(056) Komentar tak terduga..

Sebagai perempuan yang punya pasangan seorang WNA, sudah tak terhitung banyaknya komentar yang dilontarkan ke saya karena hal ini atau mengenai hal ini. Padahal di kehidupan sehari-hari saya jarang membahas tentang M. Tapi begitu orang tahu, pasti dikomentari. Saya yakin para pelaku pernikahan campuran lainnya juga banyak menerima komentar tersebut. Dari yang paling umum sampai yang paling spesifik, dari yang sopan sampai ke yang kurang ajar. Dari sekian banyak komentar yang saya pernah terima, ada satu yang tidak saya duga, tapi setelah dipikir-pikir, mungkin masuk akal juga.

Suatu hari menjelang akhir tahun 2012, saya menghadiri acara kantor M yang juga dihadiri oleh istri/suami dari para karyawan. Seperti biasa karena sudah kenal banyak karyawan dan pasangannya, saya mengobrol ngalor ngidul dengan banyak orang. Sampailah saya ke kumpulan ibu-ibu istri karyawan (semuanya orang Indonesia). Kami berbicara tentang hal-hal umum saja awalnya. Kemudian satu persatu mereka berpamitan karena acara sudah selesai. Tinggal satu orang yang masih mengobrol dengan saya. Dia ini usianya sudah agak senior, mungkin pertengahan 50an menjelang 60 tahun. Karakternya ramai dan suka bercerita. Kemudian si ibu tersebut bertanya-tanya soal M. Awalnya pertanyaan/komentar standar saja: Ketemu di mana..? Sudah berapa lama menikah..? Pak M itu satu divisi sama Pak A, ‘kan..? dst..dst..
Kemudian dia bilang begini: “Baguslah, Mba.. Suaminya bule.. Setidaknya kalau bercerai, lumayan dapat 30 jutaan per bulan..”
Selama beberapa detik saya tidak yakin bagaimana harus menanggapinya.. Akhirnya saya berkata: “Mm.., maksudnya, Bu..?”
Dia pun menjelaskan: “Saya punya tetangga, menikah sama bule, eh ternyata gak awet.. Cerai deh mereka.. Anaknya 2 orang ikut ibunya tinggal di Balikpapan.. Mantan suaminya balik ke negaranya Australia, tapi tiap bulan selalu mengirim uang buat anak-anaknya.. Tigapuluh juta sebulan lumayan banget loh, Mba.. Kalau kerja biasa mana ada yang kasih gaji segitu..”
Dan sambil tersenyum-senyum saya berkata: “Tapi kan tujuan saya menikah bukan untuk bercerai, Bu..”
Lalu si ibu memberikan klarifikasi: “Pastinya gak dong, Mba.. Semua rumah tangga pasti ingin langgeng dan bahagia.. Cuma menurutku jika mantan suami tetanggaku itu orang lokal, belum tentu bisa kasih segitu.. Atau malah sama sekali gak bertanggung jawab.. Banyak contohnya, Mba.. Aku kasihan kalau lihat perempuan yang harus banting tulang sendiri membiayai anak-anaknya, sementara si mantan suami pergi begitu saja, bahkan mungkin kawin lagi tanpa peduli anak-anaknya yang masih perlu biaya..”
Sepulang dari acara tersebut, saya jadi terpikir terus perkataan si ibu. Bukannya apa-apa.. Hanya merasa bahwa meski awalnya terkesan “vulgar”, namun omongannya mengingatkan saya akan kenyataan lain. Ada beberapa keluarga dan teman perempuan yang menjanda, kemudian harus banting tulang sendiri menafkahi anak-anak mereka yang masih di bawah umur karena mantan suami (yang mana adalah ayah dari anak-anak tersebut) tidak mau atau tidak bisa memberikan tunjangan untuk anak-anaknya. Ada yang berhasil bangkit dari kesulitan ekonomi, ada juga yang masih terpuruk. Saya jadi bertanya-tanya, di Indonesia adakah undang-undang atau peraturan untuk melindungi hak anak dalam kondisi tersebut? Saya yakin ada, yang perlu dicek lagi mungkin penerapannya.
Yang saya tahu di Australia, anak-anak di bawah umur secara finansial merupakan tanggung jawab kedua orang tuanya, terlepas dari kondisi hubungan orang tua tersebut. Pengaturan yang umumnya dilakukan jika orang tua berpisah, anak-anak yang masih di bawah umur ikut sang ibu, kemudian sang ayah memberikan tunjangan bulanan untuk anak-anak, yang diberikan melalui sang ibu (mantan pasangan sang ayah), besarnya sesuai kesepakatan semua pihak terkait. Hal ini ada peraturan/undang-undangnya sehingga kuat secara hukum. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada pelanggaran ya.. Mungkin karena payung hukum dan penegakan hukumnya jelas dan kuat, maka pelanggaran bisa diminimalisir.
Nah, kembali ke komentar si ibu tadi, yang kebetulan memang punya anak perempuan berusia dewasa.. Saya berusaha memahami sudut pandang dia. Sebagai seorang ibu yang punya anak perempuan, pasti dia ingin yang terbaik untuk anak perempuannya, bahkan jika yang dianggap terbaik itu harus diambil dari suatu kondisi terburuk. Begitulah kira-kira empati saya terhadap pernyataan dia itu.
Biasanya setelah menghadiri acara semacam itu, di sepanjang perjalanan pulang saya dan M saling cerita tentang obrolan kami dengan orang-orang. Tapi kali itu, spesifik untuk hal ini saya pikir ceritanya lain waktu saja. Waktu itu saya tidak yakin kira-kira tanggapan dia akan bagaimana. Beberapa waktu kemudian, ketika situasi dan kondisi dirasa tepat, akhirnya saya cerita juga soal komentar ini. Tanggapan M positif saja, maksudnya dia paham mengapa si ibu sampai berpikiran seperti itu..
Nah, kalian yang punya pasangan WNA, pernah dapat komentar tak terduga juga..? Atau sengaja tidak sengaja pernah mengomentari orang lain dengan pernyataan tak terduga semacam ini..?

