung, dan garis bibir saya juga jadi kemerahan seperti ditampar. Pernah telapak kaki saya berdarah saking parahnya kulit di area tersebut pecah-pecah.

Itu baru efek yang kasat mata. Nah ada juga efek yang tidak kasat mata, yang hanya bisa dirasakan oleh saya sendiri. Saya terus-terusan merasa lelah, padahal kegiatan fisik saya biasa saja. Saya memang mengurus rumah seringnya sendiri saja karena jadwal kerja M yang satu minggu kerja satu minggu libur itu, tapi tetap seharusnya tak merasa selelah itu.

Kelembapan rendah ini kadang bisa “menipu” juga. Maksudnya, jika ini terjadi saat musim panas, otomatis saya akan sering minum air karena merasa panas, jadi kondisi tubuh lebih terbantu. Nah.., di musim dingin suhu udaranya sendiri sudah lumayan dingin, apalagi kalau ditambah mendung misalnya. Saya pasti cenderung tidak haus, padahal sebetulnya tubuh ini “haus”. Jadi tidak aneh, saya bangun di pagi hari dengan “oleh-oleh” sariawan, sakit tenggorokan, dan bibir pecah-pecah (yang identik dengan suhu panas), padahal suhu udara malam harinya hanya sekitar 15’C.

Kondisi terparah yang pernah saya alami, sebelum tidur saya harus mengoleskan enam krim/pelembab yang berbeda ke kulit saya. Pertama, pelembap kulit area kelopak mata. Kedua, pelembap kulit wajah berbasis serum vitamin E dalam minyak tumbuhan seperti minyak almond atau minyak kelapa murni (VCO). Ketiga, body butter, ini pelembab bertekstur berat, pakai pelembap bertekstur ringan seperti lotion sudah tidak mempan, biasanya saya pakai dari The BodyShop. Keempat, pelembap bibir untuk kondisi kulit pecah-pecah, biasanya saya pakai dari The Paw Paw Ointment. Kelima, balsam Tiger, ini bukan pelembap tapi ketika cuaca malam hari sangat dingin, punggung diolesi balsam ini bikin tidur jadi nyenyak. Dan yang terakhir, keenam, cracked heel cream, ini krim untuk kulit tumit yang pecah-pecah, biasanya saya pakai Eulactol dari Scholl (Scholl yang merek sendal itu loh, mereka jual produk perawatan kesehatan kulit kaki juga). Enam jenis oles-olesan ini biasanya terjadi ketika tingkat kelembapan udara di bawah 30%. Ketika tinggal Indonesia dan Kolombia, paling banter saya pakai pelembap untuk kulit area mata dan wajah saja. Itu pun kalau ingat.

Lalu bagaimana saya tahu kelembapan sedang rendah atau sedang tinggi, atau sedang biasa saja? Cara pertama tentu lihat kondisi fisik. Ketika kelembapan udara rendah, tubuh kita terasa kering dan cenderung “mengerut”. Itu sebabnya jika lama berada di dalam perjalanan pesawat atau di ruangan ber-AC lainnya, cincin kadang terasa melonggar. Padahal bukan cincinnya yang membesar, tapi jari kita yang mengerut. Ketika kelembapan udara tinggi, maka tubuh cenderung lebih mudah berkeringat, entah itu sedang mendung, terik siang, atau bahkan malam hari sekalipun. Selain cara pengamatan fisik, tentu dengan melihat perkiraan cuaca. Zaman sekarang perkiraan cuaca saja ada aplikasinya. Tinggal unduh aplikasi cuaca paling umum seperti Yahoo Weather, di situ kita bisa lihat secara lebih akurat, berapa tingkat kelembapan udara, selain informasi umum lainnya mengenai suhu/cuaca.

