All About Your First Born..

img_2004

Dua jam sebelum si Bear brojol..

Post ini ceritanya ikut-ikutan Imelda, yang iseng menyalin dari Instagram-nya Sazqueen. Nah.., si Mba Sazqueen ini menulis 17 pertanyaan dengan tema โ€œALL ABOUT YOUR FIRST BORNโ€. Jadi.., inilah dia.. Catatan ringkas terkait kelahiran Bear ๐Ÿ™‚

ALL ABOUT YOUR FIRST BORN
1. Epidural? Ya
2. Father in the room? Ya
3. Induced? Tidak
4. Normal? Bukan. Operasi Caesar
5. Due date? Akhir Oktober 2015
6. Birth date? Pertengahan Oktober 2015
7. Morning sickness? Ya, selama 2 minggu saja, di usia kehamilan bulan ketiga.
8. Cravings? Tidak.. Sama sekali tidak ngidam.. Aneh..
9. Kilos gained? 10 kg dari IVF pertama yang gagal, 15 kg dari IVF kedua yang sukses menghasilkan si Bear. Total: 25 kg. Sampai saat ini baru turun 13 kg.
10. Sex of the baby? Laki-laki
11. Place you gave birth? RSIA Bunda, Menteng, Jakarta
12. Hours in labour room? 30 menit.. Total rawat inap 2 malam..
13. Babyโ€™s weight? 3.8 kg
14. Babyโ€™s name? BBL, nama julukan: Bear
15. How old is your baby today? 19 bulan
16. Most memorable event during pregnancy? Ada 2 :
a) Berhubung kehamilan saya berawal dari program IVF di klinik Morula IVF Menteng-Jakarta, maka sepanjang kehamilan pun kontrol ke klinik tersebut, meski harus bolak balik Cianjur-Jakarta. Dari sekian banyak bolak balik itu, 3 kali saya berpapasan dengan iring-iringan RI 1 alias rombongan presiden. Jadi saya langsung berdoa semoga si Bear jadi presiden..hehehe.. Amiin..
b) Perempuan ketika sedang hamil umumnya mencari informasi seputar kehamilan. Saya juga tapi tak seheboh perempuan lainnya.., karena entah kenapa saya lebih tertarik dengan saham/pasar modal. Jadi sepanjang kehamilan itu, saya mendadak jadi trader dengan modal receh dan pengetahuan โ€œlearning by doingโ€, alias terjun langsung saja. Hasilnya, begitu si Bear lahir, saya dapat keuntungan yang cukup untuk membayar biaya operasi Caesar..hehehe.. Alhamdulillah.. Rezeki anak sholehah..
17. Whoโ€™s the obgyn? โ€“ dr. Arie Polim, SpOG

Nah, segitu saja ringkasan ceritanya. Ada yang tertarik ikutan.., silahkan ditunggu post-nya..

Sekedar selingan: Merasa tua..