Bersambung…
Episode sebelumnya: (055) Mau yang warna-warni..? 

 

Bear 18 bulan..

Keterangan foto: dari atas ke bawah — usia 1 hari, 6 bulan, 12 bulan, 18 bulan

Saya senyum-senyum sendiri baca judulnya. Kesannya saya update tentang Bear setiap bulan. Padahal terakhir cerita itu di sini..hehehe.. Sudah lama ya.. Tapi baiklah, mari kita lihat bagaimana perkembangan si Bear dari bulan ke bulan. Ini yang saya ingat saja ya..:
a) Sejak lahir (sampai sekarang juga) tidur di ranjangnya sendiri (boks bayi) yang ditempatkan di kamarnya sendiri. Banyak yang mengira ini mungkin karena “budaya bule”, tapi sebetulnya karena alasan praktikal saja awalnya. Kamar saya dan M di rumah Indonesia itu kecil. Kalau ditambahkan boks bayi tidak muat. Kami pun tidak ingin Bear tidur di ranjang kami karena kuatir terhimpit badan kami. Selain itu, memang demikianlah orang tua saya dan M dulu membesarkan kami dalam urusan tidur, yaitu anak-anak tidak tidur sekamar dengan orang tua. Kamar kami di rumah di Australia sebetulnya muat untuk ditempatkan boks bayi, tapi si Bear sudah terbiasa tidur di kamarnya sendirian. Dia jadi hilang fokus untuk tidur kalau melihat orang hilir mudik di dalam kamar sementara dia mau tidur. Jadinya dia tetap tidur di kamarnya sendiri juga
b) Umur 3 bulan sudah berkewarganegaraan ganda serta punya 2 paspor (Australia dan Indonesia)
c) Umur 4 bulan menjelang 5 bulan terpaksa berhenti minum ASI dan beralih ke susu formula karena “gentong” ASI-nya benar-benar berhenti berproduksi biarpun segala cara sudah dicoba supaya tetap mengalir.
d) Umur 5 bulan bisa duduk sendiri dan mulai mencicipi makanan pendamping susu. Mulai pakai baju di atas umurnya, di umur 5 bulan ini dia mulai pakai baju untuk usia 1 tahun ukuran Indonesia.
e) Umur 6 bulan tumbuh 2 gigi pertama, mulai makan makanan bayi instan. Pergi ke Australia untuk pertama kalinya. Hari pertama di Australia Bear tampak kurang sehat, padahal waktu berangkat sehat-sehat saja. Hari ke-2 dan ke-3 dia harus dirawat di RS karena ternyata belakangan diketahui terkena virus kategori enterovirus. Dokter bilang mungkin karena ada kondisi yang kurang higienis, ditambah pula kelelahan karena perjalanan jauh. M pikir mungkin Bear kena virusnya sewaktu di ruang bayi yang bau apek di Bandara Denpasar (kami transit di Denpasar). Setelah 2 malam di RS, Bear diperbolehkan pulang. Selama di RS dia hanya diberi obat penurun panas dan pereda sakit karena memang hanya itu yang diperlukan. Kapan-kapan saya cerita lebih lengkap tentang Bear dirawat di RS ini.
f) Umur 7 bulan bisa merangkak, mencicipi makanan bayi buatan rumah.
g) Umur 8 bulan merangkaknya makin cepat dan mulai berusaha berdiri sambil berpegangan. Mulai menunjukkan preferensi dalam makanan, dia lebih suka makanan bayi buatan rumah daripada yang instan. Pertama kali kena batuk pilek gara-gara kelamaan main air dengan bapaknya di garasi saat angin sedang kencang dan dingin (dan emaknya Bear pun murka..hahaha..). Tapi syukurlah sampai detik ini Bear tak pernah batuk pilek lagi.