Kalau dipikir-pikir, untuk kesehatan dan kecantikan kulit, menurut saya kelembapan tinggi itu lebih baik. Kulit terasa lebih halus dan lembut tanpa perlu banyak oles ini itu, karena secara tidak langsung “dilembapkan” oleh alam (keringat). Di sini saya baru ngeh, kenapa produk pelembab kulit awalnya berasal dari daerah 4 musim.. Berkah terselubung semacam ini yang sering saya sepelekan..hehehe.. Bagusnya kelembapan rendah apa ya.., mungkin karena jadi jarang berkeringat, tubuh juga cenderung susah untuk beraroma bau keringat, irit parfum kali ya jadinya..hehehe..

Saya tanya M apa dia atau orang Townsville pada umumnya mengalami hal yang sama. Dia bilang tidak. Kelihatannya ini memang tubuh saya saja yang sedang beraklimatisasi, menyesuaikan diri dengan iklim yang baru. Dan ini kemunginan berlangsung lama terutama karena saya beraklimatisasi di usia yang sudah dewasa. Saya perhatikan Bear tidak mengalami efek separah saya. Paling-paling pipinya tiba-tiba memerah karena terpaan angin dingin. Telapak kaki dia baik-baik saja, padahal dia itu seringnya nyeker kalau bermain di luar rumah, sendal cuma pajangan teras saja jadinya.

Dan begitulah cerita saya tentang aklimatisasi. Ada yang pernah mengalami hal serupa..? Ada dong.., biar kita menderita bersama ya..hahaha..

Selamat hari Senin.. Semoga hari kalian menyenangkan..

Update status

fypemt

beliefnet.com

Tak terasa sudah Agustus saja tahun 2017 ini. Di Townsville saat ini menjelang musim semi. Tumbuhan mulai memamerkan kuncup bunga. Musim dingin tahun ini tak sedingin perkiraan cuaca. Terakhir saya buat tulisan di WP itu bulan Mei. Di situ saya merasa optimis bakal lebih rajin menulis. Kenyataannya..hahaha.., menghilang selama 3 bulan. Tidak sepenuhnya menghilang, kadang masih sempat jalan-jalan ke blog lain, baca-baca, kasih likes, kasih komentar..

Lalu apa saja update status dari saya..? Yang jelas saya tidak hamil..hehehe.., maunya sih iya.. Saya dan keluarga pindah tempat tinggal, masih di Townsville cuma beda kode pos. Semula kami tinggal di kompleks unit. Yang disebut unit di sini adalah semacam apartemen tapi berjejer ke samping, bukan ke atas. Kalaupun berjejer ke atas, biasanya tidak tinggi seperti gedung apartemen pada umumnya. Biasanya yang namanya unit ini ada halamannya meski kecil. Menurut saya, ini seperti perpaduan antara rumah dengan apartemen. Ini contohnya:

main-2

Foto di atas itu tempat tinggal kami yang sebelumnya. Unit kami yang ada mobil parkir. Tinggal di unit ini mulai terasa tak leluasa dengan adanya Bear yang makin aktif, sehingga kami putuskan pindah tempat tinggal ke tipe hunian rumah.  Yang disebut rumah (house) di sini biasanya bangunan tempat tinggal yang tembok bangunannya sama sekali tidak berdempetan dengan tembok bangunan tetangga. Jadi pembatas properti kita dengan properti tetangga itu pagar. Ini dia penampakan si rumah baru.

main-2

Yang mengikuti akun Instagram saya mungkin sudah melihat rumah baru kami itu. Sejak ada Bear, kami memang bermaksud membeli rumah (alih KPR kalau bisa) dan menjual si unit tersebut, tapi rencana awalnya nanti kalau saya sudah “sah” jadi penduduk Australia (dapat Permanent Residence maksudnya). Penduduk loh ya.., bukan warga negara.. Definisinya beda jauh soalnya. Tapi ternyata, setelah dirasa-rasa dan dipertimbangkan, akhirnya beberapa bulan yang lalu akhirnya kami pindah ke rumah baru itu. Pindahan itu bikin “muntah” ternyata.., berbenahnya itu loh.., sesuatu banget..!! Apalagi saya seringnya berdua saja di rumah dengan Bear karena M seminggu di rumah seminggu di lokasi tambang. Untuk barang besar seperti furnitur memang pakai jasa angkut, tapi printilannya itu banyak sekali. Si unit sudah banyak yang lihat-lihat tapi belum ada yang beli, minggu lalu kami putuskan untuk disewakan saja sambil tunggu pembeli. Duhh.., saya sebetulnya waswas kami punya dua KPR dalam waktu yang bersamaan, sementara penghasilan keluarga cuma satu sumber. Semoga si unit cepat terjual deh.. Amin..