Hari ini tumben-tumbennya saya, yang orang Indonesia ini, menonton berita berbahasa Rusia di salah satu stasiun TV Australia. Beritanya tentang terpilihnya Emmanuel Macron sebagai Presiden Perancis. Saya sebetulnya sekedar “terdampar” di channel tersebut karena ketika mau pindah saluran, Bear merebut remote control dan menyimpannya di tempat kami biasa menyimpan benda tersebut..hahaha.. Dia pikir semua harus tersimpan pada tempatnya, termasuk remote control, meskipun barang tersebut sedang digunakan.
Ya begitulah.. Jadinya saya terpaku selama beberapa menit menonton berita tersebut yang sedang menyiarkan rencana inagurasi presiden baru itu. Saya antara mengerti dan menebak apa yang sedang diberitakan. Meskipun saya lulusan S1 Bahasa Rusia, tapi saya lulus itu nyaris 20 tahun yang lalu. Jadi sudah banyak yang lupa. Akhirnya saya cek Mbah Google, dan tebakanku ternyata benar.
Saya nyaris menganggap berita tentang presiden baru itu berita biasa, sampai saya membaca bagian ini: “…Emmanuel Macron takes over as France’s youngest ever president..โ€ Jadi penasaran.. Presiden Perancis termuda..? Memangnya umur berapa dia..? Bagi saya, Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, itu sudah sangat muda untuk jadi pemimpin negara.. Dia berusia 43 tahun ketika dilantik jadi perdana menteri.
Dan saudara-saudara.., ternyata benar dia muda sekali (untuk ukuran seorang presiden)! Usianya saat ini 39 tahun..! Apa..?!? Ada presiden yang umurnya 3 tahun lebih muda daripada saya..?!? Seketika saya merasa tua.. Padahal mah memang sudah tua.. Terutama jika dibandingkan dengan generasi penggemar One Direction..hahaha..
Ada yang bilang merasa tua itu ketika melihat kerutan di wajah, uban di rambut, karena dipanggil ibu untuk kaum perempuan (dulu dipanggil Mba..), atau dipanggil Pak untuk kaum lelaki (dulu dipanggil Mas..), atau memang karena sudah berusia tua. Dulu saya suka Mariah Carey dan Celine Dion, mereka lebih tua daripada saya. Kemudian muncullah Britney Spears dan penyanyi seangkatannya.. Saya pikir.., ah โ€œanak-anak kecilโ€.. Terus muncul Katy Perry dan Rihanna.. Saya pikir.., ah โ€œanak kecil bangetโ€.. Eh kemudian muncul Justin Bieber (yang emaknya seumuran saya) dan One Direction.. Ya ampun.., โ€œbayiโ€ semua mereka.. Tapi saya belum merasa tua karena saya pikir berkarir di dunia hiburan memang biasanya dimulai sejak berusia muda sekali.
Kemudian di lain hari tumben-tumbennya lagi saya sempat baca berita tentang siapa aktor yang akan memerankan James Bond setelah Daniel Craig. Dan semua kemungkinan kandidatnya seusia saya (umur 40an) atau lebih muda (usia 30-40). Saya mulai merasa..hmmm.., makin tampak berwajah abad 21 saja tampilan James Bond ini.. Saya bukan penggemar James Bond, tapi saya tahu persis semua aktor pemeran James Bond yang terdahulu semuanya berusia lebih tua dari saya.
Dan akhirnya.., hari ini.. Ada presiden berumur 39 tahun..! Tiga puluh sembilan tahun..! Jadi waktu dia kelas 1 SMP, saya sudah kelas 1 SMA dong.. Apaan sih..hahaha..
Ah sudahlah.. Saya mau main petak umpet saja sama Bear.. Dia selalu berhasil membuat saya merasa muda..hehehe..

Sekian ocehan tak penting hari ini.

PS: Silahkan pandangi foto di atas.. Itu Pak Presiden ya, bukan aktor calon pemeran James Bond berikutnya.. Ganteng ya..hehehe..

(057) Suntuk..