h) Umur 9 bulan disunat. Mulai suka mendorong-dorong furnitur dan mainan ukuran besar. Makin suka dengan makanan buatan rumah, kemudian “sayonara” secara permanen ke makanan instan.
i) Umur 11 bulan bisa jalan tapi masih sambil pegangan ke tangan orang, perabotan, atau dinding. Mulai suka taste test (menggigit, menjilat, memasukkan ke mulut) apapun yang ditemukan yang bikin dia penasaran. Mulai memakai baju untuk usia 18 bulan ukuran Indonesia.
j) Umur 12 bulan, genap berumur satu tahun, merayakan ulang tahun bersama keluarga saja. Lulus rangkaian imunisasi tahun pertama. Bear diimunisasi oleh Bidan Puskesmas yang bisa dipanggil ke rumah kalau kami sedang tidak sempat pergi ke Puskesmas. Bear tak pernah demam setelah imunisasi, menangis pun hanya sekitar 10 detik. Masih suka taste test, kali ini kelihatannya lebih seru karena Bear sudah punya 12 gigi. Sudah bisa mengucapkan “Dadda” (Dad, sebutan ke Ayahnya), “Bubu” (Ibu, sebutan ke saya, ibunya), “mam” (emam-Sunda = makan), dan “baf” (bath-Inggris, ibak-Sunda = mandi)
k) Umur 13 bulan pindah domisili, dari Indonesia ke Australia, kali ini tanpa drama masuk RS.., hanya saja harus adaptasi cuaca. Kami mulai tinggal di Australia di saat musim panas. Suhu siang hari saat itu sekitar 32-35’C, malam hari sekitar 27-30’C. Sementara tempat tinggal semula di Cianjur-Indonesia sedang musim hujan yang bikin adem, suhu siang hari sekitar 24-26’C saja. Meski ada AC dan kipas untuk antisipasi musim panas, tentu yang lebih nyaman adalah cuaca sejuk alami. Bear sempat susah makan, pertama karena adaptasi cuaca, kedua karena sempat kembali makan makanan instan berhubung saya cape sekali dengan urusan memasak. Tapi untungnya ini berlangsung sebentar saja. Kemudian saya pun mulai memperkenalkan makanan orang dewasa ke Bear, tanpa bumbu yang berasa tajam tentunya. Sejauh ini lancar. Selain itu, kami juga harus mendaftarkan Bear ke klinik terdekat (setara Puskesmas kalau di Indonesia) untuk imunisasi selanjutnya. Ternyata jadwal pemberian vaksin di Indonesia dan Australia itu sedikit berbeda. Imunisasi yang sudah didapat di Indonesia jadi tidak “matching” dengan jadwal Australia. Akhirnya setelah konsultasi sana sini dengan para petugas medis terkait, si Bear harus diimunisasi dari awal lagi. Jadi dianggapnya seperti bayi baru lahir, diberi imunisasi jadwal tahun pertama dalam waktu 3 bulan, sehingga begitu menginjak usia 18 bulan, catatan imunisasi Bear akan sama dengan semua bayi 18 bulan lainnya di Australia. Apalagi ya.. Oh ya Bear sudah bisa berjalan sendiri meski kadang jatuh. Kemudian, dia mulai pakai baju untuk usia 18 bulan dan 24 bulan ukuran Australia (tergantung modelnya juga).
l) Umur 14 bulan Bear tampaknya mulai merasa betah dengan lingkungan barunya, dan sudah bisa berlari dengan baik juga. Dia mulai bisa makan sendiri. Sarapan dan cemilan biasanya dimakan sendiri tanpa disuapi, sementara makan siang dan makan malam tergantung jenis makanannya. Jika masih bisa dipungut dengan jarinya maka dia akan makan sendiri, jika tidak memungkinkan ya disuapi. Kemudian sehari-harinya dia jadi lebih suka main di luar, entah itu di teras, pekarangan, atau di taman umum dekat rumah.