Ketika kami sedang sibuk-sibuknya pindahan, ibu saya di Cianjur-Indonesia mendadak harus dirawat di rumah sakit karena anemia gravis yang parah. Kadar Hb turun sampai 3.6, sehingga beliau harus segera transfusi darah, sementara saat itu stok darah di Cianjur dan sekitarnya habis. Teorinya, kadar Hb di bawah 4 akan menyebabkan fungsi organ tubuh melambat kemudian berhenti. OMG..!!! Di kasus ibu saya, beliau benar-benar lemah, tak bisa bergerak. Lidahnya pun kelu, tak bisa bicara sama sekali meskipun beliau sadar sepanjang waktu.. Ya ampuuunnn.. Saat itu kira-kira seminggu setelah Idul Fitri, jadi memang stok darah cenderung sedikit. Akhirnya selama 2 hari 2 malam saya dan adik-adik pengumuman di semua grup WA yang kita punya (kalau dijumlahkan mungkin total ada 20 grup WA), minta tolong dengan sangat kepada siapapun yang bisa untuk menjadi donor darah. Alhamdulillah.., donor bermunculan dan stok darah yang diperlukan terpenuhi. Tapi deg-degannya itu lohhh.. Lagi suasana tegang begitu, entah kenapa si Bear malam-malam muntah pula di tempat tidurnya.. Hadeeuuuhhh.. Biasanya saya tidak panik menghadapi situasi seperti itu, tapi kali itu saya benar-benar kalut. Untung M sedang di rumah. Setelah dilihat-lihat, Bear rupanya hanya masuk angin, kemudian terlalu cape siangnya karena berlarian kesana kemari, saking senangnya ada bapaknya di rumah.. Aiihhhh.., ada-ada saja kejadian..

Setelah 5 hari di RS, ibu saya mulai stabil. Hari ke-7 beliau diizinkan pulang oleh dokter. Seminggu di rumah, beliau check up, eh..ternyata saat itu kadar Hb-nya turun lagi ke angka 8, mestinya antara 12-16 untuk wanita. Akibatnya, tentu saja beliau harus dirawat di RS lagi, meski kondisinya tak segawat yang pertama. Selain itu, stok darah juga jauh lebih banyak. Yang kedua kali ini beliau dirawat selama 5 hari. Kondisi beliau sejak saat itu membaik, tetapi tidak lagi sebugar seperti sebelumnya. Dokter juga menyarankan untuk mengurangi aktivitas fisik.

Kejadian ibu saya dua kali dirawat dalam waktu yang berdekatan ini berbarengan dengan proses kepindahan kami dari unit ke rumah. Sepanjang waktu itu saya benar-benar cape fisik dan pikiran. Saya galau apakah harus pulang ke Indonesia saat itu juga atau bagaimana. Saya galau karena status visa saya (Bridging Visa A: ini visa untuk menunggu persetujuan Partner Visa yang sedang diproses), untuk keluar/masuk Australia hanya membolehkan saya ke luar Australia, tapi untuk masuk kembali, saya harus mengajukan visa baru di Indonesia. Bisa saja saya mengajukan Bridging Visa B sebelum berangkat ke Indonesia, yang membolehkan saya keluar dan masuk Australia kembali, tapi itu perlu proses juga. Suamiku M juga tanya apa saya perlu pulang segera. Saya bilang, lihat situasi dan kondisi. Untungnya, ibu saya bisa stabil lagi, meski tetap dalam pengawasan ketat.

