The Australian Outback

Mari kita sedikit mengintip area maha luas Tanah Oz..

Yang dimaksud dengan “Outback” adalah daerah pedalaman terpencil yang maha luas di Australia. Istilah “The Outback” (secara harfiah artinya Bagian Luar Belakang, alias pedalaman) secara umum digunakan untuk merujuk pada lokasi-lokasi yang jauh lebih terpencil dibandingkan dengan area yang disebut “the bush” (area semak-semak).

Meski sering digambarkan sebagai area kering kerontang, wilayah Outback sebetulnya terhampar dari pesisir Australia bagian utara ke selatan, meliputi sejumlah zona iklim; termasuk iklim tropis dan iklim monsoon (banyak hujan) di wilayah utara, area kering kerontang di ‘red centre’ (pusat merah), dan semi kering kerontang dan iklim hangat sedang di area yang lebih selatan.

Secara geografis, the Outback dipersatukan oleh kombinasi beberapa faktor. Faktor yang paling dikenal adalah rendahnya tingkat kepadatan penduduk (ilustrasi: rumah kita di Bandung, tetangga terdekat di Surabaya, misalnya), suatu lingkungan alam maha luas yang tak banyak terganggu sentuhan manusia, dan di banyak tempat, area ini merupakan dataran yang digunakan tanpa banyak pengolahan, misalnya digunakan untuk pastoralisme (pemeliharaan hewan ternak skala besar yang dilakukan di alam lepas, tanpa kandang, hanya menggunakan pagar pembatas antar properti peternakan), yang mana pengelolaannya bergantung pada lingkungan alam secara natural. Ini sekedar ilustrasi lagi mengenai the Outback dan the bush. Sebelumnya saya gambarkan betapa jarang dan sedikitnya jumlah penduduk yang tinggal di daerah Outback ini. Saya belum pernah ke daerah Outback, tapi saya pernah melakukan perjalanan darat ke area the bush (area semak-semak) yang tidak seterpencil the Outback. Ada satu momen ketika saya dan M sudah berkendara selama 5 jam dengan jarak tempuh setara Bandung-Yogya, “peradaban manusia” yang kami temui hanyalah satu pom bensin beserta rumah pemiliknya..hahaha.., selebihnya.., tanah datar berisi padang rumput dan pohon-pohon kurus, serta rombongan kangguru.

Secara budaya, the Outback terukir sangat mendalam di warisan budaya, sejarah, dan cerita rakyat bangsa Australia. Di tahun 2009 sebagai bagian dari perayaan Q150, Queensland Outback diumumkan sebagai Q150 Icons of Queensland atas peranannya sebagai “atraksi alam”. Catatan: Q150 adalah perayaan 150 tahun terpisahnya Queensland dari negara bagian New South Wales (NSW) di tahun 1859. Pemisahan ini menghasilkan Colony of Queensland  yang kemudian menjadi negara bagian Queensland, dengan ibukota Brisbane. Sementara ibu kota dari negara bagian NSW adalah Sydney.

Townsville, kota tempat saya dan keluarga tinggal di Australia, adalah bagian kecil dari the Outback ini. Tapi tenang saja, saya tidak tinggal di bagian gurunnya..hehehe.. Tapi iklimnya memang sering berudara kering seperti yang pernah saya ceritakan di sini. Townsville berada di negara bagian Queensland, persisnya di wilayah utara Queensland yang beriklim lebih kering daripada Queensland bagian selatan di mana kota-kota seperti Brisbane dan Gold Coast berada. Seperti umumnya kota-kota di Australia, Townsville adalah kota pesisir. Keluarga suami banyak yang tinggal jauh dari area pesisir/laut. Bahkan ada yang tinggal di daerah pastoral/peternakan sapi dengan pemandangan kurang lebih seperti salah satu gambar di bawah ini.

Jadi baiklah.., silahkan menikmati sekilas wajah pedalaman Australia.

(Tulisan dan gambar dirangkum dan diambil dari beberapa sumber)

       
                                

Advertisements

Peta Unik

Ini adalah peta dunia dari perspektif Amerika Serikat. Beberapa gambar mungkin sudah tidak se-update seperti seharusnya, tapi masih cukup menarik untuk dilihat..
1. Peta ini menunjukkan dunia dibagi ke dalam 7 warna berbeda, setiap warna berisi 1 milyar penduduk.