m) Umur 15 bulan mulai suka menyimpan barang-barang, kadang di tempat biasa, kadang di tempat tak biasa. Misalnya remote control TV disimpan di atas meja TV (biasa), mainan disimpan di kotak mainan (biasa), bantalnya disimpan di ruang penyimpanan barang bekas (tidak biasa), HP-ku disimpan di lemari baju M (tidak biasa). Bear selalu tertarik dengan kegiatan menyikat gigi. Kalau saya atau bapaknya sedang sikat gigi, dia memperhatikan dengan seksama sambil tersenyum-senyum. Karena itu kami beri dia sikat gigi balita dan mulai  belajar menyikat gigi sendiri.
n) Umur 16 bulan mulai punya kosa kata baru seperti “Ba..ba..ba..” (bird), dan mulai menyerocos dengan intonasi seperti percakapan. Mulai tertarik dengan bongkar pasang mainan Lego, meskipun statusnya yang pasang saya dan yang bongkar dia. Mulai suka memanjat apapun yang bisa dipanjat. Misalnya naik ke kursi makan, kemudian ke meja makan untuk mengambil mainannya yang kebetulan ditaruh di situ, terus turun lagi ke kursi kemudian ke lantai. Atau pernah saya memergokinya bergelantungan di sandaran sofa, sedang berusaha meraih remote control AC yang tertempel di dinding.. Duh.., bikin jantung emak mau copot saja sih, Nak.. 
o) Umur 17 bulan sudah bisa lari dengan kencang, bahkan kadang dia berusaha melarikan diri dari samping saya atau bapaknya saking ingin bebasnya berlari. Gigi sudah ada 16 buah, berarti tinggal 4 lagi yang belum tumbuh. Masih berlanjut dengan kegiatan menyikat giginya sendiri, tapi jangan membayangkan dia menyikat gigi seperti orang dewasa ya..   Bear lebih ke menggigit/mengunyah sikat gigi daripada menyikat gigi. Kami tentu saja setiap saat mengajarkan menyikat gigi yang benar. Tapi namanya anak bayi.., ya begitulah.. Namun setidaknya lumayan dia mau menyikat giginya sendiri.. Makin sering bermain dengan Lego-nya, Bear mulai tertarik merancang sendiri apa yang mau dipasang, sementara “jabatan” saya tidak berubah: “asisten Lego”, alias tukang pasang blok Lego berdasarkan hasil pemikiran sang perancang cilik..
p) Umur 18 bulan kurang lebih sama seperti umur 15-17 bulan. Pertama kali mengalami masuk angin gara-gara sewaktu bermain di taman tiba-tiba suhu udara berubah dari hangat ke dingin ditambah angin kencang. Hasilnya.., si Bear muntah..! Tapi dengan perawatan yang tepat, dia pulih keesokan harinya. Apalagi ya.. Oh ya.., waktu lahir BB/TB Bear adalah 3.8kg / 51cm, saat ini di usia 1.5 tahun menjadi 15.2kg / 86.5cm. Di Kartu Menuju Sehat (KMS) berat segini setara dengan berat anak usia di atas 2 tahun. Sementara di grafik persentil, BB/TB segini masuk ke 97 atau 98 persentil. Intinya kalau di atas kertas, orang pasti menyangka ini anak gemuk bahkan cenderung kegemukan. Tapi jika melihat langsung, si Bear tampak normal saja (menurut saya..hehehe). Tidak besar tapi tidak kecil juga. Kalau kata ibu mertua: solid body katanya alias padat berotot..hehehe.. Saat ini dia sudah mulai memakai baju untuk usia 2 dan 3 tahun ukuran Australia, meski masih sedikit longgar, tapi ini tergantung modelnya juga. Sementara baju ukuran sesuai usianya, 18 bulan, masih cukup tapi mulai nampak sempit.