Namun demikian, saya tetap mengajukan Bridging Visa B. Toh sudah hampir setahun saya tinggal di Australia, jadi perlu mudik dulu. Pengajuan BVB ini, entah kenapa ada sedikit drama juga. Sesuai baca-baca sana sini, saya kirim dokumen ke kantor imigrasi di Sydney, ditunggu-tunggu selama dua minggu, tak ada kabar berita, seharusnya dalam seminggu sudah ada kabar. Diemail dua kali, tidak dibalas. Ditelpon koq ya antriannya lama banget, setelah 30 menit masih on hold..! Saya bertekad di hari berikutnya mau kirim email keluhan saja di email yang ketiga. Ehhh.., sebelum si email dikirim, Departemen Imigrasi sudah kirim email duluan, intinya iya..iya..kamu dapat visanya..hahaha.. Pas saya buka lampiran pdf visa saya, koq yang kirim ternyata kantor imigrasi di Brisbane, padahal dokumen dikirim via pos ke kantor imigrasi di Sydney. Mungkin lama karena itu.. Ah sudahlah, yang visanya sudah ada..

Duh.., tiga bulan itu ya buat saya, Mei-Juni-Juli.., bikin galau bin pening saja.. Memasuki Agustus ini situasi sedikit aman terkendali.. Semoga semuanya semakin membaik.. Amin..

Salam musim semi dari Townsville, Australia..

All About Your First Born..

img_2004

Dua jam sebelum si Bear brojol..

Post ini ceritanya ikut-ikutan Imelda, yang iseng menyalin dari Instagram-nya Sazqueen. Nah.., si Mba Sazqueen ini menulis 17 pertanyaan dengan tema “ALL ABOUT YOUR FIRST BORN”. Jadi.., inilah dia.. Catatan ringkas terkait kelahiran Bear 🙂

ALL ABOUT YOUR FIRST BORN
1. Epidural? Ya
2. Father in the room? Ya
3. Induced? Tidak
4. Normal? Bukan. Operasi Caesar
5. Due date? Akhir Oktober 2015
6. Birth date? Pertengahan Oktober 2015
7. Morning sickness? Ya, selama 2 minggu saja, di usia kehamilan bulan ketiga.
8. Cravings? Tidak.. Sama sekali tidak ngidam.. Aneh..
9. Kilos gained? 10 kg dari IVF pertama yang gagal, 15 kg dari IVF kedua yang sukses menghasilkan si Bear. Total: 25 kg. Sampai saat ini baru turun 13 kg.
10. Sex of the baby? Laki-laki
11. Place you gave birth? RSIA Bunda, Menteng, Jakarta
12. Hours in labour room? 30 menit.. Total rawat inap 2 malam..
13. Baby’s weight? 3.8 kg
14. Baby’s name? BBL, nama julukan: Bear
15. How old is your baby today? 19 bulan
16. Most memorable event during pregnancy? Ada 2 :
a) Berhubung kehamilan saya berawal dari program IVF di klinik Morula IVF Menteng-Jakarta, maka sepanjang kehamilan pun kontrol ke klinik tersebut, meski harus bolak balik Cianjur-Jakarta. Dari sekian banyak bolak balik itu, 3 kali saya berpapasan dengan iring-iringan RI 1 alias rombongan presiden. Jadi saya langsung berdoa semoga si Bear jadi presiden..hehehe.. Amiin..
b) Perempuan ketika sedang hamil umumnya mencari informasi seputar kehamilan. Saya juga tapi tak seheboh perempuan lainnya.., karena entah kenapa saya lebih tertarik dengan saham/pasar modal. Jadi sepanjang kehamilan itu, saya mendadak jadi trader dengan modal receh dan pengetahuan “learning by doing”, alias terjun langsung saja. Hasilnya, begitu si Bear lahir, saya dapat keuntungan yang cukup untuk membayar biaya operasi Caesar..hehehe.. Alhamdulillah.. Rezeki anak sholehah..
17. Who’s the obgyn? – dr. Arie Polim, SpOG

Nah, segitu saja ringkasan ceritanya. Ada yang tertarik ikutan.., silahkan ditunggu post-nya..