Memasuki tahun 2013 saya mendadak galau. Saya lagi pikir-pikir soal bekerja lagi atau tidak. Sejak kembali tinggal di Indonesia di tahun 2012, rencana utama saya dan M sebetulnya ingin punya anak. Tapi sampai saat itu belum terjadi. Mau melanjutkan ikhtiar melalui IVF juga mentok di kendala teknis (jarak, tempat, waktu).
Kemudian saya mulai dapat beberapa tawaran bekerja. Yang pertama dari mantan atasan di Sangatta, yang kedua dari seorang teman di Bandung, yang ketiga dari kenalannya seorang teman di Tangerang, yang keempat dari kenalannya teman di Balikpapan, yang kelima dari mantan atasan yang lainnya di Jakarta. Awalnya semua sangat menjanjikan. Setidaknya saya yakin bakal dapat salah satu dari empat tawaran itu. Tapi kemudian satu per satu tawaran kerja itu mundur karena berbagai hal. Umumnya karena proyek pekerjaan yang akan dituju jadi mundur jadwalnya.
Dari sisi saya sendiri, sebetulnya dilema juga jika benar-benar kembali โ€œngantorโ€. M waktu itu bekerja dengan jadwal 5 minggu kerja 2 minggu libur. Artinya selama 5 minggu berturut-turut dia ada di lokasi tambang, setelah itu libur selama 2 minggu, begitu seterusnya. Kami tinggal di kompleks perumahan karyawan di Sangatta. Jika saya bekerja di luar Sangatta, berarti kami harus tinggal terpisah. Belum lagi dengan jadwal kerja dia yang tidak biasa itu. Kalaupun saya bekerja di Sangatta, jadwal kerja kami tak akan pernah sama. Kalau saya bekerja lagi, kemungkinan besar jadwal kerjanya yang umum saja, 5 hari kerja 2 hari libur, atau 6 hari kerja 1 hari libur. Nah kalau sudah begini.., lalu apa kabarnya dengan program punya anak..? Duuuhh..
Dan entah kenapa.., di setiap tahapan kehidupan yang sedang dijalani, saya sering mendapat komentar tak enak hanya karena orang tersebut tidak sependapat dengan apa yang saya yakini baik untuk diri saya. Padahal seingat saya, saya tidak peduli apa pilihan hidup orang lain selama itu tidak menggangu hidup saya. Contohnya begini, dulu di umur 20-30an, waktu saya sedang jaya-jayanya berkarir, banyak orang di sekitar yang bilang: perempuan berkarir terus dan seperti lupa cari jodoh itu tidak baik, perempuan kalau tidak menikah dan punya anak itu tidak ada artinya, laki-laki akan takut mendekati perempuan yang terlalu tinggi karirnya, dll.., dll.. Nah.., ketika saya memutuskan untuk jadi โ€œlady of leisureโ€, ibu rumah tangga yang tugasnya mengurus rumah tangga saja sambil sesekali โ€œngebolangโ€, ternyata tetap saja ada yang komentar tak enak seperti ini: tuh kan sudah sekolah tinggi-tinggi akhirnya di rumah saja, sayang sekali karir sudah bagus sekarang โ€œhanyaโ€ jadi ibu rumah tangga, jadi perempuan itu kalau hanya mengandalkan gaji suami bakal susah jika ada apa-apa.., dll.., dll.. Lucunya.., banyak di antara mereka yang komentar dulu dan sekarang tersebut adalah orang yang sama. Jadi dulu waktu saya masih kerja, orang ini komentar negatif, ketika saya memutuskan berhenti bekerja, orang ini komentar negatif juga.. Bahkan ada satu orang yang bukan hanya berkomentar negatif, tapi juga melakukan apa yang dulu dia kritik terhadap saya: bekerja. Alasan kenapa dia jadinya bekerja, sementara dulu dia mengkritik saya yang bekerja: โ€œYa soalnya tuntutan hidup, Em.. Gaji suami tidak cukup ternyata..โ€ Jadi seperti โ€œmenjilat ludah sendiriโ€ kan..
Saya cerita ke M, rasanya saya selalu berada di grup sosial yang salah..hehehe.. M bilang, orang-orang yang berkomentar itu mungkin hanya iri karena saya selalu tampak bahagia terlepas dari apapun pilihan hidup saya.. Mmm.., masuk akal..
Tapi yang namanya perasaan suntuk itu masih ada.. Terus saya pikir-pikir.., harus melakukan sesuatu supaya tidak merembet ke arah mental breakdown alias suntuk bin galau tingkat dewa..
Akhirnya saya salurkan energi kegalauan ini ke olahraga. Harap dicatat, aslinya saya bukan orang yang suka berolahraga karena saya tidak suka keringatan. Tapi demi kewarasan otak dan kegembiraan jiwa saya lakukan juga. Masih ingat mensana in corpore sano, a healthy mind in a healthy body, di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat..? Olahraga yang saya lakukan adalah latihan cardio and strength (kekuatan jantung dan ketahanan otot) di gym, Zumba dan segala macam aerobic dance di rumah, berenang, dan jalan kaki. Semua ini saya lakukan sendiri secara bergantian, tanpa teman, tanpa pelatih. Kebetulan kompleks perumahan tempat kami tinggal punya gym/fitness centre sendiri. Jadwalnya setiap hari kecuali Minggu, dengan durasi 90 menit. Jadi saya anggap berolahraga ini seperti pergi โ€œngantorโ€. Hasilnya setelah 4 bulan.., suntuk berkurang banyak, berat badan berkurang sekitar 8 kg.. Saya pun tak punya banyak waktu lagi untuk memikirkan hal-hal tak penting. Lumayan positif..
Nah.., selain hal di atas.., kami juga punya beberapa rencana kegiatan sepanjang tahun 2013 tersebut.. Semuanya kebetulan di Australia. Nanti saya cerita di episode selanjutnya.. Yang jelas, saya baru ngeh, ternyata di 2013 tersebut lumayan padat jadwal kegiatan kami selama liburan di Australia tersebut.