Kalau dilihat dari tulisan ini mungkin terkesan semunya berjalan mulus. Padahal sebetulnya dan sesungguhnya, seperti umumnya membesarkan anak di mana pun, tentu ada manis pahitnya, ada naik turunnya. Atau seperti yang Tika pernah bilang di blognya: everyone has its own battle.. Tapi yang namanya hidup ya dijalani saja..

Dan begitulah cerita saya tentang Bear kali ini..

Sekedar Selingan: Kopdar..

keep-calm-and-yuk-kopdar.jpg

keepcalm-o-matic.co.uk

Catatan: Tulisan ini dalam dua bahasa, yang pertama Bahasa Sunda, kemudian terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Bagi yang mengerti kedua bahasa tersebut, pasti paham bahwa ada banyak kata dan/atau ungkapan dalam Bahasa Sunda yang sulit dicari padanannya dalam Bahasa Indonesia. Namun demikian, saya berusaha menerjemahkan tulisan ini ke dalam Bahasa Indonesia sedekat mungkin ke makna yang dimaksud dalam Bahasa Sunda.
==============================

BASA SUNDA

Urut kabogoh amprok di Path (chatting), caritana rek kopdar..

Asep :
“Kom.., ieu uing geus di lembur maneh, pas jalan gede.. Belah mana imah teh..?”

Kokom :
“Anu aya gapura.. Akang lebet kinten-kinten 25 meter aya bumi gedong 3 tingkat, warna kayas, mobilna seueur..”

Asep :
“Siap! Akang geus di hareupeunana. Ieu imah maneh teh, Kokom..?”

Kokom :
“Sanes, Akang! Ti dinya Akang mengkol ka kanan lebet gang kinten-kinten 10 meter, aya lapangan badminton. Tah gigireunana, Kang..”

Asep :
“Eta imah maneh?”

Kokom :
“Eta mah bumina tukang urut. Ti dinya mah Akang lempeng, pas ngalangkungan jambatan di dinya katingal aya kios alit, seratanana ISI ULANG PULSA..”

Asep :
“Oh.., jadi imah Kokom teh anu jualan pulsa eta?”

Kokom :
“Eta mah namina konter atuh, Kang.. Ti dinya mah kantun ka kanan dugi ka kuburan. Tah payuneun kuburan aya bangunan..”

Asep (mulai keuheul) :
“Jadi imah sia teh hareupeun kuburan, Sarkommmm..???”

Kokom :
“Aeh nya sanes atuh, Kang! Eta mah bumina kuncen.. Akang ulah lebet ka dinya tapi mengkol deui ka kenca, mapay galengan pasawahan, engke oge bakal katingali aya kandang munding..”

Asep (ambek) :
“Aaarggh..! Eta imah silaing..???”

Kokom :
“Abdi mah sanes munding atuh ih..! Ti dinya Akang lurus we teras dugi ka sisi leuweung..”

Asep (napsu) :
“Eta gogobrog sia..?!?”

Kokom :
“Memangna abdi teh monyet.. Si Akang mah sok aya-aya wae.. Torobos eta leuweung, Kang.. Papay jalan satapak dugi ka pendak sareng masjid alit, tah persis sabeulahna..”

Asep (ambek kacida) :
“Sakali deui sia ngomong eta lain imah maneh, dicacag siah mun panggih jeung uing! Ieu tuur geus asa coplok!”

Kokom :
“Hehehe.. Sabar atuh, Kang.. Ulah emosian janten jalmi mah bilih enggal sepuh. Leres eta pisan bumi abdi. Kumaha tos kapendak teu acan, Kang?”

Asep (rada bungah) :
“Akang geus aya hareupeunana yeuh! Gusti! meni asa ringsek kieu awak. Pokona tanggung jawab mencetan Akang nya? Hehehe..”

Kokom :
“Nya sok langsung kalebet we da aya Mamah abdi nuju nyalira..”

Asep :
“Ari Kokom di mana..??”

Kokom :
“Abdi mah nuju di ARAB..”😜😜😀
==========================================

BAHASA INDONESIA

Sepasang mantan sejoli bertemu di Path (chatting), ceritanya mau kopdar..

Asep :
“Kom, ini saya sudah di kampungmu, pas di jalan besar.. Rumahmu sebelah mana..?”

Kokom :
“Yang ada gapura.. Akang masuk kira-kira 25 meter ada rumah tingkat 3 warna pink, mobilnya banyak..”

Asep :
“Siap! Akang sudah di depannya. Ini rumahmu, Kokom..?”

Kokom :
“Bukan, Akang! Dari situ Akang belok kanan masuk gang kira-kira 10 meter, ada lapangan badminton. Nah di sebelahnya, Kang..”