2. Peta ini (ditandai putih) menunjukkan wilayah di mana 98 % penduduk Australia tinggal. Ini artinya wilayah warna kuning berpenduduk sangat sedikit atau tidak ada penduduk sama sekali.

3. Tidak terlalu mengejutkan sebetulnya, bahwa lebih banyak orang tinggal di area yang dilingkari berikut ini, daripada di area luar lingkaran.

4. Peta ini menunjukkan apa yang ada di sisi lain dari dunia ini dilihat dari di mana kamu berpijak (Antipoda). Sebagian besar mungkin hanya air di lautan..

5. (Merah=Ada McD, Biru=Tak Ada McD) Rupanya tak di semua negara kamu bisa beli burger McD. Peta ini menunjukkan negara yang ada McDonalds-nya. Sedikit update dari saya, di Kalimantan itu sebetulnya McD sudah ada sejak beberapa tahun lalu..

6. Peta ini menunjukkan negara-negara (dalam warna biru) di mana orang-orangnya menyetir di sebelah kiri jalan.. Indonesia, Australia, dan Inggris di antaranya. Dan rupanya menyetir di sebelah kiri jalan itu minoritas..

7. Peta ini menunjukkan negara-negara (yang ditandai warna putih) yang tak pernah diinvasi oleh Inggris. Hanya ada 22 negara. Saya sebetulnya agak ragu tentang ini. Yang mau menambahan info, silahkan komentar ya..

8. Ini adalah peta Amerika Serikat. Garis yang menghubungkan antar titik hitam itu menunjukkan seukuran itulah koneksi internet dunia di tahun 1969.. Koneksi internet dunia ya.., bukan internet Amerika saja. Artinya negara lain dan daerah lain di Amerika Serikat saat itu tidak ada koneksi internet.

9. Peta ini menunjukkan negara-negara yang sangat membatasi akses Internet di negaranya di tahun 2013 (Kuning=Diawasi, Hitam=Internet adalah musuh).

10. Peta ini menunjukkan negara-negara (ditandai oranye dan merah) yang merupakan negara komunis atau dulunya negara komunis.

11. Peta ini menunjukkan negara-negara (ditandai merah) yang tidak menggunakan sistem metrik (kilometer, kilogram). Kelihatannya hanya Amerika Serikat dan dua negara lainnya.

12. Peta ini menunjukkan tempat-tempat di mana Google Street View tersedia (ditandai biru tua).

13. Peta ini menunjukkan semua negara (ditandai hijau) yang tak punya wilayah lautan.

14. Dan akan tampak seperti inilah dunia jika semua negara yang punya wilayah lautan tenggelam.

15. Dan yang terakhir.. Peta ini menunjukkan seberapa luas wilayah Amerika Serikat jika dipindahkan ke bulan. Kelihatannya hampir seluas setengah wilayah bulan ya..

Demikianlah.. Semoga menikmati.. Terima kasih sudah membacanya..

 

 

 

Punya pesawat sendiri.., kenapa tidak..?

Inilah yang pastinya ada di pikiran si orang kaya raya tajir melintir tak terkira itu sehingga dia memutuskan untuk membeli pesawat Boeing 747-8 yang kemudian diubah menjadi semacam “rumah mewah”. Ingat ya.., yang dibeli ini pesawat Boeing 747.., salah satu pesawat jumbo jet yang pernah ada, bukan pesawat jet ukuran “imut” yang biasa dipakai tante Syahrince pergi belanja tas kremes di Paris. 

Berikut gambar-gambarnya..

 Selamat datang di Boeing 747-8, pesawat pesanan khusus yang membuat Air Force One (pesawat kepresidenan Amerika Serikat) bagaikan pesawat amatir dari zaman Wright Bersaudara.. 