Bersambungโ€ฆ
Episode sebelumnya: (056) Komentar tak terduga..

(056) Komentar tak terduga..

Sebagai perempuan yang punya pasangan seorang WNA, sudah tak terhitung banyaknya komentar yang dilontarkan ke saya karena hal ini atau mengenai hal ini. Padahal di kehidupan sehari-hari saya jarang membahas tentang M. Tapi begitu orang tahu, pasti dikomentari. Saya yakin para pelaku pernikahan campuran lainnya juga banyak menerima komentar tersebut. Dari yang paling umum sampai yang paling spesifik, dari yang sopan sampai ke yang kurang ajar. Dari sekian banyak komentar yang saya pernah terima, ada satu yang tidak saya duga, tapi setelah dipikir-pikir, mungkin masuk akal juga.

Suatu hari menjelang akhir tahun 2012, saya menghadiri acara kantor M yang juga dihadiri oleh istri/suami dari para karyawan. Seperti biasa karena sudah kenal banyak karyawan dan pasangannya, saya mengobrol ngalor ngidul dengan banyak orang. Sampailah saya ke kumpulan ibu-ibu istri karyawan (semuanya orang Indonesia). Kami berbicara tentang hal-hal umum saja awalnya. Kemudian satu persatu mereka berpamitan karena acara sudah selesai. Tinggal satu orang yang masih mengobrol dengan saya. Dia ini usianya sudah agak senior, mungkin pertengahan 50an menjelang 60 tahun. Karakternya ramai dan suka bercerita. Kemudian si ibu tersebut bertanya-tanya soal M. Awalnya pertanyaan/komentar standar saja: Ketemu di mana..? Sudah berapa lama menikah..? Pak M itu satu divisi sama Pak A, โ€˜kan..? dst..dst..
Kemudian dia bilang begini: โ€œBaguslah, Mba.. Suaminya bule.. Setidaknya kalau bercerai, lumayan dapat 30 jutaan per bulan..โ€
Selama beberapa detik saya tidak yakin bagaimana harus menanggapinya.. Akhirnya saya berkata: โ€œMm.., maksudnya, Bu..?โ€
Dia pun menjelaskan: โ€œSaya punya tetangga, menikah sama bule, eh ternyata gak awet.. Cerai deh mereka.. Anaknya 2 orang ikut ibunya tinggal di Balikpapan.. Mantan suaminya balik ke negaranya Australia, tapi tiap bulan selalu mengirim uang buat anak-anaknya.. Tigapuluh juta sebulan lumayan banget loh, Mba.. Kalau kerja biasa mana ada yang kasih gaji segitu..โ€
Dan sambil tersenyum-senyum saya berkata: โ€œTapi kan tujuan saya menikah bukan untuk bercerai, Bu..โ€
Lalu si ibu memberikan klarifikasi: โ€œPastinya gak dong, Mba.. Semua rumah tangga pasti ingin langgeng dan bahagia.. Cuma menurutku jika mantan suami tetanggaku itu orang lokal, belum tentu bisa kasih segitu.. Atau malah sama sekali gak bertanggung jawab.. Banyak contohnya, Mba.. Aku kasihan kalau lihat perempuan yang harus banting tulang sendiri membiayai anak-anaknya, sementara si mantan suami pergi begitu saja, bahkan mungkin kawin lagi tanpa peduli anak-anaknya yang masih perlu biaya..โ€