Asep :
“Itu rumahmu?”

Kokom :
“Itu sih rumahnya tukang pijat. Dari situ Akang lurus, setelah melewati jembatan di situ akan terlihat kios kecil bertuliskan ISI ULANG PULSA..”

Asep :
“Oh.., jadi rumah Kokom yang jualan pulsa itu?”

Kokom :
“Itu namanya konter, Kang.. Dari situ tinggal ke kanan ke arah kuburan. Nah.., di depan kuburan ada bangunan..

Asep (mulai jengkel) :
“Jadi rumahmu itu depan kuburan, Sarkoommmmm..???”

Kokom :
“Aiiihh bukan, Kang! Itu rumahnya kuncen.. Akang jangan masuk ke situ tapi belok lagi ke kiri, menyusuri pematang sawah, nanti bakal kelihatan ada kandang kerbau..”

Asep (marah) :
“Aaarggh..! Itu rumahmu..???”

Kokom :
“Saya bukan kerbau iihh..! Dari situ Akang lurus saja sampai ke tepi hutan..”

Asep (makin marah) :
“Hutan itu rumahmu..?!?”

Kokom :
“Memangnya saya ini monyet.. Si Akang ada-ada saja.. Terobos saja hutan itu, Kang.. Susuri jalan setapak sampai bertemu mesjid kecil, nah persis di sebelahnya..”

Asep (benar-benar marah) :
“Sekali lagi kamu bilang itu bukan rumahmu, aku cincang kamu kalau nanti bertemu! Ini lutut rasanya mau copot!”

Kokom :
“Hehehe.. Sabar, Kang.. Jangan mudah marah kalau jadi orang, nanti cepat tua. Betul sekali itu rumah saya. Bagaimana.., sudah ketemu belum, Kang?”

Asep (agak gembira) :
“Akang sudah ada di depannya, nih..! Gusti rasanya ringsek ini badan. Pokoknya tanggung jawab kamu pijit Akang ya..? Hehehe..”

Kokom :
“Ya langsung saja masuk ke dalam. Ada Mamah-ku lagi sendirian..”

Asep :
“Kalau Kokom di mana..??”

Kokom :
“Saya mah lagi di ARAB..”😜😜😀

(055) Mau yang warna-warni..?

Saya mungkin termasuk orang berusaha untuk menjalankan prinsip “finish what you started” (selesaikan apa yang sudah kamu mulai). Di antaranya menyelesaikan tulisan seri Flashback ini meski sempat vakum blogging dua kali, total selama 1.5 tahun, dan juga merapikan gigi.
Waktu kecil gigi saya awalnya baik-baik saja. Kemudian seiring waktu saya punya kebiasaan memaksakan diri menggigit makanan bertekstur keras tanpa dipotong-potong terlebih dahulu seperti apel, jambu batu, dan permen bertekstur keras. Saya menggigit makanan keras tersebut dengan gigi depan atas dan bawah. Penyebab lainnya mungkin kondisi awal gigi saya memang kurang stabil sehingga mudah bergerak atau berubah posisi. Waktu itu saya tidak merasa ada yang aneh dengan gigi saya, tapi orang tua kelihatannya memperhatikan hal ini, sehingga memutuskan agar saya pakai kawat gigi.
Saat itu saya berumur 10 tahun, masih SD, sekitar tahun 84-85. Di zaman itu belum ada dokter gigi spesialis ortodontis di Cianjur, jadi saya diantar Ayah pergi ke Bandung, tepatnya ke poliklinik gigi di Universitas Padjadjaran Bandung. Siapa sangka di kemudian hari saya malah kuliah di universitas tersebut. Saya lupa persisnya tapi poliklinik gigi ini kelihatannya berada di bawah naungan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran.
Masalah di gigi saya waktu itu adalah 2 gigi depan atas tidak rata, yang satu terlalu ke depan. Selain itu 4 gigi depan bawah berjejer seperti jalur zigzag, bukannya melengkung seperti kurva. Saya ingat semua proses kawat gigi tersebut. Ada 2 gigi samping atas yang dicabut untuk memberi ruang ke gigi depan yang akan digeser. Kemudian cetak rongga mulut, dilanjutkan dengan pengepasan, belajar cara pasang/lepas/perawatan, dst.., dst.. Sampai akhirnya si kawat gigi bisa nangkring dengan pas di geraham atas. Ini ceritanya saya pakai kawat gigi yang bisa dilepas sendiri seperti gambar di bawah ini, bukan yang permanen.