Gambar-gambar luar biasa ini memperlihatkan pesawat jet besar tersebut yang telah diubah menjadi “rumah mewah” untuk seorang bilioner misterius.  Lengkap dengan begitu banyak kamar tidur, lounge, dan restoran.  Pesawat Boeing 747 pesanan khusus ini diyakini telah menguras kantong pemesannya yang tajir melintir itu senilai USD 400,000,000 (silahkan dikalikan Rp 13,500 kalau ingin tahu harga dalam rupiah) Menjadikannya pembelian termahal sepanjang masa. Pesawat jenis ini biasanya mengangkut 600 penumpang, tapi versi khusus ini dibuat hanya untuk satu orang yang luar biasa kaya. Tentunya dia bisa menjamu banyak tamu di sini. Level kemewahannya benar-benar di luar nalar.. Kemewahan di pesawat ini mungkin akan “membanting” semua jenis kemewahan di tipe properti.   TV kabel dan internet adalah satunya.. Tak perlu lagi rebutan sofa, ada banyak soalnya.  Mau rapat atau sekedar bobo-bobo cantik? Ruang rapat dan kamar tidur tambahan sudah tersedia di deck atas. Atau “ngupi- ngupi cantik”..? Tinggal pilih mau di lounge yang mana. Keren banget ‘kan kalau punya pesawat yang ada ruang rapat ala kepresidenan (stateroom).   Lain kali kalau saya bepergian naik pesawat, terutama kalau duduk di kelas ekonomi (memangnya kamu pelanggan kelas selain ekonomi, Em..?😝), saya akan berkhayal sedang berada di dalam pesawat ini..😄 Pertanyaannya sekarang: kenapa seat bealt tak nampak ya? Apa orang kaya raya tak perlu pakai seat belt? Terus, siapakah bilioner misterius itu, apakah salah satu dari kalian, para pembaca blog ini? Ayo ngaku..😝

Selamat berkhayal..😉 

The Story of My Passport

Anyone who has done any international trip must have had this ultimate travel document, right? Well, true… However, I think I am probably one of the few who got this even long before having any specific plan whatsoever of going overseas.

Back in the 1990s I was a teenager who daydreamed about going to faraway land. This was originally thanks to my late Dad (may he rest in peace) who was a geography teacher. He introduced me to the thing called… map! At home we got any kind of geographical maps you can think of: our hometown, Cianjur; our island, Java; our country, Indonesia; our continent, Asia; and of course, world map; from the size of your palm to the size of your door. Sometimes he brought home a globe, a map shaped like a ball, just to show us things like time zones, international dateline, world climate, etc. I was truly amazed by how tiny my lovely hometown is compared to the world. And for some reasons, out of his five children, I was the only one who got completely stunned by this idea. I was like, I got to be there one day, be in the other parts of the world.

As time went by I guess this became my only passion, of course back then I didn’t realize it. This made me want to be a diplomat. So, since younger age, I projected myself to become one. One of the efforts I made was learning foreign languages, first was English as the international language and later on Russian as the major I chose in university.

Long story short, things didn’t go as planned after university graduation in 1998. For those who don’t know, between 1997-1998 my home country Indonesia was hit hard by Asian monetary crisis followed by a political unrest. Reality bit, I had to survive, so I took any job to make ends meet. Then, the idea of being a diplomat just vanished. My only hope to see the rest of the world was being a traveller which I had to put in the closet because I turned myself into a workaholic, a career oriented lady, with only 12 day leave each year. I had enough money but no time and interest to travel anywhere anymore.

Then came along the moment when I felt like enough is enough, work exhausted me. So in 2007 I left that demanding job in Bandung and found the very less one somehow in Jakarta. My brain now was able to be in normal pace, so I was like, “I’ll get myself a passport!”

I went to the Immigration Office to get my passport done. When I was filling in the forms, an older Chinese Indonesian man standing next to me said:

“Oh young lady, you were born in the year of Tiger, you must love visiting faraway lands…”

And I was like: “Pardon…?”

He said: “I’m sorry, I accidentally took a glimpse at your papers and I noticed that you were born in the year of Tiger, just like many people who come to me for the passport were. By the way, my name is B, I work for a travel agent, that’s how I got people coming to me.”

I said: “Oh, I see… That’s quite interesting, Sir. I don’t know about that though, this is my first passport and I don’t even have any plan to travel overseas.”

Mr. B: “Ah, don’t worry, you will! Remember, tiger is a natural wanderer, so are you. Sooner or later..”

My reply: “Well, sounds good to me… Nice talking to you, Sir…”

Little did I know that later in life, I did get the chance to go overseas for the first time, on my own (like tiger, the natural solitaire wanderer), in less than a year after this peculiar encounter at the Immigration Office.

And…fast forward to 2014, here I am looking at my second passport with the first one attached in the back. Both of them are “decorated” with dozens of immigration stamps and stickers from some countries in 6 different continents. Not too bad for someone who didn’t have any overseas trip plan in the first place.

The next time I apply for the new passport, I’ll remember what he said to me: “Remember, tiger is a natural wanderer, so are you. Sooner or later.”

So, what’s your passport story?