Sepulang dari acara tersebut, saya jadi terpikir terus perkataan si ibu. Bukannya apa-apa.. Hanya merasa bahwa meski awalnya terkesan โ€œvulgarโ€, namun omongannya mengingatkan saya akan kenyataan lain. Ada beberapa keluarga dan teman perempuan yang menjanda, kemudian harus banting tulang sendiri menafkahi anak-anak mereka yang masih di bawah umur karena mantan suami (yang mana adalah ayah dari anak-anak tersebut) tidak mau atau tidak bisa memberikan tunjangan untuk anak-anaknya. Ada yang berhasil bangkit dari kesulitan ekonomi, ada juga yang masih terpuruk. Saya jadi bertanya-tanya, di Indonesia adakah undang-undang atau peraturan untuk melindungi hak anak dalam kondisi tersebut? Saya yakin ada, yang perlu dicek lagi mungkin penerapannya.
Yang saya tahu di Australia, anak-anak di bawah umur secara finansial merupakan tanggung jawab kedua orang tuanya, terlepas dari kondisi hubungan orang tua tersebut. Pengaturan yang umumnya dilakukan jika orang tua berpisah, anak-anak yang masih di bawah umur ikut sang ibu, kemudian sang ayah memberikan tunjangan bulanan untuk anak-anak, yang diberikan melalui sang ibu (mantan pasangan sang ayah), besarnya sesuai kesepakatan semua pihak terkait. Hal ini ada peraturan/undang-undangnya sehingga kuat secara hukum. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada pelanggaran ya.. Mungkin karena payung hukum dan penegakan hukumnya jelas dan kuat, maka pelanggaran bisa diminimalisir.
Nah, kembali ke komentar si ibu tadi, yang kebetulan memang punya anak perempuan berusia dewasa.. Saya berusaha memahami sudut pandang dia. Sebagai seorang ibu yang punya anak perempuan, pasti dia ingin yang terbaik untuk anak perempuannya, bahkan jika yang dianggap terbaik itu harus diambil dari suatu kondisi terburuk. Begitulah kira-kira empati saya terhadap pernyataan dia itu.
Biasanya setelah menghadiri acara semacam itu, di sepanjang perjalanan pulang saya dan M saling cerita tentang obrolan kami dengan orang-orang. Tapi kali itu, spesifik untuk hal ini saya pikir ceritanya lain waktu saja. Waktu itu saya tidak yakin kira-kira tanggapan dia akan bagaimana. Beberapa waktu kemudian, ketika situasi dan kondisi dirasa tepat, akhirnya saya cerita juga soal komentar ini. Tanggapan M positif saja, maksudnya dia paham mengapa si ibu sampai berpikiran seperti itu..
Nah, kalian yang punya pasangan WNA, pernah dapat komentar tak terduga juga..? Atau sengaja tidak sengaja pernah mengomentari orang lain dengan pernyataan tak terduga semacam ini..?

Bersambungโ€ฆ
Episode sebelumnya: (055) Mau yang warna-warni..?ย