Redwood-City-Retainers-Services

sumber: Google

Saya memakai kawat gigi ini sekitar 6 bulan. Selama itu pula saya jadi pusat perhatian karena waktu itu tak ada orang lain di sekitar saya yang memakai kawat gigi. Bagaimana rasanya pakai kawat gigi..? Ya menderita.., terutama di satu bulan pertama, namanya juga “pemaksaan” gerakan. Dalam jangka waktu 6 bulan tersebut saya kontrol ke klinik di Bandung, awalnya 1 kali seminggu, kemudian 1 kali sebulan. Setelah 6 bulan selesai dengan gigi geraham atas, seharusnya lanjut dengan gigi geraham bawah. Tapi apa daya saat itu anggarannya tidak mencukupi. Hasil dari tahap pertama itu awalnya cukup memuaskan. Dua gigi depan tampak rata meski tidak 100% rata satu sama lain. Namun seiring waktu, dua gigi depan tersebut bergerak lagi ke posisi semula, meski tidak separah posisi awal sebelum pemakaian kawat gigi.
Singkat cerita, 25 tahun kemudian di tahun 2010, saya ingin pasang kawat gigi lagi terutama untuk gigi geraham bawah yang sama sekali belum diperbaiki. Tapi lagi-lagi ada kendala teknis. Saat itu saya tinggal di Sangatta, seingat saya belum ada dokter gigi spesialis ortodontis di sana. Kemudian waktu saya dan M sedang berlibur di Australia, akhirnya saya pasang partial denture di sebuah klinik gigi di Townsville, kira-kira seperti contoh gambar di bawah, ini untuk gigi geraham bawah.

partial-denture

Sumber: Google

Bagi saya partial denture ini berfungsi untuk menjaga posisi gigi yang ada agar tidak bergerak lagi. Saat itu ada satu rongga gusi tanpa gigi di geraham bawah karena giginya sudah tanggal. Berbeda dengan braces atau kawat gigi yang memerlukan konsultasi rutin lanjutan, partial denture ini tidak perlu, setidaknya tidak dengan kasus saya. Sejak saat itu saya pakailah partial denture tersebut sampai kami tinggal lagi di Indonesia tahun 2012. Saat itu saya perhatikan posisi gigi depan bawah masih sama (berantakannya). Sementara gigi depan atas berubah posisinya, yang satu menjadi lebih ke depan. Jadi saya putuskan untuk ke dokter gigi lagi untuk pasang kawat gigi.
Kali ini saya pergi ke dokter gigi spesialis ortodontis di Cianjur. Dokter ini belum ada sewaktu saya pasang kawat gigi pertama kali di tahun 80an. Prosesnya mirip saja dengan yang sebelumnya, foto rontgen rongga mulut juga dilakukan untuk memastikan posisi gigi geliginya. Selain itu tak ada gigi yang perlu dicabut. Kawat gigi yang dipasang sudah modern bentuknya. Awalnya geraham atas yang dipasangi kawat gigi, beberapa minggu kemudian geraham bawah. Satu bulan pertama pemakaiannya benar-benar tidak nyaman, terutama ketika makan. Alhasil, berat badan turun 2 kg. Namun lama kelamaan jadi terbiasa. Saya tak begitu ingat persisnya, tapi tipe kawat gigi selama 6 bulan pertama itu berbahan metal semua, termasuk bantalan dan pengikatnya yang menekan gigi. Setelah itu dokter memasang kawat gigi yang bahannya lebih ringan, mungkin bantalan dan/atau pengikatnya terbuat dari plastik atau silikon dengan warna yang bisa dipilih. Dokterku ini sempat tanya: “Mau ganti warna, Bu Emmy..?” Saya yang tidak ngeh dengan warna warni tersebut heran.., ganti warna apanya..? Setelah dijelaskan, saya tertawa geli dan bilang: “Waduh, Dok.. Buat saya yang warna netral saja.. Malu sama umur kalau pakai yang warna warni..hehehe..”
Saat itu umurku 37 tahun, dan kelihatannya saya adalah pasien tertua di klinik ortodontis tersebut untuk urusan kawat gigi.., yang lain saya lihat ABG semua, atau maksimal anak kuliahan.. Jadi terbayang betapa saya akan jadi perhatian publik lagi jika memakai kawat gigi warna warni seperti para ABG tersebut..hahaha..
Kawat gigi untuk orang dewasa memang tidak lazim, tetapi bukannya tidak bisa. Setahu saya, ada beberapa penyebab orang dewasa perlu pakai kawat gigi (lagi). Gigi dapat bergerak seiring bertambahnya usia, misalnya karena cedera, karena adanya kondisi khusus yang disebut tongue thrust, atau memang demikianlah si gigi tumbuhnya. Ada sebagian orang dewasa awalnya bergigi rapi tapi di kemudian hari jadi bengkok atau berdesakan. Mereka ini mungkin akan mengalami sakit rahang, kesulitan dalam membersihkan giginya, atau hanya sekedar senyum yang kurang elok.
Orang dewasa lainnya memakai kawat gigi karena giginya dari awal memang tidak rapi tetapi dulu sewaktu bertumbuh, orang tua mereka tidak punya anggaran untuk itu. Sementara ada juga yang memang baru punya kesempatan (waktu, biaya, klinik yang tepat) untuk memakai kawat gigi ini di saat sudah berusia dewasa.
Selain itu, meski di masa kanak-kanak pernah memakai kawat gigi seperti saya, tetapi jika tidak ditindaklanjuti sesuai rekomendasi dokter, maka posisi gigi dapat bergerak lagi. Biasanya setelah penggunaan kawat gigi permanen selesai, kita harus teruskan dengan pemakaian kawat gigi retainer secara rutin.
Meski kawat gigi bisa efektif di usia berapa pun, namun jika dipasang saat usia dewasa bisa memakan waktu lebih lama untuk melihat hasilnya. Saya sendiri memakai kawat gigi permanen ini sekitar satu tahun, kemudian dilepas. Setelah itu dilanjutkan dengan kawat gigi retainer untuk gigi atas, dan lingual braces (kawat gigi tersembunyi) serta partial denture untuk gigi bawah. Kawat gigi retainer sifatnya lepas pakai dan dipakai saat tidur malam saja. Lingual braces sifatnya permanen. Partial denture juga bersifat lepas pakai tapi dipakai di siang hari saja, kebalikan dari kawat gigi retainer. Rekomendasi dokterku adalah untuk terus memakai 3 item tersebut sesuai cara pakainya agar gigi yang sudah terposisikan dengan rapi tidak bergeser lagi, selain itu juga kontrol 6 bulan sekali. Jadi sampai sekarang pun di tahun 2017 ini saya masih pakai kawat gigi lanjutan tersebut. Sejauh ini total biaya untuk kawat gigi tersebut sekitar 17 juta rupiah, sudah termasuk biaya konsultasi/kontrol.

CD_retainer_640

Contoh lingual braces. Sumber: Google

Saya perhatikan di Indonesia, orang dewasa, terutama perempuan, yang memakai kawat gigi itu tampaknya hal biasa. Tapi di Australia saya belum pernah melihat orang dewasa yang memakai kawat gigi, kecuali kalau mereka pakai kawat gigi tersembunyi ya.. Pernah sewaktu di bandara Brisbane sekitar akhir tahun 2012, saya sedang membeli sesuatu di toko, tiba-tiba sales person toko tersebut (wanita) tanya soal kawat gigi saya. Kami jadi membahas kawat gigi. Rupanya si ibu ingin sekali pakai kawat gigi karena giginya tidak rapi (menurut dia), tapi malu. Katanya, masa sudah ibu-ibu pakai kawat gigi. Tapi kemudian setelah melihat saya pakai kawat gigi (dan tampak nyaman saja), dia terpikir kenapa tidak pakai kawat gigi.
Pakai kawat gigi terutama yang dipasang di sisi luar memang bisa bikin tidak pede saat tersenyum. Tapi saya tak ambil pusing soal itu. Kalau ingin tersenyum lebar ya senyum saja. Makanya di hampir semua foto, kawat gigi saya selalu terlihat karena saya cenderung tersenyum lebar kalau di foto (kecuali untuk pasfoto tentunya). Justru kalau saya mingkem, mulut saya malah jadi tampak aneh, seperti kembung tak jelas. Lihat saja dua foto di bawah ini, yang satu tutup mulut, yang satu senyum lebar. Tapi namanya orang ‘kan beda-beda, ada yang lebih PD tersenyum kecil saja supaya kawat giginya tak terlihat, ada juga yang “senyum mah senyum aja”, seperti saya..hehehe..

Dan demikianlah cerita tentang kawat gigi saya (yang tidak warna-warni itu..hehehe)

Bersambung…
Episode sebelumnya: (054) Rencana-rencana..